Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 50

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 50

Kwee Han hanya tahu ketika dia diguncang-guncang pengawal, mendengar pula isak dan panggilan A-Hwa, sadar dua jam kemudian setelah ketiga iblis itu pergi, bangkit, membuka mata, dan segera A-Hwa memeluknya.

Pengawal dan A-Hwa berkata bahwa mereka mendengar ribut-ribut di situ, datang, namun melihatnya pingsan, kaca jendela pecah, dan entah apa yang terjadi.

Dan ketika A-Hwa bertanya apa yang terjadi, Kwee Han tersenyum aneh. Tiba-tiba pemuda ini mengusir semuanya agar pergi.

"Tidak apa-apa, tidak ada apa-apa. Pergilah, aku hanya diserang seekor anjing. Kalian pergilah."

"Aku tak perlu menemani?"

"Tidak, kau pun pergi, A-Hwa. Aku hanya sedikit kaget dan ingin menenangkan diri."

"Baiklah, kalau begitu aku di luar, koko. Sewaktu-waktu kau memerlukan aku, silakan panggil."

A-Hwa keluar, heran, tetapi lega Kwee Han tidak apa-apa. Tadinya dia cemas dan khawatir, takut pemuda itu diserang musuh.

Tapi karena Kwee Han baik-baik saja dan mereka semua pun pergi, akhirnya Kwee Han tinggal seorang diri di situ, duduk termenung dan bersinar-sinar memandang dinding rahasia tempat dia menyimpan benda aneh itu. Kiranya Cermin Naga, tentu sebuah benda luar biasa karena dicari-cari oleh ketiga iblis macam nenek dan kakek-kakek itu.

Kwee Han tiba-tiba berdebar, sekarang menyadari bahwa benda yang jatuh di kamarnya itu adalah benda berharga, yang harganya dia masih kurang tahu. Tapi karena cermin itu telah berada di tangannya dan tentu saja dia harus berhati-hati menyimpan, maka Kwee Han tak mengutak-atik benda itu selama beberapa hari, takut diintai atau didatangi iblis-iblis seperti ketiga orang tadi. Kwee Han ngeri dan bergidik, tak mengenal mereka kecuali Tok-ong dan Dewi Api, itu saja, seperti yang mereka sebut sendiri.

Dan ketika pemuda ini berdegupan kencang dan masih tegang oleh kejadian itu, mendadak dua minggu kemudian dia mendengar berita bahwa dirinya akan diangkat sebagai menteri penuh, langsung berdampingan dengan Pangeran Yu Fu yang kiranya jasanya bertambah dengan pengangkatan itu.

Kwee Han teringat Cermin Naga. Cermin itu kiranya membawa rezeki. Dan ketika benar saja tak lama kemudian pemuda ini diangkat sebagai menteri penuh dan kedudukannya sejajar dengan Khek-taijin atau lain-lain, maka rezeki demi rezeki membanjiri pemuda ini, membuat Kwee Han melambung dan naik pamornya. Tak lama kemudian ia menjabat kedudukan rangkap sebagai menteri tanah. Kedudukan ini jelas membawa rezeki luar biasa banyaknya. Kwee Han, si bekas nelayan itu, tiba-tiba menjadi pembesar tinggi. Dan ketika setahun kemudian kaisar wafat dan diganti oleh saudara Pangeran Yu Fu, maka Kwee Han pun duduk pula sebagai anggota Dewan Penasihat Kaisar. Bukan main!

Kwee Han lagi-lagi teringat Cermin Naga itu. Entah kenapa sejak cermin itu datang di tempatnya, tiba-tiba keberuntungannya melonjak. Dia tak ingat lagi pada Siong-hi dan lain-lain. Harta dan wanita telah mengelilingi pemuda ini. Setiap hari bersenang-senang, ia lupa pada kampung halamannya, Ming-ciang.

Dan ketika suatu hari rasa mabuk membuat pemuda ini tinggi hati dan mulai congkak, maka pada hari itu Kakek Pwee lagi-lagi muncul bersama dua pelayan dusun yang notabene masih sahabatnya dulu. Tapi begitu ketiga orang ini muncul, maka muncul pula seorang lain yang tidak diduga-duga Kwee Han.

"Kenapa kalian ke sini?" Begitu Kwee Han menyambut tak senang ketika Pwee-lopek dan kedua temannya datang, ia langsung mengerutkan kening dan merasa terganggu. Pakaian lusuh dan sikap kedusun-dusunan Kakek Pwee ini membuat Kwee Han malu. Pagi itu dia dikelilingi tujuh pelayan yang sekaligus menjadi selirnya. Kwee Han kini banyak memelihara gundik. Dan ketika sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan dan Pwee-lopek terbata-bata, maka kakek itu berkata dengan sikap dan kata-kata seperti dulu, lugu dan apa adanya, tidak tahu sopan santun tata istana.

"Kami datang ingin meminta bantuanmu Kwee Han. Dua teman kita ini, A-kong dan Asam, dianiaya Cu-wangwe (Hartawan Cu)."

"Hm, siapa mereka ini?" Kata-kata Pwee-lopek terputus. Wanita cantik di sebelah kiri Kwee Han bangkit berdiri; dia adalah Kiu Kin, selir baru Kwee Han yang terkasih.

"Apakah kalian tak tahu sopan santun menghadap pembesar? Eh, Kwee koko, sebaiknya panggil pengawal dan suruh pergi orang-orang ini. Mereka kurang ajar dan tidak tahu adat!"

Pwee-lopek terkejut. "Kau siapa?"

"Aku istri Kwee-taijin (Menteri Kwee), Kakek buruk! Kau enyah dan pergilah!"

"Kwee-taijin...?"

"Ya, Kwee-taijin! Suamiku ini adalah Menteri Kwee dan kau enak saja menyebut namanya! Di manakah aturan dan sopan santunmu? Di mana hormat dan adatmu menghadap seorang pembesar? Kakek buruk, kau pergi dan enyahlah, atau aku memanggil pengawal dan kau dihajar!"

Pwee-lopek pucat. "Kwee Han, eh... Kwee-taijin, apa... eh, bagaimana aku harus bicara?"

Kwee Han mencekal lengan selirnya. "Kiu Kin, sabarlah. Tahan kemarahanmu dan dengar apa yang hendak dikatakan kakek ini, jangan panggil pengawal dulu!" Dan menghadapi bekas temannya dengan raut muka gelap, Kwee Han berkata.

"Lopek, aku adalah seorang menteri. Aku pembesar yang dihormati di sini. Kalau kau ingin bicara, seharusnya kau menggunakan sopan santun dan tata cara yang benar. Kalau kau tak mau, lebih baik pergi dan keluarlah."

"Kwee Han!" Pemuda di sebelah kanan Kakek Pwee tiba-tiba melompat bangun, berseru marah. "Apakah ini mengharuskan kami berlutut dan bersoja di depanmu? Apakah jabatanmu itu sekarang memisahkan jarak di antara kita berdua? Bukankah kau adalah Kwee Han yang dulu dan bekas nelayan di Ming-ciang? Bukankah kau tak perlu sombong dan congkak meskipun kedudukanmu tinggi? Ingat, kau dan kami sama-sama makan nasi, Kwee Han. Kalau kami tidak menemui Kwee Han seperti dulu, lebih baik kau terus terang ingin mengusir kami. Kau sudah berbohong pada Pwee-lopek, tak pernah datang ke Ming-ciang dan membiarkan kami para sahabatmu ditindas juragan perahu. Kalau kami disuruh berlutut dan harus menghormatimu berlebih-lebihan, lebih baik kami pergi dan keluar!"

Dan marah menuding-nuding Kwee Han, pemuda itu, A-kong, mengajak Pwee-lopek dan temannya pergi.

Panas dan marah karena Kwee Han sekarang bukan seperti Kwee Han yang dulu. Tadi saat mereka masuk saja, mereka hampir gagal dicegah pengawal. A-kong yang berangasan ini sudah naik pitam dan hampir berkelahi. Pemuda itu sudah menahan-nahan kemarahan karena Kwee Han tak menepati janji, pemuda itu lupa akan janjinya pada Pwee-lopek dulu. Tindasan kaum juragan menjadi-jadi, dan A-kong malah berurusan dengan Cu-wangwe, hartawan yang sudah kembali ke Ming-ciang itu, hampir dibunuh dan melarikan diri. Dan ketika kini sambutan Kwee Han terasa tak menyenangkan dan pemuda itu tampaknya bersikap sombong dan mengagung-agungkan kedudukannya, tiba-tiba A-kong yang bertemperamen tinggi ini tak sabar, langsung berdiri dan memaki-maki Kwee Han. Kebiasaan mengumbar makian di kalangan buruh nelayan timbul, A-kong memang tak tahu tata cara menghadap pembesar. Kwee Han dianggapnya sama seperti dulu, pemuda itu masih Kwee Han juga, dan kedudukanlah yang membedakan mereka. A-kong yang lugu dan kasar tak mau tahu semuanya itu.

Maka begitu Kwee Han dirasa menaruh diri terlalu tinggi dan Kiu Kin juga mengusir Pwee-lopek, tiba-tiba nelayan bertemperamen keras ini gusar, marah-marah, dan memaki Kwee Han yang dianggap congkak. Kerut di kening Kwee Han pertama kali menyambut mereka sudah membuat A-kong tersinggung, pemuda ini naik darah. Tapi ketika dia memutar tubuh dan menyambar Pwee-lopek, tiba-tiba ketiga pengawal masuk ke ruangan itu dan mendengar bentakan Kwee Han, yang juga marah.

"A-kong, kau manusia kurang ajar. Berhenti dan berlututlah sebelum pengawalku bertindak!"

A-kong terkejut. "Kau mau apa?"

"Hm," Kwee Han mendorong selirnya. "Aku mau memberi adat padamu, A-kong. Bahwa kau harus bicara dan bersikap yang baik di hadapan seorang pembesar. Aku Menteri Kwee, bukan sahabat kalian yang dulu lagi, melainkan seorang pembesar dan pembantu kaisar. Nah, berlututlah, dan keluar dengan jalan merangkak!"

A-kong mendelik. Tapi sebelum dia mengeluarkan kata-kata kasar, Pwee-lopek tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, merasa keperluannya bisa gagal kalau belum apa-apa terjadi pertengkaran.

"Kwee Han, eh... Kwee-taijin, maafkan kami bertiga. Kami menyadari kesalahan kami. Kau benar, kau adalah menteri yang harus dihormati seluruh rakyat kecil. Kami bertiga datang bukan untuk mencari ribut, melainkan mencari perlindungan. Aku dan kedua temanku mewakili teman-teman lain di Ming-ciang untuk memohon keadilan. Bisakah Taijin menolong dan menyelamatkan kami?"

"Huh!" A-kong tiba-tiba berseru. "Untuk apa menyebutnya seperti itu, Paman Pwee. Kalau dia begitu sombong, lebih baik kita pergi. Aku menyesal setelah melihat semuanya ini, Kwee Han ini sudah bukan seperti sahabat kita dulu!"

"A-kong!" Pwee-lopek membentak. "Kau diamlah dan dengar kata-kataku. Kita datang bukan untuk mencari perkara, melainkan mencari perlindungan. Atau..."

"Atau aku keluar!" A-kong membalik, memotong ucapan kakek itu, dan dengan berani serta pongah pula dia meninggalkan temannya.

Di situ menghadang ketiga pengawal yang tidak membuat pemuda ini takut. A-kong memang pemberani, tapi sayangnya kasar. Kebiasaan hidup sebagai kaum buruh membuat pemuda ini kurang memiliki sopan santun, maklumlah, pendidikannya memang rendah. Dan ketika dia membuat yang lain-lain terbelalak dan Kwee Han mendelik, tiba-tiba A-kong di sana sudah melewati pengawal dan dengan gagah mencoba meneruskan langkahnya.

"Berhenti!" Seruan itu tak digubris. Ketiga pengawal sesudah mendapat isyarat Kwee Han, mereka menodongkan tombak, dan A-kong malah membentak. Pemuda itu dengan berani dan gegabah menyambar tombak pengawal di sebelah kanan, dia mengira akan diserang. Dan karena pemuda itu mulai bergerak dan berarti menyerang, tentu saja pengawal menjadi marah, dan kedua pengawal yang di sebelah kiri menusuk dan menghantam pemuda itu.

"Blok!" A-kong mengelit, lolos dari tusukan tetapi tak lolos dari hantaman, mengaduh dan mengamuk, dan segera pemuda itu mencabut pisau.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment