Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 42

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 42

Pedang sang pendekar terisi dengan *Khikang* dan *sinkang* yang sangat ditakuti kedua nenek itu. Pundak mereka tergores dan berdarah. Pedang berbalik, memaksa mereka melompat bergulingan untuk menghindari celaka.

Hu Beng Kui menunggangi pedangnya, menari-nari di udara bersama senjata itu. Gerakannya tampak seperti tarian, namun sebenarnya secepat kilat bagai burung terbang. Tubuh pendekar itu begitu ringan, setiap gerakannya selalu mendahului kedua nenek tersebut. Ta-ci dan Ji-moi, sang nenek iblis, berseru tertahan karena kaget, lalu menjauh. Namun, lawan selalu mengejar.

Jago pedang itu seolah tidak lagi menginjak tanah, melayang dan beterbangan dengan kecepatan luar biasa. Serangan demi serangan terus mendesak kedua nenek itu. Bi Lin dan kakaknya kewalahan, menjerit-jerit, hingga akhirnya beberapa tusukan mengenai tubuh mereka.

"Cret-cret!" Swat Lian terbelalak. Kini ia membuka matanya. Ia melihat kedua nenek iblis itu terhuyung-huyung kelelahan. Bayangan mereka tidak secepat tadi, sehingga ia bisa mengikutinya. Ia melihat ayahnya berhasil merangsek nenek itu, dan Bi Kim serta adiknya mengeluh kebingungan. Mendadak ayahnya berkata bahwa sebentar lagi kedua nenek itu akan roboh.

"Keparat, kami masih mempunyai ilmu lain, orang she Hu. Jangan sombong! Lihat..!" Bi Kim menepuk tangannya. Terdengar ledakan, dan asap hitam tiba-tiba muncul. Hu Beng Kui terkejut karena lawan kini menghilang. Terdengar kekehan dari balik asap, lalu nenek itu lenyap, tak dapat diserang. Bi Lin, sang adik, mengikuti. Ia menepuk tangannya, terdengar suara nyaring, asap hitam muncul, dan nenek itu pun hilang.

Hu Beng Kui kebingungan, tidak tahu harus menyerang yang mana. Tiba-tiba, Mo- sengciang, pukulan ampuh kedua nenek iblis, menghantamnya. Pukulan itu tak terlihat dari balik asap, membuat pendekar itu terkejut. Untungnya, *Khikangnya* menahan, dan pukulan itu terpental. Secara otomatis, tenaga sakti di tubuh pendekar itu membalas pukulan tersebut, membuat kedua nenek iblis di depan menjerit. Hal ini pun membingungkan mereka.

Karena marah dan bingung menghadapi *Khi-bal-sin-kang*, sendok dan garpu kembali menyerang.

***

Jilid VII Koleksi Kolektor Ebook

"BRET CRATT..!"

Baju Hu Beng Kui robek. Dua kali ia tertusuk, namun dua kali pula sendok garpu itu terpental. Sepasang nenek iblis itu terbelalak, karena lagi-lagi *Khi-bal-sin-kang* melindungi tubuh pendekar tersebut. Kemarahan mereka membuncah. Namun, karena Hu Beng Kui juga tidak dapat menyerang mereka, pertandingan berjalan imbang. Swat Lian yang berada di luar mendengar ayahnya memaki, "Iblis busuk, kalian mempergunakan ilmu hitam, nenek siluman. Ayo keluarlah dan jangan memakai itu!"

"Hi-hik, kalau kau pandai, kau boleh membuyarkan ilmu kami, orang she Hu. Ayo robohkan kami seperti katamu itu?"

"Kalian licik, kalian curang. Mana dapat ku robohkan kalau bersembunyi?"

"Heh heh, itu namanya tak mampu, Hu taihiap. Lebih baik kau pun tak mempergunakan *Khikang*mu itu dan kami muncul."

"Keparat, kalian pun tak dapat merobohkan aku. Biar kulihat sampai di mana tenaga kalian kalau bertanding sampai pagi!"

Kedua nenek di depan terdiam. Mereka tiba-tiba tidak tertawa lagi. Serangan masih terjadi, namun nenek di dalam gulungan asap hitam mengendorkan serangan. Mereka rupanya terkejut mendengar kata-kata lawannya tadi, ingin melihat tenaga mereka jika pertandingan berjalan lama. Ini berbahaya, mereka sudah tua, tidak mungkin kuat berlama-lama bertanding dengan yang lebih muda. Betapapun, Hu Beng Kui memiliki napas dan daya tahan. Ancaman itu membuat mereka terkejut sekaligus sadar. Tiba-tiba kedua nenek itu mengendorkan serangan, dan satu sama lain melengking lirih, memberi isyarat.

"Ji-moi, jangan kuras tenaga. Hati-hati....!"

"Ya, dan kau pun jangan bernafsu, Toa-ci. Biar saja kita manfaatkan kesempatan begitu tiba!"

Hu Beng Kui kini menyesal. Ia menggeram tanda mendongkol. Hu Beng Kui dapat diserang tapi tidak dapat dilukai, sementara nenek iblis di depan tidak dapat diserang, namun sekali diserang tentu akan terkejut. Pertandingan macam begini membuat repot dan bingung. Masing-masing pihak merasa menemui jalan buntu.

Ketika mereka tidak mengeluarkan suara lagi dan sama-sama mendongkol, tiba-tiba muncul sesosok bayangan pendek yang berkelebat di situ.

"Heh, kalian kiranya di sini, Bi Kim? Siapa lawan kalian ini?"

"Hek-bong Siauwjin!" Swat Lian tiba-tiba berteriak, terkejut, dan membuat bayangan itu terkejut.

"Eh, mana suhengku, Siauwjin? Mana dia? Keparat, kau iblis busuk........singg!"

Swat Lian yang meloncat dan menusukkan pedangnya tiba-tiba berkelebat dan menyerang setan cebol ini. Ia mengelak, dan Hek-bong Siauwjin tertegun. Tadinya ia tidak mengenal gadis itu. Namun, setelah Swat Lian menyerang dan membentaknya, tiba-tiba iblis cebol ini teringat dan terkekeh.

"Heh-heh, kau anak perempuan di pinggir sungai itu? Sumoi dari pemuda itu? Bagus, suhengmu sudah kuantar ke neraka, bocah. Dan kau pun boleh menyusul kalau suka......plak!" Si iblis tiba-tiba menangkis, kali ini tidak mengelak ketika Swat Lian menyerang lagi. Pedang di tangan gadis itu terpental, sementara Hek-bong Siauwjin tidak apa-apa. Swat Lian terpelanting.

Ketika gadis itu terkejut dan meloncat lagi, Bi Kim berseru nyaring, "Siauwjin, dia itu anak Hu-taihiap. Lebih baik kau bantu kami dan robohkan pendekar pedang ini!"

"Eh, dia Hu taihiap? Jadi ini orang she Hu yang terkenal permainan pedangnya itu? Ha-ha. Bagus. Kalau begitu bekuk dan tangkap dia, Bi Kim. Tak usah ku bantu kalian berdua tentu mampu!"

"Tidak, dia memiliki *Khikang*, Siauwjin. Ayo bantu kami dan jangan hiraukan gadis itu!"

"*Khi-bal-sin kang*?" Siauwjin melengak, mengelak serangan-serangan Swat Lian.

"Eh, kalian tidak main-main, nenek siluman? Jago pedang ini memiliki *Khikang*?"

"Ya, dan kami tak perlu malu minta bantuanmu, Siauwjin. Ayo ke sini dan tinggalkan gadis itu......cring-trangg!" Sendok dan garpu di tangan si nenek putus lagi. Mereka menampakkan diri, dan Hu Beng Kui berkelebat. Percakapan tadi membuat mereka lengah. Jago pedang ini membentak, dan pedang pun bergerak.

Kedua nenek itu terkejut dan terpaksa mengerahkan ilmu hitamnya, bergulingan lagi. Siauwjin terkejut, terheran-heran, menangkis, dan tiba-tiba menampar pedang di tangan Swat Lian. Gadis itu berteriak, dan pedangnya pun mencelat. Sungguh menghadapi orang-orang macam Hek-bong Siauwjin ini, ia bagai anak kecil saja.

Ketika Swat Lian mengeluh dan Hek-bong Siauwjin tertarik oleh kepandaian ayahnya, tiba-tiba iblis cebol ini meninggalkannya dan lenyap ke depan.

"Baik, coba kucoba dia, Bi Kim. Ingin kutahu apakah benar dia memiliki *Khi-bal-sinkang*....siuutt!" Hek-tong Siauwjin yang memukul dan melontar pukulan jarak jauh tiba-tiba sudah membokong dan menghantam punggung pendekar ini. Geraknya leluasa karena ia cebol. Hu Beng Kui membentak dan marah. Tentu saja ia menangkis. Ketika ia membalik dan lengan bajunya yang kosong menyambut pukulan Siauwjin, tiba-tiba setan cebol itu berteriak keras dan tubuhnya pun terlempar tinggi.

"Heii....dess!"

Hek-bong Siauwjin kaget. Untuk pertama kali ia percaya omongan rekannya. Pukulannya membalik, dan masih ditambahi lagi dengan *khikang* yang dilancarkan Hu Beng Kui. Jago pedang itu mengebut, dan ia pun terlempar. Ketika Hek-bong Siauwjin terpaksa berjungkir balik mematahkan pukulan lawan, dan kedua nenek iblis, Bi Kim serta Bi Lin, tertawa, iblis cebol ini melayang turun dengan muka pucat.

"Hayaa? Betul. Itu *Khikang*!"

"Heh-heh, sekarang kau percaya, Siauwjin? Nah, jangan main-main dan bantu kami. Coba kerubut bertiga dan cabut senjatamu!"

"Tidak, aku masih penasaran, nenek siluman. Biar aku bertangan kosong dulu dan kubuktikan lagi....siuuut!" Si iblis menyerang lagi, membokong, dan Hu-taihiap membentak. Dua kali Hek-bong Siauwjin selalu membokong dan menyerang curang. Ia marah dan menangkis. Ketika lengan bajunya kembali mengebut dan iblis itu terpelanting roboh, Hek-bong Siauwjin terbelalak dan ingat Bu-beng Sian-su.

"Dia seperti Sian-su. Keparat, ini *Khikang* yang dimiliki Sian-su.....!"

"Hi hik, tak perlu penasaran, Siauwjin. Jago pedang ini rupanya memang memiliki hubungan dengan Sian-su. Ayo, serang lagi dan jangan banyak cakap. Cabut senjatamu!"

Terpaksa, karena malu dan marah, dua kali dipukul balik oleh *Khi-bal-sin-kang*, tiba-tiba Hek-bong Siauwjin mencabut senjatanya, sebuah sabit lebar berbadan tipis. Sabit itu berkelebat dan lenyap, membentak Hu Beng Kui.

Ketika jago pedang itu dikeroyok tiga dan menggeram memaki lawannya, pedang bergerak, dan sabit di tangan iblis cebol itu pun ditangkis.

"Cranggg!"

Sama seperti Toa-ci atau Ji-moi, iblis ini terkejut. Ia berteriak melihat ujung sabitnya putus terbabat, lagi-lagi karena *Khikang*. Bukan main marahnya setan cebol ini. Namun, membentak dan menerjang lagi, akhirnya ia berkelebat dan menggerakkan sabitnya, tidak berani beradu secara langsung. Nenek Bi Kim maupun Bi Lin terkekeh. Mereka geli oleh pelajaran yang didapat rekan mereka itu. Hek-hong Siauwjin hati-hati, mendelik dan memaki-maki mereka.

Lalu, ketika mereka bertiga bergerak menyerang dan Hu Beng Kui dikepung dari tiga penjuru, jago pedang ini menggerakkan pedangnya seraya mengibaskan pula lengan bajunya yang kosong. Ramailah pertandingan itu.

Swa! Lian terbelalak melihat kehebatan ayahnya ini, semakin terbelalak, kagum, dan terheran-heran. Ia baru kali itu mendengar *Khi-bal-sin-kang*, *sinkang* aneh yang didapat ayahnya entah dari mana. Kini melihat ayahnya mampu menghadapi Hek-bong Siauwjin dan kedua nenek iblis Bi Kim serta Bi Lin, dan ayahnya tidak tampak terdesak, gadis ini girang bukan main dan takjub.

"Yah, bunuh mereka itu! Tangkap dan bekuk Hek-bong Siauwjin, dia menculik Bong Suheng!" Swat Lian mulai berteriak, menyoraki dan memberi semangat pada ayahnya. Namun, Hek-bog Siauwjin dan Toa-ci serta Ji-moi mendengus. Mereka memang tidak dapat mendesak jago pedang ini, namun sesungguhnya jago pedang itu pun tidak dapat mengalahkan mereka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment