Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 72

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 72

Wan Hoa terpukul hebat. Tentu saja dia tak tahu siapa yang membunuh suaminya. Cam Kong terlalu lihai gerakannya untuk diikuti. Ah, nasib malang kini menyertai wanita itu.

Ketika hari demi hari sakit Wan Hoa bertambah parah dan wanita itu sering mengigau, Cao Cun yang setia menunggu di tepi pembaringan ikut kurus dan menangis tak henti-hentinya.

"Sudahlah, Wan Hoa. Kenapa kau demikian sedih dan berduka? Kenapa teringat selalu kepada mendiang suamimu itu? Ituchi akan membalasnya, Wan Hoa. Tenang dan cepatlah sembuh!"

Wan Hoa malah terisak. Dia sebenarnya berduka akan dua hal: satu tentang suaminya dan yang lain tentang Ituchi. Dia sama sekali tak menceritakan bahwa Ituchi dibawa oleh Hek Eng Taihiap, karena sebelumnya dia mengatakan anak itu dibawa oleh Kim-mou-eng. Jadi, Cao Cun menganggap Ituchi sudah berada di tangan Kim-mou-eng. Karena Hek Eng Taihiap tewas, yang merupakan indikasi baginya bahwa anak itu tentu tak selamat pula, Wan Hoa menganggap suaminya gagal dan Ituchi ikut terbunuh. Hal ini tak dapat dia ceritakan pada Cao Cun; dia merasa ngeri untuk mengatakannya.

Ketika Cao Cun menghibur bahwa kelak Ituchi akan membalas dan mencari pembunuh suaminya, wanita ini malah tersedu.

"Ah, Cao Cun... Cao Cun..." Wan Hoa menjerit dalam hati. "Mana kau tahu anakmu sudah terbunuh? Mana kau tahu bahwa kegagalan suamiku berarti kegagalanku pula? Tidak, aku berdosa padamu, Cao Cun. Aku berdosa!"

Wan Hoa yang mengguguk membuat Cao Cun bingung dan salah sangka; ia mengira kesedihan Wan Hoa semata-mata karena besarnya cinta terhadap mendiang suaminya. Cao Cun menghela napas dan teringat dirinya sendiri, betapa dulu ia begitu tergila-gila dan jatuh cinta terhadap Kim-mou-eng hingga beberapa kali hendak bunuh diri. Cinta memang tak dapat disalahkan.

Ketika Cao Cun kembali membujuk sahabatnya dengan menyebut-nyebut Ituchi, mendadak Wan Hoa bertambah sakitnya.

"Sudahlah, Cao Cun. Jangan hibur aku lagi dan biarkan aku sendiri. Aku... aku kini ingin sendiri..."

Cao Cun terbelalak. "Tapi obat ini harus kau minum, Wan Hoa. Kau harus sembuh!"

Wan Hoa menggeleng. Dia tersedu menolak obat itu dan menyuruh Cao Cun meletakkannya di meja. Ketika Cao Cun menangis dan memeluk sahabatnya, Wan Hoa yang kini kurus tinggal tulang menyuruhnya keluar.

"Wan Hoa, kau mau apa...?"

"Tidak... tidak apa-apa. Hanya... aku ingin sendiri sejenak, Cao Cun. Kau keluarlah dan biar kulihat bayangan suamiku. Semalam dia datang, memeluk, dan mau menjemputku..."

Cao Cun menangis tak keruan. Ini tanda tak baik; dia merasa sangat menyesal dan berduka. Ketika Wan Hoa memaksa dan menyuruhnya keluar, akhirnya Cao Cun pergi sambil menutup pintu kamar, hampir tak dapat lagi menghibur sahabatnya karena semua usahanya sia-sia.

Cao Cun masih menganggap kesedihan Wan Hoa adalah karena kematian suaminya, tak tahu bahwa "kematian" Ituchi membuat Wan Hoa terpukul lebih berat. Bahkan, agaknya hal inilah yang lebih memukul batinnya. Wan Hoa menganggap tugasnya gagal dan dia merasa berdosa. Sebulan ini wanita itu tak habis-habisnya menangis. Tepat sebulan setelah bayangan suaminya muncul di dalam mimpi, pagi itu Wan Hoa minta agar Cao Cun keluar. Sejam kemudian, Cao Cun mendapati Wan Hoa dalam keadaan kaku dan dingin.

"Wan Hoa...!" Raung menyayat itu meremangkan bulu kuduk.

Seluruh bangsa liar dikejutkan oleh tangis dan jerit Cao Cun. Wanita itu menubruk dan terguling-guling memeluk mayat Wan Hoa. Cao Cun seakan tak percaya bahwa sahabatnya akhirnya meninggalkannya juga. Wan Hoa telah meninggal.

Ketika Cao Cun tersedu dan menciumi mayat itu, tiba-tiba dia menyambar dan menggendong mayat Wan Hoa sambil berlari-lari, menangis, dan tertawa.

"Wan Hoa, hi-hik... kau meninggalkan aku juga? Kau membiarkan aku sendiri? Oh, kau nakal, Wan Hoa, kau kejam... kau... brukk!"

Cao Cun terguling, jatuh bersama Wan Hoa dan bangsa liar geger. Cao Cun menangis dan tertawa-tawa. Ketika semuanya menolong dan hendak mengambil mayat itu, Cao Cun membentak dan bangkit berdiri.

"Kalian mau bawa ke mana sahabatku itu? Tidak, berikan dia kepadaku, pengawal. Berikan!"

Cao Cun kalap, menubruk dan menyambar lagi mayat sahabatnya, bahkan memukul pengawal. Cao Cun memeluk dan menciumi lagi mayat itu. Dayang menangis dan pengawal bercucuran air mata. Persahabatan dan kecintaan Cao Cun terhadap sahabatnya memang diketahui semua orang. Saat Cao Cun menangis dan tertawa memeluk mayat sahabatnya, dia tampak seperti orang yang kehilangan akal sehat. Tak ada seorang pun yang tidak meneteskan air mata melihat kejadian itu, termasuk Khan sendiri.

Setelah Cao Cun letih dan terhuyung-huyung membawa mayat temannya yang tentu saja tak dapat menjawab semua pertanyaannya, wanita ini pun roboh pingsan. Hari itu bangsa liar berkabung. Cao Cun mengigau dan memanggil-manggil sahabatnya dengan sangat menyedihkan.

Ketika Wan Hoa dimakamkan dan Cao Cun menangis di pusaranya, keluhan dan ratap tangis wanita ini sangat menyayat hati.

"Wan Hoa, kau kejam. Kau tak adil. Dulu aku mau mati tapi kau cegah, kau tak mau sendiri. Kenapa sekarang kau meninggalkan aku dan hidup sendiri? Ah, kalau tak ingat anak-anakku, tentu kususul kau, Wan Hoa. Aku juga tak mau hidup sendiri dan ingin menyusulmu!"

Ketika para pengawal terharu, wanita ini meraup tanah kuburan itu. "Wan Hoa, biarlah kucuci muka dengan tanah kuburanmu. Kalau kelak aku menyusul, jemputlah aku!"

Cao Cun benar-benar mencuci muka dengan tanah itu, meraupkannya ke seluruh wajah, dan selama tujuh hari wanita ini tidak menghilangkannya. Itulah cara anehnya untuk mengenang sahabat.

Ketika wanita itu masih termenung di pusara sahabatnya, seorang bocah perempuan terisak di sebelahnya. "Ibu, Halingi menangis..."

Cao Cun sadar. Seorang bocah perempuan lain menangis, dayang sibuk mendiamkannya tapi anak itu tak mau diam. Itulah anak perempuannya nomor dua, Halingi. Ketika Cao Cun bangkit dan menerima anak ini, wanita itu menepuk-nepuknya dengan air mata bercucuran.

"Halingi, diam. Ataukah kau ingin ibumu menangis dan sedih lagi? Diam, Nak... diam. Mari kita pulang."

Anak itu diam. Cao Cun membawa pergi anak perempuannya ini, juga anaknya yang lain, Maringa (Si Mawar Cantik), yang tadi menyenggol dan berbisik di sebelahnya. Hari itu Cao Cun meninggalkan makam sahabatnya dan untuk pertama kali merasakan kekosongan hidup yang luar biasa. Dia pun tinggal di rumah dengan banyak merenung.

Kepergian Wan Hoa dinilai sebagai kehilangan yang berat. Cao Cun kurus dan semakin kurus saja; tak ayal ia pun jatuh sakit. Ketika seorang dayang setia bernama Mayang memperingatkannya untuk menjaga kesehatan, ia berhasil menyadarkan Cao Cun.

"Ingat, Paduka masih dibutuhkan anak-anak Paduka ini, Ratu. Kalau ada apa-apa dan anak ini sampai terlantar, tentu kasihan Halingi dan Maringa."

Cao Cun mengangguk. Dia adalah "Ratu" di bangsa liar itu, dihormati dan disegani karena dia adalah istri mendiang Raja Hu, raja pertama di tempat itu. Ketika dia sadar dan memeluk anak-anaknya, Cao Cun teringat pula pada Ituchi, putranya. Bangkitlah harapannya bahwa kelak anak laki-lakinya itulah yang akan membahagiakannya. Cao Cun tak tahu bahwa kelak nasib buruk pun akan menimpa putranya ini. Hari demi hari mulai dilewati wanita itu dengan sedikit tenang.

"Cu-wangwe jahanam keparat! Cu-wangwe manusia terkutuk...!"

Caci dan teriakan itu menggegerkan Mingciang. Pagi itu, sejumlah nelayan berteriak-teriak di depan gedung hartawan Cu. Sebelas nelayan melancarkan protes, menentang kebijaksanaan yang tidak adil dari hartawan itu. Ketika tukang-tukang pukul mulai berdatangan dan membentak mereka, kaum nelayan ini bukannya reda, melainkan justru semakin beringas.

"A-lok, kau penjilat pantat Cu-wangwe! Mana kesetiakawananmu kepada orang kecil? Bukankah kau bekas nelayan dan kini diangkat sebagai tukang pukul? Seharusnya yang kau pukul adalah hartawan itu, A-lok! Bukankah kami yang sudah menderita dan dipermainkan!"

Seorang nelayan membalas membentak. Dia dipukul dan cepat-cepat meraih sebatang dayung. Dayung ini hendak dihantamkannya kepada A-lok, namun teman-temannya yang lain mencegah. Mereka bukan bermusuhan dengan tukang pukul itu, yang notabene masih bekas teman sendiri. Ketika keributan itu memuncak dan dari mana-mana muncul nelayan lain bergerombol dan bersatu dengan sebelas nelayan ini, di lain tempat juga terjadi hal serupa di tempat Bhong-wangwe.

"Benar, Bhong-wangwe pun manusia penindas. Kita harus turun tangan dan menentang ketidakadilan!"

Teriakan dan pekik ini tiba-tiba merata di seluruh Mingciang. Cu-wangwe, yang mula-mula menjadi penyulut dan sebab dari semuanya itu, mendadak menjalarkan penyakitnya ke mana-mana. Hartawan itu mulai gila-gilaan lagi menentukan bagi hasil; dia berani bertindak setelah Kwee Han pergi ke kota raja karena dia punya pelindung di istana. Ketika secara perlahan namun licik bagi hasil itu dipertinggi dan kian lama kian menyengsarakan, para nelayan pun berontak dan untuk kesekian kalinya mereka berdemonstrasi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment