Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 45

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 45

Dan ketika mereka tertawa-tawa, menarik, dan menjamah-jamah istrinya, mendadak pemuda ini menyambar dayung, dan rasa mabuknya tiba-tiba hilang. "Manusia-manusia keparat, kalian binatang!"

Plak! Plak! Dess! Dan dayung yang menyambar serta menghantam tiga kali tiba-tiba membuat tiga laki-laki itu menjerit, terpelanting, masuk ke air telaga, dan terlempar keluar perahu.

Gegerlah tempat itu. Orang di tepian terbelalak dan kaget. Suara terceburnya tiga laki-laki kasar tadi, diiring pekik dan teriakan, segera menarik perhatian semua orang. Tiga laki-laki yang kecebur sudah berenang marah. Mereka memaki dan naik ke atas perahu. Tapi begitu tangan memegang pinggiran perahu, Kwee Han menghantam, maka tiga orang ini menjerit lagi dan jatuh.

"Kalian manusia-manusia busuk, kuhajar kalian!" Kwee Han marah-marah, menghantam dan memukuli setiap laki-laki yang coba naik ke perahunya. Tiga laki-laki itu nekat. Namun, karena Kwee Han di atas perahu dan mereka di air, tiba-tiba ketiganya memekik dan langsung menyelam menyerang bawah perahu Kwee Han. Perahu diguncang-guncang dan diguling ke kiri-kanan.

"Aduh, jangan... jangan...!" Siong-hi histeris, takut tercebur karena ia tak pandai berenang. Mereka berada di tengah dan bisa tenggelam dia nanti.

Kwee Han kaget, seketika meluaplah amarahnya. Dan karena pemuda ini adalah pemuda pemberani, serta Kwee Han adalah bekas nelayan yang tentu saja tak asing dengan air, mendadak pemuda ini meloncat ke air telaga dan... menyelam pula, dayung tetap di tangan, kaku dan beringas!

Tak tahulah Siong-hi apa yang terjadi. Dia hanya merasa perahu dibalik dan diguncang, miring ke kiri tapi akhirnya ke kanan, miring ke kanan tapi akhirnya ke kiri lagi. Dan ketika terdengar suara menggeluguk dan di bawah terlihat pertandingan seru satu lawan tiga, akhirnya tiga laki-laki kasar muncul dan megap-megap.

"Aduh, tobat! Ampun...!" Kwee Han muncul juga. Pemuda ini beringas dan kiranya pandai berenang. Tadi dalam air, ia menghajar tiga laki-laki itu.

Giok Po dan teman-temannya kaget. Mereka kalah lama bertahan di air, bukan jago yang baik seperti Kwee Han. Dan ketika mereka harus mengambil napas, Kwee Han di bawah sudah menghajar mereka pulang-balik. Maka ketiganya muncul ke permukaan dan berteriak tak karuan, mata membiru, dan Kwee Han mengejar. Pemuda ini gagah sekali di dalam air.

Giok Po dan dua temannya gentar. Dan karena mereka laki-laki kasar yang hanya berani kalau menghadapi lawan lemah, maka tiga orang itu tiba-tiba meloncat ke perahu mereka dan melarikan diri.

"Bangsat, jahanam kalian! Kubunuh kalian!" Kwee Han meloncat ke perahunya pula, basah kuyup, dan mau mendayung, tapi Siong-hi menyentuh, mencegah.

Beberapa perahu berdatangan untuk melerai kejadian ini. Siong-hi takut dan menangis tak keruan. Dan ketika Kwee Han melotot dan beberapa perahu mengepung perahunya, maka Liok Kwi, pemilik losmen yang dikenal Kwee Han, buru-buru membujuknya naik ke perahu pemuda itu.

"Kwee-wangwe (hartawan Kwee), tenanglah. Tahan amarahmu dan lihat harga dirimu dibanding orang-orang kasar itu. Mereka tak pantas menghadapi dirimu. Lihatlah istrimu dan pulanglah ke losmen."

"Keparat!" Kwee Han masih marah. "Siapa mereka itu, Liok Kwi? Dari mana?"

"Aku tak tahu, wangwe. Tapi sudahilah persoalan ini dan jangan ganggu senang-senang kalian dengan persoalan sepele."

"Benar, mereka itu tak berharga melayani dirimu, kongcu (tuan muda). Dirimu terlalu penting menghadapi kerucut-kerucut macam mereka!" Seorang kakek, yang dikenal Kwee Han sebagai pemilik perahu, berkata pula. Kwee Han dibujuk, dan Siong-hi pun menangis memeluk suaminya ini. Dan ketika semuanya menyuruh Kwee Han diam dan panas yang membakar berhasil didinginkan, akhirnya Kwee Han melempar dayung dan tenang. Sebenarnya masih uring-uringan, dan sisa arak pun dibuang. Pagi itu dia terganggu dan mendidih. Kalau tak ada pembujuk, tentu dia menghajar tiga orang itu. Kwee Han menahan marah.

Dan karena kesenangan menjadi terganggu dan pemuda ini kesal, maka Kwee Han mengajak istrinya pulang, tidak ke losmen melainkan terus ke kota raja, rumah mereka sendiri. "Kita berkemas, bawa semua pakaian dan beri tahu Cin-lopek!"

Cin-lopek, kusir kereta, bersiap. Tadi dia melenggut ayam ketika majikannya pesiar. Kwee Han membawa kereta, dan pemuda itu selalu bepergian naik kereta kalau kemana-mana, bersama kusirnya itu. Dan ketika mereka kembali dan Kwee Han terganggu oleh tingkah tiga orang itu, mendadak ia ingin menyelidiki ketika sampai di rumah. Ia teringat pengakuan tiga orang itu sebagai pembantu Ban-Taijin, seorang menteri yang kurang dikenal tapi diketahui Kwee Han. Pemuda ini cemburu, rasa panas ternyata membuatnya terbakar. Ia memang tak tahu masa lalu istrinya ini. Dan ketika ia mencari sana-sini dan sedikit demi sedikit ia mengumpulkan keterangan, tiba-tiba Kwee Han meledak ketika mengetahui bahwa istrinya dulu memang pernah melayani tiga orang itu.

"Keparat!" Kwee Han menggebrak meja ketika sampai di rumah. "Jadi mereka memang pernah menggaulimu, Siong-hi? Kau wanita tak setia dan tak tahu malu? Dan selama ini kau selalu mengelak dan berbohong?"

"Ah," Siong-hi terkejut, seminggu ini memang dicekam kekhawatiran. "Apa katamu, koko? Kau menuduh istrimu berbuat serong dan tidak setia? Aduh, suami macam apa kau ini, Han ko? Tega dan mampu melepas kata-kata begitu keji untuk istrimu! Aku tidak mengenal sama sekali tiga manusia binatang itu, aku berani sumpah dan mati!"

"Baik, aku akan mengorek bukti-buktinya, Siong-hi. Dan kalau benar, maka kau boleh mati seperti keinginanmu!"

Rumah tangga tiba-tiba geger. Si suami muda merasa ditipu. Siong-hi kalut dan sehari-hari menangis. Kemesraan dan cinta yang selama ini memabukkan mereka tiba-tiba kandas di tengah jalan. Sing-bi pun marah. Dan ketika suaminya pergi dan Siong-hi cemas, tiba-tiba ia pun keluar rumah dan pergi, entah ke mana tak ada yang tahu. Tapi keesokannya mendadak Kwee Han mendapatkan Giok Po dan dua temannya itu tewas. Mereka dibunuh dengan cara dicekik.

Dan ketika Kwee Han termangu dan pulang ke rumah, maka Siong-hi sudah berdiri di situ dengan sikap menantang. "Bagaimana, kau dapatkan bukti-buktinya, koko? Kau masih menuduh istrimu tak keruan lagi?"

Kwee Han tertegun. Hari itu dia diguncang perasaan tak keruan, menatap istrinya dan menggeram. Sebenarnya ia akan membawa tiga orang itu ke rumahnya, memaksa mereka mengaku, dan sudah menyewa tukang pukul pula. Kwee Han kini dapat berbuat apa saja dengan uangnya yang banyak. Diam-diam dia mengumpulkan pembantu dan siap menghajar Giok Po dan teman-temannya itu. Tapi ketika mereka didapatkan tewas dan entah siapa yang membunuh, maka Kwee Han termangu dan melihat sang istri terisak, kini tak tahan dan menubruk suaminya itu.

"Han ko, kau terlalu cepat mempercayai orang. Kau mudah dihasut dan ditipu. Siapa sudi melayani tiga laki-laki kasar macam mereka? Boleh kaubawa mereka ke sini, Han ko, hadapkan padaku dan biar aku memaki-maki mereka!"

"Mereka sudah tewas," Kwee Han bicara lirih, bingung, dan juga marah, masih marah tapi tak tahu kepada siapa sekarang kemarahan itu ditumpahkan. "Mereka telah dibunuh, Siong-hi. Aku memang bermaksud membawanya ke sini tapi keduluan!"

"Hm," Siong-bi berseri-seri, aneh sekali dia menunjukkan kegirangan luar biasa. "Dan kau masih menyangsikan isterimu, koko? Kau seminggu ini keluyuran untuk mencari berita? Kau tak percaya padaku?"

Kwee Han tertegun. "Suamiku," Siong-bi merajuk mesra. "Selama ini belum pernah seorang pun menyentuh tubuhku. Kaulah orang pertama dan laki-laki pertama yang menjamah tubuhku. Kalau aku bohong, biarlah aku mati ditikam belati!"

Dan, mendesah, menggeserkan tubuhnya, wanita ini tiba-tiba memeluk Kwee Han. Seminggu ini tak disentuh, dan gairah tertahan-tahan tak mendapat jalan keluar. Siong-hi sebenarnya takut kehilangan Kwee Han. Betapapun Kwee Han adalah laki-laki yang dapat memberinya banyak kesenangan, mulai dari harta benda sampai tentu saja hubungan mesra, dia tak ingin kehilangan semuanya itu.

Dan ketika Siong-hi menangis dan terisak di dada suaminya ini, tiba-tiba Kwee Han tergetar dan tersentak setelah Siong-hi mencium mulutnya. "Suamiku, mana nafkah batin untukku? Mana semua kasih sayang dan cinta yang selama ini kau berikan? Ah, aku rindu, suamiku. Aku menderita......!"

Dan Kwee Han yang tak dapat menahan diri dan roboh dalam ciuman isterinya, tiba-tiba mendesis dan mengambil semuanya itu terbang. Dan tak lama kemudian, rasa cemburu pun lenyap. Kwee Han percaya, dan aneh bin ajaib semua kemarahan hilang. Sumpah dan kata-kata istrinya tadi cukup meyakinkan. Kwee Han pun mabuk.

Dan ketika sang istri membelai dan kecupan demi kecupan membuat mereka berdua panas, akhirnya Kwee Han minta maaf dan membawa istrinya itu ke kamar. "Ah, maafkan aku, Siong-hi. Kiranya selama ini aku dibuat cemburu dan buta. Maafkan aku. Kau isteriku tersayang......!"

Song-hi mengeluh. Hubungan tegang di antara mereka selama seminggu ini mendadak lenyap. Wanita itu berhasil menguasai suaminya lagi, dan mabuklah Kwee Han dalam cinta dan pelukan isterinya. Malam itu mereka bagai pengantin baru lagi, bukan main.

Dan ketika hari-hari berikut membuat mereka melayang ke surga, dan semua kejadian di telaga dilupakan Kwee Han, maka Siong-hi sudah memulihkan hubungan suaminya. Dan sebulan terlewatkan cepat tanpa mereka rasakan. Kini Kwee Han percaya lagi kepada istrinya, hampir saja bulat kalau tak ada kejadian baru yang membuat pemuda ini tertegun.

Dan ketika minggu ketujuh secara kebetulan Kwee Han tak jadi keluar kota untuk urusan dagang dan pulang ke rumah, mendadak di sana dia melihat kereta Khek-Taijin. "Eh!" Kwee Han terkejut. "Ada apa?" Pemuda itu cepat menghampiri. Dia jadi merasa heran dan aneh bahwa Khek-Taijin datang ke rumahnya, hal yang jarang dilakukan menteri itu. Dan ketika Kwee Han masuk dan tertegun di ruang dalam, ternyata Khek-Taijin bercakap-cakap dengan istrinya. Rambut istrinya agak kusut. Dua orang itu tampak gugup!

"Maaf," Menteri Khek buru-buru bangkit, tertawa dibuat-buat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment