Chapter 69
Sepasang Cermin Naga karya Batara dan Hek-eng Taihiap yang girang melihat watak anak itu lalu menyambar dan melemparnya ke udara lima-enam kali, dan Ituchi pun tidak takut. Anak ini memang berani dan tak kenal takut. Sesungguhnya, bangga sekali Pendekar Garuda Hitam itu mendapat anak macam ini. Sayang, dia merasa terlalu rendah.
Ketika anak itu diturunkan kembali dan Ituchi tertawa, pendekar ini mengajak semuanya berangkat. "Ayo, kita sekarang mencari Kim-mou-ng. Kalau ketemu baik, tidak ketemu pun tak mengapa!" Ia mengajak keduanya meninggalkan tempat itu. Akhirnya, Pendekar Garuda Hitam ini berjalan mengawal Ituchi dan bibinya. Saat ditanya apakah Kim-mou-ng masih hidup atau tewas, Wan Hoa teringat kata-kata Daikim. Namun, ia tersenyum dan menjawab pendek bahwa Kim-mou-ng masih hidup.
"Tak usah dipercaya orang macam Daikim itu. Dia pembohong dan pendusta." Wan Hoa lega. Berjalan bersama pendekar ini, mendadak ia merasa terlindung, aman, dan bahagia. Eh! Wan Hoa tiba-tiba terkejut sendiri. Kenapa bahagia? Ada apa dengan perasaannya itu? Ketika ia mengerling dan tanpa sengaja dikerling pula, tiba-tiba wajah Wan Hoa bersemu merah dan ia melengos. Keduanya mulai sering berpandangan. Baik Hek-eng Taihiap maupun wanita ini menyeling pembicaraan mereka dengan pandang mata yang lembut, mesra, dan hangat.
Ketika perjalanan dilakukan dari hari ke hari dan pendekar itu mulai menurunkan dasar-dasar ilmu silat kepada Ituchi, seminggu kemudian, di tengah perjalanan yang hangat dan mesra ini, mendadak keduanya merasa saling jatuh cinta. Aneh, Hek-eng Taihiap, pria di atas tiga puluh lima tahun itu, sering memperhatikan Wan Hoa. Karena selama ini dia masih lajang dan kebetulan Wan Hoa juga masih sendiri, di minggu kedua, saat mereka sering saling memberikan pandangan lembut, akhirnya pendekar itu menyatakan cintanya. Tentu saja ia merasa panas dingin karena sama-sama merasa jatuh cinta untuk pertama kali. Lucu.
Waktu itu, mereka bertiga beristirahat. Ituchi lelah, anak ini tidur dan Wan Hoa memberikan selimutnya. Dalam perjalanan, Hek-eng Taihiap telah mencukupi keperluan mereka berdua dengan makan, minum, dan pakaian. Wan Hoa benar-benar merasa berhutang budi. Ketika dua orang itu duduk sendiri dan canggung serta malu-malu, hal yang akhir-akhir ini sering terjadi, tiba-tiba Pendekar Garuda Hitam itu beringsut, memegang lengan Wan Hoa, dan menggigil.
"Wan Hoa, bolehkah aku bicara sesuatu?"
Wan Hoa terkejut. Saat itu dia menjahit baju yang sobek, lalu mengangkat mukanya dan tiba-tiba merah padam. Pandang mata dan sikap Hek-eng Taihiap yang mesra serta lembut membuat dia menunduk, tak tahan. Dan ketika dia bertanya apa yang hendak dikatakan pendekar itu serta membiarkan tangannya digenggam, gadis ini tampak tak berhasil menguasai suaranya yang gemetar.
"Taihiap mau bicara apa?"
"Ah," Hek-eng Taihiap mendekat. "Buang sebutan taihiap itu, Wan Hoa. Bukankah berkali-kali kularang kau menyebutku taihiap? Panggil saja aku Siok-twako, atau Beng-twako. Kau tahu namaku adalah Siok Gwan Beng. Dan, hm... aku mau bicara tentang kita, tentang kau dan aku...."
Wan Hoa mengangkat mukanya. Saat itu suara Hek-eng Taihiap lirih, serak, dan menggigil. Ketika dia memandang dan beradu pandang di udara, tiba-tiba dia terkejut melihat pendekar itu menitikkan air mata.
"Eh, Taihiap kena apa?"
Gwan Beng, Pendekar Garuda Hitam ini, cepat menghapus air matanya. "Aku... aku tak apa-apa, Wan Hoa. Hanya sedikit terguncang dan gugup. Aku... aku mau menyatakan cinta!"
Wan Hoa tersentak. Mukanya tiba-tiba seperti kepiting rebus, merah sampai ke telinga. Tapi mendengar suara yang lantang seperti panglima mau perang, tiba-tiba Wan Hoa tak dapat menahan geli dan tertawa.
"Eh, kenapa kau tertawa?"
"Hi-hik, aku... ah, aku geli, Taihiap. Kau lucu!"
"Hmm....!" Hek-eng Taihiap tiba-tiba terpukul, malu. "Aku... aku serius, Wan Hoa. Aku benar-benar menyatakan cintaku!"
Wan Hoa memandang, Hek-eng Taihiap membalas. Dan ketika dua mata itu beradu sama-sama tajam di udara, tiba-tiba Wan Hoa menunduk dan terisak, tak menjawab kecuali memainkan jari-jarinya di atas baju sendiri. Hek-eng Taihiap penasaran dan memegang jari-jari yang lembut dan menggigil itu. Ketika pendekar itu bertanya bagaimana jawaban Wan Hoa, tiba-tiba Wan Hoa menangis dan berseru.
"Taihiap, perlukah kujawab lagi? Tidakkah kau tahu bahwa aku... aku, ah....!"
Wan Hoa menubruk serta mendekap pendekar itu, tiba-tiba mengguguk dan tersedu-sedu. Aneh sekali. Hek-eng Taihiap menjadi bingung. Dia tak tahu apa artinya ini, wanita dianggapnya menyimpan banyak misteri. Namun, mendorong dan mengangkat wajah itu, dia coba bertanya, "Wan Hoa, kau menerima cintaku?"
Wan Hoa tak kuat menahan. "Perlukah kujelaskan, Taihiap?"
"Ya, aku ingin tahu jawabanmu, Wan Hoa. Aku perlu kepastian!"
"Kalau begitu kau... kau bodoh!"
Wan Hoa yang menangis lagi di pelukan pendekar ini akhirnya membuat Hek-eng Taihiap bingung dan ragu-ragu. Sebagai lelaki yang jarang bergaul dengan wanita, memang dia canggung dan kikuk sekali. Lihat pernyataan cintanya tadi, lantang seperti prajurit maju perang. Namun, karena dia pun memiliki naluri dan naluri laki-laki ini menyatakan gadis itu menerima cintanya, tiba-tiba, untuk membuktikan kebenarannya, Hek-eng Taihiap menunduk dan mencium.
"Baiklah, kalau begitu biarlah kubuktikan, Wan Hoa. Aku... maaf, aku menciummu!"
Dia nekat mencium bibir itu, tiba-tiba Hek-eng Taihiap menghisap dan memejamkan mata. Apa yang dilakukannya itu dilakukannya sepenuh keberanian. Lucu melihat perbuatan pria di atas tiga puluhan itu; dia layaknya perjaka yang baru mengenal wanita. Mulut mencium asal mencium, tentu saja Wan Hoa tersedak dan terbatuk-batuk. Ketika Wan Hoa melepaskan diri dan geli namun juga terharu, tiba-tiba wanita ini tersenyum dan tertawa, aneh sekali, tertawa di saat air mata masih basah.
"Taihiap, kau lucu. Canggung sekali, ah, kau pria serba kikuk!"
Wan Hoa bangkit, melemparkan pandangan mesra, lalu tiba-tiba berlari dan tertawa meninggalkan pendekar itu, membuat Hek-eng Taihiap tertegun namun girang. Mukanya merah, Wan Hoa tidak marah. Dan karena Wan Hoa membiarkan dia mencium dan wanita itu melempar pandangan mesra, tiba-tiba pendekar ini bangkit, meloncat, dan tertawa mengejar.
"Hoa-moi (Dinda Hoa), tunggu!"
Wan Hoa tertangkap. Hek-eng Taihiap menyambar dan menubruknya, mereka terguling dan segera tertawa-tawa. Ketika mereka bergulingan dan berpelukan sambil tertawa-tawa, maka Hek-eng Taihiap mendaratkan lagi ciumannya ke wajah wanita ini, disambut, dan segera Pendekar Garuda Hitam itu melayang ke surga. Kini yakinlah dia bahwa cintanya bersambut, sang pujaan menerima, dan bukan main girangnya hati. Ketika mereka berciuman dan Hek-eng Taihiap tidak canggung atau kaku lagi, maka gerakan pendekar ini lebih berani, dan segera Wan Hoa mengeluh atau menggelinjang; jari-jari sang kekasih menyelinap ke sana-sini. Hek-eng Taihiap hampir lupa daratan karena baru pertama kali itulah dia dibuat mabuk. Tapi ketika sang pendekar hendak bertindak jauh dan Wan Hoa mendorong, tiba-tiba wanita ini berbisik.
"Beng-ko, di sini ada Ituchi. Sst, jangan...!"
"Ah, maaf, moi-moi. Aku lupa." Hek-eng Taihiap sadar, mencium kekasihnya dengan lembut, dan tentu saja dia mengurungkan niatnya itu. Di situ memang ada Ituchi, mereka harus hati-hati. Ketika keduanya sadar dan Hek-eng Taihiap mengangguk, maka pendekar itu meraih dan memeluk kekasihnya, membisikkan kata-kata cinta, dan Wan Hoa terharu. Lelaki ini dapat menahan diri, dia bahagia. Karena keduanya memang saling jatuh cinta dan kehangatan serta kemesraan itu ditunjukkan kian menjadi, sebentar kemudian mereka sudah intim dan akrab, tawa dan senyum silih berganti. Ah, orang bercinta memang nikmat. Begitu nikmatnya hingga sekeliling pun bisa terlupa.
Ketika hari demi hari dilewati lagi dengan indah dan burung serta lain-lain berkicau gembira, maka sebulan kemudian lewat dengan cepat dan tibalah hari keputusan itu.
"Kim-mou-ng tak kita ketemukan. Bagaimana sekarang?"
"Ituchi ikut denganmu, Beng-ko. Dan aku..." Wan Hoa tiba-tiba sedih, terisak. "...pulang."
"Hm," Pendekar ini mencekal lengan kekasihnya. "Bagaimana kalau kau ikut aku, Hoa-moi? Kita membangun saja keluarga bahagia, kau dan Ituchi tak terpisah!"
"Tidak, bagaimana dengan Cao Cun? Aku tak dapat meninggalkan sahabatku itu lama-lama, Beng-ko. Dia tiada ubahnya saudaraku sendiri!"
Hek-eng Taihiap tertegun. Dia melihat cinta luar biasa kekasihnya ini terhadap Cao Cun. Ah, betapa agung dan hebatnya cinta Wan Hoa itu, sedikit pun Wan Hoa tak dapat melupakan sahabatnya. Agaknya, Hek-eng Taihiap cemas, Wan Hoa sanggup meninggalkan dirinya demi Cao Cun. Persahabatan di antara dua orang itu sedemikian luar biasanya hingga tak seorang pun mampu meninggalkan yang lain. Wan Hoa tiada ubahnya Cao Cun, sementara Cao Cun sendiri tiada ubahnya Wan Hoa. Dua orang ini satu jiwa dua raga. Wan Hoa sanggup mengorbankan diri sendiri demi kebahagiaan Cao Cun. Karena pendekar itu mulai tergetar dan waswas akan sikap Wan Hoa, maka benar saja kekasihnya itu berkata tersendat.
"Beng-ko, sekarang waktu sebulan itu habis. Aku harus kembali, menemani Cao Cun. Kau pergi dan bawalah Ituchi. Kalau kau rindu, datanglah sewaktu-waktu ke sana."
"Hm," Hek-eng Taihiap merasa dinomorduakan. "Apakah kau tak dapat menuruti nasihatku, Hoa-moi? Apakah kita tak melanjutkan hubungan ini sampai berumah tangga?"
Wan Hoa menangis. "Aku tentu tak akan mengecewakanmu, Beng-ko. Tapi aku juga tak dapat berpisah dengan sahabatku. Cao Cun sendiri di sana, dia tak ada siapa-siapa. Bagaimana kalau Khan yang baru mengancam dan mencelakai dirinya? Tidak, aku tak dapat meninggalkan sahabatku, Beng-ko. Kau maafkanlah aku dan biar aku pulang!"
"Gila," Pendekar ini terkejut. "Kau mengorbankan cinta kita, Hoa-moi. Kau lebih memberatkan Cao Cun daripada aku!"
Wan Hoa tiba-tiba tersentak, membuka matanya lebar-lebar.