Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 73

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 73

"Cu-wangwe harus kita bunuh. Tangkap dan rampas perahunya! Bhong-wangwe serta Kim-wangwe juga harus kita tuntut. Mereka sama-sama juragan yang tak tahu diri!"

"Benar, juragan yang lain juga harus kita sikat, kawan-kawan. Mereka menaikkan bagi hasil seenak perutnya sendiri dan menjadi kaum penindas!"

Ming-ciang menjadi ribut. Di mana-mana mendadak kaum nelayan bersuara lantang menuntut Cu-wangwe dan kawan-kawan untuk berbuat adil. Kini hampir semua juragan perahu menerapkan sistem bagi hasil satu banding dua puluh, keadaan yang tentu saja mencekik dan menjerat leher kaum pelayan ini.

Ketika keributan semakin menjadi dan para tukang pukul mencoba menghalau namun dilawan, tiba-tiba seseorang memekikkan keberanian Kwee Han yang dulu memelopori mereka. "Kawan-kawan, serbu! Ingat keberanian Kwee Han yang dulu menyelamatkan kita!"

Tak ayal, kaum nelayan ini bergerak. Mereka menyerang dan menghadapi para tukang pukul itu, bukan hanya di tempat Cu-wangwe saja, melainkan juga di tempat hartawan lain. Rupanya, ketimpangan hidup yang menyolok ini telah membuat semacam kesepakatan di antara kaum nelayan untuk mengadakan pemberontakan terhadap ketidakadilan yang menggencet mereka.

Ketika di mana-mana timbul kerusuhan, pasukan keamanan menjadi sibuk dan bingung oleh sepak terjang rakyat kecil ini. "Tahan, jangan mengacau. Tahan!" Namun, bentakan maupun imbauan pasukan keamanan itu sia-sia. Kaum nelayan terlanjur menyerbu, jumlah mereka mencapai ratusan. Karena pasukan keamanan tak sebanding jumlahnya dengan mereka—meskipun ditambah para tukang pukul milik kaum hartawan—maka kerusuhan yang pernah terjadi beberapa tahun lalu di kota ini terulang lagi.

Para juragan terbirit-birit melarikan diri. Ketika tindakan sudah mulai mengarah pada pengrusakan dan pembakaran rumah, bantuan diminta dari kota raja. Datanglah lima ratus pengawal istana yang merupakan golongan *bu-su* (pasukan yang pandai silat) untuk menyergap dan menangkap para pemberontak. Akhirnya, kaum nelayan bubar. Mereka berantakan dan tentu saja bukan lawan pasukan istana yang tangkas.

Namun, karena sumber ketidakpuasan berasal dari pembagian hasil yang menyangkut masalah perut, ketegangan maupun dendam para nelayan tak dapat dihapus. "Kita siap mati kalau ditangkap. Betapapun, ini memang persoalan hidup-mati anak istri kita!" Keadaan menjadi seperti api dalam sekam.

Kaum nelayan yang ditangkap diperiksa dan menceritakan ketidakadilan yang terjadi, bahwa mereka diperas dan ditindas. Kini, bagi hasil menjadi begitu gila-gilaan karena sistem satu banding dua puluh berarti sembilan puluh lima persen untuk juragan, sementara mereka yang bekerja keras hanya menerima lima persen.

Ketika komandan pasukan, Pu-ciangkun, mendengar hal itu, ia mengerutkan kening dan segera memanggil serta menegur Liem-taijin selaku kepala daerah. "Bagaimana ini? Kenapa Cu-wangwe dan lain-lain menindas dan mencekik rakyat? Kau sebagai kepala daerah mestinya tahu semua permainan ini. Kau ikut bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat!"

"Maaf, wewenangku terbatas, Ciangkun. Kalau Ciangkun mau bersabar sebentar, sebaiknya tunggu seseorang yang lebih tahu."

Pu-ciangkun terbelalak. Ia merasa ganjil mendengar jawaban itu. Liem-taijin hanya tersenyum tenang. Tiba-tiba, A-siong, nelayan muda yang ditangkap, menuding, "Ciangkun, percuma bertanya padanya. Liem-taijin ini antek Cu-wangwe!"

"Plak!" Seorang pengawal menampar. "Diam kau, nelayan busuk! Atau kami akan membunuhmu sebelum bicara!"

Pengawal itu hendak mendaratkan pukulan lagi, namun dicegah oleh Pu-ciangkun yang membentak. Komandan pasukan istana ini tidak senang merasa dilangkahi. Karena Pu-ciangkun adalah perwira jujur yang bertangan keras, ia menyuruh pengawal Liem-taijin mundur. "Jangan lancang. Mundur dan pergilah!"

Liem-taijin memberi isyarat. Pengawalnya mundur sambil tersenyum mengejek, namun ketika Pu-ciangkun melotot, ia mengkeret dan membiarkan majikannya berbicara dengan komandan pasukan istana itu.

"Taijin, seharusnya sebagai kepala daerah kau mengayomi rakyat, melindungi si kecil. Kenapa kau berkomplot dan melindungi hartawan-hartawan itu? Lihat, nelayan hanya mendapat lima persen, padahal merekalah yang bersusah payah dan mandi keringat!"

"Ah, itu kebijaksanaan juragan perahu, Ciangkun. Kalau mereka tak puas, seharusnya pergi dan berhenti saja, tak usah protes."

"Pergi bagaimana?" A-siong berteriak. "Kami tercekik utang yang harus dilunasi, Ciangkun. Tak boleh pergi atau berhenti bila belum melunasi utang itu!"

Pu-ciangkun memandang Liem-taijin. Liem-taijin mengangguk tenang. "Hal itu wajar, Ciangkun. Kalau kau sendiri, bagaimana sikapmu kalau anak buahmu merat sebelum melunasi utang? Mungkinkah mereka kau biarkan pergi?"

"Hm..." Panglima ini mengurut jenggotnya, kalah suara.

"Bagaimana kami bisa melunasi utang itu?" A-siong menyambung. "Untuk makan sekeluarga saja sudah kelabakan, Ciangkun, jangankan untuk melunasi utang. Kalau bagi hasil berjalan pantas, tentu kami dapat melunasinya!"

Panglima ini tertegun. "Apa yang dikatakan nelayan ini betul, Taijin. Pokok persoalan memang pada ketimpangan bagi hasil itu. Kau membiarkan Cu-wangwe dan teman-temannya menindas!"

"Dia juga!" A-siong kembali menuding. "Liem-taijin ini juga memiliki seratus perahu, Ciangkun. Hanya di atasnamakan orang lain!"

"Bohong!" Liem-taijin membentak. "Orang ini mengaco, Ciangkun. Jangan kau dengarkan mulutnya karena itu fitnah! Sebaiknya mulutnya dibungkam!"

Namun, Pu-ciangkun menyuruh Liem-taijin diam. "Tidak, ini urusanku, Taijin. Keamanan di sini sekarang menjadi tanggung jawabku. Aku akan memeriksa kasus ini!"

Pu-ciangkun memanggil anak buahnya untuk mengumpulkan data. Berapa orang kaya di situ, dan apakah benar Liem-taijin memiliki seratus perahu yang di atasnamakan orang lain. Setelah berkas dikumpulkan dan perkara diusut, terbukti Liem-taijin terlibat. Pantas ia melindungi para juragan perahu!

"Taijin, sekarang terbukti. Kau pun mempunyai andil di sini. Kau ikut memeras dan mencekik rakyat! Nah, ini saudaramu, Liem Hu, sudah kuperiksa dan ia mengaku. Apa katamu sekarang setelah ada bukti-bukti ini? Kau masih menyangkal?"

Liem-taijin terkejut. Pu-ciangkun benar-benar bertangan besi. Saudaranya, Liem Hu, telah dipaksa mengaku dengan tubuh memar. Ketika pembesar itu tertegun, panglima itu berkata lagi, "Nah, sekarang kau harus ikut aku, Taijin. Kita menghadap Gubernur Ping!"

Liem-taijin pucat, tetapi tiba-tiba ia tersenyum dan tertawa lebar. "Ciangkun, nanti dulu. Ping-taijin saat ini justru sedang mengutus seseorang. Lihatlah ia!"

Seseorang masuk. Pu-ciangkun terkejut melihat laki-laki gemuk melangkah lebar, berhenti, dan tersenyum kepadanya. Laki-laki itu menjura dan menyerahkan sepucuk surat.

"Ciangkun, aku Swee-hok, wakil Gubernur Ping. Katanya ada sedikit keributan di sini. Terimalah, ini surat dari Hao-taijin!"

Pu-ciangkun menerima dan membuka surat itu. Begitu membaca, ia terperanjat. Isinya menyuruh dia pulang ke kota raja karena urusan itu akan ditangani Gwa-ciangkun, seorang perwira lain yang tiba-tiba muncul di samping Swee-hok. Pu-ciangkun pucat pasi, mengerti apa artinya itu. Panglima ini tersentak dan tak dapat berbuat apa-apa.

"Baiklah, maaf, Swee-taijin. Kiranya atasan memanggilku. Urusan ini kulimpahkan pada Gwa-ciangkun!"

Pu-ciangkun pergi hari itu juga kembali ke kota raja, tak jadi menangkap Liem-taijin dan A-siong. Nelayan muda itu tidak tahu apa yang terjadi, mengapa kemenangannya yang hampir dibela Pu-ciangkun mendadak padam.

Ketika berkas diterima dan dilipat oleh Gwa-ciangkun, perwira baru itu membuang berkas tersebut ke dalam api hingga ludes terbakar.

"Ha ha, bagus, Gwa-ciangkun. Terima kasih. Dan juga Swee-hok-taijin!" Liem-taijin bertepuk tangan gembira. Mereka bertiga tertawa bersama.

A-siong melihat Liem-taijin menjamu dua tamu baru itu dengan kasak-kusuk dan memberikan sejumlah bungkusan. A-siong tiba-tiba sadar bahwa itulah suap, sebuah permainan kotor. Ketika ia terbelalak melihat dua orang itu diberi uang begitu banyak, Liem-taijin mendengus mengejek, "Lihat, tikus kecil. Kau tak dapat menjatuhkan kami, orang-orang besar!"

"Keparat!" A-siong berteriak. "Terkutuk kau, Liem-taijin. Rupanya kau serigala berbulu domba!"

"Ha-ha, kau memaki? Eh, seret dia, pengawal! Bungkam mulutnya dan lempar jauh-jauh!"

A-siong meronta. Pengawal yang tadi memukulnya maju dengan gembira, meringkus, dan menutup mulutnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment