Chapter 47
Isteriku tidak di rumah dan aku mencarinya.
"Bagaimana kalau urusan ini dibicarakan lain kali saja dan kau pulang?"
"Pulang?" Kakek itu tiba-tiba bangkit berdiri, matanya berapi-api.
"Kau menyuruh aku pulang untuk membiarkan teman-teman menderita di sana, Kwee Han? Kau tidak mau membantu sedikit pun untuk persoalan ini?" Kwee Han terkejut, sadar.
"Bukan begitu," katanya buru-buru. "Hanya aku sendiri sedang sibuk dengan urusanku, Lopek. Sebaiknya, hmm... sebaiknya begini saja. Apa yang menjadi beban kalian di sana? Apakah tercekik utang lagi?"
"Benar, kami tercekik utang lagi, Kwee Han. Para juragan itu kurang ajar karena mereka sengaja memberi utang untuk menjerat kita. Dengan begini kita tidak dapat pergi, semua teman-teman mengharap pertolonganmu dan kau datang ke sana atau Ming-ciang geger lagi dengan demonstrasi besar-besaran!"
"Hm, jangan," Kwee Han mulai tahu aturan main, aturan hukum. "Demonstrasi tidak baik untuk kita, Lopek. Apa yang tidak puas sebaiknya dimusyawarahkan dan dibicarakan bersama. Demonstrasi hanya memancing tindak kekerasan, sebaiknya katakan berapa utang kawan-kawan dan kubantu dulu dengan uang."
"Kau mau membebaskan kami dengan membayar lunas utang-utang itu?"
"Sementara ini begitu dulu, Lopek. Aku sibuk dan tidak dapat ke Ming-ciang. Katakan berapa utang semuanya dan biar kubayar itu."
"Ah, banyak, Kwee Han. Ribuan tail...!"
"Katakan saja, Lopek. Dan pergilah segera setelah itu!"
"Kau mempunyai uang?"
"Sebutkan saja, dan cepat kau bayar!" Kwee Han tidak sabar, tahu bahwa Pwee Lopek ini akan terheran-heran dan sukar mempercayai kekayaannya sekarang. Dia memang bukan Kwee Han yang dulu, dia sekarang adalah seorang hartawan dan mungkin jutawan.
Pwee Lopek segera menghitung dan menggerakkan jari-jarinya. Dan karena di Ming-ciang ada sekitar tiga ratus nelayan dan kalau masing-masing berutang seribu tail maka didapatlah angka tiga ratus ribu tail yang bukan main banyaknya, maka kakek ini berkata agak tergagap.
"Kira-kira, eh... kira-kira tiga ratus ribu tail, Kwee Han. Mungkinkah semuanya itu dapat kau bayar?"
"Hm, tiga ratus ribu? Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambilnya!" Dan Kwee Han yang cepat ke dalam dan keluar lagi akhirnya mengambil sekantong uang yang membuat Pwee-Lopek terbelalak, kagum, memberikannya pada kakek itu.
"Lopek, di sini ada lima ratus ribu. Kalau kurang boleh datang lagi. Sekarang pulanglah, biar diantar kusirku dan bayarkan ini untuk utang kawan-kawan kita di sana."
"Lima ratus ribu?" Kakek itu menggigil. "Begitu banyak? Ah, terima kasih, Kwee Han. Kau sungguh baik dan kusampaikan ini pada mereka!"
"Ya, dan cepat selesaikan itu, Lopek. Kuharap tidak ada apa-apa lagi dan pulanglah." Pwee-Lopek tidak habis-habisnya takjub. Sekantong besar uang yang diterimanya itu membuat kakek ini seakan menang lotre, heran dan takjub akan kekayaan Kwee Han sekarang. Bukan main. Dulu Kwee Han adalah nelayan miskin seperti dirinya, kini mendadak begitu kaya dan dermawan. Dan membuktikan bahwa Kwee Han ternyata masih sama seperti dulu, tiba-tiba kakek ini menjatuhkan diri berlutut dan menangis.
"Kwee Han, mewakili semua teman-teman di Ming-ciang, biarlah si tua bangka ini menghaturkan beribu terima kasih padamu. Semoga kau berumur panjang dan bahagia!"
"Sudahlah, pergilah, Lopek. Kusir di depan sudah siap dan biar aku menyelesaikan persoalanku."
"Baik, baik... terima kasih, Kwee Han... terima kasih...!" Dan Pwee-Lopek yang diantar dan diserahkan Cin Lopek, kusir kepercayaan Kwee Han, lalu diantar dan malah dinaikkan kereta sampai ke Ming-ciang.
Kwee Han tidak tahu lagi setelah itu, dia sibuk mencari isterinya. Anggapnya, urusan Ming-ciang akan beres dan Pwee-Lopek tidak mengganggu lagi. Tapi ketika tengah hari kakek itu datang lagi dan bersama kusirnya babak belur menyatakan dirampok, maka Kwee Han kaget dan menyesal, sang isteri masih belum ketemu!
"Aduh, celaka, Kwee Han... celaka! Kami dirampok di tengah jalan, uang itu amblas dan aku disakiti!" Kakek itu tersedu-sedu, Kwee Han tertegun dan segera dia termangu-mangu. Apa yang didengar ini di luar dugaan. Dia terlalu sembrono dengan membiarkan seorang bodoh macam Pwee Lopek pergi dengan begitu banyak uang. Dan ketika kakek itu menangis tak keruan dan Kwee Han terpaku, maka Cin Lopek, kusirnya, juga menjatuhkan diri berlutut, tubuhnya biru-lebam.
"Wangye, kami dirampok. Uang yang dibawa sahabatmu lenyap dan kami tidak berdaya...!" Kwee Han marah. Dalam keadaan biasa tentu dia akan menghadap Hong-ciangkun untuk mengejar dan mencari penjahat itu, Panglima Hong yang dikenalnya baik. Tapi karena bingung isterinya belum ketemu dan entah ke mana gerangan isterinya itu, tiba-tiba Kwee Han menyuruh kusirnya pergi dan membawa Pwee-Lopek ini ke dalam.
"Sudahlah, sekarang begini saja. Maukah kau menolongku sebelum aku menolong teman-teman di Ming-ciang? Aku dapat memberimu uang lagi, Lopek, tapi harap kau bersabar dan cari dulu isteriku. Bagaimana?"
"Maksudmu?"
"Aku kehilangan isteriku, Lopek. Heran bahwa seharian ini ia tidak ada di rumah. Mungkin... hmm, mungkin di suatu tempat. Kau bantu aku dulu dan urusan di Ming-ciang nanti saja kita bicarakan lagi!" Karena merasa Kwee Han sudah menolong dan kakek itu tahu diri, akhirnya Pwee-Lopek mengangguk.
"Baiklah, aku tahu kesulitanmu, Kwee Han. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Coba pergilah ke dua tempat. Selidiki isteriku di gedung Khek Taijin atau Ban Taijin. Aku curiga jangan-jangan ia ke sana..." Dan Kwee Han yang lalu memberi tahu dan menunjuk gedung dua pembesar itu, lalu mewanti-wanti agar Pwee-Lopek berhati-hati. Tentu saja membuat kakek itu mula-mula takut dan mengerutkan kening. Dia bakal diusir sebelum masuk. Tapi ketika Kwee Han memberi semacam tanda bahwa ia pelayan atau pembantu pemuda itu di mana orang-orang Khek-Taijin atau Ban-Taijin pasti mengenal, maka kakek ini pun mengangguk dan merasa bebas.
"Baiklah, biar kucoba, Kwee Han. Tapi kalau gagal jangan kau marah-marah kepadaku. Dan... kenapa kau menduga ke gedung dua menteri itu? Bukankah sebenarnya kau dapat datang sendiri dan mencari?"
"Aku sudah dikenal, Lopek. Kalau mereka tahu, tentu isteriku bersembunyi atau Khek-Taijin serta Ban-Taijin bersiap-siap."
"Baiklah, tapi, eh... aku tidak mengenal isterimu!"
"Mudah, Lopek. Ia cantik dan mengenakan empat gelang emas di lengannya, umur kira-kira sembilan belas tahun."
"Begitu muda?"
"Ya, masih muda, Lopek. Dan untuk memperjelas lagi, lihatlah ini!" Kwee Han menyambar gambar isterinya di dinding, lukisan yang dulu dipesan dari seorang pelukis dan menunjukkannya pada Pwee Lopek, kakek ini kagum dan mengakui kecantikan Siong-hi, mendecak. Dan ketika semuanya dianggap selesai dan kakek ini siap berangkat, mendadak dia masih bertanya lagi.
"Kwee Han, apakah nanti kalau aku menemukannya lalu menyuruhnya pulang?"
"Tidak, jangan!" Kwee Han teringat. "Kau cepat kembali dan diam-diam ke sini, Lopek. Aku yang akan ke sana dan menjemputnya!"
"Baiklah," dan si kakek yang pergi dan memutar tubuhnya lalu keluar dan meninggalkan rumah pemuda itu, melaksanakan tugasnya dan tentu saja tidak tahu apa yang diam-diam pernah terjadi di rumah tangga pemuda ini. Setengah jam kemudian, ia datang dan bergegas terbata-bata menemui Kwee Han, memberi tahu bahwa isteri pemuda itu ada di sana, di tempat Khek-Taijin.
Rupanya semalam menteri itu baru saja mengadakan pesta. Kwee Han terkejut dan terbakar. Tiba-tiba cemburu dan rasa marahnya mengamuk. Untuk ketiga kali dia melihat isterinya bersama menteri itu lagi. Dan ketika Kwee Han bergegas dan cepat ke gedung Menteri Khek, maka di sana di kamar menteri itu tampak Siong-hi tertawa-tawa di pelukan menteri ini, nyaris telanjang dan kedua-duanya berbau arak!
"Heh-heh, kemari, Siong-hi... kemarilah...!" Menteri Khek meraih isterinya, terhuyung dan sama-sama terbanting di pembaringan. Siong-hi terkekeh pula dan di tangannya terdapat segelas arak yang amat keras, menyambut dan tiba-tiba dicium menteri itu. Dan ketika Siong-hi tertawa dan bicara tidak jelas karena tampak mabuk, maka Khek-Taijin sudah menindih dan menggeluti isterinya itu.
"Keparat!" Kwee Han menghambur maju, mendobrak dan masuk ke dalam. "Kau jahanam keparat, Siong-hi. Kiranya benar dugaanku bahwa kau isteri tidak setia... Dess!" Dan Kwee Han yang menubruk serta menghantam isterinya tiba-tiba membuat Siong-hi menjerit dan terlempar roboh, lepas dari pelukan Menteri Khek dan sang menteri pun terkejut. Siong-hi terguling-guling dan pakaiannya terbuka, tampaklah wanita itu dalam keadaan aslinya. Siong-hi memang nyaris telanjang ketika berdekapan dengan Khek-Taijin tadi. Dan ketika Kwee Han berteriak dan marah mengejar maju, maka bertubi-tubi dan cepat pemuda ini sudah menghajar isterinya, ditendang dan ditampar, dan segera kamar itu terisi oleh jerit dan teriakan Siong-hi. Waktu dia hilang mabuknya setelah dihajar suami, ia kaget dan sadar karena kini dengan beringas dan penuh kebencian suaminya itu menendang berulang kali. Dan ketika Kwee Han kalap dan melihat Khek Taijin pula, mendadak pemuda ini teringat dan menerkam menteri itu, mencekik dan memukuli seperti harimau haus darah, atau setan kelaparan. Dan ketika menteri ini pun berteriak-teriak dan Kwee Han mata gelap, tiba-tiba pemuda itu memecahkan botol dan dengan pecahan botol ini, pemuda itu menyerang.
"Khek-Taijin, kau menteri jahanam keparat. Kau tidak tahu malu. Kubunuh kau... Cras!" Dan pecahan botol yang mengenai bahu dan lengan menteri itu akhirnya mendarat bertubi-tubi lagi dan lukalah menteri ini. Mabuknya hilang dan ketakutan hebat pun menyerang menteri itu. Semalam menteri ini berpesta dan tengah malam tadi Siong-hi diminta datang. Wanita ini adalah bekas pelayannya. Kwee Han tidak tahu bahwa selama ini Siong-hi tetap digauli menteri itu. Khek Taijin sering minta dilayani dan Siong-hi tentu saja takut. Menteri itu adalah bekas majikannya sendiri dan untuk hubungan kotor memang sering menteri itu berduaan dengan Siong-hi.