Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 64

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 64

Wanita itu tersentak dan kaget mendengar kata-kata anak laki-lakinya. Rupanya, Ituchi sudah tahu, namun ia tidak merasa takut atau gentar.

Betapa tabahnya anak ini. Betapa beraninya!

Ketika Wan Hoa tertegun dan memandang anak laki-laki itu, Ituchi memeluk ibunya dengan tubuh gemetar.

"Ibu, tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Aku sudah tahu dan mendengar berita ini, tapi aku tidak takut. Bukankah aku keturunan Raja Hu, Ibu? Bukankah ayahku adalah raja yang gagah dan berani?"

"Kau sudah tahu?" Cao Cun terbelalak.

"Aku sudah tahu semuanya, Ibu. Aku tahu bahwa mendiang Cimochu adalah kakakku, bukan ayahku. Ayahku adalah Raja Hu!"

Cao Cun yang tersedak tangis segera menubruk anaknya. "Ituchi, kau benar. Ah, kau memang sudah besar."

"Ibu tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi, bukan? Katakan padaku, mengapa aku harus meninggalkanmu? Apakah karena takut mendengar ancaman itu atau karena sebab lain?"

"Sebab lain!" Wan Hoa tiba-tiba menyela sebelum Cao Cun menjawab. "Kami berdua, aku dan ibumu, tidak takut karena ancaman itu, Ituchi. Melainkan karena sebab lain, di mana aku meminta ibumu agar kau belajar silat dan mencari guru yang pandai!"

"Hm, begitukah?"

Wan Hoa segera mengedip pada Cao Cun. "Tentu saja. Kau tanyakan pada ibumu, Ituchi. Ibumu tentu akan menjawab hal yang sama. Kau adalah keturunan Raja Hu yang gagah, yang tidak perlu takut pada kematian atau ancaman kematian!"

"Benarkah, Ibu?" Anak itu menoleh. "Atau Ibu akan tidak jujur dan mendustai aku?"

Cao Cun terpukul. Selama ini, ia dan Wan Hoa selalu menekankan pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam mendidik Ituchi. Namun, mendengar anaknya kini "menodong" dengan senjata yang sering mereka ajarkan sendiri, Cao Cun tertegun dan tidak dapat segera menjawab. Setelah mendapat kerlingan tajam dari Wan Hoa agar tidak ragu, ibu muda itu akhirnya merangkul anaknya sembari menyembunyikan wajah.

"Ituchi, apa yang dikatakan bibimu benar. Ibu menyuruhmu pergi bukan karena takut, melainkan semata-mata ingin mencarikan guru yang pandai untukmu. Kau sudah mendengar cerita Ibu tentang Kim-mou-eng, bukan? Dia ada di utara, anakku. Pergilah dan temuilah dia diantar Bibi Wan Hoa. Bibi akan memperkenalkanmu dengan Pendekar Rambut Emas!"

Anak itu girang. "Ibu menyuruhku belajar silat?"

"Untuk kebaikanmu, Ituchi. Demi menjaga dirimu sendiri."

"Tapi Ibu sering berkata bahwa belajar silat adalah pekerjaan orang-orang kasar, tukang pukul, dan sebangsanya!"

"Hm, itu untuk mereka yang sombong, Ituchi. Tapi untuk orang seperti Pendekar Rambut Emas, hal itu tidak berlaku. Ilmu silat digunakan untuk melindungi yang lemah di samping menjaga diri."

"Baiklah, kapan aku berangkat, Ibu?"

"Kau setuju?"

"Tentu saja. Selama ini aku hanya belajar membaca dan menulis. Aku ingin seperti Paman Kim-mou-eng atau pendekar-pendekar lainnya!"

Bujukan dan kebohongan kecil itu berhasil menyelamatkan Ituchi. Cao Cun merasa lega, meskipun diam-diam ia merasa malu dan jengah. Untuk pertama kalinya, ia berbohong demi keselamatan putranya. Malam itu, setelah segala persiapan diatur, Wan Hoa membawa Ituchi pergi meninggalkan ibunya serta suku bangsanya.

"Kau tak perlu pulang kalau belum sanggup menjaga diri sendiri. Jaga dirimu baik-baik, anakku. Doa dan restu Ibu selalu menyertaimu."

"Dan jangan lupa sembahyang!" Wan Hoa memperingatkan. "Berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah pekerjaan yang tidak boleh dilupakan manusia, Ituchi. Jadilah kau pendekar yang berwatak dan berakhlak mulia!"

Ituchi mengangguk. Ibunya melepas kepergian itu dengan derai air mata; Cao Cun tidak sanggup menahan kepedihan. Ituchi adalah satu-satunya anak laki-laki baginya, anak yang diharapkan akan melindunginya. Namun, ketika Wan Hoa membawa Ituchi beranjak pergi, mereka lenyap ke dalam kegelapan malam.

"Ituchi, tunggu dulu!"

Seruan itu menghentikan langkah mereka. Cao Cun berlari menubruk anaknya, menciumnya sebelum benar-benar kehilangan. Ketika adegan itu membuat Wan Hoa terpaksa membuang muka karena tidak tahan melihatnya, Cao Cun segera berbalik lari ke kamarnya.

"Pergilah... pergilah sekarang. Aku sudah puas!"

Wan Hoa yang tersedak pun tidak bisa menahan diri lagi, ia merangkul anak itu dengan air mata bercucuran. "Ituchi, ayo berangkat!"

Mereka pun pergi. Wan Hoa, sahabat setia Cao Cun yang tidak pernah terpisahkan, merasa perjalanan ini sangat sulit. Karena ia telah menganggap Ituchi seperti anak kandung sendiri, ia bertekad melindungi anak itu sekuat tenaga dari segala ancaman.

Mula-mula, mereka harus melewati penjaga perbatasan. Wan Hoa mendekap mulut Ituchi dengan kuat agar anak itu tidak berteriak. Namun, ketika Ituchi melepaskan tangan bibinya dan memintanya tenang, Wan Hoa takjub. Sikap luar biasa anak ini mengingatkannya pada mendiang Raja Hu.

"Bibi tidak usah takut. Jika ingin aku tenang, aku tentu tidak akan berteriak. Lepaskan, aku tidak akan menyusahkanmu," ucap Ituchi dengan tenang.

Setelah lolos dari penjaga perbatasan, perjalanan berlanjut melintasi padang ilalang. Wan Hoa merasa ngeri membayangkan perampok, tetapi anak itu kembali menenangkannya.

"Bibi tidak usah takut. Jika ada perampok atau orang yang mengganggu kita, aku dapat menghadapi mereka."

"Ah, kau masih kecil, Ituchi. Mana mungkin?"

"Meskipun kecil, aku laki-laki, Bibi. Laki-laki harus melindungi perempuan, bukan sebaliknya!"

"Sst, diam, Bibi. Tugasmu hanya mengantar. Kau bukan melindungi atau menjaga aku, tapi mengantar!" potong Ituchi. Wan Hoa terbelalak dan wajahnya memerah. Kata-kata itu diartikan secara cerdik oleh sang bocah. Sejak saat itu, anak itulah yang memimpin perjalanan dan menuntun Wan Hoa.

Tiba-tiba, beberapa perampok muncul. "Ha-ha, siapa kalian? Mau ke mana?"

Ituchi berhenti, sementara Wan Hoa terlihat pucat. Namun, Ituchi justru maju ke depan. "Kalian siapa? Mengapa menghadang perjalanan orang? Kami bibi dan keponakan, Paman yang baik. Harap kalian minggir dan tidak mengganggu kami!"

"Ha-ha, bibi dan keponakan? Mana pamannya? Heh, kami tidak akan minggir kalau belum menerima sesuatu, Bocah Cilik. Aku Yagu, penguasa padang ilalang ini!"

"Kau perampok?"

"Tutup mulutmu! Aku ini penarik pajak!"

Ituchi marah. Ia tahu orang-orang ini adalah penjahat dari sikap mereka yang kasar. Wan Hoa, dengan gemetar, segera maju melindungi anak itu. "Yagu, tahan! Jangan ganggu keponakanku. Jika kalian ingin merampas barang-barang kami, silakan, tapi jangan ganggu anak ini!"

"Ha-ha, siapa dia? Keberaniannya luar biasa, seperti anak raja!"

"Aku Itu—"

"Sst!" Wan Hoa menyela, "Tidak perlu kau memberitahukan nama, Ituchi. Biar kulepas gelangku, jangan ribut!"

Wan Hoa menyerahkan gelang emasnya kepada kepala rampok itu. Yagu tertawa gembira, namun tak lama kemudian ia membentak kembali. "Heh, hanya ini saja? Tak ada yang lain? Serahkan yang lain, Nyonya Manis. Kalau tidak, kalian tidak boleh pergi!"

"Wut!" Ituchi tiba-tiba menyerang dengan ayunan tinju. "Kau kembalikan gelang bibiku, perampok kasar! Atau aku akan berkelahi denganmu sampai mampus!"

Sembari berteriak marah, anak itu terus memukul dan menendang sang perampok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment