Chapter 77
Ingat itu, Kwee Han. Ingat kedudukan dan toko-tokomu yang besar. Ingat berapa uang yang sudah kuberikan padamu. Apakah kau kira cuma-cuma saja dan aku gudang uang, yang tidak habis diambil? Bodoh! Cu-wangwe adalah tambang emas bagiku, Kwee Han. Tak usah kau ungkit-ungkit itu dan diam sajalah!" Kwee Han terbelalak.
"Tambang emas?" "Ya, kiramu apa? Kau mau tahu? Ha-ha, baiklah, Kwee Han, dengar dan lihatlah ini baik-baik. Cu-wangwe dan kawan-kawannya itu adalah tambang emas bagiku. Mereka itulah yang setiap kali mengisi peti uangku kalau habis kuberikan padamu. Dengan kata lain, hasil di Ming-ciang itu salah satu sumber hidupku, karena aku masih mempunyai sumber-sumber hidup yang lain. Dan karena kekayaanku banyak berkurang kalau aku memberimu ini-itu, maka kekayaan itu harus ditambah dan Cu-wangwe serta kawan-kawannya itulah yang mengisi. Kau jelas? Jadi, peti uangku harus penuh kembali setiap berkurang karena kuberikan padamu, sebab aku tak mau beramal cuma-cuma kepada dirimu atau siapa pun!" Kwee Han terkejut.
"Jadi kalau begitu..." "Benar, harta dan uang yang kuberikan padamu adalah hasil dari Ming-ciang itu, anak muda. Karena itu, jangan kau bercuap-cuap lagi kalau tak ingin menderita, ha-ha...!" Kwee Han tertegun. Tiba-tiba dia sadar bahwa sumber dari semuanya itu justru Khek-taijin ini; menteri itu memang mengurusi sungai dan hutan. Namun, karena belum yakin dan masih penasaran, dia bertanya lagi.
"Taijin, jadi selama ini kau mendapat uang suap dari hartawan-hartawan di Ming-ciang itu?" "Ha-ha, bukan suap, Kwee Han, melainkan uang kebijaksanaan yang mereka berikan kepadaku sebagai imbalan. Bukankah kalau aku melarang atau mempersempit ruang gerak mereka, maka Cu-wangwe dan lain-lainnya itu tak dapat bekerja? Nah, ini namanya uang kerja sama, Kwee Han. Bukan suap karena itu adalah hasilku melindungi mereka!" "Tapi sama saja! Dengan begitu kau melindungi orang-orang macam saudaramu itu yang artinya memeras nelayan!" "Hm, jangan terlalu keras, Kwee Han. Orang hidup memang diperas atau memeras, dimakan atau memakan. Bukankah kau bukan anak kecil lagi? Di manakah orang hidup menikmati hasil dengan begitu saja? Mereka, nelayan-nelayan itu, adalah orang-orang bodoh, Kwee Han. Dan sudah menjadi hukum di mana pun di dunia ini bahwa orang bodoh makanannya orang pintar!"
"Kalau begitu kau pun penindas!" Kwee Han membentak. "Kau kiranya yang menyebabkan Cu-wangwe harus menekan buruhnya, Taijin. Kau biang keladi semuanya ini!" "Hm!" Khek-taijin tertawa mengejek, sikapnya tenang namun matanya berkilat berbahaya. "Kau jangan kurang ajar kepadaku, Kwee Han. Apalagi setelah kaisar tua wafat. Apa yang kau andalkan untuk membentak-bentak aku? Cincin di jarimu itu? Ha-ha, kau sendiri telah sama dengan aku, Kwee Han. Pendekar Rambut Emas tentu tak bakal mengampunimu lagi kalau tahu keadaanmu sekarang!"
"Apa maksudmu?" Kwee Han terbelalak. "Masih tidak mengerti juga?" sang menteri mengejek. "Baik, kuberitahu padamu, Kwee Han. Sebagai menteri muda, kau pun telah menghisap rakyat dan menyedot darahnya. Kau kira apa sumbangan yang kau terima dari hartawan-hartawan di kota raja? Kau anggap apa pemberian mereka itu kepadamu? Cuma-cuma saja? Ha-ha, tak ada orang di dunia ini yang mau bekerja cuma-cuma, Kwee Han. Tak ada seorang pun yang mau kerja bakti kecuali orang gila! Kau telah menerima pajak dan sutra-sutra gelap, kau telah menikmati uang negara yang seharusnya masuk kas istana!"
"Apa?" "Benar. Orang-orang yang telah berhubungan denganmu itu adalah penyelundup-penyelundup kakap, Kwee Han. Kau telah mengubah tarif yang seharusnya masuk kas negara sebagai keuntunganmu pribadi. Kau telah main api di sini dan bisa tertangkap kalau Sri Baginda tahu!" "Tapi kau yang menyuruhku begitu, kau yang memberi petunjuk!" "Ha-ha, tapi kau yang memberi tanda tangan atas semua barang dan pajak itu, Kwee Han. Jadi kaulah yang bertanggung jawab penuh kalau ada apa-apa!" "Terkutuk!" Kwee Han pucat. "Kau menjebak aku, Khek-taijin. Kau menipu dan menjerumuskan aku!"
Khek-taijin tertawa bergelak. Setelah Kwee Han tahu sepak terjangnya sendiri, tiba-tiba menteri itu gembira bukan main. Memang benar, Kwee Han selama ini telah memanipulasi pajak, juga barang-barang lain yang seharusnya masuk istana. Barang-barang atau pajak yang seharusnya menjadi milik kaisar untuk negara. Ketika Kwee Han merah padam dan tampak menggigil, menteri ini berkata lagi.
"Nah, tinggal kau, Kwee Han. Mau berbalik haluan dan menyerahkan semuanya itu pada istana yang berarti kau ditangkap, atau diam saja dan teruskan gaya hidupmu sehari-hari dan jangan mengganggu aku lagi. Kita sama-sama menikmati uang haram. Kau dengan penghasilanmu melalui pajak atau barang-barang selundupan, sementara aku dengan hasilku di Ming-ciang itu dan beberapa yang lain lagi. Kedudukanku lebih kuat, kalau ada apa-apa paling-paling aku dimutasi, dipindah. Tapi kau... ha-ha, kau bisa dipecat dan dihukum, Kwee Han. Kau orang biasa yang tidak memiliki *backing* seperti aku. Aku dapat mengandalkan Pangeran Yu Fu dan lain-lain, sahabatku di istana. Sedang kau, paling-paling hanya Kim-mou-eng, kalau Pendekar Rambut Emas itu mau membantu. Ha-ha!"
Kwee Han pucat. Sekarang dia melihat betapa berbahaya dan liciknya menteri ini. Mau menerjang, tapi beberapa pengawal siap di belakang menteri itu. Kwee Han sadar bahwa dia telah terjerumus ke jalan yang salah. Kalau dia mau mengubah perbuatan, maka hari itu juga seharusnya dia memutar kemudi. Namun, karena memutar kemudi ini risikonya besar—segala kedudukan dan kekayaannya bisa amblas dalam sekejap—maka Kwee Han tak dapat berbuat apa-apa dan menyerah dalam genggaman menteri itu.
Sadar bahwa dia telah terjebak dan Khek-taijin rupanya bermaksud agar dia tidak mengganggu lagi dengan masalah Ming-ciang, itulah yang diminta menteri ini dan sebagai imbalannya dia menikmati perlindungan dan jasa baik menteri itu. Dia ternyata sudah di bawah kekuasaan Khek-taijin. Karena melepas segala kesenangan dan kedudukan di tempat empuk itu memang berat dan tak mungkin dilakukan, pemuda ini menyerah dan hanyut dalam pelukan selirnya tercinta.
Hari itu, Kwee Han tak peduli lagi pada keadilan. Dia tak peduli lagi pada nasib teman-temannya di Ming-ciang. Tak ingat lagi akan "misi" perjuangannya dulu, akan maksud kedatangannya di kota raja, dan betapa dia menuntut keadilan demi teman-temannya yang menderita. Ketika hari itu Kwee Han merasa "K.O.", menteri Khek memang benar; akhirnya, seperti yang kita lihat, bekas nelayan yang sudah menjadi "orang penting" ini tak menghiraukan lagi teman-temannya. Dia tak mau diganggu dan sengaja menghindar. Sikapnya mulai berubah dan Pwee-lopek melihat itu, menasihati Lu San, namun sayang nelayan ini tak mau dengar. Akibatnya, kematian merenggut nyawa nelayan muda itu.
Ketika semuanya berlangsung kian menyedihkan dan kaum hartawan kini menggenjet buruhnya dengan tidak memberi uang selain makan seadanya, maka Dewa Keadilan seolah ditutup matanya dan diikat tak berdaya. Apa yang terjadi di Ming-ciang seterusnya tak mau didengar atau dilihat Kwee Han lagi. Dia sudah membutakan diri terhadap nasib teman-temannya itu. Kwee Han telah mempunyai prinsip: persetan orang lain, asal dia selamat. Karena pemuda itu telah membutakan matanya terhadap sesama dan nasib kaum nelayan di Ming-ciang tidak dihiraukan lagi, maka Kwee Han tak mendengar jerit tangis atau rintih kelaparan di mulut bekas teman-temannya yang menderita. Menyedihkan!
Ce-bu. Kota ini tiba-tiba menjadi berita penting. Hu Beng Kui, si jago pedang yang berjuluk Si Pedang Maut dan kini menjadi bengcu, tiba-tiba berubah pula cara hidupnya, tidak seperti dulu-dulu. Jago pedang ini mulai pongah dan tinggi hati. Kedudukannya sebagai pemimpin dunia persilatan tiba-tiba mengantar jago pedang itu pada sebuah kehormatan yang tinggi, yang membuat dia agak besar kepala dan sombong. Aneh, jago pedang yang dulu rendah hati itu mendadak sekarang menjadi tinggi hati. Tidak sembarang orang dapat menemuinya. Ketika sebulan yang lalu dia dinobatkan secara resmi sebagai bengcu (pemimpin dunia kang-ouw) dan semua ketua partai datang memberi hormat, maka sikap jumawa tiba-tiba ditunjukkan jago pedang ini.
"Ha-ha, sekarang aku nomor satu. Kim-mou-eng bagiku bukan apa-apa, kecil. Siapa dapat menandingiku di dunia?" Swat Lian, putrinya, mengerutkan kening.
"Dan aku tak takut lagi kepada siapa pun, Lian-ji. Aku bengcu dan jago tak tertandingi, ha-ha...!"
"Hm," sang putri tak senang. "Jangan sombong, Ayah. Di atas gunung masih ada awan, dan di atas awan masih ada langit. Kenapa pongah?"
"Siapa pongah? Tidak, aku tidak pongah, Lian-ji. Aku hanya menyesuaikan diri. Aku bengcu, aku pemimpin dunia persilatan. Aku harus menjaga kedudukan dan harkat kepemimpinanku ini. Tidak pongah!"
"Baik, dan apa yang Ayah mau lakukan?"
"Hm...!" Jago pedang ini memelintir kumisnya. "Aku harus menjaga keamanan dunia kang-ouw, Lian-ji. Membersihkan sisa-sisa kejahatan yang masih ada. Aku ingin menegakkan keadilan!"
"Apa yang mau Ayah lakukan?"
"Banyak, satu yang terpenting adalah menenteramkan dunia kang-ouw. Memerintahkan ketua partai atau pendekar yang lain membela si lemah, membasmi si angkara."
"Tapi itu sudah umum, Ayah. Ada yang khusus yang harus kau perhatikan, nasib Hauw Kam suheng dan Gwan Beng-suheng. Kau belum menemukan dan merampas mereka!"
Jago pedang ini berkerut kening. Mendadak dia geram, mata berkilat, dan kemarahan pun muncul di situ. Memang benar, dua muridnya itu, murid-murid utama, belum berhasil dirampasnya dari tangan Hek-beng Siauwjin dan nenek Naga Bumi. Pertandingan dahsyat yang dia lakukan dulu tak sampai menyelamatkan murid-murid utamanya ini. Hek-beng Siauwjin dan nenek Naga Bumi menyembunyikan dua pemuda itu, melarikan diri, dan akhirnya entah ke mana sejak Enam Iblis Dunia ia kalahkan, satu pertandingan luar biasa yang menguras tenaga dan konsentrasinya.