Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 74

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 74

Ketika nelayan muda itu melawan dan memberontak, tiba-tiba pengawal menghantamnya dengan gagang tombak sambil membentak. Nelayan itu pun segera disiksa.

Dia sendirian di tempat itu. Pelindungnya, Pu-ciangkun, telah tiada. Saat nelayan itu mengaduh dan memaki, pemuda itu diseret dan ditendangi, menjadi permainan bagi beberapa pengawal lain yang datang. Tak ayal lagi, pemuda itu babak belur. Tindakan pengawal itu dilakukan atas suruhan Liem-taijin.

Ketika para pengawal terbahak-bahak menghajar pemuda itu, akhirnya A-siong tewas dengan tubuh yang tidak utuh lagi. Para nelayan yang menemukan mayatnya geger. Mereka berniat memberontak, tetapi lima ratus busur menjaga ketat. Mereka kasak-kusuk dan akhirnya mengambil keputusan untuk menyerbu gedung Liem-taijin pada malam hari.

Namun, sebelum rencana itu dilaksanakan, seseorang berseru agar mereka meminta bantuan Kwee Han.

"Tunggu, banjir darah nanti. Bagaimana kalau kita meminta bantuan Kwee Han? Dia sekarang menjabat sebagai menteri muda, kawan-kawan. Sebaiknya tunda maksud itu dan biarkan beberapa di antara kita pergi ke sana!"

"Ah," seseorang menyahut. "Kwee Han telah berkali-kali menolong kita, Lu San. Kalau kita mengganggu dan datang lagi kepadanya, aku khawatir dia tidak senang."

"Benar," seorang kakek tua muncul. "Kalau terlalu sering meminta bantuannya, tentu kita dianggap pengganggu, Lu San. Kwee Han sekarang sudah berbeda dengan Kwee Han yang dulu. Sebaiknya cari orang lain saja dan jangan mengganggunya!"

"Hm, Pwe-lopek kiranya..." Lu San, nelayan kekar itu tertegun. "Ada apa kau bicara begini, Lopek? Bukankah Kwee Han berjanji akan selalu menolong kita?"

"Benar, tapi perubahan telah terjadi, Lu San. Aku orang tua telah melihatnya."

"Ahh, dia dua kali telah menolong kita. Lihat puluhan ribu yang telah dia berikan kepada kita untuk membayar utang, bukankah ini menunjukkan Kwee Han tak berubah? Kau agaknya justru tak bersyukur, Lopek. Kau keliru memandang Kwee Han!"

"Hm, bagaimana aku menjelaskannya? Aku tidak keliru memandang, Lu San, tapi itulah yang kulihat. Boleh tanya pada A-kong atau A-sam."

Dua orang yang disebut kebetulan tidak ada di tempat. Ketika kakek itu mendesah melihat yang lain tidak senang, tiba-tiba ia berkata, "Lu San, sebaiknya lihat apa yang terjadi. Pernahkah Kwee Han datang ke mari? Pernahkah dia menepati janji menemui kita? Ini pertanda dia tidak mau mengurus kita, Lu San. Barangkali Kwee Han takut kedudukannya terancam!"

"Ah, Pwe-lopek malah bercuriga!" Lu San berseru. "Kwee Han telah menolong kita dengan budinya yang begitu besar. Tidak boleh sebenarnya kita berprasangka buruk kepadanya. Betapapun, aku ingin meminta bantuannya dan mencegah rencana serbuan ini!"

"Benar, tapi tak mungkin berhasil, Lu San. Kalau mau minta tolong sebenarnya ada seseorang, tapi aku tak tahu di mana dia berada."

"Siapa?"

"Pendekar Rambut Emas!"

Orang-orang tertegun. Nama itu memang dapat dijadikan jaminan, namun karena Pendekar Rambut Emas adalah seorang yang tidak tentu tempat tinggalnya, mereka menjadi dingin dan diam saja.

"Pwe-lopek," Lu San menjawab. "Barangkali kau benar. Tapi untuk saat ini kita sudah diburu waktu. Kim-mou-eng tidak mungkin kita cari. Aku masih tetap ingin menghubungi Kwee Han dan biarlah aku ke sana karena kau tampaknya enggan!"

"Terserah," kakek ini akhirnya dingin. "Boleh saja kau ke sana, Lu San. Tapi sebaiknya jangan sendiri. Kau akan berhadapan dengan pengawal dan barangkali bakal menemui kesulitan!"

Lu San tertawa mengejek. Dia tidak takut pada pengawal, apalagi pengawal Kwee Han. Malam itu, rencana serbuan digagalkan dan Lu San memutuskan untuk pergi ke kota raja, berjanji tiga hari lagi akan kembali. Teman-temannya pun menunggu. Bagaimanapun, Kwee Han adalah setitik air yang mereka harapkan. Pemuda itulah yang telah dua kali menolong mereka dengan memberikan puluhan ribu tail sebagai pelunas utang terhadap para juragan perahu.

Namun, hari ketiga lewat dengan cepat dan Lu San tidak kembali. Begitu juga hari keempat, kelima, bahkan ketujuh. Ketika mereka cemas, kaum nelayan ini tentu saja bingung. Diutuslah dua orang teman mereka untuk menyusul, namun setelah menunggu tiga hari lagi, kedua teman terakhir ini pun tidak kembali. Keadaan itu berlanjut hingga utusan kelima. Kaum nelayan gelisah dan tidak sabar.

Sebulan lewat dengan cepat sementara mereka kebingungan karena pekerjaan yang hilang, tiba-tiba mereka melihat kepala Lu San terapung-apung di atas sungai! Gegerlah para nelayan. Berturut-turut kemudian, teman-teman mereka yang diutus juga mengalami nasib yang sama; sembilan kepala terapung-apung di sungai tanpa tubuh.

Ketika mereka menjerit, Gwa-ciangkun, panglima yang berjaga di situ, menyuruh mereka bekerja. "Siapa yang mogok akan dibunuh. Kalian harus bekerja dan kebijaksanaan baru dapat diatur!"

Terpaksa, karena sebulan ini anak-istri sudah merintih dan mereka terpukul oleh kematian teman-teman mereka, para nelayan bekerja kembali di bawah tekanan Gwa-ciangkun. Dengan ancaman tuduhan mengacau dan lima ratus busur yang mengawasi, kaum nelayan tidak berdaya. Beberapa di antaranya menyadari bahwa menghadapi lawan yang kuat memang mereka kalah, karena hukum rimba masih berlaku di situ.

Tekanan dan paksaan membuat orang-orang ini bekerja, sementara yang tidak kuat akhirnya diam-diam menyingkir. Kejadian lama terulang kembali; si lemah menjadi makanan si kuat. Cu-wangwe dan teman-temannya kian merajalela. Kaum nelayan ditindas dan tidak diberi bagi hasil lagi. Mereka hanya diberi makan seadanya agar kuat bekerja sehari. Ketika ada yang protes, Cu-wangwe muncul dengan pongah dan berseru, "Sungai dan segala isinya adalah milikku. Barang siapa coba-coba melawan, dia akan dibunuh!"

Geramlah kaum nelayan itu. Kalau saja Lu San atau teman-teman mereka yang pemberani masih hidup, mungkin akan lain halnya. Setidaknya ada yang membakar semangat. Tapi karena Lu San dan delapan yang lain binasa tanpa diketahui siapa pembunuhnya, nyali kaum nelayan menciut. Anak-istri mereka meratap, menyuruh mereka diam saja agar keluarga mereka selamat. Urusan bagi hasil tidak usah diributkan, asal dapat makan. Karena orang kecil selalu berada di posisi yang tidak menguntungkan, tunduklah mereka seperti sapi perahan.

Sebenarnya apakah yang terjadi pada Lu San dan teman-temannya itu? Memang nasib buruk. Lu San, nelayan kekar ini datang seorang diri di kota raja. Dia menganggap Kwee Han sama seperti dulu, mencari dan akhirnya menemukan gedung pemuda itu. Ketika dia bengong memandang gedung Kwee Han yang indah, seorang penjaga menyodok perutnya dengan gagang tombak, sebuah perlakuan kasar yang tidak disangkanya.

"Kau mencari apa? Kenapa melongok seperti orang gila?"

Lu San terkejut. "Eh, apakah ini rumah Kwee Han?" tanyanya lugu.

Menyebut nama Kwee Han begitu saja tentu membuat pengawal itu marah. Kwee Han sekarang adalah pejabat tinggi, seorang menteri muda. Maka, pengawal itu membentak dan mendorongkan gagang tombaknya lebih jauh. "Kau petani busuk! Pergi dan enyahlah!"

"Ngekk!" Lu San terpelanting. Nelayan ini memiliki temperamen tinggi. Mendapat jawaban tidak simpatik serta ditusuk dan didorong, Lu San bangkit, membentak, dan menyergap pengawal itu.

"Kau pengawal busuk! Pergi dan enyahlah kau!"

Lu San memiting, menangkap, dan berhasil mengunci leher pengawal itu, lalu membanting dan merebut tombaknya. Nelayan kekar yang marah itu melempar lawannya. "Brukk!"

Pengawal itu terkejut. Dia tidak menduga disergap begitu cepat; Lu San memang jago berkelahi. Ketika dia menjerit dan terguling, pengawal itu meloncat bangun dan memanggil temannya. Terjadilah perkelahian sengit. Pengawal pertama yang dibanting mengeroyok bersama temannya, berteriak bahwa Lu San gila.

Karena dua pengawal maju berbarengan, nelayan ini kalah tangkas. Akhirnya, nelayan muda itu terkena tusukan tombak dan terhuyung. Dia melawan, namun sebuah tusukan lagi mengenai pundaknya. Darah mengalir, Lu San melotot; dia gelisah dan bingung. Dari pintu gerbang terlihat seseorang berjalan. Lu San melihat itulah Kwee Han, orang yang dicari. Kebetulan sekali.

Ketika tombaknya terpental dan dua pengawal membuatnya terpelanting, tiba-tiba nelayan ini meloncat bangun dan terbirit-birit meninggalkan dua lawannya menuju Kwee Han.

"Kwee Han, tolong...!"

Bayangan itu tiba-tiba lenyap di balik dinding, membuat Lu San tertegun. Dia jelas melihat itulah Kwee Han, orang yang dicari. Dia penasaran dan meneruskan larinya semakin cepat. Namun, dari mana-mana muncul pengawal dan nelayan ini dihadang. Ia dibentak dan disuruh menyerah.

"Ah, aku bukan mau merampok. Aku mencari Kwee Han!"

Pengawal memaki. Kwee Han yang mereka panggil Kwee-taijin tiba-tiba disebut begitu saja oleh nelayan kasar ini, tentu saja mereka marah. Saat Lu San menerjang dan mencoba menerobos lawan-lawannya, nelayan ini gagal dan justru mendapat tusukan atau pukulan tombak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment