Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 66

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 66

"Kau telah menyelamatkan anakku!" Wanita itu bangkit dan berlari menghampiri, lalu menubruk serta memeluk anak laki-laki itu.

"Kau tak apa-apa? Kau terluka? Ah, tubuhmu penuh darah, Ituchi. Mari kubersihkan dan lihat tuan penolong kita!" Wan Hoa merobek ujung bajunya sendiri, membersihkan darah dan kotoran, lalu menciumi anak itu dengan gemetar. Maut yang hampir menyergap Ituchi membuat nyawa Wan Hoa seakan ikut terbang. Ketika semuanya selesai dan Ituchi berdiri terhuyung, Wan Hoa mengajak anak itu berlutut di depan sang penolong.

"Inkong, terima kasih. Kau telah menyelamatkan mutiara satu-satunya yang kumiliki!"

"Bangunlah," laki-laki yang sejak tadi memandang Ituchi dengan tatapan berbinar itu mengangkat tubuh sang wanita. "Kalian siapa dan mau ke mana? Bagaimana bisa berjalan sendirian di tempat seperti ini?"

"Aku Wan Hoa, Inkong. Ini puteraku, Ituchi!"

"Mau ke mana? Kenapa tidak ada laki-laki mengawal kalian?"

"Kami hendak mencari Kim-mou-eng ke bangsa Tatar."

"Kim-mou-eng? Astaga! Apakah kalian sahabatnya?" Wan Hoa mengangguk. Dia akhirnya berterus terang dan menceritakan bahwa Kim-mou-eng memang sahabatnya. Ia tidak menyembunyikan diri karena merasa penolongnya adalah orang yang dapat dipercaya. Ketika Wan Hoa mengutarakan maksudnya hendak menyerahkan Ituchi agar menjadi murid Pendekar Rambut Emas itu, ia balik bertanya siapakah pria tersebut.

"Aku Hek-eng Taihiap (Pendekar Garuda Hitam)." Laki-laki itu tertegun sejenak. "Dan kebetulan, Kim-mou-eng adalah sahabatku juga!"

"Ah, kalau begitu kebetulan, Taihiap. Aku merasa gembira mendengarnya!"

"Dan, hmm... puteramu ini. Benarkah dia puteramu? Kenapa dia memanggilmu bibi?" Hek-eng Taihiap merasa bingung karena tadi mendengar Ituchi memanggil Wan Hoa dengan sebutan bibi.

Wan Hoa tersenyum memandang keponakannya. "Benar, dia anak kandung saudaraku sendiri, Taihiap. Aku memang bukan ibunya, tapi aku menganggapnya seperti anak sendiri."

"Namanya berbau asing, sedangkan kau jelas wanita Han. Siapakah sebenarnya anak ini?"

"Aku Ituchi, Paman. Anak ibuku bernama Cao Cun!"

"Cao Cun? Eh, kalau begitu... Hei!" Hek-eng Taihiap tiba-tiba berseru. "Kau anak Raja Hu? Ibumu adalah calon selir kaisar yang tidak jadi itu?"

"Benar," jawab Wan Hoa. "Itulah ibu anak ini, Taihiap. Dan kau tentu tahu bahwa ibu anak inilah yang sebenarnya menjadi sahabat Kim-taihiap!"

"Ah! Tentu saja aku tahu, Wan Hoa. Pantas saja kalau begitu!"

"Pantas apa?"

"Anak ini, kegagahannya! Dia benar-benar mengagumkan dan pantas sebagai putera Raja Hu!" Hek-eng Taihiap kemudian bertanya, "Ituchi, kenapa kau tidak dikawal pengawalmu? Mengapa harus sendirian bersama bibimu?"

Wan Hoa tiba-tiba terisak. "Dia diancam akan dibunuh, Taihiap. Khan yang baru tidak menyukai kehadiran anak ini. Kami mencari Kim-mou-eng bukan karena takut, melainkan semata ingin memberikan bekal kepandaian kepada anak ini!"

Wan Hoa memberi sekilas isyarat rahasia agar Hek-eng Taihiap tidak banyak bertanya. Pendekar itu tentu tertarik, namun sebelum ia bertanya lebih jauh, Wan Hoa sudah menyambar keponakannya untuk pamit.

"Inkong, terima kasih. Sekali lagi budimu tak dapat kubalas. Perkenankan kami pergi dan biar nanti kuceritakan pada Kim-taihiap!"

Setelah berlutut, Wan Hoa segera memutar tubuhnya dan bergegas meninggalkan pendekar itu, takut jika ditanya lebih jauh tentang Ituchi. Anak itu sejak tadi memandangnya dengan kening berkerut; Ituchi kini lebih cerdas dan sering merasa curiga terhadap sesuatu. Begitu mereka beranjak pergi, Hek-eng Taihiap hanya bisa tertegun melihat sosok bibi dan keponakan itu menghilang.

Wan Hoa tidak ingin bicara banyak lagi. Kemah bangsa Tatar sudah mulai terlihat, langkahnya semakin cepat karena kegirangan. Ia ingin segera bertemu Kim-mou-eng dan menyerahkan anak itu agar tugasnya selesai. Namun, ketika tiba di tempat bangsa Tatar dan bertemu penjaga, perasaannya terguncang.

"Kim-taihiap tak pernah pulang. Sejak kematian istrinya dan hilangnya Dailiong, pemimpin kami belum pernah kembali. Ada apakah kau mencari Kim-taihiap?"

Wan Hoa tiba-tiba menangis.

"Eh, kenapa menangis?"

"Siapa yang tidak menangis kalau hati terasa kecewa? Jauh-jauh aku datang mengantar anak ini, Twako, dan ternyata Kim-taihiap tidak ada! Apa yang harus kulakukan?"

"Siapa dia?"

Wan Hoa tidak menjawab. Ia tiba-tiba menubruk dan mendekap Ituchi, menangis penuh sesal. Perjuangannya terasa sia-sia. Namun, saat bibinya mengguguk, Ituchi melepaskan diri dan berkata, "Bibi, untuk apa menangis? Kalau Kim-taihiap belum datang, biarlah kita tunggu atau kita pulang dan mencarinya."

"Apa? Pulang?"

"Hm, kalau tidak mau, kita dapat mencari Kim-mou-eng, Bibi. Atau tinggal dulu di sini menanti kedatangannya."

"Kau enak sekali! Kau kira apa tempat ini, Ituchi? Ini bukan kampung halaman kita, ini rumah orang! Kalau kita di sini dan menjadi beban, tentu orang-orang ini tidak suka. Tidak, kita harus pergi!"

"Hm, siapa kalian sebenarnya?" Seorang pemuda tiba-tiba muncul. "Bukankah kau Wan Hoa? Eh, ini orang yang dulu pernah ke sini, Kwa-ko. Dia Wan Hoa, sahabat Cao Cun, istri Raja Hu!"

Wan Hoa terkejut melihat seorang pemuda tegap bermata tajam muncul. Ia teringat pemuda itu. "Aku Daikim, yang dulu pernah mengantarmu sampai di perbatasan. Ingat?"

"Ah, Daikim-ko rupanya. Benar, aku ingat."

"Ha-ha, ada apa kemari?"

"Dia mencari Kim-taihiap!" jawab Kwa-ko. "Katanya mau mengantar anak ini, Daikim. Tapi entah apa maksudnya, aku tidak tahu!"

Daikim memandang Ituchi. Anak itu menatap balik dengan perasaan tidak senang, merasakan kesan nakal dan liar dari mata Daikim. Ketika Daikim tersenyum dan memegang lengan anak itu, ia bertanya, "Kau putera Raja Hu?"

Ituchi menarik lengannya. "Benar," jawabnya angkuh. "Ada apa kau memegang-megang aku?"

"Ituchi," tegur Wan Hoa kaget. "Jangan kasar terhadap tuan rumah. Ayo minta maaf dan mundur!"

"Ha-ha," Daikim tertawa. "Tak apa, Wan Hoa. Tapi kini aku tahu, kalian pergi secara diam-diam, bukan? Kalian menjauhi Khan yang baru?"

"Daikim! Apa maksudmu?"

Pemuda itu menyeringai. "Aku mendengar apa yang terjadi, Wan Hoa. Bahwa anak ini tidak disukai Khan!" Tanpa memedulikan keterkejutan Wan Hoa, ia berkata kepada temannya, "Kwa-ko, biar tamu kita menginap di sini. Kalau Kim-taihiap datang, kita serahkan padanya. Kau pergilah!"

Kwa-ko mengangguk dan pergi. Kini tinggallah Wan Hoa bersama Daikim. Pemuda itu tersenyum dengan sorot mata yang membuat Wan Hoa merasa tidak nyaman.

"Wan Hoa, marilah. Kau boleh tinggal di kemahku. Aku akan melindungimu dan jangan khawatir akan anak ini."

"Tidak," jawab Wan Hoa tegas. "Kalau Kim-taihiap tidak ada, biarlah kami pergi, Daikim. Kami tidak enak mengganggumu."

"Aha, kau takut?"

"Jangan kau kurang ajar, Daikim. Kalau kuberitahukan Kim-mou-eng nanti, tentu dirimu celaka!"

"Ha-ha, Kim-taihiap tidak ada di sini. Kalau kau mau melapor, laporkanlah, aku tidak takut. Tapi anak ini tentu celaka!" Daikim maju dengan sikap mengancam. "Wan Hoa, aku tahu kau menyelamatkan anak ini dari ancaman Khan yang baru dan ingin berlindung di balik Kim-taihiap. Kalau aku menangkap dan menyerahkan anak ini kepada Khan, tentu besar upahku!"

Pemuda itu menyambar dan menangkap lengan Wan Hoa. Wan Hoa menjerit. Dulu, Daikim pernah mengganggunya di perbatasan, namun pengaruh Kim-mou-eng saat itu membuatnya tidak berani terlalu jauh. Kini, Daikim kembali mencoba bersikap kurang ajar. Saat ia kembali menubruk, Ituchi tiba-tiba membentak dan menerjang untuk menolong bibinya. Daikim yang jengkel pun berbalik menghadapi anak laki-laki itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment