Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 63

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 63

Dialah wanita yang selalu bernasib malang itu. Hari itu suaminya kedatangan tamu, dan anak-anak para tamu itu—putra menteri serta pejabat dari kota raja yang diutus kaisar untuk mengamati perkembangan bangsa liar—datang ke tempat Cao Cun tinggal. Cao Cun sendiri kini memiliki tiga orang putra: seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan.

Ketika Ituchi, anak laki-lakinya, bertanya dan menusuk perasaannya dengan pertanyaan siapakah ayahnya, wanita ini menangis tersedu-sedu. Memang tak dapat disalahkan; anak, melalui pergaulan dan lingkungan, mulai mendapat pengalaman serta perkembangan batin. Apa yang didengar itulah yang diserap, apa yang dilihat itulah yang didapat.

Ketika Ituchi bermain dengan anak-anak pembesar itu dan kebetulan di antara mereka ada yang mendengar tentang riwayat Cao Cun, anak-anak itu mengejek Ituchi dan menghinanya. Ituchi marah dan kini bertanya pada ibunya. Namun, melihat ibunya menangis dan tidak menjawab pertanyaannya, tiba-tiba anak ini menggigit bibir dan mengguncang-guncang tubuh ibunya.

"Sudahlah, aku tak akan bertanya lagi, Ibu. Diamlah..." Cao Cun akhirnya menghentikan tangisnya.

Sang anak dipandang. Beradu dengan mata yang bening itu, Cao Cun seolah menatap mendiang suami pertamanya, Raja Hu. Mata itu keras namun lembut. Cao Cun tak dapat menahan diri dan menyambar anaknya itu, kembali dia menangis tersedu-sedu. Namun, ketika Ituchi berontak dan lepas dari pelukannya, anak ini berkata dengan marah, "Ibu, aku tak mau kau menangis. Diamlah atau aku pergi!"

Cao Cun terkejut. Ituchi berdiri berang memandangnya. Wanita ini tersentak dan kembali kaget. Itulah sikap Raja Hu dulu kalau kata-katanya tidak mau dituruti. Kini anaknya mewarisi sikap itu, dan tertegunlah wanita cantik ini. Namun, mengusap air matanya, Cao Cun menghentikan tangisnya, mengangguk, dan meraih anaknya dengan gemetar.

"Ituchi, kau benar. Ibu sekarang diam dan jangan tinggalkan ibumu. Kau tak akan ke mana-mana, bukan?"

"Tentu saja, tapi kau jangan selalu sedih, Ibu. Aku tertusuk dan ikut berduka. Diamlah dan mari kita bermain."

Cao Cun tersenyum. Kalau putranya sudah bicara seperti itu, dia akan terhibur. Ituchi mengambil mainannya dan mulai mengajak sang ibu bermain. Karena hidup di lingkungan yang serba cukup, putranya memiliki bermacam-macam mainan menarik, mulai dari kuda batu sampai harimau yang terbuat dari pualam. Ketika dia mulai melayani puteranya bermain, Wan Hoa, sahabatnya, muncul dan melihat bekas tangis di pipi Cao Cun.

"Eh, kau nakal kepada ibumu, Ituchi?"

Sang anak tertegun. "Bibi, aku hanya bertanya pada Ibu tentang siapakah sebenarnya ayahku, tiba-tiba Ibu menangis. Salahkah aku?"

Wan Hoa terkejut dan mengerling ke arah Cao Cun. "Untuk apa bertanya itu?" tanyanya kaget. "Ayahmu adalah Cimochu itu, Ituchi. Pemimpin dan raja bangsa ini!"

"Tidak," anak itu menggeleng. "Anak-anak Han mengatakan Cimochu adalah anak Ibu, Bibi. Katanya Ibu dikawin anaknya sendiri dan mau!"

"Tutup mulutmu!" Wan Hoa membentak, kaget sekali. "Kau tak perlu mempercayai omongan itu. Ituchi, kau bergaul dengan anak-anak liar!"

"Kalau begitu," anak ini menimpali dengan berani, "kenapa Bibi tidak menghajar anak-anak itu? Mereka yang mengatakan, Bibi, dan jangan kau marah-marah kepadaku!"

"Sudahlah," Cao Cun tiba-tiba menangis lagi. "Ituchi harus kita awasi secara ketat, Wan Hoa. Dia bergaul dengan anak-anak buruk dan tak sopan. Anak-anak menteri itu sungguh kurang ajar dan tak tahu diri."

"Siapa mereka itu?"

"Mao Ping, anak Mao Taijin!"

Wan Hoa tersentak. Jawaban Ituchi ini membuat dia teringat pada menteri yang jahat dan tamak itu. Sesungguhnya menteri itulah yang mencelakakan nasibnya dan Cao Cun, membuang mereka dari istana hingga kini hidup di tengah-tengah suku bangsa liar. Tapi Cao Cun yang tersedu dan menyambar lengannya berkata, "Wan Hoa, sudahlah. Jangan remas-remas perasaanku lagi dengan semua ini. Ituchi hanya ikut-ikutan, jangan salahkan dia!"

Sambil mencium dan memeluk putranya dengan air mata bercucuran, Cao Cun menyuruh anaknya itu tak bicara lagi tentang hal tersebut. Hatinya terasa sakit sekali karena kata-kata itu amat menusuk. Bangsa Han memang amat memandang rendah dirinya setelah menjadi istri Cimochu; mereka tak tahu betapa semuanya itu dilakukan atas kehendak istana. Bahwa dia harus mengendalikan raja liar itu agar Tiongkok tidak diserang—sudah cukup banyak Tiongkok menghadapi musuh-musuh bangsa liar.

Ketika Wan Hoa tertegun dan mengumpat menteri durjana itu, Cao Cun menyerahkan anaknya agar menemani Ituchi pergi ke belakang. Di sana, wanita cantik ini melampiaskan tangisnya. Sakit yang bertubi-tubi semakin bertambah dengan kekurangajaran anak-anak Han itu, terutama Mao Ping, putra Mao Taijin. Tapi karena anak-anak itu dihasut orang tuanya, Cao Cun tak dapat berbuat apa-apa, sehingga hari-hari berikutnya dilewatkan wanita ini dengan perasaan tertekan.

Tamu-tamu dari istana sudah pulang kembali dan Ituchi tampaknya biasa-biasa lagi; tak bertanya lagi tentang hal itu, dan lama-kelamaan lenyaplah kedukaan wanita itu mengenai satu hal ini. Namun, ketika beberapa tahun kemudian Cimochu meninggal dan kedudukan diganti oleh Khan atau raja yang lain, dia mulai mendengar berita tidak enak tentang putranya itu.

"Ituchi keturunan langsung dari Raja Hu. Kalau anak itu dibiarkan hidup dan tumbuh dewasa, tentu dia akan merebut takhta dan meminta haknya."

"Hm, apa yang harus kita lakukan?"

"Bunuh anak itu, Sri Baginda. Lenyapkan pohon penghalang sebelum dia besar dan kuat!"

Berita-berita begini membuat Cao Cun panik. Secara selentingan, wanita itu mendengar kabar yang mencemaskan ini. Raja baru, Khan yang baru, mulai sering melirik anaknya. Cao Cun gelisah dan tidak nyaman. Ketika Wan Hoa mendengar berita itu juga dan menyampaikannya dengan hati-hati, Cao Cun menangis.

"Wan Hoa, hidupku selalu dirundung duka. Kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja dan membiarkanku begini? Apa yang harus kulakukan, Wan Hoa? Kenapa cobaan demi cobaan bertubi-tubi menimpa nasibku?"

"Tenanglah," Wan Hoa gemetar. "Satu-satunya jalan, Ituchi harus disingkirkan dari sini, Cao Cun. Biarkan dia pergi dan selamat."

"Pergi ke mana? Selamat bagaimana?"

"Aku... aku akan mencari Kim Mou Eng. Aku akan mengantar anakmu pada bangsa Tartar. Aku hendak menyerahkan anakmu pada Kim Taihiap! Kau setuju?"

"Kim Mou Eng...?" Cao Cun tertegun. "Kau... kau mau mencari Pendekar Rambut Emas, Wan Hoa? Kau tak jera setelah bertahun-tahun dia tak pernah menemui kita lagi?"

"Hm, aku tak pernah jera, Cao Cun. Kalau Kim Mou Eng tak pernah menjenguk kita, tentu karena ada sebabnya. Mungkin masalah anaknya yang diculik itu, atau karena istrinya yang terbunuh."

"Oh, Kim Twako juga bernasib malang!" Cao Cun yang tersedu dengan muka bingung ternyata masih menaruh kasihan dan iba terhadap Pendekar Rambut Emas itu, lupa sejenak bahwa dirinya pun menderita sepanjang hidupnya. Bahkan kini putra tunggalnya, karena Ituchi merupakan satu-satunya anak lelaki, siap akan disingkirkan dan dibunuh.

Ketika wanita itu menangis dan Wan Hoa tak sabar, tiba-tiba wanita ini bertanya lagi, "Bagaimana, kau memperbolehkan Ituchi keluar, Cao Cun?"

Cao Cun menghapus air matanya. "Bagaimana menurut pikiranmu?" dia balik bertanya. "Apakah satu-satunya anak lelakiku harus berpisah dari ibunya?"

"Cao Cun," Wan Hoa menasihati, "apa yang akan terjadi justru menyangkut masa depan Ituchi. Raja yang sekarang tampaknya tak senang dan khawatir anakmu merebut takhta. Bukankah sebaiknya anakmu disingkirkan dan diselamatkan? Aku cemas akan sikap Raja akhir-akhir ini. Aku khawatir dan gelisah akan hidup anakmu!"

"Benar, aku juga tak tenang. Ah, kau panggillah anakku itu, Wan Hoa. Suruh Ituchi kemari!"

Wan Hoa lenyap memanggil anak laki-laki itu. Ituchi sekarang sudah berumur sepuluh tahun, gagah dan semakin tegap. Matanya bersinar-sinar ketika menghadap ibunya. Dan ketika Cao Cun menubruk dan memeluk anaknya itu, sang ibu menangis tersedu-sedu dan tak dapat menahan kembali cucuran air matanya.

"Eh, ada apa lagi, Ibu? Kenapa kau menangis?"

"Ah, huk... kau... kau harus keluar dari tempat ini, Ituchi. Bibimu Wan Hoa akan membawamu ke tempat yang jauh!"

Ituchi terkejut. "Apa?"

"Benar," Wan Hoa kini memotong. "Kau harus berpisah sementara dengan ibumu, Ituchi. Aku akan membawamu ke tempat Kim Mou Eng."

"Ada apa? Kenapa?"

Wan Hoa tak dapat menjawab. Dia hendak menyerahkan jawabannya pada Cao Cun, sang ibu. Tapi Cao Cun yang juga tak dapat menjawab dan justru semakin terguncang-guncang, mendadak mendekap putranya itu erat-erat.

"Ituchi, kau tak usah bertanya. Pokoknya, ini demi keselamatanmu!"

"Tidak," anak itu melepaskan diri. "Kau tak usah berahasia kepadaku, Ibu. Kalau kau tak berterus terang dan jujur kepadaku, aku tak mau pergi!"

"Hm." Wan Hoa terkejut, menyadari sulitnya berterus terang. "Kau tak usah membantah ibumu, Ituchi. Pokoknya siapkan pakaianmu dan kita pergi!"

Anak itu mengedikkan kepala. "Apakah Bibi pengecut? Mana itu pelajaran-pelajaran dari Bibi bahwa orang hidup harus jujur dan berani? Mana itu nasihat Bibi bahwa kita harus berterus terang dan tak perlu sembunyi-sembunyi? Kau mengajari aku untuk tidak berbohong, Bibi. Tapi sekarang kau menyembunyikan sesuatu dan tidak jujur! Kenapa Bibi melakukan ini dan hendak memaksa aku pergi? Apakah takut karena mendengar berita-berita di luaran bahwa aku hendak dibunuh?"

"Ituchi...!" Cao Cun terpekik, menjerit mendengar kata-kata anaknya ini. "Apa... apa yang kau omongkan ini?"

"Hm," anak itu berdiri gagah. "Kalau itu yang menjadi maksudmu, aku tak mau, Ibu. Aku tak mau pergi dan ingin tetap tinggal di sini, menemanimu. Aku tak takut dibunuh, dan boleh mereka bunuh aku kalau bisa!"

"Ituchi... ooh...!" Cao Cun yang mengguguk dan mencengkeram putranya itu tiba-tiba tersedu kembali dan tak dapat menahan luka hatinya yang teriris-iris, sementara Wan Hoa di sana tertegun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment