Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 65

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 65

Si kepala rampok tertawa terbahak-bahak bersama anak buahnya, sementara mereka terus mengelak dari serangan Ituchi. Anak itu semakin marah dan menyerang dengan kalap.

Tiba-tiba, si kepala rampok mengejek dan menangkap tangan Ituchi. Ia membentak lalu membanting anak itu. "Jangan kurang ajar!"

*Brukk!* Ituchi terbanting ke tanah. Meski kesakitan, ia menggeliat dan bangkit lagi untuk menyerang. Anak itu tidak merasa takut, membuat lawannya menggeram kesal. Yagu, si kepala rampok, terbelalak melihat kebandelan Ituchi. Ketika Wan Hoa menjerit hendak mencegah Ituchi, anak buah rampok segera menyergap dan menubruknya.

"Ha-ha, ini makanan nikmat! Kau banting anak itu, biar bibinya kami tundukkan!"

Wan Hoa yang kalang kabut tiba-tiba mencabut badik. Ia mengayunkan pisau itu ke sana kemari sekuat tenaga hingga lawan terkejut dan mundur. Kepala rampok itu semakin terbelalak, namun ketika anak buahnya hendak menyerang Wan Hoa dengan senjata, mereka diperintahkan mundur. Di saat yang sama, kepala rampok itu menangkis pukulan Ituchi hingga anak itu terpelanting dan berteriak kesakitan. Setelah itu, ia berkelebat menyambar Wan Hoa.

"Lepaskan pisau itu!" bentak Yagu.

Meskipun tidak menguasai ilmu silat, Wan Hoa tetap melawan sebisanya dengan menikamkan pisau ke arah depan. Namun, Yagu dengan mudah menyelinapkan lengan dan menangkis pisau tersebut.

*Plak!* Pisau terlempar dan Wan Hoa jatuh terduduk. Si kepala rampok segera menyambar dan melumpuhkan kedua tangan wanita itu. Ketika para perampok bersorak gembira, Ituchi yang telah terbanting dua kali tiba-tiba melompat kembali tanpa menghiraukan rasa sakitnya. "Lepaskan bibiku!"

Sang kepala rampok terbelalak, heran sekaligus kagum akan daya tahan anak itu. Ia menendang Ituchi hingga anak laki-laki itu terpental. Tentu saja, Ituchi bukan tandingan lawan yang tangguh ini. Ketika Ituchi bangkit dan menerjang lagi, Yagu memerintahkan anak buahnya untuk menangkap bocah itu. Keadaan berbalik; Wan Hoa tertawan, sementara Ituchi dipukuli dan ditendang habis-habisan hingga babak belur. Meski begitu, anak itu tidak sedikit pun mengeluh.

Wan Hoa menjerit-jerit, menangis, dan meronta, namun Yagu memperkuat cengkeramannya. Setelah dihajar habis-habisan, Ituchi akhirnya mengerang dan tak dapat bergerak lagi karena dikeroyok.

"Keparat kalian! Jahanam! Tidak malukah kalian mengeroyok seorang anak kecil?" teriak Wan Hoa.

"Ha-ha, dia tidak akan dihajar kalau tidak kurang ajar. Sekarang diamlah dan lihat, anak ini akan kami bunuh!"

"Tidak!" teriak Wan Hoa. "Jangan bunuh dia, Yagu. Kalian akan berhadapan dengan Khan jika berani membunuhnya!"

Mendengar nama Khan, Yagu tertegun. Sebagai orang kasar, ia tidak memahami politik atau perubahan kekuasaan di suku tersebut. Ia tidak tahu bahwa Khan yang baru justru menghendaki nyawa anak itu. Wan Hoa hanya bersikap untung-untungan. Melihat keraguan Yagu, Wan Hoa melanjutkan, "Yagu, dia putra Raja Hu. Jika kau berani mengganggunya, seluruh bangsa itu akan memburu dan membunuhmu!"

"Hmm, benarkah?" Kepala rampok itu menyeringai, merasa takut juga. "Baiklah, aku percaya padamu. Kalian boleh pergi!"

Yagu bersuit memberi tanda. Tak lama kemudian, para perampok itu menghilang. Wan Hoa segera berlari menghampiri Ituchi yang babak belur. Sambil menangis tersedu-sedu, ia membersihkan luka dan darah di wajah keponakannya itu lalu menggendongnya.

"Ituchi, kita selamat. Syukur kau tidak diganggunya!"

"Ah, tapi gelangmu diambilnya, Bibi. Mereka terkutuk!"

"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Sekarang kita lanjutkan perjalanan, diamlah," ujar Wan Hoa sambil menahan tangis. Dengan tertatih-tatih, ia membawa Ituchi pergi menjauh dari tempat celaka itu.

Dalam pelarian malam itu, mereka tidak memungkinkan membawa kuda agar jejak tidak ketahuan. Esok harinya, saat mereka menempuh perjalanan dengan letih dan haus, Ituchi menahan tangis melihat kasih sayang bibinya.

"Bibi, turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri."

Wan Hoa tertegun. "Kau tidak bohong? Bukankah kakimu masih sakit?"

"Aku bisa berjalan, Bibi. Coba turunkan dan lihat!" Ituchi memaksakan diri. Ia meloncat turun dan mencoba menapakkan kaki. Meski hampir menjerit, ia menggigit bibir kuat-kuat. Ia tersenyum meski tumitnya terasa nyeri. "Lihat, aku bisa berjalan, Bibi. Jangan khawatir, ayo!"

Wan Hoa merasa girang meski harus terseok-seok. Ituchi harus mengeraskan hatinya menahan sakit akibat kakinya yang terkilir. Berkali-kali mereka bertemu pengganggu di jalan, namun Wan Hoa selalu berhasil menggertak mereka dengan nama Khan.

Seminggu kemudian, saat perjalanan hampir sampai di tujuan, tiba-tiba auman harimau mengagetkan mereka.

"Ah, celaka!" Wan Hoa merasa lemas. Seekor harimau buas sedang kelaparan muncul di depan mereka. Pakaian mereka yang compang-camping membuat mereka tampak seperti gelandangan, namun sinar wajah Ituchi tetap memancarkan kewibawaan seorang raja.

"Ituchi, bersembunyi di belakangku!"

"Tidak, kau yang di belakang, Bibi. Akulah yang bertanggung jawab!" Ituchi mencabut badik milik bibinya dan mengayun-ayunkannya dengan gagah, meski sebenarnya ia merasa ngeri.

Harimau itu tiba-tiba menerkam. Ituchi berkelit dan berhasil mengelak, namun pundaknya tersambar kuku harimau hingga pakaiannya robek. Ituchi bergulingan dan mendorong bibinya hingga terjatuh. Pertarungan tidak seimbang pun terjadi; bocah sepuluh tahun itu mencoba melawan raja hutan yang jauh lebih kuat.

Wan Hoa menjerit-jerit sambil melempari harimau dengan batu, namun ia justru tertampar kuku tajam hingga terlempar. Ituchi terus bertarung mati-matian. Akhirnya, pisau di tangannya terlepas setelah menghantam batok kepala harimau yang keras. Sang raja hutan mengaum, siap menghabisi nyawa anak itu. Tubuh Ituchi sudah berlumuran darah.

Tepat saat harimau itu hendak menerkam kembali, sebuah bayangan laki-laki berpakaian hitam berkelebat dengan cepat.

"Binatang terkutuk, robohlah!"

Harimau itu mengeluarkan auman panjang, lalu jatuh berdebuk dengan kepala pecah. Ituchi, yang masih pusing dan kesakitan, tidak tahu apa yang terjadi. Wan Hoa yang melihat laki-laki gagah itu segera menubruk dan menangis di kakinya.

"Oh, terima kasih, Tuan Penolong, terima kasih!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment