Chapter 53
Kakek Pwee mendelong. Lima pengawal yang tadi menyerangnya bersama dua temannya mendadak berseru kaget, membelalak, lalu tiba-tiba melarikan diri sambil melemparkan senjata masing-masing. Mereka begitu ketakutan, dan baru kali ini Pwee Lopek mendengar nama tersebut, juga orangnya.
Ketika Akong dan A-sam masih tertegun dan bengong, kakek Pwee sudah menjatuhkan diri berlutut dan mengucap terima kasih, menyadari bahwa seorang pendekar telah menolong dan menyelamatkannya.
"Taihiap, terima kasih. Aku si tua ini kiranya berhadapan dengan Kim-mou-eng!"
"Hm, bangunlah," Kim-mou-eng, pendekar itu, menarik kakek ini. "Aku melihat dan mendengar semuanya, Kakek Pwee. Aku tahu masalah kalian dan mari sama-sama menghadap Kwee Taijin."
Kakek itu terbelalak. "Menghadap Kwee Taijin?"
"Ya, bukankah kau datang untuk urusan teman-temanmu di Ming-ciang? Aku tahu semuanya, Kakek Pwee, dan aku akan membantumu!"
"Dia yang kukira hantu itu!" A-sam tiba-tiba berseru, kaget dan teringat bayangan di atas pohon. "Eh, bukankah kau orangnya, Taihiap? Kau yang berkelebat dan mengejutkan kami berdua?"
"Benar," Kim-mou-eng tersenyum. "Akulah itu, A-sam. Aku simpatik atas perjuangan kalian. Mari, kuantar menghadap Kwee Taijin dan rencana kalian pasti berhasil!"
Belum sempat A-sam hilang bengongnya, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat dan lenyap dari situ.
"Kakek Pwee, ayo keluar. Kwee Taijin ada di ruang dalam!"
"Ah," kakek ini terkejut. "Dia akan menangkap kami, Taihiap. Pengawal bisa berdatangan dan menyerang kami!"
"Jangan takut, kalian datang saja dan lihat bagaimana sikap Kwee Taijin menyambut kalian nanti!"
Suara itu lenyap tanpa diketahui orangnya. Kakek ini sempat ragu-ragu, namun A-sam berseri-seri. Dia sudah mendengar nama Kim-mou-eng dan lebih paham daripada kakek itu. Tanpa ragu dan tertawa, pemuda ini melompat keluar. Ketika temannya mengikuti dan Kakek Pwee tampak cemas, pemuda ini menyambar lengannya.
"Jangan takut, apa yang dikata Kim-mou-eng benar, Lopek. Ayo ke sana dan cari Kwee Han!"
Kakek ini kebat-kebit. Akhirnya, ia mengeraskan hati. Dengan perasaan takut dan gelisah, ia mengikuti A-sam berlari dan sebentar kemudian sudah melihat keributan di dalam. Pengawal berkelebat ke sana kemari dan kakek ini pucat. Dia menganggap mereka bertiga justru mendatangi sarang harimau.
Namun, ketika tiba di luar gedung utama dan melihat barisan pengawal berdiri tegak, mereka seolah disambut. Kakek Pwee tertegun melihat Kim-mou-eng ada di dalam bersama Kwee Han, yang buru-buru berlari menyambut kakek ini.
"Pwee Lopek, mari. Silakan masuk!"
Pwee Lopek bengong. Kwee Han, yang pagi tadi galak dan ketus, sekonyong-konyong berubah; sikapnya manis dan sudah menyambut kakek ini, memegang lengannya, dan membawa masuk. Ketika Akong dan A-sam mengikuti dan tertegun oleh sikap Kwee Han, pemuda ini tampak menjura dalam-dalam di hadapan Pendekar Rambut Emas itu, memberi hormat dengan penghormatan yang luar biasa.
"Taihiap, maafkan aku. Kiranya Pwee Lopek sudah berkenalan denganmu dan juga sahabatmu. Maaf, aku tak tahu dan tentu saja akan menyatakan penyesalanku kepadanya."
Membalik menghadapi kakek ini, Kwee Han berkata, "Lopek, aku tak tahu kalau kau adalah sahabat Kim-taihiap. Kenapa tidak bilang dulu agar aku mengerti? Maaf atas semua kekasaranku, Lopek. Aku berjanji tak akan mengulangi semuanya itu dan kita tetap kawan!"
Pwee Lopek mendelong. Dia melihat Kwee Han begitu manis dan hormat kepadanya. Bertemu pandang dengan Kim-mou-eng dan sekilas isyarat tampak dikedipkan pendekar itu. Kakek ini mengerti dan segera tersenyum.
Ketika ia mengangguk dan merasa girang, ia menunjuk dua temannya, "Ah, tak apa, Kwee Taijin. Dan aku juga minta maaf atas kekasaran A-kong dan A-sam ini. Mereka tak tahu adat, kami memang orang-orang kecil yang tidak tahu banyak sopan santun. Maafkan kami pula."
Menegur temannya, kakek ini menyambung, "A-kong, kau harus minta maaf pada Kwee Taijin. Hayo beri hormat dan lakukan perintahku!"
A-kong buru-buru membungkuk. "Maafkan aku, Taijin," katanya pendek. "Tapi kau juga bersalah karena menyuruh pengawal-pengawalmu bersikap kejam!"
"Ah, itu kelancangan mereka. Aku akan menegur!" Kwee Han buru-buru menjawab. "Dan kau tak usah memanggilku Taijin, kita adalah sahabat dan bekas sesama rekan. Mari duduk, A-kong. Kita duduk di dalam!"
Kwee Han, yang tak mau dilihat pengawal berlama-lama, lalu mengusir mereka pergi, mengajak ketiga tamunya masuk, dan Kim-mou-eng pun dipersilakan. Sekarang Kwee Han tampak begitu hormat dan merendah. Kakek Pwee tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi antara pemuda itu dengan Pendekar Rambut Emas.
Ketika mereka diajak masuk, duduk, dan mendapat jamuan, tiba-tiba Kim-mou-eng berkata, "Kwee Han, aku tak punya banyak waktu. Aku datang untuk menanyakan sesuatu: adakah pernah kau melihat sebuah cermin berbingkai emas? Dan apakah kau dapat membereskan masalah yang dibawa tiga orang ini?"
"Ah, Taihiap mau ke mana? Ada apa buru-buru?"
"Aku datang untuk mencari sesuatu, Kwee Han. Dan kebetulan saja bertemu Pwee Lopek dan dua temannya ini. Apakah kau pernah menemukan sebuah cermin?"
"Tidak," Kwee Han langsung saja berbohong. "Aku tak tahu dan tak mengerti cermin apa, Taihiap. Dan kalau masalah teman-temanku ini, tentu saja akan kubereskan."
"Hm, aneh. Aku melihat jatuhnya benda itu di sekitar sini, kukira kau tahu atau mendapatkannya. Kalau kau tak tahu, baiklah, Kwee Han. Mungkin satu atau dua hari lagi aku akan datang dan kita bertemu lagi. Aku telah tahu semuanya yang diminta kakek ini, tolong kau perhatikan dia dan jangan lupa nasihatku tadi."
"Baik... baik, Taihiap, terima kasih. Tentu saja aku tak melupakan mereka dan akan membantu!"
Ketika Kwee Han selesai mengucapkan kata-katanya, Kim-mou-eng tertawa. Tiba-tiba Pendekar Rambut Emas itu lenyap dan entah berkelebat ke mana; hanya tampak sebuah bayangan meloncat dan tiba-tiba pendekar itu pun menghilang. Ini sama seperti yang dilihat A-sam tadi, gerakan luar biasa cepat, mirip siluman.
Ketika mereka bengong dan Kwee Han termangu, Kakek Pwee mendapat sambutan ramah. Kini Kwee Han tidak memusuhi mereka lagi; ia mengajak ketiganya duduk kembali dan meminta apa yang hendak dibicarakan. Tidak seperti pagi tadi di mana Kwee Han cemberut, sekarang pemuda ini menyambut tamunya dengan baik.
Pwee Lopek segera menceritakan apa yang terjadi di Ming-ciang, bahwa "penyakit" juragan perahu kambuh lagi. Mereka memeras dan mencekik kaum nelayan, sistem bagi hasil kembali mengalami ketidakadilan, dan kakek itu minta agar dengan pengaruhnya, Kwee Han dapat mengatasi semuanya. Pemuda inilah harapan satu-satunya bagi seluruh buruh nelayan.
Ketika Kwee Han berjanji akan datang dan mengurus hal itu, untuk kedua kalinya pemuda ini memberi bekal beberapa puluh tail perak untuk membantu kehidupan teman-teman Pwee Lopek. Hal itu disambut girang dan untuk kedua kalinya pula kakek ini mengucap terima kasih. Setelah semuanya berjalan lancar, kakek ini akhirnya kembali dan pulang ke Ming-ciang.
***
"Hei, lepaskan aku! Bebaskan kami!"
Dua tubuh di atas api unggun itu meronta. Mereka berteriak dan memaki-maki sejak tadi. Dua orang di bawah mereka terkekeh dan tertawa; mereka adalah Hauw Kam dan Gwan Beng, dua murid Hu-taihiap yang diculik Nenek Naga Bumi dan iblis cebol Hek-bong Siauwjin.
Kini mereka diikat dan digantung di situ, persis babi panggang. Ketika mereka berteriak dan mulai memaki-maki lawannya, Nenek Naga Bumi, yang menculik dan menawan Hauw Kam, bangkit berdiri dan tiba-tiba melecutkan rambutnya ke tubuh pemuda itu.
"Hi, kenapa berkaok-kaok macam ayam disembelih? Kami tak mengapa-apakan kalian, bocah. Diam dan tenanglah di situ, atau aku akan menghangatkan kalian dengan api yang lebih besar lagi... Tarr!"
Hauw Kam menggeliat, tubuhnya sudah penuh keringat dan suheng-nya terbelalak. Pemuda ini memaki dan marah-marah kepada nenek iblis itu. Nenek Naga Bumi tampaknya mendongkol dan meniup api dengan hembusan mulutnya. Api berkobar dan tubuh Hauw Kam yang telanjang, hanya mengenakan pakaian dalam saja, langsung dijilat api. Pemuda itu mengeluh.
Sejak tadi mereka disiksa nenek ini, dua jam lebih menerima panasnya api unggun, dan kini si nenek tiba-tiba malah membesarkan api. Tentu saja Hauw Kam kepanasan, tapi dengan sinkang-nya, pemuda ini membuat tubuhnya terasa licin dan dingin. Hauw Kam bertahan dan tidak sampai terbakar, kecuali kulitnya menjadi merah kematang-matangan.
Ketika pemuda itu menggeliat dan meronta-ronta di atas api unggun, Hek-bong Siauwjin mendadak tertawa dan meniup api pula untuk membakar hidup-hidup Gwan Beng.
"Heh heh, ini pemandangan menarik, Nenek Siluman. Aku jadi gatal melihat tingkahmu... Wush!"
Gwan Beng terjilat api besar, tersentak dan kaget. Tiba-tiba bagian leher sampai pinggang disambar api berkobar. Dia terkejut, tapi mengerahkan sinkang untuk bertahan. Sama seperti sute-nya, dia pun tidak apa-apa oleh api di bawah mereka itu, kecuali kulit yang menjadi merah kematang-matangan. Dia tidak memaki, hanya melotot. Hauw Kam-lah yang banyak memaki dan mengumpat tak keruan.
Ketika pemuda itu mampu bertahan oleh api yang menjilat-jilat tubuhnya, Hek-bong Siauwjin kagum dan memuji.
"Hebat, murid-murid Hu-taihiap ini pemuda-pemuda mengagumkan, Nenek Siluman. Bagaimana pendapatmu melihat ini?"
"Hm, aku pribadi tertarik pada yang ini, setan cebol."