Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 55

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 55

"Kau belum melepas jasa, mana mungkin mendapat imbalan? Cari orang she Hu itu dulu, Setan Cebol. Dan baru setelah itu janjiku kupenuhi!"

"Baik, mari pergi, Nenek Siluman. Aku jadi gatal menghajarmu lewat si jago pedang itu... wut!"

Hek-bong Siauwjin yang menyambar Gwan Beng tiba-tiba lenyap dan menghilang dari tempat itu, disusul kemudian oleh gerakan sang nenek iblis. Nenek Naga Bumi ini pun lenyap, menyambar dan memanggul Hauw Kam. Kedua tokoh luar biasa itu segera menuju ke selatan.

Mereka hendak ke Ce-bu, tempat si jago pedang itu berada. Namun, karena saat itu Hu Beng Kui telah meninggalkan rumahnya untuk mencari dua muridnya, di tengah jalan tiba-tiba mereka bertemu. Mereka berpapasan tepat di sebuah tikungan ketika sang pendekar hendak berbelok.

"Heh!" Bentakan ini mengejutkan Hu Beng Kui.

"Kau orang she Hu dari Ce-bu?"

Hu Beng Kui tertegun, tidak melihat siapa-siapa. Ada suara tanpa rupa! Namun, karena jago pedang ini lihai dan kepandaiannya sudah meningkat beberapa kali lipat, ia segera mengerahkan tenaga batin. Tampaklah seorang nenek di depannya yang terlindungi asap hitam. Hal yang tidak dapat dilihat Swat Lian yang saat itu berada di sampingnya, sehingga ia bertanya heran.

"Siapa yang membentak kita, Yah?"

"Ssst." Jago pedang ini bersikap waspada, pura-pura tidak tahu. "Kita bersembunyi, Swat Lian. Rupanya ada siluman atau hantu, mari!"

Jago pedang itu menyelinap dan bersembunyi di balik gerumbul. Nenek Naga Bumi terkekeh tanpa memperlihatkan diri. Ia tentu saja mengetahui lawannya itu. Rekannya, si Setan Cebol Hek-bong Siauwjin, tidak menunjukkan diri; iblis cebol itu sengaja membiarkan temannya berhadapan sendiri dengan jago pedang ini. Ketika nenek itu terkekeh dan mencibir melihat "kebodohan" Hu Beng Kui, ia ingin menggoda dan mengejek lebih lanjut untuk menakut-nakuti atau memberi teror mental.

"Hih, kau jangan seperti siput bersembunyi di rumahnya, Hu Beng Kui. Keluar dan hadapilah aku, Api Maut!"

Swat Lian terkejut. Entah dari mana asalnya, sekonyong-konyong meluncur sebuah lidah api menyambar ayahnya dengan kecepatan luar biasa dan desis seperti naga kelaparan. Gadis ini terkejut, tapi ayahnya mengelak. Hu Beng Kui tentu saja tahu asal api itu dan mengebut. Ketika api lenyap dan padam, Nenek Naga Bumi terbelalak.

"Kau dapat menyelamatkan diri?" Suara itu tidak terlihat orangnya oleh Swat Lian.

"Kau menantang aku, orang she Hu? Baik, lihat dan dengarkan ini. Seribu api akan menyerangmu... wush, wush!"

Seribu api bagai kunang-kunang mendadak muncul, berhamburan, dan menyambar dari mana-mana, mengejutkan Swat Lian. Gadis ini memekik kaget karena dia dan ayahnya sudah diserang dari segala penjuru. Tapi, begitu Hu Beng Kui mengebut dan memutar kedua tangannya, tiba-tiba api itu pun lenyap dan padam.

"Heh!?" Suara tanpa rupa itu tampaknya tertegun. "Kau dapat mengalahkan aku? Keparat, kau akan kubunuh, orang she Hu. Sekarang kau mampus... cring!"

Sebuah benda terbang yang berputar dan melayang cepat menuju leher jago pedang itu tiba-tiba membuat Swat Lian menjerit. Ia melihat seorang nenek menunggang di atasnya dan kini tampaklah Nenek Naga Bumi itu. Swat Lian seketika terbelalak karena itulah nenek yang menculik suhengnya nomor dua, Hauw Kam.

Ketika gadis ini berseru kaget, ayahnya yang sudah tahu dan melihat nenek itu sejak tadi tiba-tiba tertawa bergelak. Ia mendorong putrinya hingga terpelanting jauh ke belakang, lalu menyambut serangan luar biasa itu seolah lawan berada di atas piring terbang.

"Nenek Siluman, tak perlu kau banyak lagak. Aku telah tahu kehadiranmu sejak tadi. Nah, inilah aku, Hu Beng Kui, yang akan meruntuhkan kesombonganmu... dess!"

Hu Beng Kui mencelat, tetapi lawan yang berteriak berjungkir balik tiba-tiba membuat bumi berguncang. Tanah tempat jago pedang itu berdiri amblas bagai ditumbuk atau kejatuhan gajah. Nenek Naga Bumi terpekik. Dia tadi melancarkan pukulan jarak jauhnya, tapi disambut. Kedua tenaga mereka bertemu dan nenek ini terpental, hampir terbanting kalau tidak berjungkir balik.

Ketika nenek itu meluncur turun dan berdiri tegak dengan tubuh bergoyang, ia mendelik dan membelalakkan mata.

"Itu khikang?"

"Ha-ha, kau tahu?" Hu Beng Kui tertawa bergelak, maklum berhadapan dengan seorang nenek setingkat Dewi Naga atau Hek-tong Siauwjin. "Ya, itu Khi-bal-sin-kang, Nenek Iblis. Sekarang apa maumu dan katakan di mana muridku? Kau tentu Dewi Api Naga Bumi!"

"Tar!" Nenek ini meledakkan rambut. "Kau betul, orang she Hu. Tapi jangan bersikap congkak dulu. Aku datang untuk membunuhmu, juga seluruh keluargamu yang lain!"

"Hm, mana muridku?" Hu Beng Kui tidak peduli, maju dengan mata bersinar-sinar, tidak terlihat takut atau gentar. "Kembalikan muridku atau kau kuhajar, Nenek Iblis. Dan kau tentu telah mendengar dari Hek-bong Siauwjin atau Sepasang Dewi Naga akan kekalahan mereka di tanganku!"

"Dia yang menculik Hauw Kam, Ayah!" Swat Lian tiba-tiba berseru nyaring. "Dan jangan lepaskan dia kalau tak menyerahkan Hauw Kam Suheng!"

"Diamlah," si jago pedang mengangguk. "Aku tahu, Lian-ji. Duduk dan tenanglah di sana."

Nenek Naga Bumi mendesis. Jarinya menuding dan tiba-tiba sebuah sinar hitam mencicit menyambar Swat Lian. Gadis itu tidak tahu karena kebetulan membalik dan hendak duduk. Namun, Hu Beng Kui membentak dan tidak membiarkan putrinya celaka. Ia tiba-tiba menggerakkan jarinya dan telunjuk si jago pedang itu mengeluarkan sinar putih.

"Critt!" Sinar hitam di tangan Nenek Iblis hancur.

Kekuatan jari sakti di tangan Hu Beng Kui masih terus meluncur, ganti menyambar tenggorokan sang nenek. Nenek itu terkejut dan marah. Ketika ia mengelak dan sinar itu meluncur di belakangnya, sebuah batu meledak dan hancur terkena totokan jarak jauh si jago pedang yang diisi Khi-bal-sin-kang yang sakti.

"Keparat!" Nenek itu mendelik. "Kau kiranya benar-benar lihai, orang she Hu. Kalau begitu lebih baik kita tak usah bicara lagi dan biar kulihat sampai di mana kelihaianmu... wut!"

Si nenek hilang dan lenyap berkelebat ke depan, tiba-tiba sudah mencoblos mata Hu Beng Kui dengan tusukan kilat. Ia berkelit dan membalik, tiba-tiba sebuah sapuan menyambar kaki si jago pedang. Hu Beng Kui meloncat dan serangan itu pun lewat. Ketika si nenek membentak dan menyerang lagi, bertubi-tubi Hu Beng Kui menghadapi pukulan dan tendangan. Jago pedang itu berkelit atau menghindar, namun tak lama kemudian merasa kewalahan dan terpaksa ia menangkis atau membalas.

Serangan-serangan si nenek amat berbahaya, kian lama kian ganas, dan tusukan maupun tamparannya mulai merobohkan pohon-pohon di sekitar. Ketika nenek itu melengking dan mengeluarkan segenap kepandaiannya, getaran atau ledakan memenuhi tempat itu, disusul geraman-geraman atau suara-suara mirip iblis mengamuk di dasar neraka.

Swat Lian terduduk tak mampu mengikuti jalannya pertandingan. Nenek itu mengeluarkan ilmu hitamnya pula dan lenyap dalam pandangan mata; yang tampak hanya bayang-bayang tidak jelas yang berseliweran di sekeliling tubuh Hu Beng Kui. Ketika ayahnya membentak dan mengeluarkan pula Jing-siin-eng-nya atau Bayangan Seribu Dewa, mendadak ayahnya ini pun lenyap dan berputaran serta saling belit dengan si nenek.

"Blang-lang!" Suara itu membuat Swat Lian mengeluh.

Sama seperti di Bukit Malaikat dulu, ia mendengar ledakan-ledakan petir. Telinganya serasa pekak dan Swat Lian harus mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertahan. Dia menggigil dan bergoyang. Tak lama kemudian ayahnya berseru agar ia menyumbat telinganya. Swat Lian yang berkepandaian tinggi ternyata tetap tidak mampu mendengarkan suara pertandingan ini.

Ketika awan di atas mulai menggelap dan suara mirip hantu atau iblis kesiangan dikeluarkan nenek itu dalam campuran ilmu hitamnya, di angkasa seolah terjadi pertarungan sengit antara iblis dan kuntilanak. Apa yang terjadi selanjutnya tidak dapat diikuti Swat Lian lagi. Gadis ini mengeluh dan pucat. Benturan-benturan yang terjadi di tempat itu berkali-kali membuat tubuhnya terguling. Satu kali, benturan itu bahkan membuat tubuhnya terlempar dan mencelat ke atas, roboh, dan terbanting lagi. Segera gadis ini duduk dengan tubuh gemetar hebat.

Ia harus memusatkan segenap konsentrasinya untuk penyelarasan diri. Swat Lian tidak mau lagi mendengarkan suara-suara itu. Ketika ia melayang-layang dalam samadhinya dan tidak tahu lagi apa yang terjadi antara ayahnya dengan Nenek Naga Bumi, di sana ayahnya tertawa bergelak sementara si nenek iblis mengumpat dan memaki-maki.

"Keparat, kau lihai, orang she Hu. Tapi aku akan merobohkanmu dan membunuhmu!"

"Ha-ha, coba saja, Nenek Siluman. Robohkan aku dan bunuh aku kalau bisa!"

"Tentu, aku akan membunuhmu, manusia sombong. Dan kau tak kubiarkan selamat... darr!"

Kali ini api menyembur dari tangan nenek itu, meledak dan menyambar. Hu Beng Kui menghentikan tawanya. Lawan mengerahkan kesaktian bersama ilmu hitam, ia menunduk dan mendorong. Ketika api itu dikebut padam dan si nenek memekik, pukulan berikutnya menyambar dalam bentuk siluman.

"Koaakk!" Suara ini pun tidak merobah kedudukan sang pendekar.

Hu Beng Kui menggerakkan lengan bajunya dan menampar; seekor naga bertubuh siluman dipukulnya. Ketika bayangan hitam itu hancur dan kembali lenyap, nenek lawannya menjerit histeris.

"Hu Beng Kui, kau jahanam keparat... sing blarr!"

Secercah kilat tiba-tiba muncul, menyambar dan menuju kepala si jago pedang. Kali ini Hu Beng Kui tidak mengelak, melainkan memasang kepalanya, sengaja menerima itu. Ketika kilat atau pukulan api ini mengenai batok kepalanya namun hancur berkeping-keping, Nenek Naga Bumi merasa kewalahan. Ia akhirnya membuang semua ilmu hitamnya karena jago pedang itu mampu menolak atau mementalkan serangan. Ia menjerit dan mengeluarkan ilmu pukulannya yang paling dahsyat, Tee-sin-kang (Pukulan Bumi).

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment