Chapter 79
"Kau pulang dan tidur lagi!"
"Mana bisa?" Sang anak merengut.
"Kau membangunkan aku. Kau mengganggu tidurku dan tak mungkin bisa tidur lagi!"
"Maaf, terpaksa kulakukan, anak baik. Ayahmu semata ingin mengetahui sampai di mana kemajuan gerak refleksmu. Sudahlah, kau dapat bersamadhi dan kita pulang. Besok boleh berangkat dan tak perlu memarahi ayahmu!" Hu Beng Kui membujuk. Memang tak mungkin puterinya dapat tidur lagi setelah diganggu. Seorang ahli silat yang baik tak akan mudah tidur lagi kalau sudah terbangun karena getaran saraf masih bekerja. Dia menepuk pundak puterinya.
Ketika Swat Lian tersenyum dan memandang ayahnya, sang ayah tertawa dan menyambar lengannya, lalu mengajaknya kembali.
"Ayo!" Swat Lian tak membantah. Diam-diam dia girang dan senang bahwa ayahnya telah mengakui kemajuannya. Dia kini dapat menghadapi setengah dari Enam Iblis Dunia, suatu hal yang dilakukan hanya dalam waktu enam bulan. Jadi, kepandaiannya jelas maju pesat dan dia tentu saja gembira.
Malam itu, saat ayah dan anak kembali ke rumah dan Swat Lian beristirahat dengan cara bersamadhi, Hu Beng Kui pun kembali ke kamarnya sendiri dan duduk bersila. Namun, menjelang pagi gadis itu sudah berbenah. Swat Lian tak sabar menunggu hari terang; ia meninggalkan sepucuk surat untuk ayahnya dan pagi itu juga pergi. Sekarang ayahnya tak perlu khawatir lagi melepasnya karena ke mana pun dia pergi, di situ dia dapat menjaga diri.
"Sialan, setelah pandai kau terbang seperti burung. Baiklah, hati-hati, anakku. Cari dan rampas kembali suhengmu!"
Ternyata Hu Beng Kui sudah tak mengkhawatirkan anak perempuannya lagi. Ini berarti jago pedang itu telah memiliki kepercayaan kuat terhadap kepandaian puterinya; ia berani membiarkan puterinya itu mencari Nenek Naga Bumi atau Hek-bong Siauw-jin. Ketika jago pedang itu sibuk dengan urusannya sebagai bengcu dan Swat Lian sudah jauh meninggalkan Ce-bu, gadis itu berlari cepat menuju ke utara.
Ke mana gadis ini pergi? Mula-mula belum mendapatkan arah yang jelas. Nenek Naga Bumi atau Hek-bong Siauw-jin adalah tokoh-tokoh luar biasa yang bersembunyi setelah dikalahkan ayahnya. Ini tentu pencarian yang sukar. Sambil berpikir dan berlari cepat, mendadak Swat Lian menuju ke utara. Dia ingin mencari teman dan entah mengapa tiba-tiba ingin menemui Kim-mou-eng.
Hatinya berdebar dan tiba-tiba timbul keinginannya untuk memamerkan kepandaiannya sekarang. Bukan untuk bersombong diri, melainkan semata ingin menunjukkan kegembiraan hatinya bahwa dia sekarang tak usah takut menghadapi Hek-bong Siauw-jin itu, sekaligus membantu Pendekar Rambut Emas mencari anaknya, Dailiong, keturunan pendekar itu bersama mendiang Salima. Ketika gadis ini bersinar-sinar dan bangga ingin menunjukkan kepandaiannya, selama dua hari dia melakukan perjalanan tanpa henti keluar Tembok Besar.
Kim-mou-eng, sebagaimana kita ketahui, tinggal di suku bangsanya. Swat Lian pergi ke sana, namun dia tak tahu bahwa beberapa bulan ini pendekar itu tak pernah menengok bangsanya. Maka ketika dia tiba di sana dan mendapati kenyataan Pendekar Rambut Emas tidak ada, gadis ini tertegun dan kecewa.
"Kim-taihiap tak pernah pulang. Sudah lama kami dibiarkan merana." Gadis ini merasa kehilangan.
"Apakah tak ada yang tahu ke mana dia pergi? Atau tak adakah sahabatnya yang datang berkunjung?"
"Hm, ada. Tapi sahabat atau bukan kami tak tahu, Nona. Yang jelas, beberapa waktu yang lalu datang seorang gadis cantik!"
"Siapa?" Swat Lian tiba-tiba cemburu. "Apa maksudnya mencari Kim-twako?"
"Kami tak tahu, Nona. Tapi katanya mau menitipkan anak, seorang anak laki-laki!"
"Menitipkan anak? Siapa dia?"
"Kalau tidak salah, namanya Wan Hoa, Nona. Tapi dia membuat onar dan seorang di antara kami tewas!"
Swat Lian tertegun. Nama ini baru baginya; dia tak begitu mengenal Wan Hoa dan yang diajak bicara juga kebetulan orang yang kurang mengerti. Swat Lian terbelalak, tak puas, juga heran. Tapi karena ketika dia bertanya lagi orang itu tak dapat memberi petunjuk, akhirnya gadis ini mengangguk.
"Baiklah, aku pergi. Kalau begitu biar kucari Kim-mou-eng di lain tempat!"
"Nanti dulu!" Swat Lian berhenti. "Nona siapa?"
Swat Lian tiba-tiba tertawa. "Tak usah kau tahu, penjaga. Percuma bagimu mengenal aku. Tahu-tahu... wut!"
Swat Lian tiba-tiba menghilang. Bergerak secepat kilat, gadis ini telah mengerahkan Jing-sian-eng-nya. Ilmu meringankan tubuh itu begitu luar biasa hingga dia lenyap seketika. Si penjaga melongo dan tersentak. Begitu sadar dan dapat membuka mulutnya, penjaga ini lari dan berteriak, "Setan... kuntilanak!"
Swat Lian geli. Dia tak menghiraukan teriakan itu dan kembali ke selatan. Dia kecewa, namun kini ada semacam ganjalan di hatinya, yakni pertanyaan tentang Wan Hoa itu. Kenapa wanita ini mencari Kim-mou-eng dan mengapa pula mengantar seorang anak laki-laki?
Eh! Swat Lian tiba-tiba berhenti, jantungnya berdetak. Apakah Kim-mou-eng main gila? Apakah Pendekar Rambut Emas itu telah memiliki kekasih gelap dan kini dimintai tanggung jawabnya? Hm! Kalau begitu... Swat Lian mengepal tinju. Dia tidak usah mencari Kim-mou-eng! Biar saja Pendekar Rambut Emas itu dengan urusannya dan dia sendiri dengan urusan pribadinya pula. Kenapa pusing?
Tapi ketika dia berlari lagi dan membuang dugaan jelek ini, mendadak seseorang dirasa mengikutinya. Gadis itu menoleh tapi tak ada apa-apa di belakang. Dia melanjutkan larinya, namun bayangan yang dirasa mengikutinya itu mendadak mengganggu lagi. Indra keenamnya bekerja dan tak mungkin dia salah. Tapi ketika dia menoleh dan tetap tak ada apa-apa, maka gadis ini tertegun dan kembali berhenti.
"Apakah setan?" Dia bertanya pada diri sendiri sambil menggeleng kepala kuat-kuat. Tiba-tiba kemendongkolan mengganggu hatinya. Dengan ilmu yang dipunyainya sekarang, tak mungkin dia salah. Seseorang jelas mengikutinya, tapi setiap ditengok tentu tak ada apa-apa di belakang. Tempat itu kosong dan Swat Lian akhirnya menjadi marah sendiri.
Ketika dia mengumpat dan kembali berlari, mendadak bayangan itu dirasa mengikutinya lagi dan kini sebuah kesiur angin dingin jelas berada di dekat punggungnya.
"Jahanam... brak!" Swat Lian menggerakkan tangan ke belakang, tidak membalik, melainkan menghantam langsung ke belakang. Kalau benar ada orang, pasti orang itu kena, tak mungkin luput.
Namun, ketika tak ada apa-apa dan dia tertegun, mendadak terdengar tawa lembut di atas kepalanya, di atas pohon.
"Keparat!" Swat Lian kini melihat bayangan itu, mencelat dan melayang naik sambil melepas pukulan penuh kemarahan. Tiba-tiba seperti iblis saja dia melihat orang itu sedang nangkring di pohon. Dan begitu dia membentak serta melepas pukulan, maka bayangan itu pun melejit dan berteriak.
"Hayaa!"
Pohon berderak roboh, tumbang, dan Swat Lian memaki-maki. Orang di atas pohon itu turut mengebutkan bajunya; mukanya coreng-moreng tak keruan dan memakai ikat kepala. Gadis ini gusar karena terkejut dua kali pukulannya tak mengenai sasaran. Mungkin dia kurang cepat. Tiba-tiba Swat Lian mengerahkan Jing-sian-eng-nya dan berjungkir balik menyambar bayangan itu.
"Mampus kau!"
Bayangan itu tak dapat berkelit, terpaksa menangkis dan Swat Lian gemas mengerahkan tenaga. Tidak tanggung-tanggung, langsung Khikang! Ketika gadis itu membentak dan mengerahkan tenaganya enam per sepuluh bagian, lawan terkejut dan terpekik keras.
"Bress!"
Dua-duanya terpental. Swat Lian berjungkir balik memaki kalang-kabut, kaget, gusar, tapi juga tertegun. Lawan dapat menahan Khi-bal sin-kangnya, hal yang aneh! Ketika dia melayang turun dan lawan juga meloncat bangun, dia membentak dan menyerang bertubi-tubi, tak memberi kesempatan. Lawan mengelak sana-sini. Pukulan gadis itu kian lama kian cepat, juga kuat dan sanggup merobohkan sebatang pohon lagi.
Tapi ketika lawan bergerak sama cepat dan selalu mengimbangi pukulannya, Swat Lian terkejut bukan main.
"Siluman, keparat terkutuk!" Lawan tertawa lepas.
Swat Lian mendelik melihat muka coreng-moreng itu; bentuk tubuhnya seakan dikenal tapi muka orangnya sama sekali baru. Swat Lian melotot dan mempercepat serangannya lagi. Kini Jing-sian-eng dikerahkan setengah bagian, lalu tiga perempat bagian, dan akhirnya sepenuh tenaga. Gadis itu berkelebatan seperti walet menyambar-nyambar, gerak tubuhnya tak dapat lagi diikuti, dan lawan pun berseru nyaring.
Aneh, tiba-tiba lawan mengembangkan kedua lengannya ke kiri dan kanan, lalu beterbangan seperti burung. Jing-sian-eng yang hebat dan luar biasa itu sekonyong-konyong mendapat tandingan. Swat Lian yang sudah diuji ayahnya hampir tak percaya bahwa kecepatannya mampu diimbangi lawannya itu, bahkan lawan sudah bergerak dan mengikuti bayangannya pula. Ke mana dia menyambar, ke situ lawan mengikuti.
Gadis ini terbelalak karena lawan seolah menunggang di atas bayangannya. Jing-sian-eng ditempel ketat. Swat Lian terkejut serta membuka matanya lebar-lebar. Ketika semua pukulannya tak ada yang mengenai sasaran karena tubuh lawan kini seringan kapas—ke mana pun dia memukul, ke situ pula tubuh lawan tertiup—Swat Lian akhirnya memaki-maki, gusar, dan melotot.
"Jahanam, kau iblis terkutuk. Hayo, coba pedangku dan sekarang lihat dapatkah kau bersombong!" Swat Lian tiba-tiba mencabut pedang. Dengan senjata yang membuat jangkauan tangan lebih panjang ini, tiba-tiba dia menang angin. Lawan terkejut dan berbalik berteriak kaget.