Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 44

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 44

"Tidak, kita cari suhengmu dan Kim-mou eng itu juga. Siapa pun yang kita dapatkan harus didahulukan. Mari!" Dan sang ayah yang menyentak serta menarik puterinya, tiba-tiba mereka keluar melalui jendela. Lalu begitu pendekar itu mengerahkan kesaktiannya dan berkelebat ke utara, tiba-tiba pendekar ini terbang dan sudah membawa puterinya meninggalkan Cebu, lenyap dan hilang dalam sekejap mata saja. "Koko, bangun. Heii, jangan malas!" "Mmmm... sudah siangkah! Di mana kita?" "Hi-hik, kita di Telaga Tiga Naga, koko. Ayo bangun dan cuci muka, lalu sarapan!" Suara kekeh dan geliatan tubuh terdengar di pagi itu.

Sepasang muda-mudi tampak gembira di kamar sebuah losmen. Si wanita menggelitik kekasihnya, dan si pemuda pun bangun, menggeliat, menguap, lalu tertawa. Semalam itu dia tidur terlalu larut, mata masih mengantuk, namun sang kekasih membangunkan. Dia bangun dan terhuyung ke kamar mandi. Dan ketika air ditepiskan ke muka dan rasa dingin mengejutkan saraf, maka si wanita yang mengikuti dan terkekeh di belakang mendorong tak sabar. "Hi-hik, masuk, koko. Ayo mandi dan biar kusiram!" "Eh-eh, nanti dulu, Siong-hi. Aku belum siap, aku masih kedinginan. Uh... eh!" Dan si wanita yang menyiramkan air tanpa menunggu lagi mendadak membuat si pemuda terkejut, namun tertawa. Seluruh pakaiannya dilepas dan mandilah dia bersama kekasihnya itu. Pagi yang segar di Telaga Tiga Naga mudah membuat orang merasa gembira. Sepasang muda-mudi ini pun begitu, dan mereka tertawa-tawa di kamar mandi itu. Siong-hi, si wanita, menggerujuk kekasihnya dengan air berkali-kali. Dan karena Telaga Tiga Naga adalah daerah dingin di mana air serasa beku seperti es, maka si pemuda menggigil kedinginan, namun tertawa menyambar kekasihnya itu, lalu memeluknya.

Lalu begitu dia disiram lagi dan pemuda ini gemas-gemas mendongkol, tiba-tiba ia pun menyergap mulut kekasihnya dan mencium. "Siong-hi, kau nakal. Harus dihukum!" Dan suara air yang berhenti tiba-tiba diganti kecupan dan ciuman, akhirnya membuat kamar mandi itu tak berisik lagi dan sejenak dipenuhi suara dan keluhan nikmat. Keduanya saling peluk dan dekap di kamar mandi itu, kemesraan ditunjukkan masing-masing pihak, dan si wanita pun memejamkan mata. Tapi ketika si pemuda melepaskan dirinya dan wanita ini membuka mata, maka Siong-hi terengah manja. "Hanko, kau nakal. Hanya begini saja?" "Maksudmu?" "Jangan setengah-setengah, koko. Cumbu dan berilah aku kasih sayangmu sepenuhnya!" "Ha-ha...!" Dan si pemuda yang menyambar dan meraih pinggang si wanita, tiba-tiba sudah menggulingkan tubuh dan mencium lagi, kini lebih ganas dan agresif dibanding tadi. Si wanita merintih dan mengeluh. Dan ketika si pemuda memagut dan menciumi bagian-bagian lain lagi, akhirnya mereka pun terbang ke surga, dan kamar mandi itu menjadi saksi bisu atas semua asyik-masyuk ini. Setengah jam kemudian, erangan puas terdengar di situ.

Keduanya bangkit dan sama-sama mandi, terkekeh. Lalu ketika keduanya keluar dan berganti pakaian, maka si pemuda memuji tak habis-habisnya, kagum. "Siong-hi, kau cantik. Sungguh cantik!" "Ih, berulang kali kau memujiku, koko. Tidakkah kau bosan?" "Ha-ha... memuji dan mengagumimu takkan membuatku bosan, Siong-hi. Kau istriku yang cantik dan kukagumi!" Mata yang mengerling itu melerok manja. Siong-hi tertawa dan merebahkan tubuh di dada kekasihnya. Mereka ternyata sepasang suami istri muda. Agaknya masih dalam suasana bulan madu, dan si pemuda menyambut... Dan ketika pintu diketok dan seorang pelayan memberi tahu bahwa ia akan mengantar makanan, maka Siong-hi, si cantik ini menggeliat bangun.

"Nah, sudah waktunya sarapan, koko. Mestinya sejak tadi, namun pelayan rupanya segan menemui kita. Ayo, kita ke taman!" Siong-hi membuka pintu, melihat seorang pelayan berdiri di pintu dengan senyum penuh arti, membawa penampan berisi sarapan pagi, mengangguk. Namun, ketika wanita ini memberi tahu bahwa mereka ingin makan di taman, maka si pelayan diminta mengantar makanan itu ke sana. "Letakkan di meja taman, ambil yang menghadap telaga!" Si pelayan mengangguk, memutar tubuh, lalu membawa pergi makanan tamunya.

Dan ketika wanita ini mengajak suaminya, dan berdua mereka ke taman, maka si pemuda menggandeng dan memeluk pinggang istrinya itu. Siapakah mereka? Sudah kita kenal, Kwee Han dan Siong-hi, istrinya. Mereka memang telah menikah dan kini dua suami istri itu ke Telaga Tiga Naga. Inilah tempat di mana mereka dulu berasyik-masyuk, di situlah Kwee Han mengenal wanita dalam arti sesungguhnya. Kini ia merasa bahagia dan mencintai istrinya sungguh-sungguh. Siong-hi memang cantik, merenggut seluruh sukma pemuda itu. Dan ketika Kwee Han, pemuda asal Mingciang yang gagah dan pemberani ini bertekuk lutut di kaki istrinya, maka sepuluh bulan ini pemuda itu selalu meminta istrinya berlibur di Telaga Tiga Naga. Kwee Han sekarang pemuda kaya raya. Tokonya besar, pandai berdagang, dan kebetulan sahabat Khek Taijin pula, menteri yang banyak memberi hadiah pada pemuda itu. Menteri yang tentu saja banyak kenalan dan mudah menggalang persahabatan dengan siapa saja, tentu saja orang-orang besar, kaum bangsawan, atau pedagang. Kwee Han banyak dibantu menteri ini dan mengalami kemajuan besar. Artinya, kemajuan materi, karena pemuda itu sekarang sudah berkecukupan dalam segala bidang. Untuk makan dan minum, Kwee Han tak perlu khawatir lagi. Bekas nelayan yang sudah menjadi hartawan ini berlimpahan harta benda, semua mula-mula berasal dari Khek Taijin.

Dan ketika hari itu, akhir pekan, Kwee Han pesiar dan mengajak istrinya ke telaga ini, maka suami muda ini merasa gembira dan bahagia karena sang istri dirasa mencintai dan menyayanginya pula. Siong-hi tampak setia. Ke mana si suami pergi, ke situ wanita ini mengikuti. Bahkan, toko Kwee Han pun dia yang mengelola. Siong-hi istri yang pandai dan mengagumkan, Kwee Han harus mengakui itu, dan kadang-kadang dia merasa kecil. Maklum, Kwee Han ini adalah bekas pemuda yang kehidupannya dulu sebagai nelayan biasa. Sebuah perahu bututnya saja diperoleh dengan susah payah, pendidikannya sedang-sedang saja dan tidak tinggi. Dan ketika semuanya dibantu Siong-hi dan toko serta perdagangan mereka maju, maka setiap minggu Kwee Han mengajak istrinya melepas lelah di Telaga Tiga Naga. "Kita sehari-hari bekerja penuh. Seharusnya seminggu sekali harus rileks dan mengendorkan pikiran. Bagaimana pendapatmu, Siong-hi?" Dulu pernah pemuda ini bertanya. Istrinya menjawab dengan senyum dan anggukan. Dan ketika Siong-hi setuju dan sependapat, maka wanita ini menjawab,

"Tentu saja, bukankah kita hidup untuk mencari senang, koko? Bekerja sehari-hari memeras keringat memang meletihkan. Aku setuju dan sependapat dengan maksudmu. Hanya ke mana kita melepas lelah?" "Telaga Tiga Naga! Bukankah di sana pertama kali kita menjalin cinta? Ha-ha, kita pesiar di sana, istriku. Kita mengulang kenangan manis kita dulu!" Siong-hi tertawa. Mereka kini setiap minggu pasti ke sana, pelayan losmen mengenal mereka, dan tentu saja mereka disambut gembira. Kwee Han cukup royal membagi persen. Maklum, uang didapat dengan mudah. Dan ketika hari itu mereka kembali bersenang-senang, dan masa bulan madu seolah tak habis-habisnya, maka Kwee Han gembira dan bahagia, meskipun ada satu yang agak mengganjal, yakni belum diperolehnya keturunan.

"Siong-hi, kapan kita punya anak? Kenapa kau belum berubah juga?" "Ih, kenapa tergesa-gesa, koko? Bukankah kau masih ingin bersenang-senang?" "Benar, tapi aku mulai ingin punya keturunan, Siong-hi. Aku ingin menjadi bapak!" Siong-hi tertawa. Kalau sudah begini, biasanya dia akan melingkarkan lengan di leher suaminya, berbisik menyuruh sabar, dan memberi kecupan mesra. Kwee Han tampak terburu-buru dan segera akan sabar lagi kalau sudah dipeluk. Dan ketika hari itu pemuda ini juga terhanyut dan mabuk dalam belaian istrinya, maka Siong-hi lalu mengajak suaminya pesiar ke tengah telaga, berperahu. "Kita ke tengah, cari perahu yang baik!" Kwee Han menurut. Setelah sarapan, dia lalu mencari perahu, bersenang-senang di tengah telaga bersama istri tersayang.

Tapi ketika mereka asyik mendayung pelan dan Kwee Han minum arak sambil bernyanyi-nyanyi, mendadak sebuah perahu lain muncul dan tiga laki-laki di sana terbelalak memandang Siong-hi. "Eh, bukankah itu Siong-hi?" "Benar, itu Siong-hi, Giokpo. Si cantik yang dulu pernah melayani kita!" "Ha-ha, memang benar, itu Siong-hi. Kebetulan...!" Dan tiga laki-laki di atas perahu yang segera memutar dan mendekatkan perahunya ke perahu Siong-hi, tiba-tiba membuat Siong-hi pucat karena mengenal mereka sebagai orang-orang kasar yang dulu memang pernah kencan dengannya, pembantu atau tukang pukul Ban Taijin, sahabat dari Khek Taijin. Mereka dulu pernah datang di gedung menteri Khek, dan Bao Taijin melihatnya, memintanya, dan menyuruhnya melayani. Akhirnya, tiga orang itu pun minta bagian. Khek Taijin memberikannya karena di gedung itu dia memang pelayan, Siong-hi tak dapat menolak. Dan ketika tiga orang di atas perahu itu tertawa-tawa menghampirinya dan Siong-hi pucat, maka perahu itu pun mendekat, dan Kwee Han saat itu mulai mabuk, terbelalak melihat orang-orang ini. "Eh, siapa mereka?" "Ha-ha!" Perahu sudah menempel, tiga orang itu berloncatan ke perahu Kwee Han.

"Kami sahabat Siong-hi, anak muda. Kau rupanya pacar barunya dan tak tahu, ha-ha...!" Dan mereka yang tertawa-tawa menghampiri Siong-hi, tiba-tiba menyambar dan mencekal lengan wanita itu. "Hei, kau ingat kami, Siong-hi? Aku Giokpo, orang kepercayaan Ban Taijin!" "Ya, dan aku Tinghong, Siong-hi. Kau tentu masih ingat ketika memberikan kecupan mesra padaku!" "Ha-ha, dan aku tak lupa. Kau tentu tak lupa pula, Siong-hi. Ayo kita bersenang-senang dan pindah ke perahu kami!" Siong-hi ditarik, disambar, dipegangi, serta diremas-remas, dan Siong-hi tentu saja berteriak-teriak. Wanita ini pucat, dan Kwee Han yang mabuk, tiba-tiba menggereng. Pemuda itu melihat seolah ada enam orang di situ.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment