Chapter 67
"Jangan kurang ajar terhadap bibi!" Daikim menjengek.
Setelah berbulan-bulan Kim-mou-eng tak datang ke tempat sukunya lagi, pemuda ini tak merasa takut. Ketika melihat Wan Hoa datang, nafsunya pun bangkit. Memang dulu ia hampir mendapatkan wanita ini, tetapi gagal karena adanya Kim-mou-eng.
Namun, begitu Pendekar Rambut Emas itu tidak pernah pulang dan Daikim menduga barangkali pendekar itu tewas, ia bermaksud mengganggu Wan Hoa lagi. Ituchi tiba-tiba menyerang, dan tentu saja Daikim menjengek karena anak itu bukan lawannya. Ketika anak itu menubruk dan ia terpaksa melepas Wan Hoa, tangannya bergerak menyambut terjangan tersebut.
"Enyah kau!" Plak!
Ituchi terbanting dan memekik. Wan Hoa di sana ganti menjerit. Wanita ini mengambil potongan kayu dan menerjang lawannya. Ituchi bangkit dan menyerang lagi. Saat dua orang itu membentak dan memaki-makinya kalang-kabut, Daikim tertawa sambil mencabut golok.
"Crak! Bluk!" Kayu di tangan Wan Hoa terbabat. Potongannya mengenai kepala Ituchi hingga anak itu mengeluh. Ituchi terlempar dan memegangi kepalanya, tak dapat bangun.
Ketika Wan Hoa berteriak dan tertegun di tempat, tiba-tiba dengan mudah pemuda ini sudah menyambar korbannya dan mengancam, "Wan Hoa, tak usah melawan atau kau kubunuh!"
Namun, Ituchi melompat bangun, berseru keras, lalu menerjang dan memaki pemuda itu. "Daikim, lepaskan bibiku!"
Daikim yang terkejut dan sempat mengelak, tiba-tiba menggerakkan kaki menendang anak itu. "Bluk!" Ituchi terbanting dan roboh lagi. Daikim tertawa, namun sedikit lengah sehingga ia melepas Wan Hoa. Wanita itu tiba-tiba berontak dan melayangkan tendangan; tumit Wan Hoa telak bersarang di perut pemuda itu.
Ketika Daikim memekik dan terguling memegangi perutnya yang sakit, Wan Hoa segera menyambar keponakannya dan memutar tubuh. "Lari!"
Namun, ke mana mereka harus lari? Daikim yang kuat ternyata hanya sebentar saja mengeluh. Pemuda ini meloncat bangun dan membentak. Saat lawannya melarikan diri, Daikim berseru keras, menyambar di depan keduanya, dan menangkap Ituchi.
"Berhenti!" Ituchi kaget.
Daikim menariknya lepas dari tangan sang bibi. Wan Hoa terpekik. Saat ia berbalik dan memaki-maki pemuda itu, Daikim tertawa sambil menempelkan golok di leher Ituchi. "Wan Hoa, diam di tempatmu. Atau anak ini kubunuh!"
"Tidak, jangan!" Wan Hoa menangis. "Lepaskan dia, Daikim. Lepaskan!"
Namun, Ituchi yang meronta dan menendang lawannya tiba-tiba berteriak menyuruh bibinya lari. Serangan itu mengenai sasarannya dan Daikim mengaduh. Ituchi menendangnya begitu rupa hingga hampir saja bagian vital pemuda itu terkena. Tentu saja pemuda itu marah.
Saat Ituchi berontak dan lepas dari cengkeramannya, anak ini sudah menubruk dan menyerang lawan. "Bak, bik, buk!" Daikim dihajar, namun ia memaki karena pemuda sekuat dirinya tidak merasakan apa-apa. Daikim menggeram dan tiba-tiba ganti menubruk. Saat Wan Hoa menjerit memperingatkan keponakannya, Ituchi tertangkap dan dibanting.
"Brukk!" Daikim tertawa bergelak.
Ituchi mengaduh dan kelengar; bocah itu kesakitan oleh bantingan ini. Ketika ia tak dapat bangun karena meringkuk seperti anjing digebuk tuannya, Daikim menyambar dan dengan kejam membacok pundak anak itu.
"Kau anjing cilik keparat!"
Pundak anak itu terluka. Daikim hendak membacok lagi, namun Wan Hoa menjerit histeris. Wanita ini menubruk kalap, menerjang Daikim hingga pemuda itu roboh. Saat mereka bergulingan bersama, Wan Hoa menggigit dan mencakar hingga Daikim kalang-kabut.
"Kau yang keparat, Daikim! Kau pemuda terkutuk!"
"Aduh, ah, lepaskan!" Daikim akhirnya menampar, mengutuk, dan menghantam perut lawannya hingga gigitan Wan Hoa lepas. Lalu, sebelum wanita itu sempat melompat bangun untuk memberikan perlawanan lagi, Daikim sudah menangkap dan menindih tubuhnya.
"Wan Hoa, sekali kau melawan, anak itu kubunuh. Sekarang menyerahlah dan dengar baik-baik apa permintaanku!"
"Apa yang kau minta?" Wan Hoa menggigil. "Kau jahanam keparat, Daikim. Kau akan kulaporkan pada Kim-mou-eng kalau dia datang!"
"Ha-ha, Kim-mou-eng sudah mampus, Wan Hoa. Kenapa kau berteriak-teriak menyebut namanya? Bangsa ini sudah tak dipimpinnya lagi. Pendekar Rambut Emas itu telah menyusul isterinya ke alam baka!"
"Apa? Kau..."
"Kau kira bohong?" Daikim tertawa. "Kau boleh tidak mempercayai keteranganku, Wan Hoa. Tapi kalau Kim-mou-eng masih hidup, tentu aku tak berani bertindak begini kepadamu. Ha-ha!"
Daikim menelikung dan mempererat cengkeramannya, lalu tiba-tiba berbisik saat melihat Ituchi terhuyung berdiri. "Wan Hoa, suruh anak itu mundur. Atau dia kubacok dan kau akan melihat mayatnya!"
"Tidak, jangan..." Wan Hoa menggigil ngeri. "Jangan kau ganggu dia, Daikim. Bebaskan dan lepaskan anak itu!"
"Tapi dia kemari," Daikim melotot. "Apakah kau tak mau menyuruhnya berhenti? Cepat suruh dia berhenti, Wan Hoa. Atau kubacok mampus dan jangan kau salahkan aku!"
Daikim kiranya ngeri melihat anak itu seperti hantu dari balik kubur. Ituchi mendelik padanya. Anak itu terhuyung-huyung maju menghampiri, tak kenal takut, dan rupanya tahan banting. Daikim ngeri menghadapi anak macam begini; Ituchi seperti bocah yang tidak takut mati. Atau, barangkali, anak itu sudah mati dan kini sukmanya yang menghampiri. Tiga kali dibanting, tiga kali pula ia bangkit berdiri. Sungguh seperti bukan anak manusia!
Wan Hoa yang terbelalak dan mengeluh melihat anak itu, tiba-tiba mengusir. "Ituchi, pergi! Selamatkan dirimu!"
"Nguk!" Suara itu seperti kera marah. "Aku tak mau pergi, Bibi. Aku akan menolongmu dan mencekik musuhku ini!"
"Tidak, tidak!" Wan Hoa gelisah. "Daikim tak akan membunuhku, Ituchi. Pergi dan percayalah bibimu!"
"Tapi dia menangkapmu. Dia menindihmu!"
Wan Hoa hampir kehilangan akal. Saat itu Daikim di atas tubuhnya sudah siap meloncat ke depan; laki-laki itu menggigil, marah, sekaligus ngeri. Dalam keadaan seperti itu, Ituchi tampak seperti iblis cilik yang akan menerkam mangsanya. Namun, Wan Hoa cepat menggoyang lengan dan membentak sekuat tenaga.
"Ituchi, kalau kau maju, biar bibimu mati di hadapanmu. Apakah kau ingin bibimu mati? Sebelum kau dibunuhnya, bibimu akan dibunuh dulu, Ituchi. Lihat golok itu dan berhenti!"
Ituchi berhenti, tertegun.
"Ha-ha," kini Daikim gembira. "Kau mundur, anak baik. Atau bibimu ini benar-benar kubunuh dan kau menyusul!"
"Pergilah, mundurlah!" Wan Hoa serak suaranya. "Kau biarkan bibimu di sini, Ituchi. Dengar dan ikuti baik-baik perintah bibimu. Kau jangan maju dan mundur!"
Ituchi akhirnya mundur. Daikim tertawa bergelak dan lega. Ia memerintahkan Wan Hoa agar anak itu berbalik dan semakin menjauh. Ketika anak itu menurut namun ragu, tiba-tiba Daikim melompat dan membawa wanita ini ke semak-semak.
"Wan Hoa, kalau kau tak ingin keponakanmu kuserahkan pada Khan, turutilah permintaanku. Aku ingin kau melayaniku!"
Wan Hoa terbelalak.
"Ha-ha," Daikim tertawa aneh sambil mencium. "Kau tentu tak menolak, bukan? Lepas pakaianmu, Wan Hoa, dan berikan apa yang kuminta!"
Wan Hoa merasa bumi berputar. Di sana Ituchi mengeluh aneh; anak itu membalik namun disuruh berputar lagi. Daikim mendengus-dengus menggerayangi tubuh korbannya. Wan Hoa bingung, takut, dan marah. Tapi ketika Daikim mengancam akan menangkap dan membawa anak itu ke Khan yang baru jika ia tidak menurut, apa boleh buat. Wan Hoa terpaksa menuruti, membiarkan mukanya diciumi sampai tiba-tiba Daikim melepas semua pakaiannya. Dengan buas dan kasar, pemuda Tatar ini mencopot bajunya sendiri.
Namun, ketika setengah jalan dan siap "main", tiba-tiba Ituchi berlari dan menubruk semak-semak belukar itu. "Daikim, kau anjing hina!"
Daikim kaget. Saat itu tubuhnya setengah telanjang dan kedodoran. Anak laki-laki itu menerjang, namun Daikim membentak dan meloncat marah, lalu berbalik menyambut anak itu dengan gagang golok.
"Bocah anjing, kaulah yang hina!"
"Dakk!" Gagang golok menghantam tengkuk anak laki-laki itu. Ituchi menjerit dan roboh pingsan. Seketika ia ambruk.
Wan Hoa menjerit dan melompat, meski dalam keadaan setengah telanjang pula. Daikim yang marah dan geram menempelkan mata goloknya ke leher anak itu. "Wan Hoa, kalau kau tak menyerah, anak ini kubunuh. Sialan keponakanmu itu!"
Wan Hoa menggigil, tak dapat bicara.
"Ayo, lepas pakaianmu. Ke semak-semak itu!"
Akhirnya Wan Hoa dapat bicara juga. "Daikim, kau berjanji tak akan membunuh anak ini? Kau berjanji membebaskannya?"
"Tentu, asal kau menyambut cintaku, Wan Hoa. Lepas dan copot pakaianmu itu!"
Wan Hoa tak berkutik. Demi keselamatan Ituchi, terpaksa ia melakukan perintah Daikim. Satu demi satu pakaian itu dilepas. Tapi ketika pakaian terakhir hampir dilolos dan Daikim terbelalak dengan mata menggelora melihat tubuh yang aduhai itu, mendadak sebuah bayangan berkelebat dan membentak pemuda Tatar itu.
"Daikim, kau pemuda hina!"
Daikim mencelat. Sebuah tendangan mengenainya. Pemuda ini menjerit dan terguling-guling. Ketika ia bangun berdiri dan meringis kesakitan, seorang laki-laki gagah telah berdiri di situ.
"Hek-eng Taihiap!" Daikim kaget.
Wan Hoa memanggil pendekar itu dan lari menubruknya. Sisa pakaiannya dikenakan lagi dan wanita malang itu pun terisak. Namun, Hek-eng Taihiap mendorongnya dan memandang Daikim dengan tatapan marah.
"Daikim, kau pemuda tak tahu malu. Kalau Kim-taihiap ada di sini, tentu hancur tulang-tulangmu. Hm, aku mewakilinya, pemuda tak tahu malu. Mintalah ampun dan bertobat!"
"Wut! Plak-plak!"
Hek-eng Taihiap berkelebat, menampar, dan menendang hingga pemuda Tatar itu memekik. Ia jatuh bangun dihajar Pendekar Garuda Hitam itu. Daikim mengenalinya dan seketika wajahnya pucat. Saat ia menjadi bulan-bulanan pukulan Hek-eng Taihiap dan menjerit-jerit minta ampun, tiba-tiba Wan Hoa menyambar golok yang terjatuh dan menusuk lawannya itu.