Chapter 57
"Begitu juga sama dan biar kulihat kepandaianmu sekarang menghadapi Kim-mou-eng!" Hu Beng Kui tak bicara lagi.
Dia sudah membawa puterinya terbang seperti setan, berkelebat, dan lenyap di antara pohon-pohon besar.
Dan ketika dua orang ini tak diketahui lagi ke mana perginya, maka bekas pertempuran itu pun sunyi kembali dan tak meninggalkan sesuatu yang istimewa.
Dua bulan setelah kejadian di Bukit Malaikat, dunia kang-ouw geger. Bukan oleh berita Cermin Naga, melainkan oleh ulah enam tokoh iblis yang selama delapan minggu ini mengamuk. Khong-tong, Hong-san, dan partai-partai lain gempar. Ketua-ketua mereka diculik dan dibawa oleh enam tokoh iblis dunia itu, yang tentu saja memiliki kesaktian tinggi dan hanya Sian-su sajalah yang mampu menundukkan mereka.
Ketika satu demi satu ketua-ketua partai itu diculik dan dibawa dari partainya, maka Khong-tong, Hong-san, dan lain-lain bersatu. Kejadian berawal dari kemarahan enam iblis dunia itu. Seperti diketahui, mereka gagal mendapatkan Cermin Naga. Barang yang dilontarkan Bu-beng Sian-su ke angkasa dan akhirnya jatuh di utara dan selatan itu tak mereka temui. Cam-kong dan kawan-kawannya marah. Mereka lalu menumpahkan kemarahan pada ketua-ketua partai yang dulu melihat pertandingan mereka di Bukit Malaikat, menyaksikan kekalahan mereka pula dari si kakek dewa, Bu-beng Sian-su.
Karena Cermin Naga tak mereka temukan dan enam orang itu gusar, maka mereka mendatangi ketua-ketua partai ini dan menangkapnya. Mula-mula yang "diciduk" adalah ketua Hong-san, Yang Te Cinjin. Sebagaimana diketahui, tosu ini dulu melihat pertandingan di Bukit Malaikat bersama teman-temannya, Ciu Sek Tosu dan Bi Kong Hwesio, bersama Pendekar Rambut Emas dan Swat Lian, puteri si jago pedang Hu-taihiap itu. Karena tosu ini menonton dan menyaksikan kekalahan enam iblis dunia, maka Tok-ong, iblis pemakan hati dan jantung itu, mendapat tugas menghajar ketua Hong-san ini.
"Kau bekas tosu bau itu, aku yang lain!" Cam-kong memberi perintah setelah mengambil kesepakatan bersama yang lain bahwa masing-masing membekuk dan menculik ketua-ketua partai yang dulu menonton kekalahan mereka. Di samping melampiaskan kemarahan, mereka juga bermaksud menghajar orang-orang ini yang berani melihat mereka terjungkal menghadapi Bu-beng Sian-su.
Ketika hari itu Tok-ong ke Hong-san dan di sana iblis berpakaian hitam-hitam ini mencari Yang Te Cinjin, maka geger dan gemparlah partai persilatan itu.
"Aku mencari ketua kalian. Suruh dia keluar!"
Para murid jatuh bangun. Tok-ong mengebut dan membuat anak murid Hong-san tunggang-langgang. Tentu saja mereka bukan lawannya, dan iblis tinggi besar ini mendaki puncak dengan kemarahan dan rasa geram memanggil-manggil Yang Te Cinjin. Ketika Yang Te Cinjin diberi tahu dan pucat mendengar kedatangan iblis itu, tiba-tiba Tok-ong sudah berada di depannya, berkelebat seperti siluman.
"Hei, kau ikut aku, tosu bau! Ayo berangkat dan ke sinilah!"
Tok-ong menyambar, dikelit, tapi jari kakek iblis itu menjulur maju. Ke mana pun Yang Te Cinjin mengelak, ke situ pula jari kakek ini membayangi. Karena Yang Te Cinjin pucat dan gentar, akhirnya tosu ini berteriak dan mencabut pedangnya.
"Trang! Trang!" Kuku jari Tok-ong yang dibabat mengeluarkan suara nyaring.
Yang Te Cinjin terkejut dan kaget. Tok-ong mendengus dan kakek ini menggeram. Terpaksa ketua Hong-san itu membentak, berjungkir balik, dan menjauhkan diri. Ketika Tok-ong menjadi tak sabar dan ingin membunuh, tiba-tiba wakil ketua dan murid-murid kepala Hong-san-pai menyerang menolong pemimpinnya.
"Tok-ong, kau iblis keparat..."
"Sing! Crat!" Pedang wakil ketua membacok pinggang, membalik, dan sute Yang Te Cinjin terpekik. Dia yang menyerang malah berbalik terluka; pedangnya tadi mengenai telinga dan putuslah telinga tosu ini. Sang tosu menjerit dan anak murid yang lain kaget. Tujuh di antaranya yang menyerang sudah mengalami nasib sama seperti wakil ketua Hong-san itu; senjata membalik dan memakan tuan. Ada yang terkerat telinganya dan ada pula yang terkerat hidungnya.
Tok-ong memang bukan lawan orang-orang ini. Ketika semuanya tunggang-langgang dan kaget dengan luka-luka, maka Yang Te Cinjin yang pucat dan gentar menghadapi Tok-ong, tiba-tiba melarikan diri.
"Hei, ke mana kau?" Tok-ong menjadi marah, mengobrak-abrik tempat itu, dan akhirnya gegerlah Hong-san. Tok-ong tak boleh membunuh mereka karena sudah bersepakat untuk menangkap tawanan hidup-hidup. Mereka sebenarnya hendak menukarkan tawanan itu kepada Sian-su demi mendapatkan Cermin Naga yang mereka cari-cari.
Ketika Yang Te Cinjin menghilang dan Tok-ong mengobrak-abrik, kakek iblis ini memporak-porandakan partai Hong-san sampai akhirnya mendapatkan ketua Hong-san itu. Kiranya di dalam rasa takut dan jeri-nya, tosu ini sampai melupakan derajat; dia tak ingat kedudukannya sebagai ketua partai. Ketika tempat persembunyiannya ketemu dan Tok-ong hampir menangkapnya, mendadak tosu ini berkelebat dan lari turun gunung, kelabakan.
"Tok-ong, kau iblis keparat. Apa kesalahan pinto kepadamu? Ada dosa pinto?"
"Hem, dosamu adalah karena kau menyaksikan pertandingan di Bukit Malaikat, tosu. Kau menjadi saksi atas kekalahan kami di tangan Bu-beng Sian-su!"
"Ah, itu pinto tak sengaja. Dan lagi, bukan hanya pinto sendiri yang menonton!"
"Benar, dan teman-temanku yang lain juga akan menangkapi teman-temanmu itu, tosu bau. Sekarang menyerah dan ke marilah... wut!"
Lengan Tok-ong terulur, memanjang, dan tahu-tahu Yang Te Cinjin terpekik. Dia yang berlari turun gunung tiba-tiba berhenti, tubuhnya terangkat, dan tertangkaplah tosu itu. Yang Te Cinjin menjerit-jerit. Ketika ia meronta namun lehernya dicengkeram, tiba-tiba tosu ini dibanting dan diinjak.
"Ngek!" Ketua Hong-san itu mengeluh. Tok-ong memang hebat, terlampau hebat. Kakek ini bukan tandingannya karena dia adalah tandingan kakek-kakek gurunya yang telah meninggal. Tok-ong adalah tokoh yang usianya sudah dua ratusan tahun; dia (Yang Te Cinjin) hanyalah bayi di tangan kakek ini.
Ketika Yang Te Cinjin mengeluh dan dibanting keras, maka Tok-ong melempar sebuah tali dan tergubat tubuh ketua Hong-san itu seperti babi dijirat, dibelit-belit, dan akhirnya tosu ketua Hong-san ini diseret sepanjang jalan. Tok-ong menarik dan menghela tubuh korbannya itu seperti anjing. Tentu saja sang ketua Hong-san berteriak-teriak sepanjang jalan, tapi ketika Tok-ong mendupak mulutnya dan menotok jalan darah di bawah rahang, akhirnya Yang Te Cinjin tak dapat berkeok-kaok dan menderita sepanjang jalan seperti anak kecil di tangan Tok-ong yang sakti.
Begitulah, dan bagaimana dengan yang lain? Sama saja. Gin Sek, ketua Liong-san-pang juga tidak dibiarkan selamat. Sahabat Yang Te Cinjin ini pun didatangi pemburunya; kebetulan Cam-kong sendiri datang dan mengobrak-abrik markas Liong-san-pang itu. Ketika Ciu Sek melawan namun jelas bukan tandingan "Pembunuh Petir" ini, maka ketua Liong-san itu pun diculik dan dibawa.
Berturut-turut yang lain juga mengalami nasib serupa. Bi Kong Hwesio, ketua Siu-lim, juga menjadi korban. Yang menangkap adalah Hek-bong Siauw-jin, kakek cebol yang amat sakti itu, yang memang bukan tandingan hwesio ini. Ketika ketua-ketua yang lain juga didatangi dan dibawa pergi oleh iblis dunia yang lain, maka hari itu, dua bulan setelah kejadian di Bukit Malaikat, anak-anak murid dari partai-partai yang kehilangan ketuanya berkumpul. Mereka meminta tolong sana-sini, namun gagal dan tak berhasil.
Kesaktian dan kehebatan Cam-kong dan kawan-kawannya itu memang tak ada yang menandingi, kecuali Sian-su. Tapi karena Bu-beng Sian-su tokoh misterius yang tak gampang dicari dan kakek dewa itu datang dan pergi seperti siluman, maka Yang Ci Tosu, wakil Hong-san yang terkerat telinganya itu, putus asa.
"Kalau begini habislah nasib kita. Tak ada seorang pun di antara kita yang dapat menandingi enam iblis dunia itu. Lalu apalagi yang diharapkan? Saudara-saudara, kita sebaiknya pulang dan kembali. Atau kita tak berkecimpung lagi di dunia kang-ouw dan kita menjadi orang biasa!"
"Benar," Bi Lung Hwesio, sute Bi Kong, mengangguk. "Pinceng juga tak tahu harus melakukan apa, Yang Ci totiang. Kalau kita semua tak ada yang mampu menghadapi enam iblis itu, biarlah pinceng bubarkan Siu-lim dan hidup sebagai orang awam."
"Nanti dulu," seseorang melompat. "Bagaimana kalau kita ke Bukit Malaikat? Bukankah kita dapat melaporkan pada Sian-su?"
"Hem, Bu-beng Sian-su tak selamanya di Bukit Malaikat, Cia Kak totiang. Manusia dewa itu tak dapat diraba di mana beradanya. Pinceng sudah ke sana dan gagal. Kalau totiang ingin ke sana, silakan, tapi pinceng sudah dua kali ke situ."
"Bagaimana dengan Kim-mou-eng?" Bi Lung Hwesio tertegun.
"Kim-mou-eng adalah muridnya, Bi Lung lo-suhu. Kalau kita tak dapat menemukan Sian-su, barangkali lewat Pendekar Rambut Emas ini kita dapat minta bantuan!"
"Hm, pinceng tak tahu di mana beradanya Kim-mou-eng pula. Siapa di antara saudara-saudara yang tahu?"
"Kita dapat mencari, kita menyebar!"
"Dan sementara itu ketua kita, hm..." Bi Lung menggeleng. "Tidak, percuma saja, totiang. Kalau pun ketemu, barangkali ketua kita sudah tewas di tangan iblis-iblis jahat itu!"
"Tapi mereka tak dibunuh, mereka hanya diculik. Kenapa putus asa dan patah semangat, Bi Lung lo-suhu? Kalau pinto ketemu Kim-mou-eng, tentu pinto akan coba meminta bantuannya dan barangkali dia dapat menghadapi enam iblis dunia itu!"
Keadaan tiba-tiba ribut. Kim-mou-eng, nama yang dijagokan, mendadak mencuat. Semua orang sudah tahu kelihaian Pendekar Rambut Emas itu dan menjadi lebih dapat diandalkan lagi karena Kim-mou-eng adalah murid Sian-su, kakek dewa itu. Ketika semua membicarakan nama ini dan menyebut-nyebut Kim-mou-eng dengan hangat, mendadak bayangan berambut keemasan muncul dan berkelebat, datang.
"Saudara-saudara, aku tak sanggup. Terus terang hanya guruku yang mampu menghadapi dan menundukkan enam iblis dunia itu."