Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 43

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 43

Aneh pertandingan ini.

Hu Beng Kui kebingungan karena dua nenek siluman menyembunyikan diri lagi di balik ilmu hitam, tabir asap yang melindungi mereka itu membuat si jago pedang memaki.

Hek-bong Siauwjin terbahak dan mengeluarkan ilmu hitamnya pula, meniup dan asap hitam pun tiba-tiba membungkus dirinya.

Rupanya setan cebol ini tahu bahwa dengan cara itu Hu Beng Kui tidak dapat menyerang.

Menirulah dia cara yang dipergunakan rekannya dan lenyaplah pula iblis ini di balik asap hitam.

Dan karena mereka tokoh-tokoh tua yang kepandaiannya sudah tinggi dan hanya menghadapi Khikang mereka kewalahan dan berhati-hati, maka seruan Swat Lian disambut dengus dan ejekan.

"Heh, ayahmu itu tidak dapat mengalahkan kami, bocah.

Meskipun dia hebat tapi kami pun tidak dapat diserang!" Nenek Bi Kim mendelik, mendongkol pada gadis itu dan tiba-tiba dia memekik.

Adiknya menyambut dan tiba-tiba dua nenek ini menyerang dari muka dan belakang, Hek-bong Siauwjin menyerang dari samping dan Swat Lian pun tidak dapat mengikuti jalannya pertandingan.

Gerakan mereka sudah sedemikian cepat hingga mata pun kabur mengikuti jalannya pertandingan. Dan ketika Hu Beng Kui terkejut karena lawan dapat menyerang di balik asap hitamnya, maka jago pedang ini mendapat tusukan atau bacokan.

"Plak-Brett!

Khikang lagi-lagi melindungi pendekar itu.

Hu Beng Kui tidak apa-apa, hanya baju dan pakaiannya robek, lawan berteriak marah dan menyerang kembali.

Dan karena pendekar ini kebingungan karena lawan tidak terlihat, tiba-tiba dia didesak dan Hek-bong Siauwjin tertawa.

"Ha-ha, sekarang kau mampus, Hu taihiap.

Sekarang kau terdesak!" Jago pedang ini menggeram.

Terdesak dalam arti sebenarnya sebetulnya tidak, dia hanya kewalahan menghadapi sambaran senjata yang mencuat dari balik ilmu hitam, apalagi ketika matanya dijadikan sasaran.

Tiga iblis itu cerdik, dia sudah mengincar bagian ini, matanya tidak mungkin dilindungi Khikang, benda itu memang paling lemah.

Hek-bong Siauwjin dan nenek Bi Kim terkekeh-kekeh.

Tapi ketika lawan mendesak curang dan jago pedang ini teringat ilmu bertahan di Cermin Naga, mendadak pendekar ini mengeluarkan seruan panjang dan pedang tiba-tiba dilontar jauh ke udara, meloncat dan tiba-tiba berkelebatan dan lawan pun terseru kaget.

Hu Beng Kui tiba-tiba memecah dirinya menjadi tiga, begitu cepat dan luar biasa hingga Bi Kim dan dua temannya terpekik.

Itulah ilmu yang lagi-lagi mirip dengan yang dipunyai Sian-su, mereka tentu saja tidak mengira jago pedang ini telah mendapatkan Cermin Naga. Dan ketika Hu Beng Kui semakin mempercepat gerakannya dan bayangannya dari tiga menjadi enam dan dari enam menjadi dua belas, akhirnya bayangan pendekar itu menjadi ratusan banyaknya dan Hu Beng Kui tampak pecah menjadi seribu! "Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa)!" Nenek Bi Kim menjerit, kaget dan terkesiap karena kini lawan berkelebatan cepat di sekeliling dirinya.

Tabir asap hitam menjadi tidak berguna dan tampaklah kini bayangan si nenek itu, juga Bi Lin, sang adik, begitu pula Hek-bong Siauwjin.

Tiga orang itu merasa ditelanjangi dan mereka tidak dapat lagi bersembunyi di balik ilmu hitam. Sekonyong-konyong Hu Beng Kui tertawa bergelak menggerakkan pedangnya tiga kali, pedang yang sudah ditangkap dan disambar dari udara.

"Ha-ha, sekarang kalian tidak dapat lari, nenek siluman. Aku masih lebih lihai dari kalian... Cret! Sing! Sing!" Nenek Bi Kim mengeluh, pundaknya terluka dan ia membanting-banting tubuh bergulingan.

Hu Beng Kui ternyata memiliki Jing-sian-eng pula, di samping Khi-bal-sinkang.

Dan karena pendekar itu sekarang dapat melihat mereka dan ke mana pun mereka bersembunyi selalu dikejar pedang, maka Hek-bong Siauwjin dan nenek Bi Lin mencelos pula, berteriak dan mendapat satu babatan dan cepat menangkis, lupa bahwa senjata di tangan mereka tidak mungkin menang menghadapi tenaga pendekar itu.

Benar saja, senjata mereka putus dan pedang masih terus menyambar miring, mereka membanting tubuh bergulingan dan berteriak kaget.

Dan ketika mereka melompat bangun dan di sana Bi Kim sang nenek pertama melengking gentar, maka nenek ini tiba-tiba berjungkir balik dan lenyap melarikan diri.

"Ji-moi, mundur.

Biar setan cebol itu menghadapi sendirian!" "Aih," Hek-bong Siauwjin terbelalak, kecut.

"Kalian meninggalkan kawan, Bi Kim?

Ha-ha, tidak usah, nenek busuk.

Aku pun juga pergi... Siuut!" Dan sebuah sinar putih yang menyambar dan tahu-tahu menuju tenggorokan Hu Beng Kui namun dikebut jago pedang itu, runtuh dan ternyata sisa potongan sabit.

Hu Beng Kui tertawa bergelak mau mengejar, sinar putih kembali menyerang dan kali ini pisau-pisau kecil yang dilontar lawan.

Dari arah lain menyambar pula garpu dan sendok puluhan banyaknya, itulah senjata rahasia milik dua nenek siluman itu.

Tapi ketika Hu Beng Kui meruntuhkan semua senjata, dan pedangnya berdenting berkali-kali, maka Swat Lian melompat bangun dan terseru keras.

"Ayah, jangan kejar.

Aku tidak dapat mengikutimu!" Dan si jago pedang yang sadar dan cepat menahan langkah akhirnya tertawa dan menyambut putrinya, menyimpan pedang dan matahari pun mulai semburat di langit timur.

Kiranya pertandingan telah berjalan cukup lama, tidak kurang dari empat jam.

Dan ketika Swat Lian menubruk ayahnya dan menangis di dada ayahnya, maka si jago pedang sendiri terbahak-bahak.

"Ha-ha, sekarang aku tidak takuti siapa pun, Swat Lian.

Ilmu kepandaianku sudah naik sepuluh kali lipat!"

"Ya, dan kau hebat bukan main, Ayah.

Kau sekarang menjadi orang sakti!

Kepandaian dari manakah semuanya itu?

Bukankah sebelumnya menghadapi Kim-mou-eng pun kau kalah?"

"Ha-ha, ini kudapat dari, eh... mari masuk, anak baik.

Kita ke dalam!" Dan si jago pedang yang menghentikan semuanya menarik sang putri lalu berkelebat dan masuk ke kamar.

Di situ membetulkan gambar-gambar yang berserakan di lantai.

Kepuasan dan rasa gembira jelas terbayang di wajah pendekar ini.

Dan ketika ia duduk sementara putrinya menunggu dan tampak terbelalak, maka pendekar ini mengeluarkan cermin yang didapatnya itu.

"Inilah asal mulanya, aku belajar dari sini."

"Cermin Naga?" Swat Lian terkejut.

"Kau mendapatkannya, Yah?

Dari mana ini?

Eh...!" Dan Swat Lian yang bengong mengamati-amati benda itu lalu melihat guratan-guratan halus di belakang cermin.

Kaget dan girang tapi sekaligus juga khawatir!

Dia tidak menyangka ayahnya bakal mendapatkan benda itu, padahal benda ini menjadi rebutan orang banyak dan ayahnya tidak tahu dan tidak ada di Bukit Malaikat.

Waktu itu dia hanya bersama suhengnya dan lain-lain, terkejut dan tertegun.

Dan ketika dia bertanya dari mana dan bagaimana ayahnya itu bisa mendapatkan cermin ini, maka ayahnya tertawa berkata mengherankan,

"Aku mendapatkannya di rumah ini, di kamar ini.

Waktu itu aku bersamadhi dan cermin ini tahu-tahu memecahkan kaca jendelaku dan jatuh di sini."

"Ayah tidak bohong?"

"Heh, untuk apa bohong, anak nakal?

Kau kira aku bohong?"

"Tapi cerita Ayah mirip dongeng, sulit orang percaya!"

"Hm, begitulah kenyataannya, Lian-ji.

Aku sedang bersamadhi dan tahu-tahu cermin itu menabrak jendela dan jatuh di sini.

Aku memang tidak ke mana-mana, aku sendiri juga heran."

Swat Lian tertegun.

"Dan Bu beng Sian-su.

Hm..." Gadis ini teringat pesan kakek dewa itu.

"Kakek ini luar biasa, Ayah.

Aku khawatir dengan Cermin Naga ini!"

"Apa yang kau khawatirkan?"

"Aku khawatir kau dicari orang banyak!"

"Musuh maksudmu?"

"Ya."

"Ha-ha, aku tidak takut, Lian-ji.

Biar enam iblis itu pun datang kemari aku sanggup menghadapi mereka.

Aku kini memiliki Khi-bal-sinkang, juga Jing-sian-eng!"

"Benar, tapi ini berarti permusuhan, Ayah.

Aku jadi khawatir terulang kejadian seperti dulu, ketika kau memegang Sam kong-kiam!"

"Hm," Jago pedang itu tiba-tiba berkerut, menarik putrinya mendekat, mengusap rambutnya.

"Tidak akan ada kejadian seperti dulu lagi, Swat Lian.

Kalau toh harus ada korban jiwa maka itu haruslah aku, bukan kau.

Aku tidak akan membiarkan putri tunggalku menjadi korban, percayalah!"

"Aku percaya." Swat Lian menggigil, terisak teringat kematian kakaknya.

"Hanya... hanya aku ngeri melihat benda-benda pusaka, Ayah.

Sebaiknya kau kembalikan saja benda itu kepada Sian-su!"

"Apa?" Sang ayah terkejut, mendorong putrinya.

"Kau gila, Swat Lian.

Benda ini datang dan jatuh di kamarku tanpa kuminta.

Kalau aku merebut barulah itu tidak baik dan harus dikembalikan, seperti Pedang Tiga Dimensi dulu.

Tapi bukankah Cermin Naga datang sendiri dan rupanya berjodoh di sini?

Tidak, benda ini akan kusimpan, Swat Lian.

Dan justru kau kuminta untuk mempelajarinya pula!"

"Aku tidak mau," Swat Lian menggeleng.

"Aku takut, Yah, aku tidak mau..." "Kenapa?"

"Pokoknya aku tidak mau." Dan Swat Lian yang melompat bangun memandang ayahnya tiba-tiba berseru.

"Yah.

Kita harus mencari Kam suheng dan Beng-suheng.

Kepandaianmu sekarang hebat, kau memiliki kesaktian tinggi.

Mari kita cari mereka dan kejar si iblis cebol Hek-bong Siauwjin itu!"

"Em, aku pribadi tidak suka menanam permusuhan, anakku.

Tapi kalau Hauw Kam dan Gwan Beng diculik orang tentu saja kita harus mencari.

Baiklah, kita berangkat dan kejar si setan cebol itu."

Swat Lian girang.

Ayahnya sudah bangkit berdiri dan mau diajak, itu pertanda baik.

Tapi ketika ia hendak keluar dan sang ayah memandangnya aneh, tiba-tiba pendekar itu menahan putrinya.

"Nanti dulu, bagaimana dengan Kim-mou-eng?

Bukankah dia juga harus dicari?"

Swat Lian terkejut.

"Boleh dicari tapi jangan sekarang, Yah.

Pendekar Rambut Emas sendiri sedang susah dan bingung."

"Kenapa?"

"Anaknya hilang, diculik Sepasang Dewi Naga itu!"

"Tapi sepasang nenek iblis itu tidak membawa apa-apa, mereka tampaknya sendirian saja!"

"Benar, tapi..."

"Hm, apa pedulimu?" Sang ayah memotong.

"Itu urusan Kim-mou-eng sendiri, Swat Lian.

Kalau dia kehilangan anak itulah salahnya sendiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment