Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 71

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 71

Oleh karena Pendekar Garuda Hitam ini sebatang kara di dunia dan tidak memiliki sanak saudara, keduanya menikah dengan cara yang sangat sederhana.

Situasi dan kondisi tidak memungkinkan mereka melakukan banyak adat. Bahkan, mengadakan perayaan atau melangsungkan pernikahan di tengah suku bangsa liar itu bisa membahayakan keduanya, terutama Wan Hoa. Maka, begitu keduanya resmi mengikat diri dan Wan Hoa telah selesai menjalankan kewajibannya, Hek-eng Taihiap melukai ibu jarinya dan menggoreskan darah di kening istrinya.

"Kini kau istriku, *moi-moi*. Segala apa yang terjadi, kini kita pikul berdua!"

Wan Hoa terisak. "Dan kau berhati-hatilah, Beng-ko. Jaga dan lindungi baik-baik Ituchi."

"Tentu, dan aku juga akan menjagamu, *moi-moi*. Kalau ada apa-apa, beri tahu padaku dan setiap bulan aku akan menengok!"

Keduanya berpisah. Wan Hoa telah mendapat tanda dari suaminya, kembali dan menemani Cao Cun. Tapi, ketika Hek-eng Taihiap kembali dan hendak menemui Ituchi, ternyata anak laki-laki itu menghilang!

"Ituchi... Ituchi...!" Hek-eng Taihiap memanggil-manggil. "Di mana kau? Ke mana kau...?"

Tak ada jawaban. Hek-eng Taihiap gelisah dan tiba-tiba berteriak ke seluruh hutan. Dia sekarang menyesal mengapa terlalu lama meninggalkan anak itu. Ketika suaranya menjadi serak dan pendekar ini menggigil serta pucat, mendadak di atas kepalanya, tepat di pohon pek, terdengar suara "ah-oh" dan Ituchi ternyata ada di sana.

"Hei...!" Hek-eng Taihiap girang, langsung meloncat. "Kenapa kau, Ituchi? Ada apa?"

Namun, sang anak yang tiba-tiba tertarik dan hilang di balik kerimbunan pohon membuat pendekar ini kaget dan berseru tertahan. Ia berjungkir balik dan hinggap di dahan itu. Dia terbelalak memandang ke atas, terkesiap. Dan ketika suara "ah-oh" terdengar lagi namun di pohon sebelah, tiba-tiba pendekar ini terkejut dan berteriak marah.

"Ituchi....!"

Namun, sang anak pun lenyap. Hek-eng Taihiap telah melayang dan berjungkir balik ke pohon itu, tetapi Ituchi hilang dan muncul lagi di pohon yang lain. Ia mengejar, namun anak itu lenyap lagi untuk kemudian muncul pada pohon berikutnya.

Ketika enam atau tujuh kali kejadian itu berlangsung, Hek-eng Taihiap kaget dan tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa seseorang yang lihai sedang mempermainkan dirinya. Tak ayal, pendekar ini memaki marah. Dan ketika dia meloncat turun dan menyuruh siluman yang membawa Ituchi memperlihatkan diri, maka seperti iblis, entah kapan datangnya, tiba-tiba sesosok tubuh tinggi kurus dan pucat terkekeh di belakang pendekar ini.

"Heh-heh, aku di sini, Hek-eng Taihiap. Kenapa berteriak-teriak? Lihatlah!"

Hek-eng Taihiap membalik. Dia merasa tiupan napas di belakang kuduknya, dekat sekali. Dan begitu dia membalik serta membentuk kepalan untuk menghantam, sepotong lengan kurus menyambut pukulannya.

"Dess!"

Pendekar Garuda Hitam ini mencelat terguling-guling. Dia kaget bukan main, berseru keras, menggigit bibir, dan melompat bangun. Ketika dia melihat siapa di situ, mendadak pendekar ini tersirap dan seolah hilang seluruh darahnya.

"*Cam-kong* (Pembunuh Petir)...!"

Pendekar ini tertegun. Cam-kong, Pembunuh Petir yang kurus menyeramkan itu ada di situ, menenteng Ituchi sambil tertawa aneh. Pucat muka pendekar ini, namun membentak berseru nyaring, dia tiba-tiba menerjang, nekat, dan menghantam. Kali itu, Cam-kong mendengus. Entah sial apa, pendekar ini bertemu dengan iblis yang sakti itu. Begitu si iblis mengelak dan membalik, tahu-tahu pendekar ini terbanting dan muntah darah.

"Buk!"

Hek-eng Taihiap pucat pasi. Dia melompat dan terhuyung bangun. Ituchi di sana terbelalak dan mengeluh panjang pendek. Anak itu pun pucat. Namun, marah menggeram maju, pendekar ini kembali menerjang, dikelit, dan cepat serta bertubi-tubi ia menyerang lagi. Hek-eng Taihiap tak mempedulikan diri sendiri dan akhirnya ia mencabut pedangnya. Dengan bertubi-tubi dan nekat, ia menyerang lawan yang jauh di atasnya ini.

Ketika Cam-kong mendengus dan tertawa aneh, tiba-tiba Pembunuh Petir itu menangkis dan membentak, "Hek-eng Taihiap, robohlah!"

"Krak!"

Pedang yang patah menjadi dua akhirnya membuat pendekar itu terbanting dan mengeluh, sadar bahwa ia bukan tandingan iblis amat sakti ini. Dia menggeliat dan mau bangun kembali, tetapi roboh dan terjerembab. Ketika dua kali pendekar itu gagal bangun berdiri, Cam-kong berkelebat di depannya dan tahu-tahu menyentuh jalan darah di atas ubun-ubunnya.

"Hek-eng Taihiap, suruh anak ini menjadi muridku kalau kau ingin hidup. Ia tak dapat kubujuk!"

Hek-eng Taihiap tertegun. Dia kini terbelalak memandang iblis itu, lalu Ituchi. Dan ketika Ituchi dibebaskan totokannya dan dapat bicara, tiba-tiba anak itu berteriak mendahului, "Tidak, jangan, Paman. Aku tak mau menjadi muridnya! Dia telah berkali-kali memaksa diriku!"

"Hm, diam kau," Cam-kong tertawa aneh. "Orang ini tak pantas menjadi gurumu, anak baik. Bukankah ia roboh dalam beberapa gebrakan saja? Kau pantas menjadi muridku, diam dan biar gurumu bicara."

"Tidak.... tidak....!"

Namun, Cam-kong yang terpaksa menotok dan menutup kembali mulut anak itu akhirnya bengis memandang Hek-eng Taihiap. "Anak ini tergantung suaramu. Kalau kau setuju, tentu dia tak dapat bicara lagi. Nah, katakan kau mau dan nyawamu selamat!"

Hek-eng Taihiap menggigil. Kini dia tahu bahwa Ituchi ditangkap iblis yang amat sakti ini dan dibujuk, tapi si bocah menolak. Hek-eng Taihiap tahu watak Ituchi, memang anak itu tak mudah dibujuk. Sekali dia menetapkan pilihan, maka biar setan pun tak akan dia gubris. Maka, mendengar permintaan itu, tiba-tiba pendekar ini tertawa.

"Cam-kong, kau memang lihai dan hebat. Tapi kau ganas, mana mungkin anak itu mau menjadi muridmu? Ha-ha, kau tak akan berhasil, Cam-kong. Lebih baik kau lepaskan dia dan pergi!"

"Plak!"

Cam-kong menampar, membuat lawannya terpelanting. "Kau jangan macam-macam, orang she Siok. Kalau kau tak mau membantuku, tentu kekasihmu itu kubunuh pula! Kau ingin Wan Hoa menjadi mayat?"

"Tidak!" Hek-eng Taihiap terkejut. "Kau... ah, kau rupanya sudah tahu semua, Cam-kong? Kau busuk dan keji!"

"Heh-heh, tak perlu berkaok-kaok, bocah she Siok. Sekarang pergunakan kesempatanmu baik-baik dan bujuk anak ini agar mau menjadi muridku!"

Hek-eng Taihiap terguncang. Mukanya tiba-tiba menjadi merah dan beringas, mata meliar, dan ia pun memandang penuh kebencian kepada lawannya itu. Cam-kong rupanya sudah mengetahui semua hubungannya dengan Wan Hoa. Ia terkejut dan jengah membayangkan iblis itu tahu pula saat dia menggauli sang istri. Namun, mengedikkan kepala dan berseru gagah, Hek-eng Taihiap coba mengembalikan masalah kepada Ituchi.

"Cam-kong, kau tak perlu tanya aku. Seharusnya yang bersangkutan kau tanya sendiri dan langsung!"

"Bocah ini menyerahkan padamu, orang she Siok. Kalau kau setuju, dia pun setuju. Kau dianggapnya sebagai pengganti Kim-mou-eng yang dapat dipercaya!"

Lalu membebaskan totokan Ituchi lagi, Pembunuh Petir ini berseru, "Nah, bukankah begitu, anak baik? Kau bilang apa tadi kepadaku?"

Ituchi tertegun. Tadi ketika dia ditangkap dan dibujuk, memang dia menolak dan menyatakan bahwa itu tergantung pamannya, Hek-eng Taihiap—sebuah kata-kata yang dimaksud untuk mengulur waktu belaka. Tapi kini, diadu dengan pamannya dan ditanya apakah betul atau tidak, tiba-tiba anak ini terpaku.

"Bagaimana, kau mau belajar bohong?"

"Tidak!" Ituchi tiba-tiba marah, tersinggung telak. "Aku memang bicara begitu, Cam-kong. Dan aku tak usah menyangkal!"

"Ha-ha, bagus, anak baik. Bagus! Nah, bagaimana sekarang jawabanmu, Hek-eng Taihiap? Kau mau atau tidak?"

Hek-eng Taihiap bingung. Dia mengumpat kelicikan iblis ini; Ituchi disuntik tepat pada harga dirinya. Anak itu memang jujur dan tak mau bohong. Wan Hoa dan Cao Cun telah mendidik anak ini untuk bersikap berani, gagah, dan jantan. Karena tak ada lain jalan untuk mengiyakan atau menolak, akhirnya Hek-eng Taihiap berseru melepaskan kemarahannya.

"Cam-kong, meskipun anak ini menunggu jawabanku, tapi semuanya kupulangkan kembali padanya. Aku sudah kau robohkan, mau bunuh boleh bunuh, mau siksa boleh siksa!"

"Eh, kau nekat?"

Hek-eng Taihiap mendelik. "Kalau begitu, heh-heh... kekasihmu kubawa ke sini, orang she Siok. Boleh kau lihat apa yang akan kulakukan."

"Tidak!"

Hek-eng Taihiap yang menjerit serta memekik ngeri tiba-tiba menggigit jari lawan yang ada di atas kepalanya, membuat Cam-kong terkejut dan kakek iblis itu membentak. Apa yang dilakukan memang tidak disangka. Karena Hek-eng Taihiap menggigit begitu kuat dan jari itu tak dapat dilepaskan, akhirnya Cam-kong menggerakkan tangannya yang lain menampar kepala pendekar itu.

"Prakk!"

Hek-eng Taihiap roboh. Seketika pendekar ini binasa. Ituchi memekik dan meronta di pelukan kakek itu. Cam-kong menendang mayat pendekar ini dan menotok anak itu pula. Ketika Ituchi mengeluh dan pingsan di pelukan kakek ini, tiba-tiba Cam-kong tertawa aneh menyambar mayat Hek-eng Taihiap. Lalu begitu dia terbang dan menggerakkan kakinya menuju ke tempat Wan Hoa, maka wanita itu histeris menerima lemparan tubuh suaminya.

"Brukk!"

Cam-kong menghilang lagi. Wan Hoa menjerit melihat mayat suaminya, Hek-eng Taihiap telah kaku dengan kepala pecah. Ketika wanita itu pingsan dan roboh di kemahnya, maka Cao Cun ganti terkejut melihat kejadian itu. Ia tidak mengenal Hek-eng Taihiap, tapi lalu menyadarkan Wan Hoa. Sahabatnya ini menangis tersedu-sedu dan menubruk mayat itu, pingsan lagi dan disadarkan lagi.

Kejadian itu menggegerkan tempat tersebut, namun bangsa liar ini tentu saja acuh terhadap mayat Hek-eng Taihiap yang dianggap orang asing. Wan Hoa menceritakan secara terputus-putus siapa Hek-eng Taihiap ini, jatuh bangun dan menangis tak henti-hentinya. Cao Cun menghibur dan memeluk sahabatnya, ikut menangis. Ia terkejut karena baru kali itu Wan Hoa menceritakan dirinya. Dan ketika seminggu kemudian Wan Hoa berkabung untuk kematian suaminya, wanita itu pun akhirnya jatuh sakit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment