Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 41

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 41

Jangankan adiknya, dia sendiri pun terkejut dan marah.

Maka ketika pendekar itu mengejek dirinya dan Bi Kim tak dapat menahan gusar, nenek ini sudah berkelebat dan menghantam. Serangannya tak terlihat, tahu-tahu lengan sudah terjulur menuju dada si jago pedang itu. Kim-mou-eng kalah cepat untuk mengelak, maka tidak aneh kalau Swat Lian memperingatkan ayahnya dengan jeritan tadi.

Tapi Hu Beng Kui, yang telah mempelajari warisan Cermin Naga dan mampu bergerak lebih cepat, tiba-tiba menggerakkan tangannya dan lengan yang tidak buntung itu menangkis.

"Plak!" Untuk kedua kalinya nenek ini tersentak.

Dari lengan Hu Beng Kui meluncur satu tenaga dahsyat yang membentur pukulannya tadi. Tenaga itu menerima tetapi tiba-tiba melontar, sehingga tenaga si jago pedang itu seperti karet yang membal dan tahu-tahu mendorong balik pukulannya sendiri. Ketika nenek ini menjerit dan terlempar jungkir balik, ia teringat pada pukulan Bu-beng Siansu yang mirip seperti itu.

"Iblis marga Hu ini memiliki Khi-bal-sin-kang (Tenaga Sakti Bola Karet)!" Bi Lin, nenek kedua, juga terkesiap. Dia sudah merasakannya dan ingin meneriakkan hal itu, namun ia sempat ragu-ragu sampai kakaknya memekikkan nama ilmu tersebut.

Benar, jago pedang itu memang memiliki tenaga sakti mirip bola karet. Ke mana pun karet itu dipukul, ke situ pula tenaga si pemukul membalik. Hu Beng Kui sendiri tidak tahu apa nama sinkang yang diwarisinya dari Cermin Naga itu; tidak ada sebutan atau penjelasan di sana. Namun ketika dua nenek itu tersentak dan berteriak kaget, tiba-tiba pendekar ini tertawa bergelak dan berseru nyaring.

"Haha, kalian tahu pukulanku, nenek siluman. Bagus, mari kita coba. Awas, sekarang aku menyerang... wut!"

Tubuh si jago pedang melenyap dan bergerak ke depan. Tiba-tiba ia sudah menjadi bayangan kilat yang meluncur begitu cepat. Hanya tampak tubuh berkelebat dan lengan baju buntung Hu Beng Kui dipakai mengebut. Jangan dianggap enteng kebutan ini, karena Hu Beng Kui mempergunakan khikangnya. Ketika nenek di depannya terkejut dan hendak mengelak namun kalah cepat, pundak Bi Kim, nenek pertama itu, menerima hajaran.

"Des!" Nenek ini terpekik.

Tadi dia menyerang tetapi Hu Beng Kui dapat menangkis, kini Hu Beng Kui menyerang dan dia tidak dapat menangkis. Jangankan menangkis, mengelak saja sudah tidak ada waktu. Ketika Hu Beng Kui tertawa bergelak, jago pedang itu bergerak mencelat-celat bagai bola, membuat Bi Kim sang nenek pertama jatuh bangun dihajar pukulan Khi-bal-sin-kang.

"Des-des-des!"

Swat Lian dan nenek Bi Lin terbelalak. Mereka berdua melihat betapa luar biasa cepatnya pukulan-pukulan Hu Beng Kui ini. Lawan tak dapat mengelak dan menerima pukulan bertubi-tubi. Nenek Bi Kim jatuh bangun dan kaget berulang-ulang. Saat ia dihajar dan tunggang-langgang menerima serangan-serangan itu, mendadak nenek ini melengking tinggi dan menghantam dengan satu pukulan dahsyatnya, Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis).

"Blar!"

Kali ini Hu Beng Kui tertahan. Jago pedang itu tergetar dan terdorong. Nenek Bi Kim berteriak dan berjungkir balik; ia tidak diserang lagi, namun wajahnya pucat saat berhadapan dengan Khi-bal-sin-kang milik jago pedang itu. Betapa pun juga, ia masih tertolak dan kalah!

Ketika nenek itu melayang turun dan kaget oleh semua ini, mendadak ia mengeluarkan senjata aneh berupa sendok dan garpu!

"Hu Taihiap, kau betul-betul hebat. Tapi aku akan membunuhmu!"

Hu Taihiap tertegun. Dia melihat nenek Bi Kim bersiap-siap; dua senjata aneh di tangannya itu bergetar serta berkeredep. Nenek Bi Lin tiba-tiba berkelebat dan berdiri di samping kakaknya. Saat Bi Lin juga terkejut dan marah oleh kehebatan jago pedang ini, nenek itu pun mengeluarkan senjata yang sama seperti milik kakaknya; sendok dan garpu, dua alat makan yang tentu saja berukuran besar, tiga atau empat kali lipat dari ukuran biasanya!

"Benar, dan kami akan membuntungi lengan satumu lagi, Hu Taihiap. Lalu membuang mayatmu ke hutan!"

"Haha," Hu Beng Kui masih tak gentar dan tertawa bergelak. "Kalian boleh bunuh aku kalau bisa, nenek siluman. Dan kalau kalian mencabut senjata, barangkali kita pun boleh main-main dengan pedang... sing!"

Tak tahu kapan dicabutnya, tahu-tahu sebatang pedang telah berkilauan di tangan jago pedang ini. Hu Beng Kui berdiri gagah sementara lengan bajunya yang kosong melambai ditiup angin. Gerakannya mengharukan, namun dua nenek itu mendelik karena serangan dari sosok yang "mengharukan" ini nyaris membuat mereka roboh. Mereka telah dibuat tunggang-langgang karena lengan baju yang kosong itu siap sewaktu-waktu diisi Khi-bal-sin-kang, ilmu sakti aneh yang entah didapat dari mana oleh pendekar itu. Mereka tertegun sekaligus terperanjat.

Ketika kedua pihak sudah saling bersiap dan pedang di tangan kanan Hu Beng Kui bergetar, Swat Lian yang terheran-heran namun masih mengkhawatirkan ayahnya mendadak meloncat maju sambil mencabut pedang.

"Ayah, mari kubantu. Biar kita mati bersama!"

"Haha, siapa yang ingin mati? Aku tidak akan apa-apa, Lian-ji. Mundur dan lihatlah pertandingan ini. Ayahmu bukan orang yang dapat roboh begitu saja!"

Swat Lian didorong. Ia tidak mau, tapi tiba-tiba ujung baju ayahnya yang kosong mengebut. Begitu dikebut, tiba-tiba Swat Lian terpelanting. Gadis itu kaget dan terpekik. Saat Swat Lian terbelalak dan melompat bangun, ayahnya berkata sambil tertawa lebar penuh kegembiraan.

"Anak bodoh, jangan anggap ayahmu seperti kucing yang siap diinjak mampus. Percayalah, aku dapat menghadapi mereka. Biarlah pertandingan ini menjadi uji coba bagiku!"

Gadis ini tertegun. Sekarang dia melongo melihat kesaktian ayahnya. Baru sebulan tidak bertemu, tiba-tiba ayahnya menjadi begitu lihai. Sinkang ayahnya benar-benar hebat, dan baru kali itulah dia dikebut hingga roboh. Dia merasakan tenaga luar biasa dahsyat meluncur dari lengan baju ayahnya tadi. Swat Lian terbengong-bengong. Sambil mengusap keringat, ia merasa berdebar sekaligus girang melihat ayahnya mampu menghadapi sepasang nenek sakti tersebut. Akhirnya ayahnya yang sudah berhadapan dengan dua nenek itu berkata:

"Nah, mulailah, orang tua yang terhormat. Mari kita main-main, tapi jangan salahkan aku kalau pedang melukai kalian!"

"Sombong!"

"Jahanam!"

Dua nenek itu berkelebat menyerang ke depan sambil membentak dan melengking marah. Sepasang senjata di tangan mereka mencocok dan sendok di tangan kanan mengauk. Hebat dan aneh serangan ini; baru kali itu Hu Beng Kui menghadapi lawan dengan senjata yang tidak lazim. Tapi karena dia sudah bersiap, ia membentak dan menggerakkan pedangnya. Jago pedang ini merunduk dan menangkis sambil mengerahkan Khi-bal-sin-kangnya.

"Cring-trang!"

Aneh dan luar biasa. Sepasang sendok dan garpu itu terpental saat bertemu pedang di tangan Hu Beng Kui. Ujungnya putus dan langsung terbabat. Ini merupakan bukti bahwa tenaga yang dimiliki Hu Beng Kui memang luar biasa, didukung oleh pedang yang tajam meskipun bukan pedang pusaka. Ketika dua nenek itu menjerit dan maju menubruk lagi, Hu Beng Kui menyambutnya. Pedang, garpu, dan sendok bertemu lagi dengan suara yang lebih nyaring dan memekakkan telinga, disusul oleh bentakan dan pekikan kedua nenek itu.

Dua nenek ini gusar. Karena pedang Hu Beng Kui dua kali mementalkan senjata mereka, dua nenek siluman ini melengking dan lenyap dalam satu serangan cepat yang ganas. Secara bertubi-tubi mereka menusuk dan menggaruk Hu Beng Kui. Si jago pedang melayani; pedangnya berkelebat menghalau dan membalas.

Saat kedua nenek itu memekik dan tubuh mereka menjadi bayangan iblis yang tak dapat diikuti mata, Swat Lian yang menonton dengan tegang mendadak merasa pening dan hampir roboh karena tak sanggup mengikuti gerakan mereka.

"Ayah, hati-hati! Jaga dirimu baik-baik!"

"Haha, ayahmu selalu hati-hati, Swat Lian. Lihat dan dengarkan apa yang kulakukan... sing-cring!"

Swat Lian serasa pekak. Benturan-benturan nyaring antara pedang ayahnya dan senjata nenek iblis itu semakin gencar. Suaranya menyakitkan telinga dan gadis ini tak tahan lagi. Ketika ayahnya juga berkelebat lenyap dan pertandingan berjalan sangat cepat, Swat Lian yang termasuk gadis berilmu tinggi pun tidak mampu lagi mengikuti jalannya pertandingan karena pandangannya kabur dan kepalanya serasa berputar.

"Aih, bangsat! Jahanam!" Begitu Swat Lian mendengar makian kedua nenek itu.

Sepasang nenek siluman ini merasa gagal karena senjata di tangan mereka selalu terpental balik. Khi-bal-sin-kang yang dimiliki jago pedang itu semakin ampuh setelah ia memegang senjata. Sekuat apa pun mereka mengerahkan tenaga, sekuat itu pula serangan mereka membalik ke arah mereka sendiri. Setiap kali senjata bertemu, garpu atau sendok di tangan mereka terpapas putus, hingga setengah jam kemudian senjata mereka tinggal separuh.

"Keparat, kau jahanam marga Hu! Bangsat!"

"Haha, tidak perlu memaki, orang tua. Kerahkan tenaga dan pusatkan konsentrasi kalian pada serangan. Jaga diri, sebentar lagi aku akan memainkan Giam-lo Kiam-sut (Ilmu Pedang Maut) milikku."

"Ayo, keluarkan! Kami tidak takut!"

"Begitukah? Baik, awas... wirrr!"

Pedang itu tiba-tiba berubah arah dan mengeluarkan suara lirih, lalu mendadak pecah menjadi beberapa bagian dan sinarnya menyambar ke arah tubuh kedua nenek itu. Hebat dan luar biasa, jago pedang ini telah mulai memainkan Giam-lo Kiam-sut-nya. Sambil tertawa dan berkelebat bersama pedang, sekonyong-konyong tubuh pendekar ini menyatu dengan pedangnya, lalu terbang meluncur menusuk tenggorokan si nenek.

"Cret-augh!"

Pekik dan jerit kesakitan terdengar. Baru sejurus pendekar ini mengeluarkan ilmu pedangnya, kedua nenek itu sudah terlempar. Leher mereka nyaris tertikam, namun kulit pundak mereka menjadi korban; terbeset dan luka padahal mereka sudah mengerahkan sinkang. Biasanya dengan sinkang tersebut, mereka mampu menahan bacokan senjata tajam sekuat apa pun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment