Chapter 60
Lawan seolah tak memberi kesempatan padanya untuk berpikir; semuanya harus dilakukan secara cepat dan spontan.
Ketika dia membentak dan terpaksa menggerakkan kaki untuk menendang pedang itu, sekonyong-konyong pedang berhenti di tengah jalan dan mencuat naik menusuk matanya dalam jurus terakhir yang disebut "Pedang Siluman Memasuki Guha".
"Hayaa...!" Kim-mou-eng tak mendapat kesempatan lagi. Menghindar atau melompat sudah tak ada waktu. Tiga jurus berturut-turut yang dipertunjukkan Swat Lian ini luar biasa cepat dan berbahaya; semuanya mengunci jalan keluar serta mematikan langkah.
Karena matanya disambar pedang dan Kim-mou-eng terkecoh oleh jurus kedua hingga kakinya terangkat menendang angin kosong, secara mengejutkan sekaligus mengagumkan, pendekar ini berseru keras dan memutar tubuhnya. Dengan satu kaki, ia membentak melepas *pit*-nya. Senjata itu tiba-tiba menotok pergelangan tangan Swat Lian, sementara telapak tangan Kim-mou-eng menerima pedang dengan satu pukulan dahsyat—pukulan yang mengeluarkan cahaya putih hingga Swat Lian menjerit silau.
"Plak! Dess!" Gebrakan ini mengakhiri pertandingan. Swat Lian yang melakukan tusukan cepat tiba-tiba mengeluh; pedangnya bertemu telapak lawan dan hancur berkeping-keping. *Pit* di tangan Kim-mou-eng yang tadi diluncurkan dan menyambar pergelangan tangan lawan tepat mengenai jalan darah *ku-hiat*, hingga tangan gadis itu menjadi kaku dan tak dapat digerakkan. Ketika Swat Lian terhuyung dan pucat memandang ke depan, Kim-mou-eng juga terdorong dengan pipi yang sedikit tergurat kena mata pedang; ia masih tak dapat menyelamatkan diri sepenuhnya.
"Ha-ha, hebat, Kim-mou-eng! Pek-sian-ciang-mu tangguh dan luar biasa!" Hu Beng Kui, yang melihat berakhirnya pertandingan itu, berseru. Dia berkelebat menahan putrinya saat Swat Lian jatuh terduduk dan terisak.
Ketika semua orang bengong karena keduanya tampak terdorong, Kim-mou-eng membungkuk di depan jago pedang itu. "Hu-taihiap, Giam-lo Kiam-sut-mu sekarang maju pesat. Aku mengakui kelihaiannya dan nyaris celaka."
"Ha-ha, tidak sepenuhnya begitu, Kim-mou-eng. Kau pun menotok putriku dan membuatnya tidak berdaya. Betapapun, kau masih menang seurat dan Pek-sian-ciang-mu cukup hebat. Hayo buktikan padaku dan kini kita main-main!" Si jago pedang melepas putrinya, berdiri tegap, dan berseri-seri memandang Pendekar Rambut Emas itu.
Kim-mou-eng terkejut dan terbelalak, lalu jago pedang ini menyambung, "Aku akan merobohkanmu dalam sepuluh jurus. Lebih dari itu, anggap aku yang kalah!"
"Ayah...!" Swat Lian terkejut. "Kau gila? Tidak, Kim-twako masih lelah, Ayah. Dia harus istirahat dan tak boleh bertempur!"
"Kenapa?" Ayahnya tertawa bergelak. "Sebagai pendekar, tak perlu dia takut, Lian-ji. Sejenak ini saja cukup baginya untuk memulihkan tenaga. Minggirlah, aku hanya melayaninya sepuluh jurus dan setelah itu dia roboh. Aku akan memainkan ilmu silat pedang dengan ranting ini dan kau tak perlu khawatir!"
Hu Beng Kui telah mematahkan sebatang ranting, memutar-mutarnya di tangan, dan Swat Lian terbelalak. Ayahnya tidak menggunakan senjata tajam, hanya sebatang ranting. Namun, karena benda apa saja bisa menjadi amat berbahaya jika berada di tangan ayahnya yang sakti, Swat Lian menggeleng dan melompat bangun.
"Tidak, Yah. Aku sudah kalah dan kau tak boleh memaksa Kim-twako. Dia lelah dan harus beristirahat!"
Namun, Hu Beng Kui yang tertawa bergelak menggerakkan ranting itu dan tiba-tiba telah menotok putrinya hingga roboh terpelanting. Jago pedang ini menggerakkan senjatanya tanpa menyentuh leher putrinya; angin bercuit dan robohlah anak gadis itu. Ketika Swat Lian memaki-maki namun sang ayah tidak menggubris, Kim-mou-eng yang tertegun melihat semuanya sudah menerima *pit*-nya lagi yang ditendang oleh ujung kaki Hu-taihiap.
"Kim-mou-eng, ayo kita main-main. Putriku masih kurang sungguh-sungguh, aku tidak puas. Bersiaplah sepuluh jurus dan pergunakan senjatamu itu... wut!"
*Pit* ditangkap, Kim-mou-eng menerimanya, dan Pendekar Rambut Emas ini merah mukanya. Berkali-kali Hu Beng Kui menyatakan hendak merobohkannya dalam sepuluh jurus saja; kata-kata mengejek yang membuatnya marah dan merasa direndahkan. Karena lawan sudah berdiri tegak dan menantangnya dengan pongah, Kim-mou-eng mengangkat *pit*-nya menghadapi Hu Beng Kui.
"Baiklah, kau berkali-kali menantang aku, Hu-taihiap. Kalau aku mundur tentu kau akan semakin menghina aku, majulah!"
"Eh, kenapa aku? Kau yang maju, Kim-mou-eng. Kau langsung saja keluarkan Pek-sian-ciang-mu itu, ha-ha!"
"Hm...!" Kim-mou-eng merah padam. "Kau yang meminta, Hu-taihiap. Jangan kau menyalahkan aku kalau ada apa-apa... wut!"
Pena menusuk, bergerak cepat menyambar jago pedang ini. Hu-taihiap tertawa dan mengejek; dia tidak berkelit melainkan menggerakkan rantingnya. Ketika dia berkata bahwa sebaiknya Kim-mou-eng mempergunakan Pek-sian-ciang untuk membantu *pit*-nya, si jago pedang menangkis dan langsung mengerahkan tenaga.
"Pletak!" Kim-mou-eng terkejut. Hanya dalam satu gebrakan, tiba-tiba *pit*-nya patah; bukan main kagetnya pendekar ini. Ketika dia terbelalak dan berseru keras, Hu Beng Kui berkelebat dan membalasnya.
"Plak! Dess!" Kim-mou-eng mencelat. Dia menangkis tapi terlempar, mengerahkan Tiat-lui-kang tapi terpental. Ketika dia terlempar bergulingan, kaget, dan berseru keras, Hu Beng Kui telah menusuk dan menyabetkan rantingnya, memainkan Giam-lo Kiam-sut sambil tertawa-tawa mengejar Pendekar Rambut Emas ini.
Hu Beng Kui berkata bahwa sebaiknya Kim-mou-eng mengerahkan Pek-sian-ciang, bukan Tiat-lui-kang. Seruan itu diucapkan sambil tertawa-tawa. Sebentar saja, Pendekar Rambut Emas dibuat kaget oleh tangkisan yang selalu mental, hingga dua pukulan kembali mendarat di pundak dan lehernya.
"Des! Dess!" Hu Beng Kui tertawa bergelak. "Kau jangan menyepelekan nasihatku, Kim-mou-eng. Lihat dan buktikan bahwa permainan pedangku jauh lebih dahsyat daripada yang dimainkan Swat Lian. Awas... wirr-wut!"
Ranting itu menyambar lagi. Memang benar, jago pedang ini memainkan Giam-lo Kiam-sut dengan kecepatan yang jauh melebihi Swat Lian. Kim-mou-eng kaget bukan main karena tubuh pendekar itu hanya merupakan bayangan cepat belaka yang tak dapat diikuti. Terkenalah dia oleh sebuah bacokan ranting; punggungnya terobek lebar karena *sinkang*-nya tak cukup melindungi tubuh hingga kekebalannya tembus.
Pendekar Rambut Emas melempar tubuh bergulingan dengan luka berdarah. Swat Lian memekik, sementara ayahnya tertawa gembira. Ketika pendekar itu berusaha mengejar dan berkelebatan mengikuti lawan, tiba-tiba Kim-mou-eng dihujani serangan bertubi-tubi berupa tusukan atau bacokan ranting. Hu Beng Kui memainkan silat pedang dengan ranting, menggunakan tenaga *Khi-bal-sin-kang* dan kecepatan *Jing-sian-eng*. Karena semuanya itu tentu saja tak dapat ditandingi, Kim-mou-eng mengeluh dan melempar tubuh ke sana ke mari. Pada jurus terakhir, di mana dia sudah terdesak hebat dan tak dapat membalas, tenggorokannya mendapat tusukan maut. Hu Beng Kui tertawa bergelak.
"Ayah...!" Kim-mou-eng pucat. Kini dia dibuat kaget oleh gerakan lawannya; dia benar-benar tak dapat mengikuti apalagi menangkis serangan. Ketika ranting menyambar lurus dan menusuk tenggorokannya, Pendekar Rambut Emas memejamkan mata dan mengeluh.
"Tuk!" Ranting telah menyelesaikan pertandingan luar biasa ini. Kim-mou-eng roboh tak berdaya. Swat Lian menjerit, sementara Bi Lung Hwesio dan yang lain bengong. Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat bayangan Hu Beng Kui lenyap dan Pendekar Rambut Emas tahu-tahu roboh, entah pada hitungan ke berapa. Mereka tak dapat mengikuti gerakan itu. Jangankan mereka, Kim-mou-eng sendiri yang memiliki kepandaian tinggi tak dapat mengikuti gerakan lawan.
Ketika pertandingan selesai dan ranting menancap di leher pendekar ini, Swat Lian memekik dan membentak ayahnya, "Ayah, kau kejam! Kau pembunuh!"
"Ha-ha, siapa membunuh?" Hu Beng Kui membebaskan totokan anaknya. "Lihat dan saksikan baik-baik, Lian-ji. Aku hanya merobohkan lawanku itu, tidak membunuh!"
Swat Lian meloncat bangun. Dia berkelebat dan berlutut di samping Pendekar Rambut Emas, melihat bahwa ranting ternyata hanya "melekat" saja di leher pendekar itu, tidak menusuk. Kiranya Hu Beng Kui tadi menotok dan melumpuhkan Kim-mou-eng dengan totokan istimewa yang sepintas seolah membunuh lawannya. Begitu Swat Lian sadar akan perbuatan ayahnya, gadis ini mengeluh dan membebaskan totokan Kim-mou-eng.
"Ayah, kau terlalu!"
"Ha-ha, siapa terlalu? Aku hanya hendak membuktikan bahwa Kim-mou-eng sekarang bukan apa-apa bagiku, anak baik. Agar orang-orang ini puas, biarlah kau dan Kim-mou-eng mengeroyok aku. Hayo!" Hu Beng Kui melompat, menggetarkan tubuh, dan membuang ranting di tangannya.
Swat Lian telah membebaskan Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas ini melompat terhuyung, terkejut, dan tertegun melihat kehebatan si jago pedang itu. Hu Beng Kui sekarang sungguh bukan Hu Beng Kui tiga tahun yang lalu. Kim-mou-eng tak tahu apa yang telah terjadi pada diri si jago pedang ini. Namun, melihat Swat Lian menolongnya dan mau tak mau ia tergetar oleh sikap serta kata-kata gadis itu, Kim-mou-eng tersadar dan berbisik, "Lian-moi, terima kasih. Tapi ayahmu ini aneh sekali."
"Itulah, dan dia memang hebat bukan main, Twako. Nenek Naga Bumi dan Hek-bong-siauw-jin sendiri sekarang bukan tandingannya!"
"Apa?"
"Benar, dan Sepasang Dewi Naga juga bukan tandingan Ayah, Twako. Ayah sekarang sakti dan hebat."