Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 51

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 51

Dalam perjalanan, pemuda ini membekali diri dengan senjata untuk membalas dendam, yang segera memicu perkelahian sengit. Dengan kekuatan dan kepandaian seadanya, nelayan ini berusaha mengalahkan tiga pengawal. Tentu saja hal itu mustahil, sehingga ketiga pengawal itu berseru marah. Mereka gusar dengan sikap pemuda itu.

Ketika tombak akhirnya memukul jatuh pisau di tangan pemuda itu, Akong menjerit dan terlempar. Sebuah tombak menusuknya, sementara dua tombak lainnya menghantam tengkuknya. Pemuda itu terkapar dan menggeliat, lalu pengawal memburunya karena hendak menghabisinya. Namun, Pwee Lopek berteriak dan melompat bangun, lalu menghambur ke depan.

"Jangan... jangan dibunuh!"

Dengan gemetar, kakek ini menghalangi pemuda itu dengan tubuhnya. Ia meratap terbata-bata kepada Kwee Han, "Taijin, tolong ampuni kawanku ini. Dia memang bersalah, tapi jangan dibunuh. Ingatlah sisa persahabatan kita dulu!"

"Hm!" Kwee Han mengangkat lengan. "Lempar dia ke kamar gelap, pengawal. Biarkan dia hidup!"

Pengawal yang gemas segera menendang Akong sehingga pemuda itu pingsan. Pwee Lopek menangis, sementara Asam berdiri menggigil. Pemuda yang satu ini tahu gelagat; ia tidak sekasar dan seberangasan Akong. Ketika Akong dibawa pergi, Pwee Lopek berlutut di depan Kwee Han dengan gemetar.

"Taijin, tidakkah Akong kau bebaskan? Bagaimana kami menjawab pertanyaan bila kembali tanpa dia?"

"Aku tak mau berurusan lagi, Lopek. Temanmu itu kurang ajar dan harus dihukum!"

"Tapi..."

"Aku tak mau bicara, pergilah!"

Kwee Han mengusir mereka dan memberi isyarat kepada dua pengawal yang masih di situ. Ia berbalik dan enggan menemui kakek ini karena marah serta tersinggung dengan sikap kasar Akong tadi. Ia teringat kenangan dulu ketika di Ming-ciang. Orang-orang rendah memang biasanya kasar. Untunglah kini ia hidup di kota raja dan pandai membawa diri. Ia mulai mengerti tata krama pergaulan dengan orang kaya atau bangsawan. Kini martabatnya lebih baik, tetapi bekas teman-temannya ini justru ingin mempermalukannya. Lebih baik mereka diusir.

Begitu Kwee Han pergi, dua pengawal yang telah mendapat isyarat segera mencengkeram kakek itu. "Taijin sudah mengusir kalian, pergilah!"

Pwee Lopek menangis. Asam pun didorong dan dibentak pengawal. Mereka sadar bahwa Kwee Han kini benar-benar orang berpengaruh, membuat diri mereka merasa begitu kecil dan tak berarti. Karena Kwee Han tak mau menemui mereka dan pengawal memaksa pergi, akhirnya Pwee Lopek dan temannya tidak berdaya. Mereka meninggalkan gedung Kwee Han, tetapi tidak langsung pulang. Mereka kini mendapat persoalan baru; urusan di Ming-ciang yang sebenarnya harus dibantu Kwee Han justru berbalik dengan ditangkapnya Akong.

Malam itu, ketika kakek ini mondar-mandir di sekitar gedung Kwee Han dan Asam termangu, kakek itu menggigit bibir. "Kita harus membebaskan Akong. Malam ini kita masuk dan berbuat nekat!"

Asam terkejut. "Kau mau mencari penyakit?"

"Habis, masakah kita pulang dengan membiarkan teman sendiri dikurung di sini? Eh, Asam, heran bahwa hari ini keberanianmu mengkerut. Mana itu keberanian dan kegagahanmu? Bukankah kau orang muda yang seharusnya lebih tangkas dan berani daripada aku? Kau harus bertindak, Asam, jangan melenggong dan menunggu saja!"

"Aku tak berani, Kwee Han sudah menjadi orang besar!"

"Dan kau mau menyuruhku si tua ini ke dalam bahaya? Asam, mana itu janjimu ketika berangkat? Bukankah kau berjanji bahwa suka-duka harus kita hadapi bertiga? Akong kini dikurung, kita harus membebaskan dan masuk!"

"Tapi pintu depan dijaga pengawal..."

"Kita masuk lewat bagian lainnya, kalau perlu melompat di tembok!"

"Hm..." Asam akhirnya mengeraskan hati. "Baiklah, tapi aku agak ragu, Lopek. Aku diam-diam heran bagaimana Kwee Han itu bisa menduduki jabatan tinggi dan menjadi orang besar! Tidakkah kau merasa aneh?"

"Itu keberuntungannya, Asam, kau tak usah iri!"

"Bukan iri, tapi... bagaimana kalau kita menyelidiki ini? Tak mungkin Kwee Han bergerak atas kekuatannya sendiri. Pasti ada seseorang yang membantunya dan membuat dia berhasil. Barangkali seorang terkenal!"

Kakek Pwee tertawa mengejek. "Kita sekarang tak perlu melantur ke mana-mana, Asam. Pokoknya kita cari akal dan masuk untuk membebaskan Akong!"

"Dengan menempuh bahaya menyerahkan diri sendiri, mungkin nyawa!"

"Takutkah kau?"

"Tidak, bukan begitu. Tapi aku..." Asam berhenti ketika melihat sebuah bayangan berkelebat di atas kepalanya dan hilang seperti iblis. "Eh, hantukah itu?"

Kakek Pwee terkejut. "Apa itu, Asam?"

"Mana aku tahu? Ah, tempat ini rupanya banyak hantu, Lopek. Mari menyingkir!"

Asam pucat dan tiba-tiba menarik temannya menjauhi tempat itu. Kini mereka berada di sebelah gedung Kwee Han. Asam menoleh sana-sini, mendadak mendengar kelelawar mencicit dan pemuda ini kaget setengah mati. Hidungnya disambar sesuatu dan Asam terjengkang. Setelah sadar dan melompat bangun, ia mengumpat. "Lopek, sekitar rumah Kwee Han ini rupanya sarang iblis. Aku jadi meremang dan ngeri. Bagaimana kalau tidak malam-malam begini menolong Akong?"

"Maksudmu siang saja? Bodoh, pengawal tentu melihat kita, Asam. Mudah tertangkap dan kita mudah celaka. Tenangkan dirimu, di sini tak ada apa-apa dan itu tadi hanya kelelawar!"

Kakek Pwee menindas rasa takutnya sendiri, berdiri gagah, dan memegang temannya itu. Jari si kakek yang agak gemetar ditekan kuat. Asam akhirnya tenang dan mereka melanjutkan percakapan. Sehari tadi mereka membicarakan Akong. Karena Kwee Han tak mungkin dibujuk untuk melepaskan temannya, dan keputusan belum didapat, akhirnya malam itu kakek ini meminta ketegasan temannya. Asam sebenarnya bukan penakut, tapi juga tidak terlampau berani; sepak terjangnya selalu diperhitungkan.

Ketika ia masih ragu, kakek Pwee memberi ultimatum. "Asam, kau dan Akong adalah pemuda yang sama-sama hendak dibunuh Cu Wangwe. Aku sebenarnya hanya pengantar, tak berkepentingan langsung. Kalau kau ragu-ragu menolong sahabatmu sendiri dan Akong dibiarkan di sana, lebih baik kau pergi dan aku yang akan melakukannya. Bekerja dengan orang yang selalu ragu-ragu tak enak rasanya. Kau ambillah keputusanmu dan jawab maukah atau tidak!"

"Aku mau," Asam akhirnya mengangguk. "Hanya kuminta jangan kau gegabah, Lopek. Kita harus bertindak hati-hati dan jangan sampai celaka di tangan Kwee Han."

"Tentu saja, siapa mau begitu bodoh tertangkap? Kita masuk dengan melompati tembok, Asam. Kau dan aku dapat mempergunakan tali dan hati-hati turun ke dalam."

"Ya, dan kau membawa senjata?"

"Hm, aku si tua ini membawa pisau, Asam. Tapi jangan digunakan kalau tidak perlu. Kau menyimpan pisaumu, bukan?"

"Ya."

"Baiklah, mari masuk."

Kakek Pwee yang tak sabar mengajak temannya mendekati tembok, mengeluarkan tali, lalu memanjat. Begitu berada di dalam, mereka bingung. Mereka tak tahu di mana Akong ditahan. Hal ini menyulitkan. Ketika mereka berbisik-bisik, tiba-tiba terdengar suara pengawal atau penjaga mendatangi tempat itu.

"Merunduk!"

Asam cepat ditekan kepalanya oleh kakek Pwee. Mereka kaget dan menghentikan percakapan. Penjaga lewat tanpa menyebutkan di mana teman mereka disekap. Ketika penjaga lewat dan kakek itu berdiri lagi, Asam mengusap keringat. "Bagaimana? Tangkap mereka, Lopek? Atau kita mencari di dalam?"

"Kita ke dalam, kita cari pelayan atau seorang selir!"

Asam setuju. Ia sadar bahwa daripada berhadapan dengan pengawal, lebih baik mereka berhadapan dengan wanita—selir atau pelayan—untuk dibekuk dan dipaksa memberikan informasi. Kepalang basah di tempat itu membuat keberanian mereka bertambah. Mereka menyelinap dan mendekati bagian yang terang dengan hati-hati. Kebetulan mereka menuju dapur. Terdengar tawa dan percakapan pelayan. Dua orang gadis muncul, lalu kakek Pwee dan Asam menarik diri ke dinding.

Percakapan menyebut-nyebut Akong. Dua pelayan muda itu rupanya tahu di mana Akong ditahan. Ketika mereka berjalan di dekat Asam dan Pwee Lopek, dua orang itu memberi isyarat dan segera menubruk serta mendekap mulut para pelayan tersebut.

"Jangan berteriak, atau kalian mati!"

Kakek Pwee tiba-tiba menjadi garang, menubruk dan menyambar korbannya. Asam pun melaksanakan tugasnya tak kalah gesit. Terdengar jerit tertahan sebelum semuanya menjadi sepi. Pwee Lopek yang untuk pertama kalinya mengancam orang merasa agak gemetar saat bertanya untuk mengorek keterangan.

"Kami mencari pemuda yang kalian sebut-sebut itu. Di mana tempatnya dan tunjukkan kepada kami!"

"Ufh, uufft...!" Pelayan yang didekap tak dapat bicara dan meronta. Setelah mulutnya sedikit dikendorkan, ia menjawab, "Aku... aku tak tahu, orang tua. Yang tahu adalah temanku itu!"

Ia menunjuk temannya yang didekap Asam. Pemuda itu sejak tadi gemetaran memeluk korbannya bukan karena tegang, melainkan karena ia merasa panas dingin; korban yang dibekuk adalah pelayan muda yang hangat tubuhnya. Mereka berpelukan dengan sangat dekat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment