Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 54

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 54

"Tapi untuk yang itu, lebih baik dibunuh!" Dia menuding Gwan Beng.

"Yang itu tidak cerewet dan pendiam, kurang menggairahkan, dan tak kusuka!"

"Ha-ha, justru sebaliknya!" Setan Cebol tergelak. "Aku suka yang pendiam begini, Nenek Siluman. Tak banyak memanaskan telinga dan patuh. Itu saja yang dibunuh, dan ini kita manfaatkan!"

"Tidak, aku tak suka itu, Setan Cebol. Lebih baik dia yang dibunuh dan ini kita manfaatkan!"

"Tidak, ini yang harus diberi hidup. Kita menjadikannya robot dan pewaris tunggal!"

"Hm, kau mau melawan?"

"Eh!" Hek-bong Siauwjin membeliak. "Kau tak perlu memaksakan perintah, Nenek Siluman. Aku tak mau tunduk perintahmu dan kau pun tak perlu tunduk perintahku. Kalau kita tak sependapat, lebih baik masing-masing kembali pada haknya; aku pemuda itu, sedang kau pemuda ini!"

Nenek Naga Bumi tertegun.

"Ingat," Setan Cebol kembali bicara. "Hu Taihiap sekarang lihai bukan main, Nenek Siluman. Aku dan Nenek Naga tak mampu menandingi. Dia memiliki Khi-bal-sin-kang, juga Jing-sian-eng!"

Dewi Naga Bumi terbelalak. "Kau tak main-main?"

"Sial! Siapa main-main? Aku tak perlu bohong atau main-main denganmu, Nenek Siluman. Kami bertiga benar-benar tak mampu menghadapinya dan jago pedang itu persis Sian-su!"

"Bagaimana dia selihai itu? Dari mana dia mendapatkan Khikang dan Jing-sian-eng?"

"Siapa tahu? Mungkin Sian-su yang memberinya, Nenek Siluman. Atau sengaja jago pedang itu memintanya dan kakek itu memberinya!"

"Hm, aku penasaran," Nenek Naga Bumi tak menelan mentah-mentah. "Aku ingin bertemu dan menghadapi jago pedang itu, Siauwjin. Kalau kata-katamu benar, tentu aku percaya penuh!"

"Baiklah, terserah dirimu. Tapi kita bicarakan sekarang dua anak ini. Apakah kita kembali pada hak masing-masing dan aku mengambil pemuda itu sedang kau si cerewet ini? Aku tak mau kau membunuh punyaku, Nenek Siluman. Aku ingin mendidiknya dan menjadikannya muridku!"

"Tapi kau kalah dengan Hu Beng Kui!"

"Itu masalah lain. Hu Beng Kui memiliki Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, sedang anak-anak ini tidak. Mereka tentu lebih lihai kalau menjadi muridku, tanpa ilmu yang dipunyai si jago pedang itu tentunya!"

"Hm, dan aku akan mendidik yang ini. Sudah lama aku membutuhkan pewaris dan kebetulan mereka datang. Kim-mou-eng tentu bukan tandingannya lagi kalau pemuda ini menjadi muridku!"

"Ya, dan aku akan mendidik punyaku, Nenek Siluman. Kalau begitu kita masing-masing menggembleng murid sendiri dan lihat siapa yang kelak lebih unggul!"

"Tak perlu macam-macam, murid kita tentu imbang!"

"Ha-ha, siapa tahu? Yang pendiam ini lebih lihai, Nenek Siluman. Lihat, dia lebih dapat bertahan daripada yang itu!"

Nenek Naga Bumi mendengus. Saat itu Hauw Kam kembali berteriak-teriak, sementara Gwan Beng diam saja meski api menjilat-jilat tubuhnya. Dua pemuda ini sama-sama dipanggang, tapi Hauw Kam rupanya tak tahan lebih dulu; dia kalah kuat dan keringatnya membanjir lebih deras daripada suhengnya, Gwan Beng. Ketika pemuda itu berkaok-kaok sementara Naga Bumi mendongkol dan gemas, mendadak nenek itu melejit dan menyambar Gwan Beng.

"Augh!" Gwan Beng berteriak pedih dan terbelalak. Setan Cebol terkejut.

Nenek Naga Bumi kembali hendak menyiksa pemuda itu. Hek-bong Siauwjin membentak dan akhirnya menghadang di tengah, mulutnya meniup dan api pun tiba-tiba padam, meninggalkan Hauw Kam yang masih terpanggang kepanasan. Ketika Nenek Naga Bumi mendengus marah memandang Gwan Beng, tiba-tiba Hek-bong Siauwjin menggerakkan tangan dan Hauw Kam yang berkaok-kaok ditepuknya hingga roboh.

"Diam kau cerewet!" Kayu pengikat yang ditepuk iblis ini tiba-tiba runtuh dan menjatuhkan Hauw Kam ke dalam bara api unggun.

"Aduh, keparat! Jahanam kau, Siauwjin. Bangsat!" Nenek Naga Bumi menggerakkan kaki. Hauw Kam yang terbakar ditendang mencelat dan segera diterima oleh nenek itu.

Hek-bong Siauwjin terbahak geli memandang pemuda itu, namun ia dibentak Naga Bumi. Dewi Api atau Nenek Naga Bumi ini mendelik. "Siauwjin, jangan kau menyiksa punyaku. Pemuda ini muridku, kalau kau menyerangnya maka kau akan berhadapan dengan aku!"

"Ha-ha, bukankah yang mulai adalah kau? Kau menyerang punyaku, Nenek Siluman, dan pemuda ini pun adalah muridku. Kalau kau menyerangnya maka kau berarti menyerang aku, tentu kubalas!"

"Hm, kita harus berbagi dua. Baiklah, kau mati-matian membela punyamu, dan aku akan mati-matian membela punyaku. Bagaimana kalau kita cari Hu Beng Kui dan dua anak ini kita cekoki obat pelupa ingatan?"

"Kau masih punya? Ha-ha, tentu bagus sekali, Nenek Siluman. Aku setuju, berikan itu pada muridku!"

"Huh, kau selamanya peminta-minta, Siauwjin. Kau bagai jembel tak punya apa-apa! Kau boleh mendapatkan, tapi tentu saja harus ada imbalan!"

"Imbalan apa?" Iblis ini tertawa. "Kita adalah sahabat dan sesama rekan, Naga Bumi. Tak seharusnya utang-piutang macam itu."

"Keenakan kau!" Nenek ini ketus. "Kau tak pernah memberiku cuma-cuma, Siauwjin. Setiap pemberian tentu ada perhitungan. Nah, kuminta agar kau menemukan orang she Hu itu dan biar kulihat apakah omonganmu betul atau tidak!"

"Wah, bukankah kau dapat mencarinya sendiri? Kenapa harus aku?"

"Aku tak mau bersusah payah, Setan Cebol. Aku sudah memberikan sesuatu dan kau harus membalas dengan jasa!"

"Huh!" Siauwjin mangut-mangut, lalu tertawa. "Apakah ini berarti kau minta bantuan secara tak langsung? Kau jerih menghadapi si jago pedang itu?"

"Apa katamu?" Si nenek mendelik.

"Ha-ha, tak usah menipu, Nenek Siluman. Aku sekarang tahu bahwa diam-diam di balik ketidakpercayaanmu ini tersisip rasa gentar. Kau berjaga-jaga, bila benar tak dapat menghadapi si jago pedang itu maka kau dapat meminta tolong aku. Setidak-tidaknya, agar kau dapat melarikan diri dan selamat!"

"Tarr!" Rambut itu meledak, menyambar muka Siauwjin namun berhasil dielak.

"Kau jahanam tak tahu malu, Siauwjin. Kau pandai membaca pikiran orang tapi keliru. Aku tidak bermaksud begitu, namun sekadar memberi pelajaran padamu agar jangan berbohong. Artinya, kalau orang she Hu itu tak selihai katamu maka dia akan kutangkap dan kau bertanggung jawab. Obat tidak kuberikan dan kau kuhajar!"

"Ha-ha, siapa takut? Boleh, kita buktikan itu, Nenek Siluman. Dan kalau kau kalah maka obat halus kauberikan atau aku ganti mengejarmu dan menghajarmu ke mana kau pergi!"

Nenek ini mendengus. Hanya Siauwjin yang tahu perubahan mukanya yang sekilas tadi, dari biasa menjadi merah. Dia memang gentar dan tersisip rasa berhati-hati menghadapi Hu Beng Kui, tentu saja setelah mendengar bahwa Hu Beng Kui mampu menghadapi tiga temannya sekaligus: Hek-bong Siauwjin dan Sepasang Dewi Naga.

"Kau harus tunduk kepadaku. Sekarang tak boleh berteriak-teriak lagi. Buka mulutmu dan telan ini!"

Hauw Kam terkejut. Tadinya dia mau mengamuk dan menyerang nenek itu, tak tahunya si nenek menotok dan membuatnya lumpuh. Hauw Kam terbelalak dan melotot tak dapat memaki. Tiba-tiba si nenek menjepit rahangnya dan otomatis mulut pemuda itu terbuka.

"Sekarang mundurlah, berlutut, dan beri hormat padaku. Sebut subo!"

Aneh bin ajaib. Hauw Kam tiba-tiba mengeluh, roboh, dan terjerembah. Sedetik dia merasa pening. Gwan Beng yang ada di sebelahnya tampak pucat memandang sutenya itu. Hauw Kam yang garang kelihatan lumpuh, wajahnya berangsur-angsur berubah. Dua menit kemudian, mata sutenya yang berapi-api tampak memudar dan menjadi lemah. Sekonyong-konyong Hauw Kam berlutut dan menjatuhkan dirinya di depan nenek itu, suaranya kosong memanggil lirih, "Subo!"

Gwan Beng kaget bukan main. Sutenya itu tiba-tiba telah masuk dalam perangkap si nenek. Dewi Api Naga Bumi terkekeh. Ketika Gwan Beng terbeliak dan berseru tertahan, sutenya ditendang dan diterima nenek itu sambil tertawa aneh.

"Hauw Kam, sekarang kau adalah murid Dewi Api si nenek sakti. Kau akan tunduk dan selalu mengikuti perintahku!"

"Dan kau juga akan seperti sutemu ini, bocah. Kau akan tunduk dan menjadi muridku!" Hek-bong Siauwjin terbahak memandang Gwan Beng, sementara pemuda itu berteriak.

Sekarang Gwan Beng pucat, kaget, takut, juga marah. Namun ketika Hek-bong Siauwjin melepas dan menendang dirinya, pemuda ini pun tak dapat berbuat apa-apa karena lumpuh.

"Tidak!" Gwan Beng menjadi kalap. "Kau bunuh dan cabut nyawaku, iblis busuk. Kalian iblis terkutuk tak tahu malu!"

"Heh, kenapa sekarang menjadi cerewet? Diam dan tenanglah, bocah. Hek-bong Siauwjin tak akan membunuhmu karena kau calon murid yang berbakat..."

*Plak!*

Setan Cebol itu menepuk pundak Gwan Beng. Pemuda itu mengeluh dan tak dapat bicara lagi. Gwan Beng melotot dan Hek-bong Siauwjin memencet jalan darah di punggungnya, sedikit saja dipelintir dan akhirnya dicubit. Ketika Gwan Beng berteriak kesakitan, tiba-tiba pemuda ini pingsan dan jalan darah pembalik otak telah diputar arahnya oleh Hek-bong Siauwjin. Gwan Beng akan menjadi pemuda yang sementara ini tidak dapat menemukan dirinya sendiri, linglung.

"Ha-ha, bagaimana, Nenek Siluman? Bukankah dia akan menjadi sama seperti muridmu?"

"Ya, tapi kau harus memencet jalan darahnya lagi kalau jalan pikirannya pulih, Setan Cebol. Tindakanmu tak sepasti obat pelupa ingatan yang kupunyai. Pemuda itu akan pulih setiap enam atau tujuh bulan."

"Ha-ha, dan setiap enam atau tujuh bulan berarti jalan darahnya harus kubalik lagi, tak apa. Kau memang pelit, nenek sial. Kalau sekarang kau berikan obat pelupa ingatanmu itu, tentu aku tak perlu bersusah payah!"

"Heh, tak usah melantur!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment