Chapter 49
Namun, karena Kwee Han telah kaya dan emas tak lagi menarik hatinya, dia membalik cermin itu dan tertarik oleh huruf-huruf di bagian belakang: tiga bait syair yang membuatnya heran. Dia membacanya, tetapi tak mengerti. Seketika Kwee Han bergidik oleh sepasang gambar yang berlawanan di cermin itu. Sebuah gambar dewa-dewi bersama burung Hong, sementara yang lain bergambar mirip iblis atau gendruwo.
Kwee Han bergidik, tengkuknya meremang.
Dan ketika dia membalik serta melihat guratan-guratan lain yang tidak dimengerti, mirip pelajaran ilmu silat, tiba-tiba berkelebat tiga bayangan dan terdengar suara di luar.
"Heh, ke sinikah benda itu jatuh?"
"Benar."
"Di mana gerangan?"
"Tak tahu, Nenek Siluman. Tapi ayo kita cari. Siapa yang mendapatkannya, dialah yang berhak!"
Kwee Han terkesiap. Di luar kamarnya berkelebat tiga bayangan yang mirip iblis, tak tampak siapa mereka. Kwee Han cepat-cepat menyembunyikan benda penemuannya itu.
Angin berkesiur dan pintu kamarnya terbuka. Sesosok bayangan tinggi besar muncul, disusul oleh bayangan lain yang tinggi kurus. Mereka berkelebat dan geraman menggetarkan terdengar di situ, nyaris membuat nyali Kwee Han copot mendengar geraman itu. Pemuda ini sudah menyelinap dan meringkuk di bawah tempat tidur, di kolong. Benda penemuannya sudah dilempar ke dinding rahasia dan lenyap sebelum dua bayangan ini muncul.
Dan ketika Kwee Han bersembunyi serta terbelalak melihat seorang kakek tinggi besar menggeram-geram, mendadak yang tinggi kurus mendengus dan mengobrak-abrik isi kamarnya.
"Benda itu kelihatannya di sini, keparat!"
"Hm, di mana?"
"Cari saja, Tok-ong. Jangan bertanya dan bawel seperti perempuan!"
Kakek tinggi besar itu memaki. Dia menggeram dan mengobrak-abrik isi kamar Kwee Han pula. Kwee Han ingin keluar, tetapi gentar.
Sikap dan gerak-gerik dua orang itu terlalu menyeramkan bagi Kwee Han. Dan ketika Kwee Han menggigil dan pucat di bawah tempat tidur, tiba-tiba tempat tidurnya ditendang dan Kwee Han mencelat terlempar.
"Hei, kau jangan bersembunyi seperti tikus. Apakah kau melihat cermin di sini?" Bentakan itu menggelegar, Kwee Han merasa terlempar dan menumbuk dinding. Pemuda ini berteriak. Tapi ketika dia terkejut dan kaget karena tempat tidurnya mencelat ditendang, tiba-tiba kakek tinggi besar yang menyeramkan itu menyambar dirinya.
"Ngek!" Kwee Han serasa digencet.
"Kau melihat apa di kolong tempat tidur itu, bocah? Mana Cermin Naga yang kami cari-cari?"
"Apa...apa?" Kwee Han gagap.
"Cermin apa, Locianpwe! Benda apa?"
"Heh, kami mencari Cermin Naga, bocah. Kau tentu melihatnya dan tunjukkan kepada kami... bruk!"
Kwee Han dibanting, mengeluh, menggeliat, dan tiba-tiba menangis.
Kwee Han sekarang tidak seberani dulu. Kesenangan dan kenikmatan yang dihadapinya membuat pemuda ini agak berubah, takut kehilangan semuanya itu; kesenangan dan kegembiraan dalam hidup.
Dan ketika kakek tinggi besar itu memaki-maki dan kakek satunya yang tinggi kurus mendengus dingin, mendadak Kwee Han diungkit sebuah kaki dan dia mencelat ke atas.
"Kau tahu Cermin Naga?"
Kwee Han tahu-tahu sudah disambar kakek tadi, kakek yang berwajah dingin dan matanya cekung, begitu menyeramkan seperti iblis. Kwee Han menggeleng ketakutan, nyaris tidak dapat mengeluarkan suara, tenggorokannya rasanya tercekik. Dan ketika kakek itu menunjukkan rasa marah dan Kwee Han terbata-bata tidak dapat menjawab, tiba-tiba kakek itu mencekik tenggorokannya dan mau membunuh.
"Kalau begitu kau mampus. Kau tikus cilik tidak berharga!"
"Augh!" Kwee Han tiba-tiba meronta, dapat mengeluarkan suara. "Aku...aku...aku tahu, Locianpwe... lepaskan... aduh...!"
Kakek itu melepaskan.
"Di mana?" Suaranya gembira. "Mana Cermin Naga?"
"Itu... itu barangkali...!" Kwee Han menuding gentar, roboh terbanting, dan asal menunjuk sebuah cermin besar yang ada di kamarnya. Tentu saja bukan cermin yang dimaksud, dan kakek tinggi kurus itu tiba-tiba mendelik. Temannya, yang dipanggil Tok-ong, tiba-tiba tertawa bergelak.
Dan ketika yang tinggi kurus melotot dan marah mendapat jawaban itu, mendadak yang tinggi besar itu bergerak dan sudah menyambar dada Kwee Han.
"Kau Kwee-taijin?"
"Ya, benar... benar..."
"Kau yang baru diangkat sebagai menteri muda urusan perdagangan?"
"Benar... benar..."
"Hah, kalau begitu kau pembesar bodoh, anak muda. Lebih baik kuganyang jantungmu dan kunikmati paru-parumu... wut!"
Kakek ini menggerakkan tangan satunya, secepat kilat merogoh dan mau mencabut jantung serta paru-paru Kwee Han. Kwee Han tidak dapat bicara lagi dan pucat pasi, tahu bahwa dia berhadapan dengan tokoh-tokoh iblis yang bukan main ganasnya. Sepak terjang dan kata-kata mereka saja cukup dijadikan bukti. Dia berhadapan dengan maut dan tidak mungkin dia melepaskan diri lagi.
Dan terbelalak serta ngeri oleh ancaman kakek ini yang mau mengganyang jantung dan paru-parunya, mendadak Kwee Han berteriak dan tanpa sadar menyebut nama seseorang yang pernah memberinya cincin itu.
"Kim-mou-eng!"
Tangan yang bergerak itu tiba-tiba berhenti. Sama cepat dan mengejutkan, jari kakek ini sudah menempel di dada Kwee Han. Sekali tusuk, tentu jantung dan paru-paru akan dicoblos. Tok-ong, kakek itu, terhenyak. Dan ketika Kwee Han tertegun dan pucat serta menggigil, maka lawan melepasnya kasar, membantingnya roboh, lalu membalik.
"Mana Kim-mou-eng?"
"Tidak ada siapa-siapa."
"Heh, kau bicara apa, anak muda?"
Kakek itu bergerak kembali, mencengkeram Kwee Han. "Siapa kau dan apa hubunganmu dengan Kim-mou-eng?"
Kwee Han menelan ludah, tiba-tiba timbul keberaniannya.
"Locianpwe siapakah? Musuh atau sahabat?"
"Heh heh!" Sebuah bayangan tiba-tiba berkelebat masuk. "Bocah ini besar nyalinya, Tok-ong. Baru kali ini kau membatalkan niatmu hanya mendengar Kim-mou-eng. Berikan padaku dan biar dia kutanya!"
Kwee Han tidak tahu disulap macam apa. Dia hanya mendengar suara seorang nenek tertawa dan tahu-tahu semacam benda melilit tubuhnya, ditarik dan melayang. Dia telah berhadapan dengan seorang nenek yang matanya seperti api. Kwee Han terkejut, lebih terkejut lagi karena dia tergantung di tengah udara, dijungkir, dengan kaki dan pinggangnya dibelit rambut yang tadi disangka ular.
Dan ketika Kwee Han pucat dan nenek itu terkekeh, maka Kwee Han mendengar pertanyaan serak yang mendirikan bulu roma.
"Kau menyebut-nyebut nama Kim-mou-eng, ada hubungan apakah? Sahabat Kim-mou-eng atau musuhnya?"
Kwee Han bingung.
"Locianpwe siapakah?"
"Heh, kau tidak berhak bertanya, bocah. Kau hanya menjawab, dan aku bertanya!"
Kwee Han bingung. Tadi dia bertanya apakah orang-orang ini sahabat Kim-mou-eng ataukah musuhnya, kini dia dibalik dan harus menjawab. Tapi karena orang-orang ini dilihatnya bukan orang baik-baik dan Kim-mou-eng jelas seorang pendekar, maka dengan tegas dan berapi-api Kwee Han menjawab.
"Aku musuhnya. Kim-mou-eng adalah orang yang kubenci!"
"Heh heh, benarkah?"
"Benar, Locianpwe. Aku berani bersumpah!"
"Wut!" Kwee Han dibalik, kini berdiri dengan kaki di bawah, kepala di atas.
"Coba kalau begitu maki dia sepuas-puasnya, aku ingin dengar!"
Dan Kwee Han pun memaki-maki serta mengumpat Kim-mou-eng. Lalu terdengar dan terlihat nenek itu terkekeh-kekeh, tubuhnya bergoyang, tetapi tiba-tiba dia bergerak dan rambutnya pun meledak. Kwee Han terhempas dan jatuh menjerit. Makiannya seketika berhenti dan pemuda itu mengaduh.
Dan ketika Kwee Han merintih, kaget, serta takut, maka nenek itu berkelebat dan sudah berdiri di dekatnya. "Kalau begitu kau kubunuh, kami adalah sahabat Kim-mou-eng!"
"Eh!" Kwee Han meringis, terbelalak.
"Locianpwe sahabat Kim-mou-eng?"
"Ya, aku sahabatnya, bocah. Dan kami semua telah mendengar maki-makianmu tadi. Sekarang kau mampus!"
Namun, baru tangan itu bergerak, tiba-tiba Kwee Han membentak dan memaki nenek ini.
"Tua bangka, kalau begitu kau pun kumaki. Kau nenek jahanam tidak tahu malu. Kau bangsat keparat! Kau..."
Kwee Han berhenti, tertegun karena melihat si nenek tidak melanjutkan ayunan tangannya. Mata yang seperti api itu tiba-tiba tersenyum, aneh sekali. Dan ketika Kwee Han melongo dan menghentikan makiannya, mendadak nenek ini terkekeh dan geli mencium pipinya.
"Ngok!" Kwee Han terkesima. "Kau bocah bagus, anak muda. Kau pemberani dan gagah. Heh-heh, kalau begitu kau tidak jadi dibunuh... wut!"
Dan Kwee Han yang dibelit serta disambar rambut tiba-tiba dilontar dan meluncur tinggi ke atas, jatuh dan berteriak, tetapi rambut menyambutnya lagi. Dua-tiga kali Kwee Han dilontar seperti ini, jatuh dan diterima lalu dilempar ke atas. Dan ketika nenek itu puas dan Kwee Han terkesiap berkali-kali, maka tubuhnya akhirnya diterima dan diturunkan baik-baik di lantai, tentu saja mengeluarkan keringat sebesar-besar jagung.
"Bocah, kau melihat Cermin Naga?"
Kwee Han menggeleng.
"Kau tidak melihat benda jatuh di sini?"
Kwee Han lagi-lagi menggeleng.
"Kalau begitu kenapa jendela itu pecah?"
Kwee Han terkejut.
"Seekor anjing melompat di situ, Locianpwe, dan memecahkan kaca jendela!"
"Kau tidak bohong?" Kwee Han bergidik, melawan rasa takut kuat-kuat, tersenyum mengejek.
"Kalau Locianpwe tidak percaya, lebih baik tidak usah bertanya lagi. Kalau ada benda jatuh di sini, sebaiknya geledah saja dan bunuh aku kalau ketemu!"
"Hmm!" Geraman di belakang menggetarkan dinding kamar.
"Bocah ini tidak perlu ditanya lagi, Nenek Siluman. Cermin Naga memang tidak ada di sini dan sebaiknya dia dibunuh!"
"Benar," dengus di sebelah kiri, tidak kalah mendirikan bulu roma. "Bunuh dia dan habis perkara, Dewi Api. Kita pergi dan cari di lain tempat!"
Kwee Han mendengar kesiur angin, terkejut dan menjerit karena semburan hawa panas tiba-tiba membakar tubuhnya. Si nenek terkekeh dan menggerakkan tangan ke depan, ledakan mengguncangkan tempat itu dan Kwee Han terpelanting. Dan ketika dia mengeluh dan sayup-sayup mendengar si nenek mencegah dia dibunuh, maka Kwee Han tidak ingat apa-apa lagi dan roboh pingsan.