Chapter 52
Pelayan itu tadinya ketakutan, tetapi kini ia tenang. Ia melihat bahwa yang menangkapnya adalah pemuda biasa yang bertampang dusun. Pelayan itu tersenyum dan tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke tubuh pemuda tersebut. A-sam merasa bingung karena tubuh pelayan itu digesek-gesekkan kepadanya.
Antara keinginan dan gairah tiba-tiba bangkit. Ia tidak tahu bahwa pelayan yang disergapnya itu kebetulan pagi tadi melihatnya saat mengantar minuman dan makanan kecil bersama tujuh selir yang melayani Kwee Han. Jadi, pelayan ini tidak takut setelah mengetahui siapa penyergapnya.
Ketika pelayan yang ditangkap Pwee-lopek itu menunjuk dan memandang dirinya, ia tersenyum dan tertawa kecil. Ia tidak didekap dengan kencang oleh A-sam, yang entah mengapa menjadi kendur dan setengah hati menangkap korbannya.
"Aku tahu, tapi kalian tidak perlu kasar. Bebaskan temanku itu dan kita bicara baik-baik."
"Hm, kami tidak main-main, gadis muda. Kau jangan tertawa atau mengejek kami!"
"Siapa yang mengejek?" Gadis itu geli memandang Pwee-lopek.
"Kami tahu maksudmu, orang tua. Tentu kuberitahu kalau kalian bersikap baik kepada kami. Lepaskan temanku itu!"
Kakek Pwee melepaskan korbannya dengan hati-hati, tetapi tetap siap menempelkan pisau di leher.
"Kami tidak mau kalian melarikan diri. Jangan main-main dan jangan bergurau!"
"Kami tidak bergurau. Kalianlah yang terlalu tegang dan nampaknya ketakutan."
"Hiii," Kakek Pwee memerah mukanya. "Kau jangan menghina, gadis muda. Apa maksudmu dengan kata-kata tadi?"
"Eh, salahkah? Aku bilang kalian nampak ketakutan, orang tua. Aku tahu kalian sengaja menangkap kami, wanita-wanita lemah. Tentu kalian telah bertemu dengan pengawal tetapi menyembunyikan diri karena takut!"
"Sudahlah," A-sam memotong pembicaraan sembari memegang lengan korbannya. "Kau tidak usah berdebat dengan kami, Nona. Kami datang untuk membebaskan teman kami."
"Aku tahu. Kau A-sam, bukan? Dan ini Pwee-lopek, aku tahu semuanya. Nah, kalau ingin menolong teman kalian itu, cari saja di samping gedung ini. Memutar dari sini lima belas langkah dan kalian berbelok ke kanan menuju rumah tahanan bercat putih. Di situ teman kalian disekap. Sekarang bebaskan kami."
"Kau tidak bohong?"
"Hihi, aku bohong tidak ada gunanya, Kakek Pwee. Kau ke sana pasti gagal dan akan tertangkap pula. Nah, untuk apa berbohong?"
Kakek itu tertegun, memandang temannya. "Bagaimana, A-sam?"
"Hm," A-sam menggaruk-garuk kepala. "Kita sudah di sini, Lopek. Kepalang tanggung jika tidak melakukan niat kita. Cari saja, dan kita ke sana!"
"Benar. Atau kalau ingin mudah, bawa saja aku ke sana, A-sam. Kutunjukkan pada kalian dan setelah itu terserah kalian sendiri," pelayan itu menyambung, bahkan memberi nasihat. Kakek Pwee mendelik; ia merasa dipermainkan oleh gadis yang tersenyum dan tidak tampak takut berhadapan dengan mereka itu.
Sebelum ia menjawab, tiba-tiba A-sam setuju dan mengangguk. "Bagaimana pendapatmu, Lopek? Gadis ini dapat dibawa, kalau perlu dijadikan sandera!"
"Eh, kalian mengancam aku? Baik-baik aku bersikap pada kalian, A-sam, jangan diperlakukan sebaliknya kalau tidak ingin aku marah!"
"Marahlah," Kakek Pwee merasa ada yang tidak wajar. "Kau di sini saja, gadis muda. Aku tidak mau kalian ikut dan hanya merepotkan kami!"
Kakek itu membungkam mulut korbannya dan berseru, "A-sam, gadis itu dapat menggagalkan kita kalau kepergok penjaga. Sebaiknya bungkam dia dan ikat di sini bersama temannya!"
Kakek itu pun mengikat serta membungkam gadis yang dibekuknya, lalu menyembunyikannya di balik gerumbul karena melihat A-sam ragu-ragu dan tampak keberatan. Gadis yang dibekuk A-sam menggeliatkan tubuh, meronta, tetapi A-sam mendekapnya dan mempererat cengkeraman. Ketika pemuda itu bingung dan ragu mengikuti nasihat Pwee-lopek, tiba-tiba kakek ini menghantam dan memukul tengkuk gadis itu.
"Kau laki-laki bodoh, jangan bangkit nafsumu oleh tubuh yang hangat!"
Si gadis yang roboh dan mengeluh di tanah akhirnya dibereskan oleh kakek itu yang tampaknya paham akan apa yang bergejolak di hati A-sam, melihat kegenitan si gadis muda. Pwee-lopek khawatir akan gagal gara-gara ini. Ketika A-sam tertegun dan terkejut oleh perbuatannya, kakek ini menyambar lengannya dan meloncat ke kiri.
"Jangan bengong, sekarang kita buktikan kata-katanya. Kalau bohong dan kita tertipu, kita dapat kembali ke sini dan menjadikan mereka sandera seperti katamu tadi. Ayo, A-sam, kita cari rumah bercat putih itu!"
A-sam sadar. Pwee-lopek menyeretnya ke tempat yang dituju. Mereka berbelok ke kiri dan akhirnya ke kanan. Benar saja, terlihat sebuah rumah tahanan bercat putih. Mereka merunduk dan melompat masuk. Di dalam terdengar rintihan dan umpatan lirih, kakek itu pun girang berseru tertahan.
"A-kong, dia A-kong!"
"Sst," A-sam menyuruhnya berhati-hati, menoleh ke kiri dan kanan. "Kenapa tidak ada penjaga? Apakah memang tidak ada penjaga?"
"Ah, tempat ini sepi, A-sam. Mungkin penjaga sedang pergi atau A-kong memang tidak perlu dijaga. Ayo, buka pintunya dan masuk!"
Kakek Pwee mendorong tak sabar dan membuka paksa pintu rumah itu. Ia meloncat masuk. Benar saja, A-kong menggeletak di situ dalam keadaan merintih serta terikat, memaki Kwee Han. Kakek itu girang namun juga cemas.
"A-kong..."
Pemuda itu menoleh. A-kong terbelalak dan seakan tidak percaya, tapi ketika melihat A-sam di situ, ia girang dan merintih.
"Oh, aduh... kau mau menolongku, Lopek? Aduh, buka ikatan tali ini. Mereka menghajarku dan membuatku pingsan!"
Pwee-lopek segera bergerak dan memutus ikatan di tubuh temannya. A-kong ditarik bangun, tapi pemuda itu terguling kembali. Ikatan yang terlalu lama dan menyakitkan membuatnya kejang; ia tidak dapat berdiri dan mengeluh. Namun, ketika A-sam datang menolong dan memijat-mijat tubuhnya, akhirnya pemuda ini dapat berdiri dan memaki.
"Bangsat jahanam Kwee Han itu! Dia menyuruh pengawalnya menyiksa dan nyaris membunuh aku!"
"Sudahlah, tidak perlu marah, A-kong. Kau juga salah tidak menghormat orang besar!"
"Tahi kucing! Kwee Han itu orang besar macam apa? Dia juga seperti kita, Lopek. Hanya entah keberuntungan macam apa yang membuat dia jadi berubah begitu. Aku tidak akan marah kalau pertama kali dia menyambut dengan mulut tidak cemberut. Dia sombong, kini pongah dan congkak!"
"Kau mau keluar atau memaki-maki?" Kakek Pwee membentak. "Kami mempertaruhkan keselamatan untukmu, A-kong. Kalau kau ingin tetap di sini, biarlah kami pergi!"
"Tidak, maaf!" Pemuda itu sadar. "Aku tentu saja ingin keluar, Lopek. Terima kasih banyak atas pertolonganmu. Ayolah, mari bawa aku keluar!"
Namun, baru saja mereka bergerak dan memutar tubuh, tiba-tiba lima pengawal muncul dan berdiri di pintu dengan bengis dan dingin.
"Kalian mau merayap? Jangan bermimpi!"
Pengawal di depan yang tertawa mengejek mereka melompat masuk, diikuti keempat temannya, lalu langsung mengepung.
"Kwee-tarjin sudah menduga kalian datang lagi, Tua Bangka. Dan kini kalian tidak dapat lagi dibiarkan hidup!"
Tombak dan golok segera menyerang. Pwee-lopek terkesiap dan menangkis, menggerakkan pisaunya, tapi ia terbanting. Tenaga yang tua ternyata tidak dapat menghadapi tenaga yang muda. Si pengawal terlalu kuat dan menerkam lagi, kali ini menyambar dan menusuk punggung kakek itu.
Namun, karena A-kong ada di dekatnya, ia tentu saja tidak membiarkan temannya dibunuh. A-kong melompat dan menghantam pengawal itu dari samping. A-sam juga terpaksa bergerak dan menyerang pengawal itu pula. Pengawal ini pun dikeroyok.
Karena dua lawan satu dan si pengawal terjepit, tombak terampas. A-kong dan A-sam mengamuk di situ. Namun, mereka ditubruk empat pengawal yang lain. Kakek Pwee berteriak marah. Dengan gagah dan berani, kakek ini membela temannya. Terjadilah serang-menyerang. Namun, karena lima lawan tiga dan A-kong masih terasa kaku ototnya, sebentar kemudian mereka bertiga kewalahan, menjerit, dan mulai menerima tusukan atau bacokan golok.
Kakek Pwee terbabat, namun dengan gagah dan berani kakek ini maju lagi. Ia terasa dipepet dan tidak mungkin mundur. Apa yang sudah terjadi harus dihadapi. Ketika A-kong dan A-sam menjerit oleh sambaran golok, kakek ini berteriak, "A-kong, lari! A-sam, ingat dua pelayan wanita itu. Tangkap dan jadikan mereka sandera!"
"Ah, mana mungkin, Lopek? Mereka mengepung, kita tidak dapat keluar!"
"Aku akan memberimu jalan keluar, A-sam. Kalian masih muda, biar si tua ini mati. Aku... aduh!"
Kakek itu menghentikan kata-katanya, menjerit, dan terlempar karena dua pengawal menusuknya dari samping. Pinggangnya terluka dan kakek itu roboh. Si pengawal tertawa mengejek karena kakek ini besar nafsunya namun kurang tenaganya. Apa yang diniatkan tidak seimbang dengan apa yang dipunyai. Kakek itu terguling-guling. A-sam dan A-kong terkejut. Mereka sendiri terdesak hebat oleh golok dan tombak tiga pengawal. Tombak rampasan terpental jauh ketika dipukul. Mereka memang bukan jaguh berkelahi dan tidak dapat menolong kakek itu.
Namun, ketika pengawal mengejar Pwee-lopek dan dua tombak diarahkan dengan beringas untuk menghabisi kakek itu, mendadak berkelebat sesosok bayangan kuning emas dan bentakan perlahan terdengar. Disusul tangkisan dan robohnya lima pengawal yang entah bagaimana tiba-tiba berpelantingan tak keruan.
"Jangan bersikap kejam, tahan!"
Pwee-lopek yang selamat dan melompat bangun melihat lima pengawal menjerit dan terguling-guling. Akhirnya ia tertegun melihat seorang pendekar gagah berdiri di situ, tegak dengan rambutnya yang kuning keemasan.
"Kim-mou-eng!"
"Pendekar Rambut Emas!"