Chapter 56
Ketika nenek itu meraung dan menancapkan kedua kaki kuat-kuat di tanah, tubuhnya tiba-tiba mendoyong ke depan melepaskan pukulan. Dorongan bagai gunung meletus menghantam pendekar itu.
"Desss!" Swat Lian terlempar tinggi.
Gadis itu terkena guncangan dahsyat, terpental ke samping pohon, jatuh terduduk, dan masih dalam keadaan bersila, bukan main. Dia dalam samadhinya yang khusyuk; dalam keadaan seperti itu, tak ada apa pun yang dapat membuka matanya. Gadis ini tidak sadar dan tersangkut di pohon. Untunglah ia tidak jatuh atau terperosok ke dalam jurang.
Benturan itu disusul teriakan si nenek iblis. Saat Tee-sin-kang dihadapi Hu Beng Kui, jago pedang ini terdorong, sementara si nenek terjengkang bergulingan sejauh sepuluh tombak.
"Augh!" Nenek itu mendekap dadanya, lalu melompat bangun. "Kau hebat, orang she Hu. Rupanya Sian-su benar-benar memberikan ilmunya padamu!"
"Ha-ha, kau masih tak menyerah?" Hu Beng Kui bersinar-sinar, menang. "Kau boleh maju lagi, Nenek Siluman. Atau aku akan menghajarmu dan membuatmu benar-benar tak berkutik!"
"Keparat!" Si nenek melengking tinggi. Tiba-tiba, sebuah bayangan berkelebat diiringi tawa mengejek. "Bagaimana, kau percaya, tua bangka? Kau ingin agar aku membantumu dan mengeroyok si jago pedang ini?"
Hek-bong Siauwjin muncul sambil tertawa. Nenek itu melotot. Sekarang ia percaya bahwa perkataan setan cebol itu benar. Hu Beng Kui tampak terkejut melihat kedatangan iblis yang lain; ia membelalakkan mata, tetapi tidak takut.
Ketika Dewi Api menggoyang tubuhnya, nenek ini mencelat dan menyerang lagi. "Benar, aku penasaran, Setan Cebol. Coba kau bantu aku dan robohkan si sombong ini. Kalau tidak, aku tak mau memberimu obat itu!"
"Ha-ha, kau mau curang? Sial, kau selalu menekan aku, Nenek Siluman. Tapi tak apalah, aku membantumu dan lihat kelihaian si orang she Hu ini!" Hek-bong Siauwjin mencelat, lenyap, lalu menyelinap di bawah selangkangan Hu Beng Kui. Dengan kecepatan dan kekejian luar biasa, ia hendak "mencomot" benda berharga milik si jago pedang. Hu Beng Kui membentak marah. Ketika kedua orang itu berkelebat dan hampir bersamaan menyerang dari atas dan bawah, jago pedang ini menggerakkan tangannya dengan cepat dan tepat untuk menangkis.
"Des! Dess!"
Ketiga orang itu terpental. Hu Beng Kui dapat mementalkan lawannya meskipun ia juga terdorong. Nenek Naga Bumi mengeluh dan berkejap; ia sungguh kaget oleh ketangguhan lawan yang luar biasa. Namun, karena Hek-bong Siauwjin membantunya dan ia penasaran, nenek ini melengking dan menyerang lagi. Ia menusuk dan menampar, sementara Hek-bong Siauwjin di bawah sana melejit kembali hendak mencomot selangkangan Hu Beng Kui. Rupanya, kegemaran iblis ini memang di daerah itu.
Saat Hu Beng Kui menangkis dan menggeram marah, keduanya kembali terpelanting. Hu Beng Kui mengandalkan Khi-bal-sin-kang-nya. Pendekar ini akhirnya membentak dan berkelebat. Ketika Hek-bong Siauwjin mencabut sabitnya dan berseru agar Nenek Naga Bumi juga mencabut senjatanya, Hu Beng Kui berseru keras sambil mencabut pedangnya. Senjata mereka beradu di udara, memuncratkan bunga api, membuat Nenek Naga Bumi serta Hek-bong Siauwjin terhuyung. Untuk kesekian kalinya, mereka ditahan si jago pedang.
Karena marah dan kian penasaran, nenek itu memekik panjang. Senjatanya yang aneh, berupa benang dan jarum emas, menyambar bertubi-tubi ke seluruh tubuh Hu Beng Kui.
"Cring-crang!" Terjadilah pertandingan seru itu.
Pedang Hu Beng Kui bergerak; ke mana pun lawan menyambar, di situ pasti dihadang. Sabit, benang, maupun jarum emas selalu terpental. Saat Hu Beng Kui berseru keras dan membalas dengan Giam-lo Kiam-sut (Ilmu Pedang Maut) yang diisi tenaga sakti Khikang, pedangnya lenyap dan selalu mendahului gerakan lawan. Hu Beng Kui berkelebat dan lenyap dalam Bayangan Seribu Dewanya (Jing-sian-eng).
Ketika lawan terkejut dan terdesak, jeritan terdengar dari mulut Nenek Naga Bumi saat pundaknya terkena.
"Crat!" Pundak nenek itu tersayat. Dagingnya terkuak; kekebalannya tak dapat mengatasi ketajaman pedang lawan yang dialiri tenaga sakti Khi-bal-sin-kang. Dewi Naga Bumi memekik, marah sekaligus gentar. Hu Beng Kui kembali membuat gerak memutar. Saat sabit Hek-bong Siauwjin ditangkisnya, pedang Hu Beng Kui meluncur cepat menyambar pelipis si setan cebol itu.
"Crat!" Pipi si cebol pun menjadi korban. Hek-bong Siauwjin menjerit memekik tinggi; ia kalah cepat. Hu Beng Kui benar-benar seorang ahli pedang tingkat atas. Ketika kedua lawannya terdesak mundur dan Nenek Naga Bumi kewalahan, benang dan jarumnya putus dibabat pedang.
"Cring-trang!" Nenek itu kaget. Ia selalu kalah melawan tenaga yang dahsyat. Ketika Hek-bong Siauwjin juga terbabat ujung sabitnya dan berteriak gentar, si setan cebol itu berjungkir balik dan melarikan diri.
"Nenek siluman, tobat! Jago pedang ini benar-benar bukan tandingan kita!"
"Aih!" Si nenek tersentak. "Kau merat, Siauwjin? Kau meninggalkan aku? Keparat! Kalau begitu, biar lain kali kita bertemu lagi, Hu Beng Kui. Kau memang hebat dan kuakui kepandaianmu!"
Nenek Naga Bumi berjungkir balik, melepas sisa jarumnya untuk menyambar mata Hu Beng Kui. Si jago pedang menangkis hingga jarum-jarum itu runtuh, sementara lawan melarikan diri. Setelah nenek iblis dan Hek-bong Siauwjin menghilang, Hu Beng Kui mengusap keringat sambil tertawa tergelak.
"Ha-ha, sekarang kau tahu kelihaianku, Nenek Siluman. Tapi, eh... serahkan dulu muridku!"
Hu Beng Kui teringat, berkelebat mengejar, namun lawan meledakkan semacam granat, kabur sambil memaki-maki. Hu Beng Kui tertegun, lalu teringat puterinya. Ia khawatir musuh berbuat curang atau ada iblis lain yang mengganggu. Namun, melihat Swat Lian bersamadhi di atas pohon dalam keadaan tak sadar, pendekar ini merasa lega. Ia melayang ke atas dan mengetuk belakang kepala puterinya.
"Lian-ji, bangun!"
Swat Lian sadar. Ia disambar dan diturunkan ayahnya. Saat gadis itu tidak melihat lawan ayahnya, Hu Beng Kui tertawa dan berkata bahwa lawan telah lari karena ketakutan.
"Hm, dan Ayah tidak merampas Hauw Kam-suheng?" tanya Swat Lian. "Mana dia, Yah? Kenapa tak ada?"
Sang ayah mendongkol. "Nenek itu melempar granat, Lian-ji. Aku terhalang dan tak mampu mengejarnya. Biarlah nanti kita kejar lagi dan kurampas Hauw Kam-suheng-mu itu!"
Swat Lian tidak puas. "Ayah membiarkannya lari? Kenapa tidak terus mengejarnya sampai dapat?"
"Eh, kau anak siluman macam apa? Aku terpaksa kembali karena teringat kau. Kalau tak ada kau di sini, tentu kukejar dan kuteruskan niatku. Tadi Hek-bong Siauwjin juga muncul, aku khawatir setan yang lain datang dan mengganggumu!"
"Hek-bong Siauwjin?"
"Ya, dia ternyata menemani nenek itu. Mereka berdua mengeroyokku, tapi dapat kuusir pergi."
"Hm, kau hebat, Yah. Kepandaianmu sekarang benar-benar tinggi sekali. Dengan begini, kau dapat menjagoi dunia!"
"Ha-ha, menjagoi apa? Jangan melantur, anak setan. Ayo kita cari mereka itu dan juga Kim-mou-eng!"
Hu Beng Kui berkelebat menyambar puterinya. Swat Lian terkejut. Kata-kata ayahnya mengandung ancaman yang membuatnya ngeri. Gadis itu menarik diri dan berhenti. "Yah, nanti dulu. Apa maksudmu mencari Kim-mou-eng?"
"Eh, kenapa tanya? Bukankah untuk membalas kekalahanku dulu?" Sang ayah berhenti dan terbelalak. "Dan aku ingin merobohkan Pendekar Rambut Emas itu, Swat Lian. Ingin kulihat berapa jurus sekarang dia dapat bertahan, haha!"
"Hm, kalau begini tak adil. Ayah sekarang sudah memiliki kepandaian begitu tinggi, Kim-mou-eng tentu tak dapat melawanmu."
"Biarlah, itu yang ingin kutunjukkan kepadanya, Lian-ji. Aku ingin agar dia tahu bahwa Hu Beng Kui sekarang bukan Hu Beng Kui yang dulu!"
"Tidak, biar aku yang menghadapinya, Yah. Kau tak usah maju dan biar aku yang membalas kekalahanmu."
"Aku masih ragu..."
"Memangnya kenapa? Membalas kekalahan harus dilakukan dengan jujur, Ayah. Kalau kau mempergunakan ilmu-ilmu yang bukan milikmu sendiri, hal ini kurang sportif. Tidak, biar aku yang maju dan kau tinggal menonton!"
Tak mau ayahnya membantah, gadis itu berkelebat pergi. Ia tidak ingin ayahnya mengalahkan Kim-mou-eng dengan ilmu yang bukan miliknya sendiri. Saat gadis ini memotong pembicaraan dan tak mau berbantah lagi, Hu Beng Kui terkejut namun tertawa tergelak. Ia mengejar dan menyambar puterinya. Jago pedang itu tahu apa yang ada dalam pikiran anaknya, maka ia mengerahkan kesaktiannya membawa anaknya terbang.
"Baik, boleh, anak manis."