Chapter 78
Maka begitu sang putri mengingatkan hal ini dan Hu Beng Kui merasa kurang sempurna, jago pedang ini menggeram.
"Benar, tugasku belum selesai, Lian-ji. Dua suhengmu harus kurampas kembali. Tapi Hek-bong Siauwjin dan Nenek Naga Bumi adalah siluman-siluman yang licik, mereka melarikan diri dan hingga kini tak kuketahui jejaknya. Bagaimana mencari mereka?"
"Ayah tak sanggup?" Mata itu mendelik.
"Nanti dulu, jangan marah," sang anak menggoyang lengan. "Aku tidak bermaksud merendahkanmu, Ayah. Tapi kalau sekarang kau sibuk dengan tugasmu sebagai bengcu, lebih baik serahkan hal ini padaku dan kucari Hauw Kam-suheng atau Gwan Beng-suheng."
"Dengan kepandaianmu yang seperti ini?" Hu Beng Kui tersenyum, tiba-tiba tertawa lebar. "Tak mungkin, Lian-ji. Kau tak akan berhasil dan sia-sia saja!"
"Kalau begitu, Ayah turunkan dua ilmu silat hebat itu, Khikang dan Jing-sian-eng!"
"Hm!" Sang pendekar mengurut jenggot. "Semestinya memang begitu, Swat Lian. Tapi, hm..., aku ragu."
"Kenapa?" Putrinya penasaran. "Aku keturunanmu satu-satunya, Ayah. Aku yang masih hidup setelah Beng An-ko tiada!"
"Justru itulah. Aku menyesal kau bukan lelaki, Swat Lian. Kalau kakakmu masih hidup dan kuwarisi ilmu ini, tentu keluarga Hu sudah tanpa tandingan lagi."
"Hm, laki-laki atau perempuan sama saja, Ayah. Kenapa kau membeda-bedakan?"
"Sama apa?" Sang ayah menolak. "Perempuan tak sekuat laki-laki, bocah. Dalam hal-hal tertentu, perempuan harus mengalah pada lelaki!"
"Apa misalnya?" Sang anak menuntut. "Kau terlalu meremehkan perempuan, Yah. Kau bertindak tak adil kalau membuat diskriminasi begini!"
"Bukan begitu," sang ayah agak kalem. "Tapi contoh dapat kuberikan, Lian-ji. Lihat misalnya kalau wanita sudah menikah. Rumah tangga dipegang sang suami dan istri biasanya di belakang atau mendampingi. Tak pernah memimpin karena kodrat wanita memang begitu. Lihat, adakah bengcu yang dipimpin wanita? Adakah negara yang dipimpin wanita? Kalau pun ada, maka hal itu jarang, Lian-ji. Barangkali seratus dibanding satu, tetap menang lelaki!"
"Ayah mengagung-agungkan lelaki," Swat Lian tak puas. "Kalau tak mau mengajarkan ilmu itu, biar aku tak menuntut, Yah. Tapi kalau ada apa-apa, jangan salahkan aku!"
"Wah, sewot?" Ayahnya tertawa. "Tidak, tentu kuajarkan ilmu ini, Lian-ji. Tapi berjanjilah tak boleh orang lain mempelajari itu."
"Memangnya aku tak dapat dipercaya? Terlalu, tanpa berjanji pun seharusnya kau percaya, Ayah. Aku anak perempuanmu dan satu-satunya di sini!"
"Baiklah, ha-ha, tentu saja aku percaya!"
Hu Beng Kui lalu mengajak putrinya ke belakang dan mulai mengajarkan Khi-bal-sinkang. Ia menyuruh putrinya berlatih dan dengan sabar namun cepat, ia menurunkan ilmu silat yang dahsyat itu. Sebulan kemudian, ilmu itu sudah dipahami. Swat Lian mengerti dengan baik ilmu pukulan ini, ia kagum karena Khi-bal-sinkang memang ilmu yang amat ampuh.
Ilmu itu pada intinya adalah membangkitkan "bola sakti" di dalam tubuh, dibarengi teknik pernapasan yang tepat hingga didapatlah getaran hawa sakti yang bergerak dari pusar. Gadis ini tinggal mengatur dan membiasakan diri. Karena dia sudah memiliki ilmu silat tinggi dan setingkat dengan tokoh-tokoh terkenal seperti para ketua partai atau pendekar kelas satu, maka dengan cepat dan mudah gadis itu menangkap pelajaran yang diberikan ayahnya.
Bulan kedua sudah hapal betul dan Hu Beng Kui memuji. Anak perempuannya ini dengan cepat sudah menguasai delapan persepuluh bagian dari ilmu yang diwariskan, berarti sedikit lagi sudah akan menyamainya. Dan ketika bulan ketiga Swat Lian sudah mencapai titik paling atas—di mana hanya pengalaman atau pertempuran berkali-kali yang akan membuatnya terlatih—maka Khikang sudah bisa dibilang dikuasai penuh oleh gadis ini.
"Ha-ha, hebat. Kau hampir seperti aku. Khi-bal-sinkang telah kau kuasai secara penuh, Lian-ji. Tapi kalau bertempur menghadapi keroyokan Nenek Naga Bumi atau Hek-bong Siauwjin, kau masih kalah. Kau baru mendapat setengah dari ilmuku!"
"Hm, maksud Ayah, masih harus memiliki Jing-sian-eng (Bayangan Seribu Dewa) itu?"
"Benar, tanpa ini kau tak dapat mengikuti gerakan Hek-bong Siauwjin atau kawan-kawannya, Lian-ji. Betapapun mereka adalah tokoh-tokoh sesat yang hebat luar biasa."
"Kalau begitu, Ayah ajarkan itu, jangan tanggung-tanggung!"
"Ha-ha, tentu, anakku. Mari kita mulai dan menginjak pelajaran baru!"
Swat Lian girang. Digembleng dan dididik langsung oleh ayahnya sendiri tentu saja membuat gadis ini seolah harimau tumbuh sayap. Separuh dari ilmu ayahnya yang hebat telah diwarisi, Khikang telah berada di tangan. Ketika dua bulan kemudian gadis ini mewarisi pula Jing-sian-eng atau Bayangan Seribu Dewa yang merupakan ilmu ginkang paling tinggi, maka enam bulan kemudian, sejak Hu Beng Kui menjadi bengcu, gadis ini hampir menyamai ayahnya dalam segala hal.
Malam terakhir itu, Hu Beng Kui sengaja menguji putrinya. Sehari penuh dia telah menggembleng puterinya hingga lelah, dan Swat Lian tertidur di kamarnya. Ketika dengan gerakan enteng jago pedang itu melayang di atas genteng kamar putrinya dan berindap tanpa suara, Swat Lian yang telah memiliki kepekaan saraf seorang ahli silat tinggi bangun dari tidurnya dan langsung mencelat, mendorong jendela, dan keluar.
"Siapa di situ?"
Cukup bagi si jago pedang. Ini menunjukkan dalam kelelahan luar biasa pun putrinya tetap waspada; kepekaan sarafnya telah begitu luar biasa hingga sedikit langkah ringan pun membangkitkan tidurnya. Jarang bagi orang biasa dapat mengetahui kehadirannya. Tapi karena dia masih ingin mencoba dan gerakan puterinya yang berjungkir balik keluar jendela juga menunjukkan ilmu meringankan tubuh yang hebat, maka jago pedang ini—yang menutupi mukanya dengan sapu tangan dan tertawa aneh—tiba-tiba menyambitkan sebutir kerikil hitam ke muka anak perempuannya itu, lalu melarikan diri.
"Plak!"
Swat Lian menyampok runtuh. Dengan kibasan lengan bajunya, gadis ini memukul batu hitam itu hingga hancur. Ia membentak dan tentu saja tak membiarkan lawan melarikan diri. Swat Lian mengejar dan berseru menyuruh lawan berhenti. Namun, ketika lawan mempercepat larinya dan meloncat tinggi ke atas genteng, mendadak lawannya itu sudah terbang dan berkelebatan dari rumah ke rumah.
"Berhenti!"
Swat Lian terkejut, menambah kecepatannya, tapi lawan pun tak mau kalah. Gadis itu tersentak karena lawan di depan menambah pula kecepatannya. Ia tak menduga itulah ayahnya dan tentu saja menjadi marah dan gusar. Ketika dia berseru nyaring dan berkelebat sambil mengayun tubuh, pukulan jarak jauh dilontarkan dan angin dingin menyambar punggung.
"Dess!"
Swat Lian tertegun. Lawan menggerakkan tangan ke belakang dan dia pun tergetar, lawan tertawa mengejek. Dan ketika bayangan itu meneruskan larinya dan dia mengejar lagi, maka dua pukulan kembali meluncur dan gadis ini menambah kekuatannya.
"Des-dess!"
Swat Lian terbelalak. Lawan terpelanting tapi meneruskan larinya, sementara dia sendiri terhuyung dan hampir terjungkal. Bukan main kagetnya gadis ini. Ketika Swat Lian melengking tinggi dan penasaran mencabut pedang—senjata yang akhir-akhir ini jarang digunakan—maka gadis itu sudah membentak dan mengejar lagi, mempercepat larinya, dan lawan di depan pun juga begitu.
Kedua-duanya kini mengadu kecepatan dan Swat Lian terkejut, dia tak berhasil memperpendek jarak tapi lawan pun tak berhasil menjauhkan diri. Berarti mereka tetap sama dan jarak tak berkurang atau bertambah, gadis ini gusar dan kaget serta marah. Ketika lawan tertawa aneh dan entah kenapa bayangan di depan itu tiba-tiba berhenti mendadak, bayangan ini membalik dan menghantam.
"Jangan ikuti diriku...!"
Swat Lian terkejut, serangkum pukulan kuat menyambar dirinya dan tentu saja dia menangkis. Tangan kiri bergerak dan dua dentuman pun terdengar, bumi tergetar, dan gadis itu terlempar. Bukan main kagetnya gadis ini. Tapi ketika lawan juga terpental dan berjungkir balik di udara, maka Swat Lian sudah membalik dan menerjang marah, melepas pukulan-pukulan dengan tangan kiri sementara pedang di tangan kanan pun bergerak.
Cepat dan bertubi-tubi gadis ini menyerang lawannya. Hu Beng Kui mengelak dan berseru berulang-ulang. Jago pedang itu menyembunyikan diri dan suaranya tak gampang dikenal, agak sengau karena tertutup sapu tangan. Ketika gadis itu menerjangnya kian cepat dan pedang bergulung-gulung naik turun, akhirnya apa boleh buat, jago pedang ini mengerahkan Jing-sian-eng miliknya. Hanya dengan Jing-sian-eng dia dapat mengikuti bayangan pedang, yang sudah lenyap dan berubah bentuknya.
Ketika Swat Lian terkejut karena dia mengenal Jing-sian-eng, maka pukulan-pukulan tangan kirinya juga terpaksa ditangkis dengan ilmu sakti Khikang oleh jago Ce-bu itu. Hal itu tentu saja membuat Swat Lian kian terbelalak, akhirnya memandang sebelah tangan ayahnya yang kosong alias buntung.
"Ayah...!"
Hu Beng Kui tertawa bergelak. Sekarang dia sudah dikenal, merenggut kedoknya, dan terbukalah wajah pendekar itu. Swat Lian sudah menghentikan serangannya dan mematung memandang ayahnya, pertempuran terhenti. Ketika gadis itu melongo dan bengong memandang ayahnya, maka Hu Beng Kui berkata sambil mencengkeram pundak putrinya itu.
"Ha-ha, sekarang puas hatiku, Lian-ji. Cukup ujian ini dan kupercaya dirimu!"
"Jadi Ayah....."
"Benar, aku ingin tahu refleks tubuhmu, Swat Lian. Dan ternyata dalam tidur pun kau dapat mendengar langkah kakiku. Ha-ha, hebat. Sekarang Jing-sian-eng yang kau miliki pun sudah kau kuasai, tak perlu khawatir meskipun dikeroyok Hek-bong Siauwjin atau Nenek Naga Bumi!"
"Hm, Ayah semula kurang percaya?" Gadis ini mengusap keringatnya. "Dan bagaimana sekarang?"
"Dikeroyok dua atau tiga kau sanggup, Lian-ji. Tapi kalau berbareng menghadapi enam sekaligus, kau masih kuragukan. Betapapun kau perlu pertandingan berkali-kali hingga mendapat kematangan dan pengalaman!"
"Dan aku boleh mencari Hauw Kam-suheng atau Gwan Beng-suheng?"
"Betul, tapi... ha-ha, ini masih malam, Lian-ji."