Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 70

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 70

"Beng-ko, sebagai seorang pendekar, tentu kau tak boleh egois. Tak dapat kusangkal bahwa aku dapat mengorbankan segala-galanya demi Cao Cun. Kami senasib dan sependeritaan sejak masih remaja, Beng-ko. Apa yang kualami bersamanya sudah mendarah daging. Kami satu meskipun dua. Kau tak boleh begitu kalau melihat cinta kami; justru kau harus bijaksana dan menolong Cao Cun pula kalau tak ingin hatiku mendua!"

"Hm." Pendekar ini terpukul.

"Baiklah, bagaimana kalau begitu maumu?"

"Aku harus kembali, Beng-ko, menengok dan menemani sahabatku itu."

"Dan Ituchi?"

"Ikut denganmu. Kau gembleng dia, kaulatih dia ilmu silat seperti janjimu sendiri. Kalau sudah, kau datanglah ke tempat kami dan jemput aku. Ituchi tentu sudah dapat menjaga ibunya."

Hek-eng Taihiap tertegun. Tiba-tiba dia melihat betapa mulia dan agungnya kekasihnya ini. Wan Hoa siap berkorban sampai Ituchi pandai, artinya sampai pemuda itu dapat menjaga ibunya sendiri kalau Wan Hoa sudah menjadi istrinya. Kata-kata Wan Hoa bahwa dia disuruh datang dan menjemput wanita itu jelas mengandung arti yang gamblang. Hek-eng Taihiap tiba-tiba terharu. Karena merasa betapa dia hampir terjerat keakuannya dan untung sang kekasih menyadarkannya, tiba-tiba pendekar itu memeluk dan mencium Wan Hoa, terharu dan gemetar.

"Baiklah, aku mengikuti kata-katamu, Wan Hoa. Tapi kau tak boleh pulang sendiri. Aku mengantarmu, dan setelah itu Ituchi ikut denganku."

Wan Hoa terisak. "Kau tidak marah, Beng-ko?"

"Ah, mendapatkan kekasih seagung dan semulia dirimu, bagaimana aku marah, Moi-moi? Tidak, justru aku terharu dan bangga melihat persahabatanmu yang begitu suci dan tulus terhadap Cao Cun, Moi-moi. Semoga aku dapat mengikuti jejakmu dan rela berkorban untuk orang yang disayang!"

Wan Hoa menangis. Tiba-tiba dia tahu bahwa kekasihnya ini berkorban pula demi dia. Hek-eng Taihiap menahan diri dan tidak memaksa. Betapa berbudi dan bijaksananya pula kekasihnya ini. Ketika dia dipeluk dan Wan Hoa mengangkat wajahnya, tiba-tiba wanita itu mencium dan mendahului.

"Beng-ko, maaf!"

Hek-eng Taihiap merasa terbang. Baru kali ini Wan Hoa menciumnya lebih dulu; biasanya dia yang memulai dan Wan Hoa menerima. Namun, begitu menyambut dan balas mencium, tiba-tiba keduanya melekat dan seolah tak mau berpisah lagi. Wan Hoa menumpahkan semua sesal dan cintanya kepada pendekar itu. Dia tahu bahwa mereka segera harus berpisah. Ituchi tak dapat dibawa ke tempat bangsa liar itu karena Khan yang baru akan mengancam. Satu-satunya jalan memang anak itu harus disingkirkan, dan sudah tepat kalau mendapat pendekar ini, karena Kim-mou-eng tak mereka temukan.

Ketika pertemuan itu diakhiri dengan ciuman mesra dan keduanya saling menumpahkan sayang dan cinta, hari itu Ituchi disuruh menunggu karena pendekar ini akan mengantar Wan Hoa sampai di tempatnya sendiri. Namun, ketika di perbatasan, tiba-tiba Wan Hoa merandek.

"Beng-ko," wanita itu tiba-tiba berkata, "bagaimana kalau Cao Cun kubujuk agar meninggalkan tempat itu dan bersama kita? Kita dapat segera hidup sebagai suami istri, Beng-ko. Aku tak perlu menyiksamu lagi dan Cao Cun pun aman!"

"Ah," Hek-eng Taihiap girang, tiba-tiba mengangguk. "Kalau sahabatmu mau, tentu saja aku setuju, Moi-moi. Benar sekali gagasanmu ini. Cobalah!"

Namun, ketika Wan Hoa kembali, ternyata wanita itu terisak, bahkan menubruk dan menangis di dada pendekar ini. "Gagal. Cao Cun tak mau, Beng-ko. Aku lupa bahwa dia di sini karena mengemban tugas negara!"

Hek-eng Taihiap tertegun. Memang dia tak tahu "misi" yang dijalankan istana; bahwa Cao Cun dipasang untuk mengawasi sekaligus mengendalikan bangsa liar itu sejak Raja Hu masih hidup. Hek-eng Taihiap yang bengong melihat cinta-kenegaraan yang besar dari Cao Cun tiba-tiba mendesah dan kagum.

"Dia tak mau, bahkan marah-marah. Bukankah dia di situ untuk menjaga dan mengawasi bangsa liar ini? Aku lupa, Beng-ko. Aku lupa bahwa Cao Cun sedang mengemban tugas negara!"

Wan Hoa segera menceritakan perihal itu, bahwa Cao Cun telah berjanji kepada mendiang kaisar lama untuk mengawasi dan mengendalikan bangsa liar ini, agar mereka tidak berontak dan melawan istana. Cao Cun adalah "Srikandi" bangsa Han yang sedang bertugas, siap mengorbankan segala-galanya demi negara. Ketika Wan Hoa selesai dan Hek-eng Taihiap tertegun, pendekar ini mendusin dan terkejut serta kagum.

"Ah, aku tak tahu, Wan Hoa. Dan putranya telah menjadi muridku! Aduh, keturunan wanita patriot begini apakah pantas kudidik? Wan Hoa, aku merasa kecil berhadapan dengan sahabatmu itu. Ituchi rasanya terlalu tinggi menjadi muridku. Biarlah dia kujaga dan kulindungi dengan seluruh jiwa ragaku!"

Pendekar ini menggigil; memang tidak semua orang tahu akan tugas yang diemban Cao Cun. Wanita itu telah berjasa besar mengendalikan bangsa liar ini dan menundukkan rajanya, tapi sayang pihak istana justru tak memberi timbal balik yang sepadan. Cao Cun memang bernasib malang, meskipun sejarah telah mencatat namanya dengan tinta emas, batu ironi yang mengenaskan. Ketika pendekar itu terbelalak dan kagum terhadap Cao Cun, Wan Hoa menghapus air matanya dan melepaskan diri.

"Nah, semuanya sudah kuceritakan, Koko. Dan kau tentu maklum akan perasaanku kepada Cao Cun. Dia wanita mulia yang besar jasanya terhadap negara, aku bukan apa-apa!"

"Ah, tidak," Hek-eng Taihiap terharu. "Kau juga mulia dan agung, Hoa-moi. Cintamu terhadap Cao Cun tak kalah besar dengan cinta wanita itu terhadap negara!"

"Hm, sudahlah. Sekarang kau kembali, Koko. Kita harus berpisah!"

Hek-eng Taihiap tertegun. Tiba-tiba dia memeluk dan mendekap kekasihnya kembali. Bisikan dan kata-kata mesra berluncuran dari mulut pendekar ini. Ketika pendekar itu menggigil dan Wan Hoa juga mengeluh, pendekar itu bertanya serak dan penuh iba, "Hoa-moi, tak adakah kenang-kenangan di antara kita? Haruskah kita berpisah begini saja?"

"Maksudmu?"

Sang pendekar merah mukanya. "Aku... aku..."

"Hm," Wan Hoa dapat menebak. "Kau mau minta yang itu, Koko? Kau menghendakinya sekarang?"

Hek-eng Taihiap terkejut. "Aku... ah, maaf. Aku takut kita tak jumpa lagi, Wan Hoa. Entah kenapa perasaanku berdebar tak enak."

Wan Hoa tertegun.

"Hoa-moi," pendekar ini sekarang menggigil, "sebagai laki-laki yang mencintaimu, alangkah inginnya aku agar secepat mungkin kita menjadi suami istri. Aku takut, aku khawatir kalau kau jauh dariku. Bagaimana dirimu nanti di tempat itu? Aku bingung, Moi-moi. Aku gelisah!"

Wan Hoa menangis. Sebagai wanita yang baru pertama ini jatuh cinta, tentu saja berat baginya harus berpisah. Hek-eng Taihiap ini adalah kekasih yang dapat dipercaya. Selama perjalanan tak pernah pendekar itu mengganggunya. Hek-eng Taihiap adalah laki-laki yang dapat menjaga diri dan kesuciannya. Tapi mendengar dan melihat sikap pendekar itu, tiba-tiba Wan Hoa mengeluh dan berdebar; entah kenapa mendadak dia merasakan firasat yang sama. Agaknya, setelah ini mereka sulit berjumpa lagi. Kebimbangan besar tiba-tiba melanda wanita itu. Ada takut dan harap, ada cemas dan tegang.

Ketika keduanya kembali berpelukan dan Hek-eng Taihiap menggigil dengan air mata basah, tiba-tiba Wan Hoa mengguguk. "Koko, lakukanlah. Aku pun juga ingin menyerahkan itu padamu!"

Hek-eng Taihiap tersentak. Sebagai laki-laki normal, sebenarnya sebulan ini dia panas dingin bersama Wan Hoa. Bukan tidak diketahuinya kalau sang kekasih juga menahan-nahan keinginan; Wan Hoa berkali-kali memeluknya dan mendesah. Mereka berdua sebenarnya diamuk pula keinginan yang satu itu, namun tetap bertahan; keduanya saling menjaga dan ingin melindungi yang lain. Tapi ketika perasaan tak enak itu mengganggu mereka dan Wan Hoa menangis serta maklum apa yang diingini kekasihnya, tiba-tiba wanita ini mengangguk dan siap menyerahkan itu. Maklum, mereka sudah lebih dari dewasa dan Wan Hoa juga terhitung "perawan tua". Kebutuhan biologi itu cukup mendesaknya dan betapa inginnya wanita ini membangun rumah tangga segera dengan pendekar itu; pria yang dipercaya dan amat dicintainya.

Ketika Hek-eng Taihiap tertegun dan tersentak oleh pernyataan ini, tiba-tiba pendekar itu memejamkan mata dan gemetar. "Hoa-moi, kau benar-benar mengerti firasatku?"

"Ya, aku tahu, Beng-ko. Dan aku juga tak enak!"

"Dan kau mau menyerahkan itu kepadaku?"

Wan Hoa tersedu-sedu. "Beng-ko, bagaimanakah maumu?"

"Hm," pendekar ini mendadak mencengkeram pundak kekasihnya, mengejutkan Wan Hoa. "Kau tahu ada kuil di sini?"

Wan Hoa tertegun, terbelalak.

"Aku menginginkan itu tapi secara baik-baik, Moi-moi. Aku ingin menghargai dan menghormatimu sebagai kekasih yang agung. Aku ingin menikah, sekarang juga. Meresmikan hubungan kita dan biar kita buat semacam upacara sederhana di kuil! Kau tahu ada kuil di dekat-dekat sini?"

"Ada..." Wan Hoa pucat dan merah berganti-ganti. "Tapi kuil kosong, Koko, tak ada pendeta..."

"Tak apa. Kita nyalakan lilin, Hoa-moi. Kita adakan upacara darurat dan kita menikah. Aku ingin meninggalkan dirimu sebagai istri Hek-eng Taihiap, mengikat resmi hubungan kita! Di mana kuil itu?"

"Di sana..."

Begitu Hek-eng Taihiap menyambar dan membawa terbang kekasihnya, segera Wan Hoa dibawa ke tempat itu. Mereka mendapatkan sebuah kuil kosong dan di situ kedua orang ini berlutut di depan altar. Mereka menyalakan lilin dan sembahyang, bersumpah dan berjanji bahwa sejak itu mereka resmi menjadi suami istri. Keadaanlah yang menyebabkan mereka mengambil jalan pintas; tak mungkin ramai-ramai atau membuat acara di tengah-tengah suku bangsa liar itu. Bisa berbahaya!

Ketika keduanya selesai dan masing-masing sudah menyatakan setia sebagai suami istri, maka hari itu Wan Hoa menyerahkan dirinya kepada Hek-eng Taihiap, resmi sebagai suami istri dengan langit dan bumi sebagai saksinya. Mengharukan. Keduanya sudah seakan hidup sebatang kara saja; Wan Hoa sudah tak memiliki siapa-siapa lagi sejak masuk ke istana itu, kecuali Cao Cun.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment