Chapter 59
Ketika Kim Mou Eng masih tertegun dan lambat berkelit, ujung pedang mengenai bahunya. Seketika itu juga, darah mengucur di pundak pendekar ini.
"Crat, aih!" Orang-orang tertegun.
Teriakan itu bukan dari Kim Mou Eng, melainkan dari Swat Lian. Gadis ini terpekik karena lawan tergores. Luka itu kecil saja, tapi sudah cukup membuat Swat Lian terkejut. Suaranya menunjukkan isi hatinya dan segera Hu Taihiap memerah mukanya. Nyata dari sini bahwa anak gadisnya masih tak dapat melupakan pendekar itu. Hu Taihiap menggeram dan malu terhadap yang lain.
Ketika Kim Mou Eng kembali tertegun dan lambat berkelit, ujung pedang kembali mengenai pangkal lengannya dan Swat Lian terisak, berseru, "Twako, balaslah! Ayo balas dan jangan biarkan Ayah yang maju!"
Kim Mou Eng membelalakkan mata. Setelah berkali-kali Swat Lian menunjukkan kecemasannya akan ayahnya itu, penasaran dan heranlah Pendekar Rambut Emas ini—heran akan kekhawatiran lawannya—dan ia melihat pedang mulai berkelebatan semakin cepat. Tusukan dan tikaman mulai mendesing pula secara halus; ini berarti semakin halus, semakin berbahaya. Ketika benar saja sebuah jurus aneh dilakukan Swat Lian karena pedang menyendok dari bawah ke atas, tiba-tiba pangkal lengannya terbacok dan Swat Lian menjerit.
"Crat! Aih!" Kim Mou Eng terhuyung.
Sang pendekar tergetar karena pekik atau jerit Swat Lian itu menyentak perasaannya. Mata yang terbelalak melebar itu berhenti berputar, sedetik tak berkejap memandangnya, tapi Hu Taihiap tertawa bergelak. Jago pedang itu menyatakan kegembiraannya karena puterinya dapat melukai Pendekar Rambut Emas. Kim Mou Eng kaget dan marah.
Dan ketika Swat Lian kembali menyerang namun mengeluh agar dia membalas atau mengimbangi permainannya, akhirnya Pendekar Rambut Emas ini bergerak dan mengangguk. "Baiklah, aku memenuhi permintaanmu, Lian-moi. Tapi, betapapun, aku akan menghadapi ayahmu."
*Plak! Plak!*
Pedang yang ditangkis serta ditolak terpental akhirnya membuat Swat Lian bersemangat dan tidak ragu-ragu lagi, mengetahui bahwa lawannya ini bukanlah lawan biasa. Sekali Kim Mou Eng mengeluarkan kepandaiannya, tentu pertandingan berjalan seru dan ramai. Gadis itu membentak dan menerjang lagi. Ketika Kim Mou Eng menyambut dan melayani lawannya, penonton pun kagum melihat gerakan Pendekar Rambut Emas itu menyampok dan mengibas, hingga terpentalah pedang di tangan putri Hu Bang Kui itu.
Swat Lian melengking dan mempercepat gerakannya. Ketika pedang berseliweran naik-turun dan melingkar serta menari-nari di udara, mendesah dan berserulah orang-orang itu melihat keindahan dan kehebatan ilmu pedang gadis ini pula.
"Aih, kiam-sut (ilmu pedang) yang lihai. Hebat sekali, indah!"
"Ya, dan pinto mengakui keluarbiasaannya, Bi Lung Lo-suhu. Pinto mengaku bahwa pinto bukan apa-apa menghadapi ilmu pedang ini!"
"Tapi Kim-taihiap dapat melayani. Berarti Kim-taihiap pun hebat!"
"Benar, Kim Mou Eng memang hebat. Entah siapa yang akan menang dalam pertandingan ini!"
"Ha ha!" Hu Taihiap tertawa bergelak. "Kalau puteriku bersungguh-sungguh, tentu ia menang, cuwi enghiong. Lihat dan perhatikan saja ilmu pedangnya!"
Kim Mou Eng mendongkol. Ilmu pedang yang dimainkan Swat Lian memang hebat dan cepat; ia harus mengakui itu. Tapi karena ia bertangan telanjang dan selama ini pedang gadis itu ditolak terpental, Pendekar Rambut Emas merasa Hu Taihiap terlalu jumawa. Ia agak bingung menghadapi lawannya ini karena Swat Lian adalah gadis yang baik. Juga, hm... ada "apa-apa" sebenarnya di antara mereka. Dia tak ingin merobohkan lawan, tapi juga tak ingin dirobohkan. Dua pilihan yang bertolak belakang tiba-tiba menghadang di depannya.
Ketika lawan mempercepat gerakannya dan Swat Lian mengerahkan ginkang, tiba-tiba gadis itu lenyap dalam lingkaran pelangnya yang bergulung-gulung.
"Kim-twako, awas. Aku akan mengeluarkan beberapa jurus yang berbahaya!"
"Hm," Kim Mou Eng tersenyum hambar. "Kau keluarkanlah seluruh kepandaianmu, Lian-moi. Biar ayahmu puas dan lihat apakah kau dapat merobohkan aku."
"Ayahku menyuruhku, maaf aku terpaksa..."
Swat Lian yang menusuk serta membacok di udara tiba-tiba membentak, menyuruh lawannya waspada. Sebuah serangan kilat meluncur menuju Pendekar Rambut Emas itu. Tapi Kim Mou Eng yang mengelak dan menyamplok cepat, tiba-tiba menggerakkan tangannya melakukan tamparan miring.
*Plak!*
Pedang melejit, tertolak, dan tiba-tiba sudah membalik dengan kecepatan tinggi. Swat Lian yang menggerakkan kaki setengah berputar, tahu-tahu mengayun pedangnya dengan posisi dibalik; mata pedang berada di luar, sementara bagian yang tidak tajam di dalam. Ketika pedang mengaung dan melejit seperti tokek meloncat, tiba-tiba pedang sudah menyambar leher Kim Mou Eng tanpa sempat dikelit lagi.
"Awas!" Kim Mou Eng terkejut.
Dia tak menduga serangan aneh itu. Ia merendahkan kepala, tapi pedang membayangi. Ketika pendekar itu kaget dan berseru keras, tahu-tahu senjata di tangan lawan mengenai leher.
"Plak!" Kim Mou Eng terhuyung.
Hu Bang Kui tertawa bergelak melihat keberhasilan itu, tapi juga mengomel kenapa puterinya membalik mata pedang. Swat Lian memang tak mau melukai orang yang dicinta dengan pedang yang tajam, jadi memberikan bagian yang tumpul untuk menetak leher. Ketika Kim Mou Eng terhuyung dan kaget oleh jurusnya yang aneh, gadis itu berseru kembali, menggerakkan pedangnya dengan posisi menggunting, tangan kiri bergerak pula dari bawah ke atas mencegat gerakan lawan. Satu-satunya jalan bagi Kim Mou Eng hanya meloncat ke atas. Kiri, kanan, dan bawah sudah dihadang. Tapi ketika pendekar itu meloncat ke atas dan lawan mengikuti, tiba-tiba pedang membayangi cepat dan... belikat pun disambar pedang.
"Brett!" Baju di bagian punggung pendekar itu robek.
Kim Mou Eng tersentak karena dua kali ia merasa kalah. Pedang bergerak lagi dan berturut-turut pangkal lengan dan pahanya menjadi korban. Untunglah, dia mengerahkan sinkangnya dan kebal oleh bacokan semua senjata tajam itu. Ketika Swat Lian berseru agar dia mengeluarkan pit-nya karena serangan akan semakin gencar, maka apa boleh buat, terpaksa pendekar ini mencabut senjatanya, sebatang pit atau pena. Dengan senjata aneh itu, Pendekar Rambut Emas melayani lawan.
*Trang-tring, trang-tring*, bunyi itu mulai terdengar. Pendekar Rambut Emas mengerahkan Tiat-lui-kang-nya atau Tenaga Petir untuk mengisi pit-nya ini. Ketika benar saja serangan-serangan pedang kian gencar dan Kim Mou Eng harus mengerahkan ginkang hingga tiba-tiba keduanya lenyap dalam serangan-serangan yang cepat, orang-orang seperti Bi Lung Hwesio atau Ciu Kak Tojin sudah tak dapat mengikuti jalannya pertandingan lagi.
"Aih, ini benar-benar hebat. Pinceng merasa kabur!"
"Ya, dan pinto juga berkunang-kunang, Bi Lung Lo-suhu. Sukar dipercaya bahwa kehebatan mereka ini masih bukan tandingan enam iblis dunia!"
"Ha-ha, mana mungkin?" Hu Bang Kui kini berseru. "Kim Mou Eng masih rendah kepandaiannya, cuwi enghiong. Aku dapat melihat jelas dan bagiku gerakannya masih lamban, begitu pula puteriku!"
Semua terkejut.
"Tidak percaya?" Si jago pedang berkata lagi. "Dua-duanya sekarang imbang, cuwi enghiong. Tapi kalau pit di tangan Pendekar Rambut Emas itu dapat dipatahkan puteriku, tentu Kim Mou Eng kalah. Sayang, agaknya dalam hal tenaga memang puteriku kalah kuat. Puteriku akan mengeluarkan jurus-jurus berbahayanya dan Kim Mou Eng harus mengeluarkan Pek-Sian-ciang (Pukulan Dewa)!"
Bi Lung Hwesio dan lain-lain terbelalak. Pek-Sian-ciang, nama pukulan itu sudah mereka dengar sebagai ilmu paling dahsyat yang dipunyai Pendekar Rambut Emas, jarang dikeluarkan kalau tidak terpaksa. Dulu Hu Bang Kui sendiri kalah menghadapi Kim Mou Eng, padahal pendekar itu belum mengeluarkan Pek-Sian-ciang. Tapi karena kekalahan si jago pedang disebabkan lengannya yang buntung dan Kim Mou Eng selalu mengarahkan serangan-serangannya pada bagian yang buntung ini, di mana waktu itu Hu Bang Kui memang tak dapat berkutik, maka sesungguhnya sukar juga menentukan siapa sebenarnya di antara si jago pedang ini dan Kim Mou Eng yang lebih unggul kalau si jago pedang tidak buntung.
Kini Hu Taihiap menyatakan kepandaian Kim Mou Eng bukan apa-apa; gerakan pendekar itu dianggapnya lamban dan dengan pongah Hu Bang Kui menyatakan komentarnya. Sungguh orang tak mudah percaya, dan ada di antaranya yang tertawa di dalam hati—orang-orang yang dulu mengetahui kekalahan si jago pedang ini.
Namun, ketika pertandingan kian memuncak dan Swat Lian terbawa oleh semangatnya melihat pedangnya selalu tertangkis pena, tiba-tiba gadis ini membentak mengeluarkan tiga jurus simpanan, percaya bahwa betapapun Kim Mou Eng adalah lawan yang hebat.
"Kim-twako, awas! Sekarang aku mengeluarkan jurus-jurus inti... Wut-singgg!"
Pedang mengaung bagai pelangi, bergerak memanjang dan melengkung dari atas ke bawah. Swat Lian mengeluarkan jurus yang disebut Menyebar Siluman Mencari Naga, sebuah gerakan berbahaya menuju leher lawan. Ketika pit di tangan Kim Mou Eng itu menangkis namun Swat Lian menambah tenaganya, maka untuk pertama kali Kim Mou Eng terkejut karena pedang tidak terpental. Pedang membesut dan secepat kilat turun ke bawah, menempel di pit-nya, siap membabat jari-jarinya.
Kaget pendekar ini. Dan karena gerakan sudah sedemikian cepat dan satu-satunya jalan ia harus menggerakkan tangan kirinya untuk membantu pit di tangan kanan, maka Pendekar Rambut Emas mengepret dan menghalau pedang itu.
"Plak!" Pedang menggelincir.
Swat Lian sudah meneruskan dengan jurus kedua, Naga Tertangkap. Apa yang dilakukan Kim Mou Eng memang sudah diduga, itulah jebakan yang dipasang dalam jurus pertamanya tadi. Kim Mou Eng telah menggerakkan kedua tangannya, jadi bagian bawah kosong. Karena bagian bawah ini adalah sepasang kaki dan pedang sudah membacok, begitu dihalau, tahu-tahu pedang menukik ke bawah dan menyambar paha Kim Mou Eng. Tentu saja itu membuat sang pendekar terkejut karena dua jurus berturut-turut ini dilakukan Swat Lian dengan luar biasa cepatnya.