Chapter 39
Begitu kedua orang ini meninggalkan Bukit Malaikat dan sama-sama mengurus urusannya sendiri, bukit itu pun kembali tenang dan hening seperti biasa.
Cebu, seperti diketahui, adalah kota dagang yang ramai sekaligus tempat tinggal si jago pedang yang lihai, Hu Beng Kui atau Hu-taihiap. Karena jago pedang ini pernah membuat geger dengan menyimpan Sam Hong Kiam atau Pedang Tiga Dimensi, maka Cebu menjadi terkenal dan semakin diingat karena sepak terjang jago pedang itu.
Hu Beng Kui sendiri beberapa waktu ini hidup tenang. Artinya, dia tidak mencari permusuhan ataupun dimusuhi. Jago pedang ini sudah berusia lima puluh tiga tahun, usia yang cukup matang bagi seorang laki-laki. Ia hidup menduda karena sudah lama ditinggal mati istrinya.
Bersama kedua putra-putrinya, Beng An dan Swat Lian, jago pedang ini sebenarnya cukup bahagia. Tapi sayang, nafsu tamaknya akan pedang keramat membuat pendekar ini menerima akibat: Beng An, putranya, tewas. Karena kini tinggal Swat Lian seorang yang menjadi putrinya dan usia jago pedang ini kian tua, maka kesadaran serta pengalaman batinnya pun meningkat.
Hari itu, sang jago pedang sedang duduk bersila. Lengan kirinya yang buntung disembunyikan dalam lengan baju yang panjang. Hanya kalau dia bergerak dan berjalan, barulah tampak kebuntungan pendekar itu. Namun, karena ia tetap seorang jago pedang lihai dengan seluruh kemahiran bermain pedang yang sudah mendarah daging, meski cacat, pendekar ini tetap menjadi sosok laki-laki yang disegani. Sebagai jawara atau pendekar besar, Hu-taihiap adalah laki-laki yang penuh wibawa. Karismanya mantap, gerak-geriknya tenang, dan apa pun yang digerakkan selalu mengandung tenaga.
Begitulah kondisi si jago pedang ini. Ketika pagi itu dia sedang duduk bersila dan tenggelam dalam samadi, mendadak kaca jendelanya pecah dihantam sesuatu.
"Prang!"
Hu Beng Kui langsung membuka mata. Sebagai pendekar, dia segera bereaksi; tubuhnya mencelat dan tangannya siap menghantam. Dia terkejut karena menyangka diserang musuh, hal yang mengagetkan karena telinganya tadi tidak mendengar apa-apa. Meskipun dalam keadaan samadi, telinga dan seluruh saraf jago pedang itu tetap hidup; sekali mendengar suara, tentu ia akan langsung bangkit dan waspada. Maka, begitu mendengar sesuatu yang mengejutkan tanpa tanda-tanda sebelumnya, pendekar ini sudah melompat dengan mata mencorong, siap melepas pukulan maut.
Tapi, apa yang dilihatnya? Jago pedang ini tertegun. Di depannya, tanpa disangka-sangka, terdapat sebuah cermin bulat lonjong yang tadi menghantam kaca jendela dan kini tergeletak diam. Cermin itu aneh, tidak bergerak dan juga tidak pecah. Entah dari mana datangnya. Barangkali dilempar iblis!
Hu Beng Kui terbelalak dan tidak segera mengambilnya. Saraf di tubuhnya bergetar dan pendengarannya dipertajam. Namun, ketika tidak ada suara apa-apa lagi dan cermin itu tetap diam tanpa hal yang mencurigakan, akhirnya pendekar ini berjungkir balik dan menyambar cermin tersebut.
"Cermin aneh, dari mana kau datang?" Hu Beng Kui mengamati cermin itu dengan heran dan kagum karena bingkainya terbuat dari emas. Bukan main, tentu sangat mahal harganya.
Ketika ia membalikkan cermin itu untuk mengamati bagian belakangnya, mendadak matanya yang tajam melihat guratan halus disertai gambar menyeramkan, seperti iblis atau genderuwo!
"Heh, apa ini?" Hu Beng Kui bergidik.
Dia merasa seram melihat lukisan itu. Saat mengamati lebih lanjut, ia melihat bagian lainnya dan terkejut karena bagian belakang di sisi yang lain tampak kosong dan polos. Bahkan, melihat bekas-bekasnya, cermin ini seakan-akan hanya belahan atau bagian dari sebuah cermin yang utuh. Jelasnya, cermin ini merupakan potongan setengah dari sebuah cermin lengkap. Cermin yang ada di tangannya itu seperti bekas "disobek" atau dibelah memanjang dari atas ke bawah. Ganjil sekali.
Ketika Hu Beng Kui sedang tertegun mengamatinya, guratan huruf-huruf halus di sana kembali menarik perhatian utamanya.
"Pelajaran ilmu silat!" Hu Beng Kui terpekik. Ia melihat bahwa itu adalah pelajaran ilmu silat tinggi yang hanya terdiri dari tiga jurus, mencakup pokok-pokok dasar melatih napas atau *sinkang*, teknik pukulan, serta daya bertahan. Jadi, masing-masing pelajaran ini telah mencakup semua dasar yang harus dimiliki seorang ahli: tenaga dalam, teknik menyerang, dan cara bertahan. Hanya itu, tidak lebih.
Karena sekali lihat saja jago pedang ini tahu bahwa ketiga pelajaran itu merupakan inti dari semua gerakan atau serangan, maka dengan tertarik dan bernafsu, ia mulai meneliti dan mempelajarinya. Sungguh aneh. Orang mungkin akan terheran-heran melihat Hu Beng Kui, seorang ahli silat dan jago pedang ternama, ternyata masih "berguru" pada pelajaran silat lain dengan begitu antusias, gembira, dan bersemangat. Namun, jika orang tahu bahwa di sudut bawah cermin itu terdapat sebuah nama yang membangkitkan gairahnya, maka keanehan itu akan sirna.
Nama siapakah itu? Tidak lain adalah Bu-beng Sian-su!
Ya, itulah yang membuat si jago pedang berseri-seri. Hu Beng Kui menyadari bahwa ini adalah pelajaran tingkat tinggi, bukan pelajaran sembarangan, melainkan inti ilmu silat yang diturunkan oleh kakek dewa itu melalui guratan huruf halus di cermin tersebut. Meski singkat, sebagai orang yang berpengalaman, jago pedang ini dapat menangkap maksudnya. Dia sudah kenyang dengan segala teori dan berbagai ragam ilmu silat, sehingga tentu saja mudah baginya untuk mengerti dan memahami tiga pelajaran singkat di cermin itu.
Karena Hu Beng Kui adalah "murid" yang sudah matang dan hanya butuh sedikit petunjuk untuk paham segalanya, tak lama kemudian jago pedang ini tertawa terbahak-bahak karena telah menguasai semua pelajaran di cermin tersebut.
"Ha ha ha, terima kasih, Sian-su. Kau agaknya sengaja memberikan ini kepadaku!" Hu Beng Kui sangat gembira. Ia tidak malu menganggap kakek itu sebagai gurunya karena dia tahu betul bahwa Bu-beng Sian-su adalah kakek dewa yang mahasakti. Dia sendiri tidak pernah menang menghadapi kakek itu; dia merasa seperti semut melawan gajah.
Ketika pagi itu dengan gembira namun hati-hati sang jago pedang mulai "menguras" ilmu silat di cermin itu, dengan lahap tapi tidak tergesa-gesa Hu Beng Kui mempelajari ketiga macam ilmu tersebut. Saat melatih *sinkang* sebagai pelajaran pertama untuk menumbuhkan tenaga super, secara ajaib dia merasa kekuatannya bertambah sepuluh kali lipat. Sekejap kemudian, Hu Beng Kui dapat melakukan hal-hal yang dulu tidak sanggup dilakukannya. Tubuhnya menjadi sangat ringan dan kini ia dapat bersila seperti Bu-beng Sian-su, tanpa menyentuh tanah alias mengambang. Bukan main!
Ketika kemudian ia mempelajari ilmu silat kedua yang mencakup pukulan-pukulan dahsyat—yang didorong oleh tenaga *sinkang*-nya yang kian menghebat—Hu Beng Kui tampak seperti seekor naga atau harimau yang tumbuh sayap. Jago pedang ini kini mampu memukul roboh sebuah bukit dan mampu menghilang dengan kecepatan sepuluh kali lipat dibanding sebelumnya.
Saat dia mempelajari pelajaran ketiga yang menjelaskan tentang cara bertahan dan melindungi diri—di mana dia mampu "memecah" dirinya menjadi beberapa sosok—jago pedang ini tertawa terbahak-bahak menyadari kenyataan bahwa dirinya sekarang sudah jauh berbeda dibanding beberapa hari yang lalu.
"Ha ha, sekarang aku akan dengan mudah dapat mengalahkan Kim-mou-eng. Anak-anak, kalau kalian gagal, aku yang akan merobohkannya!" Hu Beng Kui teringat putri dan murid-muridnya. Ia tertawa girang karena merasa benar-benar semakin lihai. Begitu lihai hingga apa pun rasanya sanggup dia lakukan.
Sebulan kemudian, setelah memahami semua pelajaran, jago pedang yang tengah berseri-seri menunggu putrinya itu mendadak melihat bayangan sang putri berkelebat datang sendirian.
"Ayah, Kam-suheng dan Beng-suheng diculik. Celaka...!"
Hu Beng Kui terkejut. "Apa yang terjadi?"
"Peristiwa hebat, Ayah. Kejadian luar biasa di puncak Bukit Malaikat!"
Swat Lian yang terengah-engah menceritakan semuanya, lalu menutup ceritanya dengan wajah gelisah. "Aku telah mencari Kam-suheng dan Beng-suheng di mana-mana, tetapi gagal. Nenek Dewi Api dan Hek-bong Siauw-jin juga tidak ada!"
"Nenek Dewi Api? Hek-bong Siauw-jin?"
"Ya, mereka, Ayah. Orang-orang luar biasa yang konon sudah dua ratus tahun umurnya. Kam-suheng dan Beng-suheng diculik oleh orang-orang ini. Ayah harus mencari dan keluar dari sini!"
"Hm, hmm... dan bagaimana dengan Kim-mou-eng? Kau sudah mencari Pendekar Rambut Emas ini?" tanya jago pedang itu teringat.
"Sudah, tapi..."
"Kau menang?" sang ayah memotong dengan tidak sabar. "Kau dapat mengalahkan Pendekar Rambut Emas itu? Bagaimana dia?"
"Tidak," Swat Lian terbelalak. "Pendekar Rambut Emas tidak sempat bertanding denganku, Ayah. Kejadian luar biasa di puncak Bukit Malaikat itu mengacaukan segalanya. Bu-beng Sian-su muncul, enam iblis mengeroyoknya, lalu hujan api serta kilat merusak semuanya di sana. Kim-mou-eng bersamaku, tapi kami tidak bertanding!"
Hu Beng Kui tertegun. Putrinya kembali menceritakan kedahsyatan kejadian di puncak Bukit Malaikat, tentang hujan dan petir yang menyambar-nyambar hingga orang terpelanting tidak keruan dan puncak bukit pun akhirnya gelap gulita. Ketika Swat Lian bergidik menceritakan itu dan memberi tahu bahwa Nenek Dewi Api serta yang lainnya akhirnya kabur meninggalkan Bu-beng Sian-su, gadis itu menyinggung soal Cermin Naga.
"Dunia persilatan geger, semua orang mencari-cari Cermin Naga yang terlempar dari Bukit Malaikat. Apakah Ayah tidak mendengar kabarnya?"
"Hm, aku selama ini tidak keluar rumah, Lian-ji. Aku menunggu dan tidak tahu apa-apa."
"Kalau begitu Ayah terlambat. Sekarang Ayah harus mencari Kam-suheng dan Beng-suheng!"
Jago pedang itu mengerutkan kening.
"Dan juga Cermin Naga, Ayah. Katanya cermin itu berisi warisan Sian-su tentang kesaktian tinggi. Kita harus keluar mencari cermin itu sekalian mencari Kam-suheng dan Beng-suheng!"
"Hm, bagaimanakah bentuk cermin itu? Adakah yang tahu wujudnya?" tanya Hu Beng Kui sambil teringat pada benda yang ditemukannya.