Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 62

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 62

Kim Mou Eng kaget bukan main, namun berseru penasaran, berjungkir balik, dan mematahkan daya tolak itu. Ketika dia melayang turun namun Hu Beng Kui berkelebat menyerang dari bawah, Kim Mou Eng tersentak mendapat pukulan dahsyat dari si jago pedang itu dan segera menggerakkan kedua tangannya untuk menangkis.

"Blang!" Kim Mou Eng terkejut dan berteriak tertahan. Dia terlempar tinggi ke udara; Pek Sian Ciang miliknya membalik dan membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas. Pendekar Rambut Emas itu hampir kehilangan keseimbangan di udara. Si jago pedang Hu Beng Kui tertawa bergelak dan memburunya sambil berjungkir balik pula, lalu melepas pukulan terakhir.

"Sekarang kau roboh, Pendekar Rambut Emas. Boleh kau kerahkan seluruh Pek Sian Ciang-mu kalau masih penasaran... des!"

Kim Mou Eng tak dapat mengelak lagi. Lawan mengejar dan di udara dia menangkis; kedua tangannya bertemu lengan tunggal Hu Beng Kui, melekat, dan dua pukulan dahsyat itu mengguncangkan tempat tersebut. Bi Lung Hwesio dan yang lain mencelat oleh getaran yang ditimbulkan pukulan itu, terlempar dan terbanting berguling-guling dengan pekik keras. Mereka benar-benar terkejut oleh benturan tenaga sakti tersebut.

Ketika mereka membuka mata dan melihat apa yang terjadi, tampaklah Kim Mou Eng meluncur turun dan jatuh bersama lawannya. Kaki mereka berdua tiba-tiba amblas ke tanah sementara tangan Kim Mou Eng mendorong lengan Hu Beng Kui yang hanya sebuah.

"Ha-ha, kau tak tahan. Pek Sian Ciang-mu tertekan!"

Kim Mou Eng pucat. Dorong-mendorong yang terjadi di antara mereka berdua memperlihatkan dirinya sebagai pihak yang terdesak. Kim Mou Eng mengerahkan Pek Sian Ciang, namun yang dihadapi adalah Khi Bal Sin Kang. Semakin kuat dia mendorong, semakin kuat pula daya tolak itu membalik. Kim Mou Eng mengeluh dan kakinya semakin melesak ke dalam tanah. Ketika dia tak dapat bicara sementara lawan tertawa-tawa, satu bentakan perlahan dari si jago pedang itu membuat kaki Kim Mou Eng amblas lagi sebatas paha.

"Biess!" Kim Mou Eng mengeluh. Orang-orang yang melihat terbelalak. Swat Lian ngeri dan berteriak pada ayahnya. Ketika kembali Kim Mou Eng mengeluh dan Hu Beng Kui tertawa bergelak, tiba-tiba jago pedang itu menarik tangannya. Kim Mou Eng pun terangkat naik dan terbanting ke tanah. Dia tak kuat lagi bertahan karena Khi Bal Sin Kang menggencet Pek Sian Ciang. Tenaga sakti lawan jauh lebih dahsyat daripada tenaga saktinya sendiri. Kim Mou Eng menyadari bahwa dia kalah kelas.

Begitu dadanya semakin sesak dan lawan bisa membunuhnya setiap saat, tiba-tiba gencatan itu lenyap. Hu Beng Kui menariknya dari tanah dan membuang sisa pukulan itu ke kiri. "Biarr!" Pohon di sebelah berderak roboh.

Kim Mou Eng tadi berkutat dan siap mati; betapapun, dia tidak mau memohon ampun. Satu kegagahan yang membuat Hu Beng Kui terbelalak kagum. Karena jago tua ini tak bermaksud membunuh lawannya dan janji lima belas jurus sudah ditepati, maka dengan mudah Hu Beng Kui menarik lawannya itu, membuang seluruh tenaganya, dan melempar tenaga tersebut ke pohon di samping. Korban jiwa tak ada dan Kim Mou Eng pun selamat.

Ketika Pendekar Rambut Emas terbanting dan jatuh terduduk di sana, Swat Lian berkelebat berseru cemas, "Twako, kau tak apa-apa?"

Kim Mou Eng batuk-batuk. Dia tak dapat menjawab segera karena dadanya sesak. Swat Lian sudah mengurut dan memijat sana-sini, membuatnya jengah. Tapi ketika dia bangun berdiri dan mendorong gadis itu, dengan perlahan dia berkata bahwa dirinya tak apa-apa, kecuali lelah.

"Tidak, aku tak apa-apa, Lian-moi. Kecuali kehabisan tenaga. Ayahmu hebat, dia benar-benar bukan tandinganku!"

Terhuyung menghadapi pendekar itu, Kim Mou Eng menjura, betapapun lawan bermurah hati. "Hu Taihiap, terima kasih atas kemurahanmu. Kau benar-benar hebat. Kini aku mengaku bahwa dengan Pek Sian Ciang pun aku bukan lawanmu. Ilmu silatmu hebat dan maju luar biasa pesat. Entah apa itu dan bagaimana kau menciptakannya!"

"Ha-ha!" Hu Beng Kui gembira, memandang Bi Lung Hwesio dan lain-lain. "Sekarang kalian percaya, Bi Lung Losuhu? Aku mampu menghadapi enam iblis dunia itu. Tenanglah, ketua kalian akan kubebaskan dan kalian akan kembali ke tempat masing-masing. Tunggu saja!"

Hu Beng Kui berkelebat menggerakkan kakinya, tiba-tiba menghilang dan lenyap dari tempat itu. Dia tidak banyak bicara lagi dan puterinya pun disambar. Swat Lian berteriak namun sang ayah tak peduli. Saat itu juga jago pedang ini lenyap seperti munculnya; orang tak tahu ke manakah dia pergi.

Seminggu kemudian, Bi Lung Hwesio dan yang lain terkejut melihat ketua mereka sudah ada di tempatnya masing-masing. Kegemparan muncul karena kata-kata si jago pedang ditepati. Bi Kong Hwesio, Swan Cong Tojin, serta ketua-ketua yang lain sudah kembali ke gunung, diselamatkan dan ditolong oleh jago pedang itu. Ketika mereka bercerita betapa dahsyatnya pertempuran menghadapi enam iblis dunia ini, Bi Kong Hwesio maupun yang lain tak habis-habisnya memuji Hu Taihiap.

"Dahsyat, dahsyat sekali. Mirip kejadian di Bukit Malaikat ketika enam iblis itu menghadapi Siansu!"

"Suheng melihat pertandingan itu?"

"Pinceng melihatnya, Sute. Tapi setelah itu tak dapat mengikuti karena getaran atau ledakan pukulan mereka mengguncangkan bumi. Tanah dan batu berhamburan, semua menjadi hiruk-pikuk dan kejadian di Bukit Malaikat terulang. Sungguh ini peristiwa menegangkan yang membuat jantung pinceng serasa copot!"

Bi Lung Hwesio dan lain-lain tertegun. Bi Kong Hwesio, suhengnya, segera menceritakan kedahsyatan perkelahian itu; betapa langit tiba-tiba menjadi gelap dan pukulan seperti petir menyambar-nyambar. Segala penjuru seakan diguncang perkelahian itu dan mereka terpental-pental. Bumi yang diduduki seolah berpegas akibat getaran suara pukulan. Mereka berkali-kali jatuh bangun dan pucat menenangkan diri; mau bersamadhi namun tak dapat. Mereka seakan berada di tengah badai dahsyat, tenggelam dalam sebuah prahara. Mereka, sebagai tokoh-tokoh terkenal, dilanda rasa takut yang hebat; sungguh mencengangkan.

Ketika cerita diakhiri dengan syukur dan rasa terima kasih yang besar terhadap jago pedang itu, Bi Kong Hwesio merangkapkan kedua lengannya. "Amituofo, Buddha masih menyelamatkan pinceng dan kawan-kawan. Syukur ada Hu Taihiap. Dia pantas menjadi penyelamat dan jago tanpa tanding."

"Ya, dan kami telah bersepakat untuk mengangkatnya sebagai bengcu, Suheng. Kami minta Suheng dan ketua-ketua yang lain mendukung dan meresmikan ini!"

Bi Lung Hwesio lalu menceritakan masalahnya; bahwa dia dan wakil-wakil ketua yang lain gelisah dan bingung mencari seorang jago, berjanji akan memberi imbalan dengan mengangkat jago itu sebagai bengcu, pemimpin dunia persilatan. Karena itu sudah pantas diberikan pada Hu Taihiap, Bi Kong sejenak tertegun tapi setuju. Tiba-tiba hwesio ini mengebutkan lengan bajunya dan berkata berseri, "Amituofo, pinceng setuju. Hu Taihiap memang pantas menduduki jabatan itu dan tak ada salahnya menepati janji. Pinceng akan kirim utusan pada ketua-ketua yang lain untuk meresmikan Hu Taihiap sebagai bengcu!"

Begitulah, tak lama kemudian hwesio ini mengirim utusan. Yang dikirim tentu saja sutenya, Bi Lung Hwesio. Kebetulan ia mendapat urusan pula dari partai-partai lain seperti Hong-san, Liong-san, dan Kun-lun, serta partai lain yang ketuanya telah diselamatkan Hu Beng Kui. Masing-masing telah mendengar keterangan wakilnya mengenai keputusan mereka dulu, bahwa siapa pun yang dapat menyelamatkan ketuanya, dialah bengcu yang akan menduduki tempat terhormat di dunia persilatan. Jabatan yang masih di atas jabatan ketua-ketua partai sendiri.

Ketika hari itu utusan saling kunjung-mengunjungi, tak lama kemudian Ce-bu, tempat tinggal Hu Beng Kui, dijadikan markas atau pusat kedudukan bengcu. Hu Beng Kui atau Hu Taihiap diangkat secara resmi sebagai pemimpin dunia kang-ouw, disambut tawa bergelak oleh si jago pedang itu dan semua orang bergembira. Jago pedang yang sudah ternama ini menjadi kian tersohor.

Enam iblis dunia tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar beritanya. Ketika dunia kang-ouw sudah resmi dipimpin jago pedang ini dan semua ketua partai tunduk di bawah perintahnya, sesuatu yang mengejutkan akan terjadi dan bakal menggegerkan semua orang.

***

"Ibu, siapakah ayahku sebenarnya?" Pertanyaan ini diluncurkan seorang anak laki-laki kepada ibunya. Anak itu berusia kurang lebih lima tahun, tampan, dan bersih. Sekali lihat, orang tahu bahwa anak ini bukan anak sembarangan; sikap kebangsawanan ada pada diri anak itu, pada matanya, dan pada gerak-geriknya.

Ketika sang ibu, wanita cantik berusia tiga puluhan tahun, menghela napas panjang, ibu ini bertanya, "Ituchi, untuk apa kau tanyakan ini pada ibumu? Buat apa?"

"Aku mendengar ejekan anak-anak Han, Ibu. Katanya suamimu itu anakmu sendiri!"

"Hush, siapa bilang?" Sang ibu terkejut, bangkit, melepaskan anak itu, dan terbelalak dengan muka berubah. Dia tersentak dan kaget oleh pertanyaan puteranya ini. Ketika sang anak berdiri tegak dan tidak segera menjawab, tiba-tiba sang ibu terisak dan menangis tersedu-sedu.

"Ituchi, kau lancang. Kau kurang ajar, kutampar nanti!"

Anak itu menunduk. Ibunya yang menangis tersedu-sedu tiba-tiba melempar diri ke kamar, tengkurap di atas pembaringan. Sementara dia melongo dan terkesima memandang ibunya, anak ini pun melangkahkan kaki dan memeluk ibunya itu.

"Ibu, apakah aku salah? Baiklah, aku tak akan menanya hal itu lagi, tapi usir anak-anak Han itu dan jangan biarkan mereka memperolok aku!"

Cao Cun, ibu muda ini, mengguguk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment