Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 40

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 40

"Tidak, benda itu hanya melayang-layang di puncak Bukit Malaikat, Yah. Setelah itu lenyap dan entah ke mana!"

"Tak ada yang tahu?"

"Kami hanya mengetahui bahwa sepasang cermin itu berpencar, satu ke utara sedangkan yang lain ke selatan!" Hu Beng Kui terkejut.

Seketika dia sadar bahwa cermin temuannya itu adalah cermin yang terlempar dari puncak Bukit Malaikat.

Bukan main, melalui jarak ribuan *li* cermin itu jatuh di kamarnya. Kini dia berdebar karena puterinya memberi tahu bahwa tiga di antara enam iblis mengejar cermin ke selatan, yang tiga lainnya mengejar lagi cermin yang ke utara, entah di mana cermin itu jatuh.

Mungkin juga akan ditemukan seseorang, seperti dirinya menemukan benda itu. Hu Beng Kui tiba-tiba tergetar. Jangan-jangan cermin yang satunya itu menyimpan rahasia ilmu silat lain.

Mungkin tandingan bagi cermin yang ada di tangannya!

Dan ketika pendekar itu tersentak dengan muka berubah, maka puterinya menyambar lengannya, mendesak.

"Mari kita berangkat, Yah. Kita cari Kam Suheng dan Beng Suheng, juga Cermin Naga. Kakek itu betul-betul hebat dan sakti!"

"Hm, nanti dulu," Hu Beng Kui menahan. "Kita cari di mana mereka itu, Lian-ji? Dan apakah suhengmu masih selamat? Ingat, kau sendiri bilang nenek Dewi Api dan Hek Bong Siauwim itu adalah tokoh-tokoh luar biasa, Lian-ji. Dan seingatku, mereka memang merupakan orang-orang berbahaya. Mereka sudah hidup dua ratus tahun yang lalu, sungguh mengherankan kalau belum mati dan kini keluyuran!"

Swat Lian tertegun.

"Lalu apakah kita harus diam saja?"

"Tidak, tentu saja tidak. Tapi kita tentukan dulu arahnya dan baru kita pergi. Tahukah kau ke mana kira-kira suhengmu dibawa?"

"Aku sudah menyelidiki dan berputaran ke mana-mana, Yah. Tapi gagal dan tak berhasil!"

"Kalau begitu tunggu saja semalam. Aku hendak bersamadi dan mencari jejak mereka lewat getaran tenaga batin!" Swat Lian melengak.

"Ayah dapat melakukan itu?" Ayahnya tertawa.

"Kubilang kita mencoba, anak bodoh. Kenapa menganggap pasti dan yakin? Aku hanya ingin tahu, tak lebih tak kurang. Lagi pula, bukankah kau baru saja tiba? Hm, kau istirahat dulu, Swat Lian. Besok kita berangkat dan aku ikut!" Malam itu Hu Beng Kui bersamadi. Dia telah memiliki tenaga sakti sekaligus juga tenaga batin dengan latihan samadi menurut petunjuk Cermin Naga. Kini hal itu dapat diuji dan ia akan mencoba. Apa pun rasanya mampu ia lakukan. Dan ketika malam itu jago pedang ini bersila dan puterinya ada di belakang, mendadak tengah malam ketika bunyi kentongan dipukul satu kali, pendekar ini merasa desir angin dingin yang berembus menuju rumahnya, melihat dengan mata batin bahwa sepasang nenek renta datang menghampirinya, disusul percakapan.

"Di sinikah sinarnya kau lihat?"

"Ya, di sini, Enci. Di kota ini!"

"Lalu di mana?"

"Kita cari, Enci. Agaknya di rumah itu!" Hu Beng Kui bergetar. Dari jauh ia merasa bayangan dua nenek berkelebat, menuju rumahnya. Bagaikan iblis saja, di atas genting sudah terdengar desir angin itu, halus dan enteng. Kalau bukan dia tak mungkin mendengar tapak kaki di atas itu, puterinya di belakang tenang-tenang saja, ini menunjukkan bahwa Swat Lian tak tahu. Kalau tahu, tentu datang ke kamarnya, memberi tanda.

"Hati-hati, kita tangkap jejaknya!" Jago pedang ini waspada. Sekarang dia malah terbawa getaran lain, dari jauh ia melihat dua nenek itu memasuki ruang depan, berkelebat dari akhirnya menuju ke ruang-ruang lain. Kian dekat getarannya kian hebat, pendekar ini sampai menggigil. Dan ketika dua nenek itu tiba di dekat pintu kamarnya dan dengan cara luar biasa membuka pintu dan masuk, maka Hu Beng Kui meniup lilin di atas meja hingga padam.

"Ada orang.....!" Dua nenek itu rupanya terkejut. Mereka melihat kamar yang sekonyong-konyong gulita. Hu Beng Kui ada di situ tak bergerak. Sekarang pendekar ini membuka mata dan menajamkan pandangan. Dia tak tahu bahwa sorot matanya mengeluarkan cahaya berkilauan bagaikan mata seekor naga, dua nenek itu terkejut. Dan karena sorot ini demikian jelas, sementara Hu Beng Kui sendiri tak menyadari, mendadak dua nenek di depan berseru tertahan dan melempar dua buah jarum ke sorot cahaya yang bukan lain adalah sepasang mata dari si jago pedang ini.

"Iihh....!" Seruan itu balik mengejutkan Hu Beng Kui. Pendekar ini kaget melihat dua sinar hitam meluncur menuju matanya, begitu cepat dan tepat. Terkejutlah pendekar ini karena menyangka tempatnya diketahui. Dia tak mengenal nenek itu tapi dapat merasa bahwa ini adalah dua nenek berbahaya yang luar biasa. Kedatangan mereka yang begitu ringan dan seolah-olah iblis cukup menyadarkan Hu Beng Kui akan datangnya musuh berbahaya. Maka begitu dua sinar hitam itu menyambar matanya dan pendekar ini harus bergerak, tiba-tiba Hu Beng Kui membuka mulutnya dan... menerima dua batang jarum itu.

"Uph!" Dua jarum lenyap. Hu Beng Kui tidak menelannya, memutar dengan lidah dan tiba-tiba dia meniup. Dan begitu mulut dibuka dan jarum diembuskan, maka dua batang jarum itu meluncur ke asalnya dan menyambar dua nenek di depan.

"Jahanam....!"

"Keparat.....!" Dua nenek itu membentak. Mereka mengelak dan menangkis, tangan bergerak dan jarum pun runtuh ke bawah. Dan ketika nenek di sebelah melepas pukulan panas dan lilin yang padam hidup kembali, maka kamar menjadi terang-benderang dan Hu Beng Kui terlihat, sementara dua nenek itu juga tampak!

"Betul, ada penghuninya...!" Nenek yang menyalakan lilin berkelebat. Tadi pukulan panasnya memercikkan api dan lilin pun hidup. Kini menyambar Hu Beng Kui dan cepat serta luar biasa ia menghantam si jago pedang itu. Hu Beng Kui terkejut tapi tak mengelak. Pendekar ini sekarang tahu siapa lawannya, betul-betul dua nenek tua, dan tiba-tiba saja tertawa. Dan ketika pukulan menyambar tiba dan ia menangkis, maka kamar itu tergetar sementara lukisan dan beberapa benda di dinding lepas terbanting.

"Dukk!" Semuanya berseru tertahan. Nenek yang melepas pukulan terjengkang, ia terlempar bergulingan sementara Hu Beng Kui hanya terhuyung dan tergetar saja, terdorong dua tindak. Dan ketika nenek itu berseru keras dan temannya melengking tinggi, tiba-tiba Hu Beng Kui disambar pukulan lain dari arah kiri.

"Dess!" Nenek terakhir ini menjerit. Ia terpental tapi Hu Beng Kui juga mencelat. Jago pedang itu berseru keras dan akhirnya berjungkir balik, keluar dari kamarnya. Dan ketika ia melayang turun dan hinggap di luar jendela, maka Swat Lian, yang mendengar lengkingan dan ribut-ribut itu berkelebat keluar, melihat ayahnya di situ dan dua nenek berambut acak-acakan yang dikenal.

"Sepasang Dewi Naga ....!" Nenek itu, yang menggeram dan sudah melayang melalui jendela, tampak tertegun. Dia sudah berdiri berhadapan dengan pendekar pedang ini, tak mengenal dan terkejut mendengar Swat Lian menyebut nama mereka. Itulah di luar dugaan. Tapi Hu Beng Kui yang tersenyum dan tertawa lebar tiba-tiba menggoyang lengan bajunya yang buntung.

"Ha-ha, inikah mereka, Swat Lian? Merekakah ini Dewi Naga yang kau ceritakan kemarin? Bagus, selamat datang, ji-wi Locianpwe. Aku Hu Beng Kui atau Hu Taihiap!"

"Hmm," Nenek di depan mendesis. "Kau Hu Beng Kui?"

"Ya, aku Hu Beng Kui, Locianpwe. Kabarnya kalian melarikan diri dari Bukit Malaikat dan keluyuran hingga ke Cebu. Ha-ha, apa yang kalian cari? Mau apa tiba-tiba datang ke rumahku seperti pencuri?"

"Keparat!" Nenek ini melengking. "Kami telah mendengar namamu, orang marga Hu. Tapi jangan kau sombong di hadapan kami. Mampuslah!" Nenek itu berkelebat, kembali menyerang dan ia rupanya penasaran oleh adu tenaga tadi. Hu Beng Kui ini adalah orang ingusan baginya. Mereka tokoh tua dan hanya Bu Beng Sian-su saja yang dapat mengalahkan mereka. Maka kaget dan marah bahwa Hu Beng Kui dapat menangkis pukulan mereka dan tadi mereka berdua mencelat dan bergulingan. Nenek ini sudah menyerang dan pukulan tangan kiri yang berkelebat mengeluarkan sinar api.

"Awas, Ayah....!" Swat Lian berteriak, tahu kehebatan nenek ini dan sudah memperingatkan ayahnya. Dia mau bergerak tapi sang ayah tertawa, mendorongnya. Dan ketika jago pedang itu merunduk dan sebelah tangannya yang kosong menyambut pukulan nenek itu, tiba-tiba suara menggelegar mengguncang tempat itu dan lengan baju Hu Beng Kui meledak menerima pukulan nenek ini, begitu dahsyat.

"Blarr!" Tembok dan bumi bergetar. Nenek itu, Bi Lin, terpental menjerit kaget. Swat Lian sendiri terjungkal dan terpekik. Gadis ini tak mengetahui kesaktian ayahnya. Dan ketika gadis itu bergulingan melompat bangun dan nenek yang lain berseru tertahan, maka Bi Lin, nenek kedua, sudah berjungkir balik dan terbelalak memandang Hu Beng Kui.

"Dia memiliki sinkang aneh, jahanam...!"

"Hm!" Nenek pertama berkelebat marah. "Kau mau pamer kepandaian di sini, Hu Beng Kui? Kau berani melawan kami yang pernah hidup sebelum kau lahir?"

"Ha-ha!" Hu Beng Kui girang, melihat sinkangnya betul-betul luar biasa. "Ini rumahku dan kalian tamu tak diundang, nenek siluman. Kenapa memaki aku dan menganggap aku pamer? Bukankah kalian yang sombong dan sewenang-wenang? Hm, aku orang marga Hu tak takut siapa pun, orang tua. Kalau kalian ingin dihormat yang muda, sebaiknya pergi dan jangan cari penyakit. Aku berani menghadapi kalian, meskipun dikeroyok dua!"

"Ayah...!" Swat Lian terkejut, pucat. "Kenapa kau menantang? Mereka ini hebat, Yah. Kim Mou-eng sendiri tak mampu menang, dan celaka!"

"Ha-ha, Kim Mou-eng memang bodoh, Swat Lian. Aku bukan seperti Kim Mou-eng. Kalau dua orang tua ini ingin main-main, tentu saja aku tak takut. Hu Beng Kui pantang disuruh mundur!"

"Wutt...." Nenek pertama tiba-tiba berkelebat, lenyap menghantam jago pedang itu. "Kau bicara besar, orang marga Hu. Kalau begitu coba ini dan hati-hati....!" Bi Kim, nenek pertama, gusar. Ia melihat adiknya kalah menghadapi jago pedang itu. Sinkang si jago pedang demikian hebat hingga adiknya terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment