Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 46

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 46

"Aku mencarimu, Kwee Han. Kata istrimu sedang keluar kota, ternyata tiba-tiba muncul. Bagaimana bisa datang begitu cepat? Apakah tidak jadi?" Kwee Han terbelalak.

"Aku membatalkan perjalananku, Taijin. Ada apakah Paduka datang sendiri tanpa melalui utusan?"

"Ah, aku hendak memberi tahu berita baik, Kwee Han. Besok beberapa pedagang permata akan datang ke gedungku. Mereka butuh uang dan akan menjualnya dengan harga murah!" Kwee Han tertegun.

Khek Taijin segera memberi tahu bahwa besok adalah kesempatan bagus baginya. Beberapa pedagang permata akan muncul menawarkan dagangan mereka, juga beberapa pedagang cita. Sebulan lagi akan ada kenaikan besar-besaran untuk beberapa macam barang, terutama kain dan bahan makanan. Persediaan menipis dan harga barang akan melonjak. Ketika menteri ini bicara ke sana kemari yang intinya membujuk Kwee Han untuk membeli semuanya agar dapat dijual dengan harga tinggi, ia pun menutup pembicaraannya.

"Demikianlah, ini satu kesempatan bagus bagimu, Kwee Han. Kau dapat menumpuk semua barang ini untuk akhirnya dijual saat harga melonjak. Isi tokomu hingga penuh dan masalah permata dapat ditawarkan kepada istana!"

"Hm," Kwee Han mengangguk. "Terima kasih, Taijin. Tapi masalah permata aku kurang tertarik, aku tak begitu mahir dengan barang-barang seperti itu."

"Siong Hi dapat membantumu, Kwee Han. Dia tahu dan mengerti soal permata."

"Benar," Siong Hi menyahut. "Aku dapat membantumu, Koko. Aku mengerti barang-barang seperti itu dan tak mungkin ditipu. Betapa pun maksud baik Khek Taijin harus kita terima dengan rasa terima kasih."

"Ya," Kwee Han mengerutkan kening. "Aku berterima kasih, Siong Hi. Tapi kenapa tidak Khek Taijin sendiri yang membeli semua barang ini? Bukankah dia juga dapat melakukannya?"

"Aku ingin membagi keuntungan denganmu, Kwee Han. Aku teringat hubungan baik kita. Tentu saja aku dapat membeli semuanya itu, tapi aku ingin memberi kesempatan padamu untuk mereguk keuntungan pula!"

"Baiklah, sekali lagi terima kasih, Taijin. Aku akan memikirkan semuanya dan membicarakannya dengan Siong Hi."

Khek Taijin pamit. Akhirnya menteri itu pulang, dan Kwee Han termangu-mangu. Sekilas ia melihat baju istrinya yang agak kedodoran dengan bagian dada tersingkap. Pemuda ini mengerutkan kening. Kecurigaan timbul, tapi Kwee Han tidak terburu-buru mengungkapkannya. Khek Taijin dikenal sebagai menteri yang tamak; dia tahu itu setelah beberapa bulan berdekatan. Kini secara aneh kesempatan yang begitu bagus ditawarkan kepadanya, padahal sebetulnya menteri itu dapat menikmatinya sendiri.

Keesokan harinya, ketika Kwee Han mencoba membuktikan semua kata-kata menteri itu dengan datang ke rumahnya, ternyata memang betul beberapa pedagang permata dan pedagang lain yang menjalin persahabatan dengan Khek Taijin ada di sana. Mereka menawarkan dagangan dan Khek Taijin menunjuk ke arahnya. Di sini kecurigaan Kwee Han lenyap, meskipun masih ada sedikit sisa ingatan tentang baju istrinya yang agak kedodoran itu. Tak biasanya istrinya bersikap seperti itu, apalagi saat ada tamu.

Hari demi hari berlalu. Suatu ketika Kwee Han berkata lagi ingin keluar kota, tetapi tiba-tiba ia membatalkan perjalanannya di tengah jalan dan pulang terburu-buru. Mendadak, kereta Khek Taijin sudah ada di depan rumahnya lagi!

"Keparat, apa yang dia lakukan?" Kwee Han bergegas. Kedatangan kereta yang berhenti di depan rumahnya rupanya diketahui Siong Hi. Istrinya itu duduk di ruang dalam bersama Khek Taijin. Kwee Han terbelalak. Ketika pemuda itu masuk dengan muka merah, Khek Taijin tampak terkejut. Sang menteri buru-buru bangkit berdiri mendahuluinya.

"Kwee Han, kau besok dipanggil Pangeran Yu Fu. Aku datang memberi tahu istrimu karena kau tidak ada!"

Kwee Han tertegun. "Pangeran Yu Fu?"

"Ya, benar, Kwee Han. Kau diminta ke sana membawa emas permata yang dulu kau beli itu. Pangeran tertarik!"

Kemarahan dan kecurigaan Kwee Han tiba-tiba sirna. Khek Taijin ternyata memberitahunya bahwa Pangeran Yu Fu mengundangnya. Sang pangeran tertarik dan ingin melihat emas permata yang dulu dia beli; sang pangeran akan membeli dan memilih beberapa di antaranya. Itulah alasan Khek Taijin.

Ketika Kwee Han yang masih terheran-heran pergi menemui pangeran itu keesokan harinya, ternyata Yu Fu, sang pangeran muda, menyambutnya bersama Khek Taijin.

"Ha-ha, ini Kwee Han, Paman Khek? Dia pemuda pemberani dari Ming-ciang itu?"

"Benar, inilah Kwee Han, Pangeran. Dialah pemuda yang kuberi tahu itu."

"Kwee Han...." Menteri Khek memandang pemuda itu. "Inilah Pangeran Yu Fu yang berkenan mengundangmu. Perlihatkan permatamu dan kemarilah!"

Kwee Han memberi hormat. Setelah berhadapan langsung dengan Pangeran Yu Fu, tiba-tiba kecurigaannya terhadap Khek Taijin kembali lenyap. Untuk kedua kalinya dia membuang prasangka buruknya. Khek Taijin ternyata tidak bermaksud apa-apa terhadap istrinya. Menteri itu datang justru untuk keuntungannya. Kini dia diperkenalkan dengan seorang pangeran, dan Kwee Han tentu saja girang. Berhubungan dengan istana tentu akan membawa berkah baginya, setidaknya keuntungan moral.

Ketika dia dipanggil mendekat dan pangeran tertawa, Yu Fu memintanya menunjukkan permata yang sebelumnya sudah disiapkan. Sang pangeran memilih dan membeli. Kwee Han agak tersipu. Dia bingung menentukan harga; tidak boleh kemahalan, tetapi juga tidak boleh rugi. Maklum, dia berhadapan dengan pangeran!

Pangeran tersenyum dan justru tidak bertanya harga, melainkan langsung memberikan sepundi uang emas kepadanya untuk beberapa permata yang dipilih. Kwee Han terbelalak sekaligus girang luar biasa karena itu mendatangkan keuntungan berlipat-lipat!

"Sudahlah, aku pilih ini saja. Kau boleh pergi dan bawa sekantung uang emas ini. Kalau kurang, anggap saja kurangnya kuminta!"

Kwee Han hampir tidak dapat berkata-kata. Dia hanya berulang kali mengucap terima kasih, lalu pulang ke rumahnya dengan perasaan gembira. Uang itu dapat dipergunakannya untuk membangun sepuluh toko besar lagi. Luar biasa.

Namun, saat kecurigaannya terhadap Menteri Khek lenyap dan ia justru merasa berutang budi atas segala jasa menteri ini, mendadak suatu pagi ketika ia bangun tidur, istrinya tidak ada. Kwee Han heran, ia mencari-cari namun tidak menemukannya. Beberapa pelayan yang ditanya menyebutkan bahwa Siong Hi keluar rumah, mungkin mengurus ini-itu di toko mereka yang kini sudah berjumlah beberapa buah. Kwee Han memang semakin kaya dan lupa akan kemiskinannya dulu.

Ketika ia mengerutkan kening dan curiga memikirkan istrinya, mendadak Pwee Lopek, sahabatnya di Ming-ciang dulu, muncul. Seorang laki-laki tua yang tampak putih dan pucat itu datang dengan mata bersinar penuh kemarahan.

"Kwee Han, kau melupakan kawan-kawanmu. Kau tidak menepati janji dan enak bersenang-senang sendiri!"

Kwee Han terkejut. "Ada apa, Lopek? Kau datang sendiri? Dan tahu rumahku?"

"Ya, seluruh ibu kota mengenal namamu, Kwee Han. Aku datang mewakili teman-teman untuk menuntut keadilan. Liem Taijin berkomplot dengan juragan-juragan perahu!"

"Apa yang terjadi? Ada apa?"

"Hm...!" Mata kakek itu memandang sekeliling rumah Kwee Han yang bagus, sebuah gedung yang besar dan indah. Ia tidak segera menjawab. "Inikah yang membuat dirimu berubah? Semua kesenangan inikah yang membuat kau melupakan kawan-kawan di Ming-ciang?"

"Lopek," muka Kwee Han memerah. "Sebaiknya kau katakan apa maksud kedatanganmu dan apa yang hendak kau ceritakan di sini. Aku sedang bingung, sibuk mencari istriku!"

"Kau sudah beristri?"

"Ya, beberapa bulan yang lalu, Lopek."

"Dan tidak memberi tahu kami, kawan-kawanmu?"

"Hm," Kwee Han melihat beberapa pelayan masuk, ia merasa agak malu. "Kau tidak usah bertele-tele, Lopek. Mari duduk dan katakan keperluanmu!"

"Apakah kau masih seperti Kwee Han yang dulu?"

"Maksudmu?"

"Aku kecewa melihat kehidupanmu sekarang, Kwee Han. Kau tampak berubah luar dalam. Dulu kau ramah, kini agak sombong. Dulu kau selalu memperhatikan nasib kawan-kawan sepenanggungan, kini kau acuh! Perlukah kiranya kuberitahukan semua maksud kedatanganku?"

Kwee Han terpukul, tersentak oleh kenangan lama saat dia masih dekat dan bergaul dengan kakek ini, bahkan makan bersama. Makanan sederhana yang acapkali terdiri dari nasi biasa dan ikan asin!

"Kau boleh tumpahkan semua persoalanmu kepadaku, Lopek. Aku masih Kwee Han yang dulu!"

"Baiklah, dengarlah Kwee Han. Kami semua teman-temanmu di Ming-ciang dulu, kini berbulan-bulan mulai ditindas kaum juragan perahu lagi. Mereka memeras, kami dijadikan kuda beban dan tidak mendapat keadilan lagi. Liem Taijin, pembesar yang dulu berjuang untuk kami itu, ternyata berpihak. Sekarang dia berkomplot dan sama saja seperti pembesar-pembesar yang lain!"

"Hm, lalu?"

"Lalu kami berontak, Kwee Han. Kami menuntut keadilan itu tapi juragan perahu bersikap kurang ajar. Mereka memeras, memberi pilihan kepada kami untuk terus bekerja atau berhenti. Kami tak berdaya dan kalah posisi!"

Mata Kwee Han bersinar-sinar. "Apakah tidak ada yang berani seperti aku?"

"Ada, tapi hilang, Kwee Han. Alok dan Abin entah ke mana setelah melancarkan protes!"

"Hilang? Maksudmu..."

"Ya, hilang, Kwee Han. Dugaan kami mereka dibunuh!"

Kwee Han terkejut. Dia tiba-tiba teringat kenangannya sendiri, betapa dia pun hampir diciduk dan tentu akan dibunuh kalau tidak memiliki cincin yang kini melingkar di jarinya itu. Cincin pemberian seorang sahabat yang berpengaruh di istana. Demikian besar pengaruhnya hingga Khek Taijin pun takut. Menteri itu gentar dan akhirnya dia selamat, bahkan kini dihormati Khek Taijin dan memperoleh semua kesenangan ini: harta kekayaan dan lain-lain, termasuk Siong Hi, istrinya.

Ketika dia teringat akan istrinya dan tersentak karena sang istri juga tidak ada, mendadak wajah Kwee Han menjadi gelap dan ia tidak acuh lagi pada cerita Pwee Lopek itu.

"Hm, aku sendiri sedang sibuk, Lopek."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment