Chapter 75
"Cus, des, bluk!" Lu San akhirnya roboh.
Para pengawal beramai-ramai menangkapnya. Nelayan itu berteriak-teriak memanggil Kwee Han; Kwee Han itulah yang dimintai tolong. Namun, ketika sebatang tombak menghantam tengkuknya dan ia tersungkur, Lu San pingsan dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Dia merasa diguyur air ketika sadar. Mula-mula pening, lalu ia mengeluh. Ketika dia membuka mata dan ingat apa yang terjadi, dilihatnya Kwee Han—bayangan itu—ada di depannya, duduk di sebuah kursi.
"Ada apa kau datang?" Pertanyaan itu terdengar tidak ramah.
Lu San, pelayan itu, perlahan-lahan bangkit terhuyung. Beberapa luka di tubuhnya tak dihiraukan. Tapi, ketika seorang pengawal membentak dan mengancam punggungnya dengan tombak, nelayan ini mengeluh dan berseru, masih tak tahu bahaya.
"Kwee Han, aku datang untuk menemuimu. Kenapa pengawalmu begitu bengis dan kasar? Aku datang mewakili teman-teman di Ming-ciang, Kwee Han. Kau dinantikan kedatangannya, namun tak pernah menengok!"
"Plak!" Sebuah tamparan membuat pelayan ini roboh.
"Panggil Kwee-taijin kepadanya, orang kasar. Kau dungu dan bodoh, sungguh melebihi kerbau!"
"Kwee Han..." Suara itu terhenti kembali, kepala Lu San diinjak. Pengawal marah dan mau membentaknya lagi, tapi Kwee Han mengayunkan lengan menyuruh pengawal itu melepaskan korbannya.
"Ci Hu, lepaskan dia. Biar dia bicara!"
Sembari memberi kesempatan nelayan itu bangun, Kwee Han kini memandang bekas sahabatnya itu dengan sinar mata yang tajam.
"Kwee Han..." Kini Lu San mulai berapi-api, bangun terhuyung. "Beginikah watak pengawalmu menghadapi tamu? Aku bukan perampok, Kwee Han. Aku datang atas nama seluruh kawan-kawan di Ming-ciang!"
"Benar, tapi kau kurang ajar, Lu San. Kau tak tahu adat dan menjangkar terhadap seorang pejabat. Aku adalah Kwee-taijin, menteri muda. Tak tahukah kau dan tak dapatkah kau menghormat diriku? Kau tamu tak diundang, Lu San, meskipun bukan perampok. Tapi tindak-tanduk dan gerak-gerikmu melebihi perampok. Kau kasar dan murahan. Tentu kau datang agar aku memberimu uang untuk teman-temanmu di Ming-ciang itu!"
Lu San terbelalak. "Benar, bukan?"
"Tidak," akhirnya nelayan ini menggeleng, mulai sadar. Dia sadar bahwa dia harus bersikap baik terhadap Kwee Han yang kini menjadi Kwee-taijin, seorang menteri. Ketika Kwee Han melongo dan terheran oleh jawaban itu, nelayan ini berdiri tegak dan mulai bersikap sopan.
"Kwee-taijin," katanya canggung. "Aku memang datang untuk urusan teman-temanku itu, tapi bukan masalah uang. Aku datang untuk memohon kesediaanmu menegakkan keadilan di Ming-ciang. Dengan uang, masalah utang memang lunas, Taijin. Tapi kalau Cu-wangwe dan teman-temannya itu mencekik lagi dengan bagi hasil yang tidak seimbang, tentu kami akan terlibat utang lagi dan tak berdaya, begitu seterusnya. Kini aku datang menagih janjimu. Bukankah kau mau datang untuk menengok dan menolong kami? Kami ditindas lagi oleh kaum juragan perahu itu, Taijin. Hanya kaulah yang kami harap untuk mengatasi kekejaman Cu-wangwe dan teman-temannya!"
"Hm," Kwee Han terbelalak juga. "Bukankah ada Liem-taijin? Kau dapat melaporkan itu padanya, Lu San. Tak perlu jauh-jauh datang ke mari."
"Liem-taijin tak akan menolong kami. Dia antek Cu-wangwe!"
"Hm, kalau begitu ada atasannya. Bukankah kau dapat menghadap Gubernur Ping?"
"Gubernur Ping?" Lu San membelalakkan mata. "Kami orang kecil tak punya kenalan bangsa gubernur atau orang-orang besar, Kwee-taijin. Kami hanya mengenalmu dan kini datang untuk meminta tolong!"
"Urusan ini tak dapat aku tolong," Kwee Han akhirnya berkata terus terang. "Aku tak mau diganggu dan terganggu."
"Eh!" Lu San melebarkan mata. "Bukankah kau berjanji untuk menolong kami, Taijin? Bukankah kedatanganmu di kota raja dulu juga atas niat menolong kami?"
"Hm," Kwee Han bangkit berdiri, bersikap sombong. "Sekarang dan dulu lain, Lu San. Dulu aku nelayan miskin, tapi kini pejabat tinggi. Dulu teman-temanku orang-orang kecil, tapi sekarang kaum bangsawan dan pejabat. Aku tak mau merendahkan diri ikut-ikutan mengurus persoalanmu."
"Kwee Han!" Lu San tiba-tiba membentak kembali. "Tahukah kau kutukan teman-teman kalau mendengar bicaramu ini? Tahukah kau bahwa selama ini kau dianggap dewa penolong dan kami amat berterima kasih? Tidak, jangan begitu, Kwee Han. Cabut pernyataanmu itu dan ingat waktu kedatanganmu semula di kota raja!"
"Plak!" Lu San kembali mendapat sebuah tamparan keras dari pengawal. "Jangan kau lancang, nelayan busuk. Atau Kwee-taijin akan membunuhmu dan kau tak dapat melawan!"
"Tidak... tidak...!" Lu San yang marah memandang Kwee Han dan tiba-tiba berteriak. "Kwee Han, apakah kau benar-benar tak mau menolong kami? Kau membiarkan saja teman-temanmu di Ming-ciang kelaparan ditindas Cu-wangwe?"
"Hm," Kwee Han bangkit berdiri dan mendengus. "Aku sesungguhnya tak mengenal lagi kawan-kawanmu di Ming-ciang itu, Lu San. Cukup kiranya bantuanku selama ini. Apakah kau juga tak punya budi untuk mengingat dua kali kebaikanku kepada kalian semua? Tidakkah kau ingat berapa puluh ribu tail yang telah kusumbangkan cuma-cuma kepada kalian?"
Lu San tertegun.
"Nah, ingat itu, Lu San. Sebaiknya kau pergi dan jangan kembali lagi!" Kwee Han membalik, memberi tanda pada pengawal, dan Lu San didorong. Nelayan ini tertegun dan teringat bantuan Kwee Han selama ini, yang memang harus diakui cukup besar. Puluhan ribu tail yang disumbangkan kepada mereka di Ming-ciang untuk menghapus utang pada Cu-wangwe memang bukan jasa kecil.
Ketika nelayan itu tercenung, ia didorong dan disuruh keluar. "Cukup, Taijin telah memerintahkanmu keluar. Sekarang pergi dan keluarlah!"
Lu San terhuyung. Melihat para pengawal yang tersenyum dan mengejeknya, nelayan ini tiba-tiba mendidih. Begitukah kehidupan di kota besar? Gampang sekali orang melupakan asalnya, seperti Kwee Han yang tiba-tiba congkak dan angkuh mentang-mentang sudah menjadi pejabat tinggi.
Namun, karena kata-kata Kwee Han tadi amat menusuk perasaannya, nelayan kasar ini tahu diri. Ia menimbang dan merenungkan bahwa apa yang dikatakan Kwee Han adalah betul; Kwee Han telah menolong teman-temannya di Ming-ciang dengan jumlah yang besar. Uang yang dikeluarkan pemuda itu tidak tanggung-tanggung.
Saat ia terhuyung di luar dan didorong hingga hampir jatuh, mendadak sebuah kereta berhenti dan seseorang meloncat turun.
"A-Fuk...!" Lu San tertegun. Dia mengenal betul laki-laki yang turun dari kereta itu—A-Fuk, temannya. Bekas sesama nelayan yang kini tampak berpakaian perlente dan necis. Lu San hampir tak percaya dan mengucek-ucek matanya. Namun, ia tidak salah. Itu memang A-Fuk.
Saat ia hendak memanggil, tenggorokannya terasa kering. Tiba-tiba A-Fuk telah meloncat dan lenyap ke dalam gedung Kwee Han sambil membawa semacam peti. Lu San terbengong. Dia sungguh tidak tahu permainan apa lagi itu dan apa yang dibawa A-Fuk. Karena rasa ingin tahunya begitu besar, laki-laki ini memutar ke belakang gedung, menghindari pengawal, dan dengan nekat ia memanjat tembok serta melompat ke dalam.
Saat ia mengendap-endap, ia mencari bayangan A-Fuk. Tiba-tiba ia tertegun melihat A-Fuk sedang bicara sambil tertawa-tawa dengan Kwee Han.
"Ha ha, kau betul, A-Fuk. Sampaikan pada Cu-wangwe dan teman-temannya rasa terima kasihku. Pemberian ini kuterima, dan bilang pada mereka bahwa mereka tak usah khawatir."
"Dan Cu-wangwe ingin menekankan sekali lagi agar kau tak menolong nelayan-nelayan itu, Taijin. Biarkan mereka di bawah kekuasaan Cu-wangwe dan bekerja seperti biasa."
"Tentu, siapa mau mencampuri? Dulu aku terpaksa melakukan itu karena kedatangan Kim-mou-eng, A-Fuk. Kalau Pendekar Rambut Emas itu tak datang, tentu tak sudi aku menolong mereka. Sekarang beres, Pendekar Rambut Emas itu tak pernah datang lagi dan aku tentu membiarkan mereka kelaparan, ha-ha!"
"Dan Taijin sekarang sudah hidup enak..."
"Ya-ya, enak dan nikmat. Aku tak mau kehilangan semuanya ini untuk orang-orang tolol itu, A-Fuk. Katakan pada Cu-wangwe bahwa aku sudah senang dan tak akan mengganggu!"
Lu San terbelalak. Akhirnya dia tahu bahwa peti yang dibawa A-Fuk itu berisi uang, penuh dan padat. Kalau dihitung, ada ratusan ribu tail. Terkejut dan sadarlah nelayan ini. Rupanya Kwee Han sudah disogok dan menerima semacam upeti dari hartawan-hartawan di Ming-ciang agar dia tutup mulut. Itulah perbuatan hina.
Ketika A-Fuk bicara lagi sambil tertawa-tawa dan sejam kemudian pamit pulang, Lu San melihat Kwee Han menyisipkan segenggam uang ke tangan laki-laki itu.
"Pulanglah dan hiduplah baik-baik. Urus diri sendiri dan bersenang-senanglah dengan uang ini, A-Fuk. Jangan hiraukan kaum gelandangan itu agar kau selamat."
"Terima kasih, dan permisi, Taijin..."
Saat A-Fuk yang berseri-seri menerima segenggam uang itu, Lu San tak tahan lagi dan berteriak marah. Kini ia tahu apa yang terjadi dan sadar bahwa tidak semua temannya di Ming-ciang sengsara oleh perbuatan Cu-wangwe. Ada beberapa di antara mereka yang hidup enak—A-Fuk dan juga A-Lok, yang kini menjadi tukang pukul Cu-wangwe.
Begitu ia berteriak dan muncul menyerang, kedua orang itu terkejut bukan main.
"Heii... dess!" A-Fuk diterkam dan jatuh terguling. Lu San menyambar sebuah kursi. Dengan marah, dia menghantam kepala temannya itu sampai kelengar. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Ketika Kwee Han tertegun dan terbelalak pucat, tiba-tiba Lu San sudah menyerangnya dan menghantamkan kaki kursi itu.
"Kau pun jahanam keparat, Kwee Han. Rupanya setelah disogok dan hidup senang di sini, kau pun melupakan kami. Terimalah... bress!"
Kwee Han terpelanting, ditubruk, dan mendapat lagi serangan membabi buta.