Chapter 58
Biarlah aku yang mencarinya dan memberitahukan semua ini!
Kim-mou-eng muncul, mengejutkan semua orang, tetapi suasana yang semula tegang tiba-tiba menjadi gembira. Namun, mendengar kata-kata terakhirnya dan melihat kondisi Kim-mou-eng yang tampak kuyu, mereka kembali tertegun dan kaget.
"Maaf, tidakkah kalian dengar musibah yang menimpaku? Istriku terbunuh, dan anakku diculik hingga sekarang aku belum dapat menyelamatkannya. Aku bukan tandingan mereka!"
Orang-orang terdiam. Ciu Kak Tosu maju selangkah dan berkata, "Maaf, kami lupa. Kalau begitu, carilah gurumu. Tolong bantu kami dan laporkan bahwa ketua kami diculik oleh enam iblis dunia itu. Jika Sian-su tak menolong, lalu siapa lagi?"
"Aku akan mencari suhu," Kim-mou-eng mengangguk. "Tapi aku tak dapat menjanjikan kapan akan segera bertemu, Ciu Kak totiang. Kedatangan dan kepergian suhu tak seorang pun yang mengetahuinya, termasuk aku."
"Bagaimana kalau terlambat?"
"Inilah yang membuatku bingung."
"Hmm," seseorang tiba-tiba maju. "Bagaimana kalau kita mencari orang pandai melalui pibu? Sementara Kim-taihiap mencari gurunya, biarlah kita berusaha juga mencari jagoan lain. Jika perlu, kita akan mengangkat orang pandai tersebut sebagai bengcu (pemimpin dunia persilatan)!"
Semua orang tertegun. Orang yang berbicara itu adalah Swan Hong Tojin, adik dari Swan Cong Tojin, wakil ketua Kun-lun. Swan Cong Tojin juga diculik oleh enam iblis dunia itu. Swan Hong kini berkumpul bersama wakil-wakil ketua partai lain, seperti Yang Ci Tosu dan Ciu Kak Tosu.
Ketika semua orang memandangnya, Swan Hong kembali bicara, "Saudara-saudara, bantuan yang kita harapkan pada Kim-taihiap sebaiknya jangan terlalu digantungkan. Kita juga harus berusaha sendiri, apalagi Kim-taihiap telah mengatakan bahwa gurunya sukar dicari. Karena semuanya belum pasti, sementara kita harus secepatnya menolong ketua kita, sebaiknya kita mengadakan pibu untuk mencari seorang bengcu. Siapa yang dapat menolong ketua kita, dialah yang akan diangkat sebagai bengcu dan pemimpin dunia persilatan! Siapa setuju?"
Orang-orang segera mengangguk. Mereka setuju dan merasa girang karena ini adalah jalan terbaik selain mengharap bantuan Sian-su. Namun, tiba-tiba Bi Lung, wakil Siulim, bertanya dengan kening berkerut, "Nanti dulu, apakah mencari bengcu dengan jalan pibu tidak terlalu lama? Bagaimana kalau kita sebarkan berita bahwa siapa pun yang dapat membebaskan ketua kita, dialah yang akan langsung kita angkat sebagai bengcu? Mengadakan pibu setelah mengumpulkan orang-orang gagah akan memakan waktu terlalu lama. Sebaiknya, kita buat semacam sayembara saja."
"Benar," Yang Ci tiba-tiba mengangguk. "Pinto setuju dengan usulan Bi Lung lo-suhu. Toh, pertandingan menghadapi enam iblis dunia itu nantinya sudah merupakan pibu yang jauh lebih dahsyat daripada biasanya."
Yang lain pun setuju. Ketika semua orang ribut menyetujui usulan tersebut, Swan Hong Tojin mengangguk dengan mata bersinar. "Betul, pinto sependapat. Kita dapat segera menyebarkan berita ini."
"Tapi, adakah kira-kira yang sanggup melakukan itu?" sebuah pertanyaan sinis tiba-tiba mengecilkan semangat. "Pinceng tidak bermaksud mengecilkan harapan, tetapi melihat betapa susahnya mencari orang lihai, barangkali maksud ini akan kandas di tengah jalan!"
Kwi Bi Hosiang, wakil ketua Go-bong-pai, telah bicara. Semua orang jadi teringat betapa sulitnya mencari bantuan. Kata-kata itu ada benarnya. Namun, Swan Hong Tojin tidak mau patah semangat. "Kwi Bi lo-suhu, jika selama ini kita gagal mendapatkan bantuan, barangkali karena kurangnya kesungguhan kita. Pinto optimis mendapatkan orang yang dicari, dan pinto percaya di dunia ini pasti ada kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatan hitam!"
"Maaf, pinceng bukan bermaksud mengecilkan niat ini, hanya saja pinceng merasa putus asa," ujar Kwi Bi Hosiang sambil mengebutkan lengan, mundur dengan perasaan muram.
Memang, hal itu terasa mustahil. Bu-beng Sian-su adalah satu-satunya yang dapat diandalkan. Namun, ketika orang-orang mulai terpecah, mendadak muncul seseorang yang datang seperti iblis, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka.
"Ha-ha, apa ini? Siapa yang ribut membicarakan bengcu? Bagaimana kalau aku yang menyelamatkan ketua kalian?"
"Hu-taihiap!" seru orang-orang terkejut saat mengenali pendekar buntung tersebut. Kim-mou-eng adalah yang pertama berseru.
Hu Beng Kui, jago tua itu, tertawa. "Kim-mou-eng, kebetulan kita bertemu di sini. Kita dapat melanjutkan urusan yang dulu, kesempatan bagiku untuk membalas kekalahan!"
Namun, sebelum Hu Beng Kui menyerang, seseorang berkelebat. Swat Lian meneriaki ayahnya. "Ayah, tahan! Jangan menyerang!"
Swat Lian berdiri di depan ayahnya, lalu memandang Kim-mou-eng dengan tatapan lekat. "Kim-twako, pergilah. Ayah sekarang hebat bukan main dan kau bukan tandingannya!"
Kim-mou-eng terkejut. Hu Beng Kui menyela, "Kau omong apa, Lian-ji? Bukankah kau mau membantuku membalas kekalahan dulu?"
"Tidak," Swat Lian terisak. "Kim-twako sedang sedih, Ayah. Dia kehilangan istri dan anaknya. Biarlah lain kali kita teruskan niat itu." Ia menoleh ke arah pendekar itu, "Twako, maaf. Pergilah dan jangan ladeni sikap ayahku!"
"Hm!" Kim-mou-eng meradang. "Apa arti semua ini, Swat Lian? Memangnya ada apa dengan ayahmu itu?"
"Ayah sekarang hebat bukan main, Twako. Kau bukan tandingannya. Lekaslah menyingkir, aku tak mau dia menghajarmu!"
Kim-mou-eng tidak tahu bahwa Hu Beng Kui telah mendapatkan Jing-ian-eng dan Khikang dari Cermin Naga. Ketika Swat Lian tampak cemas, Pendekar Rambut Emas itu justru merasa tersinggung. "Lian-moi, aku tak merasa punya permusuhan dengan ayahmu. Kalau urusan Pedang Tiga Dimensi membuat ayahmu penasaran, aku akan melayaninya. Aku bukan penakut!"
"Ha-ha!" Hu Beng Kui tertawa bergelak. "Kau gagah, Kim-mou-eng. Marilah, aku memang ingin menebus kekalahanku disaksikan orang banyak!"
"Siapa takut?" tantang Pendekar Rambut Emas. "Aku siap menerima tantanganmu, Hu-taihiap."
"Tidak, jangan!" Swat Lian meloncat ke tengah. "Kau tak akan menang, Twako. Ayah sekarang hebat dan..."
"Wuut!" Hu Beng Kui menyambar putrinya dan melemparkannya menjauh, lalu tertawa. "Minggirlah jika kau tak mau membantu ayahmu!"
Swat Lian berputar di udara dan mendarat dengan indah, lalu mencabut pedangnya. Dengan muka kemerahan, ia berseru, "Ayah, minggir! Biar aku yang maju dan biar Kim-twako melihat kemajuan ilmu pedang kita... Awas!"
Swat Lian segera menyerang dengan Ilmu Pedang Maut atau Giam-lo Kiam-sut. Pedang berkelebatan, menyerang Kim-mou-eng dengan gerakan membacok, menusuk, menyendok, dan menebas dengan luar biasa hebat.