Chapter 68
"Augh!" Jeritan itu mengejutkan Hek-eng Taihiap.
Wan Hoa menusuk lawannya dengan beringas. Daikim terjungkal dan darah memuncrat. Begitu pemuda itu roboh dan darah mengalir dari luka di perutnya, Wan Hoa semakin haus darah. Ia menusuk serta menikam lawannya tujuh sampai delapan kali. Tak ayal, Daikim hanya bisa mengeluh pendek. Hajaran Hek-eng Taihiap telah membuatnya tak berdaya; tusukan atau tikaman Wan Hoa tak lagi dapat ia elak. Ketika Wan Hoa dengan beringas menusuk dadanya, robohlah pemuda itu dengan erangan singkat.
"Crep!" Golok itu bergoyang sejenak di dada pemuda tersebut. Daikim terkapar, seketika tewas.
Saat Wan Hoa terhuyung melepaskan golok itu, Kwa-ko, laki-laki penjaga yang baru muncul di sana, menyaksikan kejadian tersebut.
"Hei!" Laki-laki itu terkejut. "Kau membunuh Daikim? Celaka, kita diserang iblis perempuan, kawan-kawan! Keluar dan lihatlah, tolong!"
Seruan Kwa-ko menggemparkan bangsa Tatar. Semuanya berlarian dan suasana menjadi ribut. Kwa-ko menubruk dan menyerang Wan Hoa, namun karena Hek-eng Taihiap berada di sana—dan pendekar ini tentu tak membiarkan Wan Hoa dicelakai—ia segera mendorong laki-laki Tatar itu. Dengan satu tendangan, Kwa-ko mencelat.
Laki-laki itu menjerit dan roboh berdebuk. Kawan-kawannya datang dengan teriakan marah. Karena keadaan makin gawat dan bukan maksud Hek-eng Taihiap untuk memusuhi bangsa tersebut, Pendekar Garuda Hitam ini menyambar Wan Hoa dan Ituchi.
"Kita pergi!" Begitu pendekar itu mengerahkan kepandaiannya, ia berkelebat lenyap dan meluncur memasuki hutan. Meski mendengar teriakan-teriakan di belakang, bangsa Tatar itu bukanlah tandingannya.
Setelah tiba di tempat aman, Hek-eng Taihiap meletakkan Ituchi dan melepas Wan Hoa yang sejak tadi menangis di pundaknya.
"Diamlah, tenanglah. Aku akan menolong anak ini."
"Tidak... tidak matikah dia? Masih hidupkah?"
"Tenang, kau tak usah gelisah, Wan Hoa. Ituchi rupanya hanya pingsan saja dan tidak apa-apa. Mundurlah."
Wan Hoa mundur. Ia terisak sambil memandang pendekar itu yang sedang mengurut, memijat, dan menotok tubuh Ituchi. Tak lama kemudian, terdengar keluhan dari Ituchi. Wan Hoa girang saat anak itu membuka mata dan langsung mencari bibinya.
"Bibi, di mana kau?"
"Ooh!" Wan Hoa menubruknya, tersedu-sedu. "Aku di sini, Ituchi. Lihatlah, ini bibimu!"
Anak itu bangun. "Dan mana Daikim? Mana jahanam itu?" Matanya meliar, lalu tertegun saat bertemu pandang dengan Hek-eng Taihiap. Pendekar itu tersenyum. Ituchi tampak terkejut melihat sang pendekar.
Wan Hoa yang masih memeluk dan menangis di depannya segera menjelaskan, "Daikim kubunuh, Ituchi. Jahanam itu tewas. Hek-eng Taihiap inilah yang menolong kita!"
"Ooh!" Ituchi bangkit dan berlutut di depan pendekar itu. "Paman, terima kasih. Kau telah menyelamatkan Bibi!"
"Tidak, aku yang berterima kasih karena Hek-eng Taihiap menyelamatkanmu, Ituchi. Bukan kau yang berterima kasih karena aku selamat. Ayo, ucapkan terima kasih bahwa Hek-eng Taihiap telah menyelamatkanmu!"
Hek-eng Taihiap tertawa. Melihat dua orang ini saling berterima kasih demi satu sama lain, tampaklah betapa mereka saling mencintai tanpa memedulikan diri sendiri. Pendekar itu tiba-tiba merasa terharu. Saat Ituchi dipeluk dan diciumnya, ia berkata dengan suara yang agak serak.
"Ituchi, kau anak baik. Sudahlah, tak perlu berterima kasih karena apa yang kulakukan sudah merupakan kewajibanku. Kalian, bibi dan anak, sama-sama baik. Aku akan melindungi kalian dan sejak saat ini biarlah aku mengawal kalian!"
Wan Hoa terkejut. "Ada apakah?"
"Ti-tidak. Tapi, apakah Taihiap tidak punya urusan lain?" Wan Hoa bingung. Ia tak tahan beradu pandang dengan pendekar itu, apalagi tatapan Hek-eng Taihiap membuatnya tergetar. Dua kali pendekar itu menolongnya, dua kali pula mereka selamat.
Saat Wan Hoa menunduk dan Hek-eng Taihiap tersenyum, pendekar itu berkata lembut, "Aku tak mempunyai urusan, Wan Hoa. Kalau kalian tak keberatan, tentu saja aku akan menemani. Tapi kalau kau atau Ituchi tak suka, tentu saja aku tak memaksa dan akan pergi."
"Ah, tidak!" Wan Hoa menggeleng. "Kami tentu senang kalau kau mau menemani, Taihiap. Hanya saja, kami khawatir akan merepotkanmu."
"Benar, aku suka ditemani, Paman. Dan kalau boleh, sekalian belajar ilmu silatmu itu!"
"Ituchi..."
"Ha-ha!" Hek-eng Taihiap tertawa tergelak, memotong seruan Wan Hoa. "Kalau kau mau belajar sedikit-sedikit ilmuku, tentu saja boleh, Ituchi. Hanya perlu kau ketahui bahwa kepandaianku masih kalah dengan Kim-mou-eng. Bukankah kau mau mencari Pendekar Rambut Emas itu?"
Ituchi tertegun dan memandang bibinya. Namun, melihat bibinya terbelalak dan tampak bingung, anak itu tiba-tiba berseri-seri. "Paman, kalau Kim-mou-eng tak dapat kami temukan, biarlah kau saja penggantinya. Bukankah kau pendekar baik? Aku suka padamu. Dua kali kau menyelamatkan aku dan Bibi. Kalau kau suka, biarlah aku belajar padamu dan ikut!"
"Hm, bagaimana bibimu?"
"Aku... aku..." Wan Hoa gagap. "Terserah kau, Taihiap. Kalau Ituchi dan kau sama-sama suka, biarlah kau pengganti Kim-mou-eng. Aku dapat menceritakan pada ibu anak ini tentang kalian!"
"Tidak," Hek-eng Taihiap tersenyum. "Karena kalian ingin mencari Kim-mou-eng, biarlah kuantar, Wan Hoa. Kalau sebulan tak ketemu, biarlah kuterima maksud itu. Terus terang, aku suka anak ini. Dia penuh keberanian dan gagah, sayang barangkali aku kurang berharga sebagai gurunya!"
"Kenapa Paman bilang begitu?" Ituchi girang. "Kepandaianmu tinggi, Paman. Justru barangkali aku yang kurang berharga menjadi muridmu!"
"Ha-ha, tidak, Ituchi. Justru sebaliknya. Kau harus mendapatkan guru yang pandai, dan biarlah sementara ini aku mengajarimu dasar-dasar ilmu silat."