Chapter 76
Kwee Han terkejut karena tak menyangka pembicaraannya didengar. Lu San kini menjadi berbahaya dan marah-marah kepadanya. Ketika Kwee Han mengeluh dan berguling menjauh, Lu San yang kalap mengejar dan mengamuk, menghujani pukulan bertubi-tubi. Kwee Han dengan cepat menyambar kursi lain untuk menangkis. Keributan itu mengundang pengawal. Pengawal yang datang pun terkejut dan memaki nelayan muda tersebut. Untuk menyelamatkan Kwee Han yang sudah babak belur, pengawal segera menyerang dan membentak Lu San.
Karena nelayan itu hanya bersenjatakan kursi sementara pengawal memegang tombak atau golok, akhirnya kursi itu hancur terkena senjata lawan. Serangan dilanjutkan dengan bacokan atau tikaman yang mengenai tubuh nelayan itu. Lu San mulai terhuyung-huyung bersimbah darah. Keadaannya sangat berbahaya. Begitu tusukan tombak menembus lambungnya, pemuda itu roboh.
"Ceh!" Lu San masih berusaha bangun sambil memaki-maki. Meski terus mengeluh, pemuda itu berdiri lagi, lalu menerima bacokan golok dan kembali roboh. Ia bangkit lagi, namun kali ini hanya bisa menggelepar. Pinggangnya tersabet dan ia kembali mandi darah. Saat ia mengerang sambil melotot ke arah Kwee Han, Kwee Han memerintahkan pengawal untuk membunuhnya.
"Penggal kepalanya!" Lu San tak dapat mengelak. Sebatang golok menyambar lehernya dan darah segar memancar dari sana. Kwee Han terpaksa membunuh karena Lu San telah mengetahui permainannya; sangat berbahaya membiarkan nelayan itu tetap hidup. Setelah nelayan itu tewas dengan kepala terpisah dari tubuhnya, Kwee Han memerintahkan mayatnya dibuang ke sungai.
"Buang mayatnya, bersihkan tempat ini!" Perintah itu segera dilaksanakan. Mayat Lu San yang malang akhirnya ditemukan oleh teman-temannya di Ming Ciang, membuat kaum nelayan gempar. Namun, karena mereka tidak mengetahui siapa pembunuhnya, mereka terus mengirim perwakilan lain. Akibatnya, mayat-mayat baru terus mengapung di sungai itu, menjadi korban keganasan Kwee Han yang merasa terancam kedudukannya. Siapa pun yang datang pasti disikat. Pemuda yang dulu lembut ini mendadak berubah sangat keji; harta dan kedudukan benar-benar telah mengubah wataknya.
Setelah delapan nelayan lain datang dan dibasmi oleh Kwee Han, kaum nelayan di Ming Ciang menjadi ketakutan dan tak berkutik. Tidak ada yang berani lagi pergi ke ibu kota karena setiap orang yang ke sana pasti pulang tanpa nyawa. Mereka hanya menduga bahwa Cu Wangwe, hartawan itulah yang menjadi sasaran utama. Mereka kian membenci sang hartawan namun tak berdaya, sehingga kehidupan yang menyedihkan kembali berulang.
Ketidakadilan selalu memancing persoalan dan permusuhan. Namun, karena ketidakadilan itu sedang berkuasa dan rakyat kecil kehabisan suara, penindasan terus menggilas mereka. Sebenarnya, apa yang menyebabkan Kwee Han berubah seratus delapan puluh derajat? Bagaimana pemuda itu bisa begitu kejam dan tega terhadap teman-temannya sendiri? Bukankah ia harus ingat bahwa kedatangannya dulu ke ibu kota adalah untuk memperjuangkan nasib teman-temannya?
Lingkungan dan faktor lain memang menunjang, dan karena Kwee Han adalah manusia lemah, sifatnya pun berubah. Dulu, ketika Pwee Lopek datang meminta bantuan, Kwee Han pernah menolongnya, apalagi setelah Pendekar Rambut Emas turun tangan—pendekar yang membuat pemuda ini gentar. Namun, setelah Pwee Lopek berkali-kali datang mengganggu dan Pendekar Rambut Emas tidak muncul lagi, keberanian Kwee Han mulai hilang, apalagi setelah disudutkan oleh Khek Taijin, kerabat Cu Wangwe.
"Beginikah sikapmu meminta tolong padaku? Ingat, saudaraku di Ming Ciang itu juga perlu hidup senang, Kwee Han. Kalau kau terus-menerus menyuruh aku memperingati saudaraku, maka tak ada gunanya kau berada di ibu kota. Keberadaanmu di sini adalah untuk menjauhkan diri dari teman-temanmu yang bodoh itu. Kalau kau tak dapat mengambil sikap dan ingin menjadi pahlawan bagi mereka, maka kedudukanmu akan dicopot dan kau harus menyerahkan kembali semua kesenangan yang telah kau peroleh di sini!"
Kwee Han tertegun. Menteri itu menyambung lagi, "Apa yang dapat diberikan kawan-kawanmu di Ming Ciang itu kepadamu? Mereka hanyalah pengemis hina. Mereka tak dapat mengantarmu pada taraf hidup yang sudah kau peroleh sekarang. Ingat dan sayangi kedudukan serta harta yang kau nikmati itu, atau semuanya akan hilang, dan Kiu Kin atau Sam-hwa akan meninggalkanmu!"
Kwee Han pucat. Disebutnya nama dua selir terkasih itu membuatnya menggigil. Sejak ia kehilangan Siong-hi, hadiah dari Pangeran Yu Fu, ia membayangkan betapa mengerikannya hidup tanpa harta. Tanpa harta, tak mungkin ia dapat bergelimang kesenangan dengan wanita cantik. Ia bisa mati kurus!
Setelah Khek Taijin pergi dan meninggalkannya merenung, Kwee Han mulai setuju. Memang betul, apa yang bisa diberikan oleh teman-temannya di Ming Ciang? Dapatkah mereka memberi jabatan tinggi atau wanita cantik? Tidak. Mereka hanya pengemis. Paling-paling ia hanya akan mendapat ucapan terima kasih dan sebutan pahlawan yang kosong. Sebutan itu tak berguna baginya. Hidup bergelimang kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utamanya. Karena itulah, Kwee Han berbalik haluan dan menjadi acuh terhadap teman-temannya.
Cu Wangwe dan hartawan lain memang memberikan "upeti" kepada Kwee Han, bukan karena takut kepada pemuda itu, melainkan kepada pelindung di balik dirinya. Kwee Han tidak menyadari bahwa cincin berharga di tangannya itulah yang memberikan semua privilese tersebut. Ia tidak sadar bahwa berkat cincin itulah Khek Taijin gentar, karena cincin tersebut adalah tanda orang dekat kaisar yang pernah menanam budi. Menteri Khek terkejut saat melihat cincin itu dan menyadari bahwa Pendekar Rambut Emas berada di balik semuanya. Karena menteri itu tahu ada persahabatan antara pemuda itu dengan sang pendekar yang dulu menyelamatkan kaisar, ia menaruh rasa segan, bukan kepada pribadi Kwee Han.
Kwee Han yang tidak menyadari keberuntungannya menganggap semua itu biasa saja, lalu ia menjadi congkak. Hal itu membuat menteri Khek mendongkol dan merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan pemuda tersebut. Saat Kwee Han mulai masuk perangkap, menteri itu berbalik sikap.
"Hm, aku tak mau lagi didatangi kawan-kawanku itu, Taijin. Beritahukan pada saudaramu agar tidak melampaui batas," ujar Kwee Han.
"Eh, apa maksudmu?" tanya Menteri Khek tajam.
"Bukankah kau tak usah menghiraukan mereka dan diam saja?"
"Hm," Kwee Han gemas. "Aku berkali-kali dirongrong masalah ini. Saudaramu bertindak tak adil dan memeras nelayannya. Tadi Pwee Lopek datang kepadaku dan minta bantuan uang!"
"Dan kau beri?"
"Tentu saja! Aku datang ke ibu kota karena memang ingin memperjuangkan ini. Aku minta agar saudaramu tidak keterlaluan atau aku melapor pada kaisar!"
"Ha-ha!" Khek Taijin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. "Kau sekarang sombong dan congkak, Kwee Han. Mentang-mentang sudah menjadi menteri muda, lalu mau coba-coba menguasai aku. Eh, coba kutanya, dari mana semua jabatan dan harta yang kau dapatkan ini? Dari mana semua kesenangan dan kenikmatan hidup yang kau peroleh itu?"
Kwee Han tertegun.
"Dari Pangeran Yu Fu? Ha-ha, jangan menghayal, anak muda. Akulah sebenarnya yang berdiri di balik semuanya ini. Kau berhutang banyak sekali kepadaku, tak terhitung. Kalau aku tak membujuk dan memengaruhi Pangeran Yu Fu, tentu kau tak akan menjadi menteri muda!"