Chapter 80
Gadis itu dibantu oleh Jing-sian-eng, sehingga kecepatannya bertambah seolah harimau yang tumbuh sayap. Satu tikaman pedangnya akhirnya mengenai pundak laki-laki itu.
"Bret!" Baju di bagian pundak itu sobek.
Swat Lian berseru girang melihat keberhasilan pertamanya. Ia terus menusuk dan membacok hingga lawannya mencelat. Pedang yang berdesing cepat hampir saja membabat telinga laki-laki itu. Si bayangan berteriak keras dan berjungkir balik.
Ketika Swat Lian mendesak dan menggerakkan pedang membentuk guntingan dari kiri ke kanan, pinggang lawannya terkena kembali. Suara kain robek terdengar disusul pekikan, "Bret-ih...!" Swat Lian merasa percaya diri.
Setelah lawan kewalahan menghadapi serangan gencar pedangnya, terlihatlah kegugupan di wajah laki-laki itu. Swat Lian mengejek sambil mengerahkan kecepatannya. Gerak pedangnya kian lincah, disusul sambaran pukulan Khi-bal-sin-kang dari tangan kanannya. Meskipun harus membagi tenaga, baik pedang di tangan kiri maupun pukulan di tangan kanan sama-sama hebat.
Lawan terus mundur hingga mendekati sebuah mata air. Di sana, lawan tertawa. Swat Lian heran; sudah terdesak, namun laki-laki itu masih bisa tertawa. Saat Swat Lian mencecar dengan tubuh berkelebatan secepat walet, tusukan pedang di tangan kiri tak dapat dihindarkan, dan pukulan tangannya menyambar leher laki-laki itu.
"Plak-dess!" Swat Lian terpekik.
Sebuah cahaya kebiruan tiba-tiba menyambar dari lengan lawannya, menangkis pedang sekaligus menyambut pukulan Khi-bal-sin-kang. Swat Lian mengerahkan delapan bagian tenaganya, berpikir bahwa dia akan menyudahi pertandingan. Ia ingin segera tahu siapa sosok laki-laki itu.
Namun, ketika pedang bertemu sinar kebiruan dan Khi-bal-sin-kang tertahan, tiba-tiba pedangnya mencelat dan terlepas. Swat Lian terpelanting, sementara lawannya pun terlempar ke mata air di belakangnya.
"Byurr!" Lawan berseru tertahan.
Swat Lian berjungkir balik dan mendarat. Wajahnya merah padam, ia siap menyambar kembali pedangnya yang terlepas. Namun, saat ia memandang ke depan, ia tertegun. Wajah lawannya yang semula coreng-moreng kini bersih terkena air, menampakkan sosok pemuda tampan berambut keemasan yang berdiri sebatas dada sambil tertawa menyeringai.
"Kim-twako...!" Swat Lian terkejut.
Ternyata dia adalah Pendekar Rambut Emas. Tutup kepalanya hilang dan wajahnya yang kotor telah bersih. Rupanya, "lukisan" yang dibuat di wajahnya hilang saat ia terlempar ke air. Tak dapat lagi menyembunyikan diri, pendekar itu tertawa.
Kim-mou-eng melompat keluar. Dengan girang, ia menangkap lengan gadis itu. "Wah, hebat! Kau agaknya telah mewarisi Jing-sian-eng dan Khikang dari ayahmu, Lian-moi. Kalau aku tak memiliki Cui-sian Ginkang dan Lu-ciang-hoat, barangkali aku sudah terjungkal!"
Swat Lian tertegun. "Itu tadi Cui-sian Ginkang?"
"Ya, dan Lu-ciang-hoat, Lian-moi. Tanpa itu, tak mungkin aku bertahan. Kau telah mewarisi Khikang dan Jing-sian-eng!"
"Hm...!" Gadis itu masih terpaku. "Dan kau sekarang hebat sekali kepandaianmu, Twako. Bukankah dulu kau roboh dengan Jing-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang ini? Bagaimana kini dapat menahan semuanya itu? Apakah kau mendapatkan ilmu dari langit?"
"Ha-ha, bukan hanya kau. Aku pun heran dan kaget melihat kemajuanmu sekarang, Lian-moi. Kau bukan Swat Lian beberapa bulan yang lalu!"
"Dan kau pun bukan Kim-mou-eng beberapa waktu yang lalu! Apakah semuanya ini sihir?"
Pendekar Rambut Emas tertawa lebar. Tiba-tiba ia melepaskan tangan gadis itu, mundur, dan memandang temannya dengan tatapan berbinar. "Aku baru ditatar. Guruku baru saja memberikan dua ilmu barunya kepadaku!"
"Hm, untuk menandingi Jing-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang?"
"Tentunya bukan, kenapa marah?" Kim-mou-eng tertawa kembali. "Aku menghilang karena dipanggil guruku, Lian-moi. Kebetulan saat keluar, aku bertemu dirimu. Kulihat kau datang dari utara. Apakah kau dari suku bangsaku?"
"Betul," Swat Lian tiba-tiba teringat, matanya berbinar. "Dan kau katanya tak pernah menjenguk suku bangsamu, Twako. Kau dicari-cari seorang gadis bernama Wan Hoa!"
Kim-mou-eng tertegun. "Wan Hoa?"
"Ya, kau kenal, bukan? Dan dia membawa seorang anak laki-laki, katanya mau diberikan kepadamu!"
Swat Lian memandang tajam penuh selidik dengan amarah. Dugaan bahwa Pendekar Rambut Emas menjalin hubungan dengan wanita cantik dan kini memiliki seorang anak laki-laki membuat putri Hu Beng Kui ini terbakar cemburu.
Pendekar Rambut Emas tampak terbelalak. Namun, segera ia menenangkan diri dan berseru, "Ah, tentu saja. Dan siapa bocah yang dibawa itu, Lian-moi? Masihkah dia di sana sekarang? Wan Hoa memang sahabatku, dia teman baik Cao Cun, istri Raja Hu! Kau bertemu dengannya?"
Swat Lian bingung. Jawaban spontan itu tidak menunjukkan gejala mencurigakan. Temannya bicara apa adanya tanpa tampak terkejut atau berubah. Karena tidak tahu, Swat Lian merasa lega dan tersenyum.
"Tidak, aku tak bertemu dengan wanita bernama Wan Hoa itu, Twako. Tentu saja aku tak tahu siapa anak laki-laki itu. Kukira dia anakmu!"
"Dailiong?"
"Bukan. Maksudku, anakmu bersama wanita itu!"
Pendekar Rambut Emas terbelalak. Tiba-tiba ia sadar dan mengerti setelah melihat pandangan curiga Swat Lian. Ia tertawa terbahak-bahak. "Gila! Kau kira aku berhubungan gelap dengan seseorang yang bukan istriku, Lian-moi? Kau menganggap aku laki-laki hidung belang yang dituntut tanggung jawabnya oleh wanita itu? Ha-ha, lucu. Kau salah sangka. Wan Hoa adalah sahabat Cao Cun, istri mendiang Raja Hu!"
Kim-mou-eng menceritakan semuanya, menghapus kecurigaan Swat Lian. Meskipun wajahnya memerah, kelegaan tak dapat disembunyikan.
"Aku tidak curiga, hanya bertanya-tanya saja di dalam hati apakah wanita itu ada hubungan apa-apa denganmu," ujar Swat Lian pura-pura acuh.
"Memang betul ada hubungan, Lian-moi, tapi murni sebagai sahabat. Wan Hoa bukan kekasih atau istri gelapku!"
"Hi-hi, aku tak peduli. Istri gelapmu atau bukan, aku tak mau ambil pusing. Bukankah itu urusan pribadimu?"
"Benar, tapi kau tampak marah, Lian-moi. Kau kelihatan tidak senang!"
"Tentu saja aku tidak senang kalau kau betul-betul melakukan itu. Bukankah sebagai pendekar kau harus berjalan di tempat yang baik? Sudahlah, aku tak mau bicara ini, Kim-twako. Itu urusanmu!"
Swat Lian menangkis, meski hatinya lega bukan main. Pria ini masih dicintainya. Sejak Salima tewas, timbul harapan di hati gadis itu untuk meneruskan cintanya. Ketika Kim-mou-eng menceritakan kebenaran, gadis itu pura-pura tak ingin membahas Wan Hoa lagi untuk menutupi rasa malu.
Kim-mou-eng tersenyum, geli melihat sikap gadis itu. Ia tahu benar perasaan di hati putri Hu Beng Kui tersebut, namun karena istrinya baru saja meninggal dan anak laki-lakinya diculik, ia memilih menunda pembicaraan soal asmara.
"Baiklah, terima kasih, Lian-moi. Kau sudah mengerti. Kini apa maksudmu mendatangi suku bangsaku? Kau tentu mencari aku, bukan? Atau atas perintah ayahmu?"
"Tidak, aku datang atas kemauanku sendiri. Sebenarnya aku ingin membantumu mencari Dailiong, di samping mencari dua suhengku yang dibawa Nenek Naga Bumi dan Hek-bong Siauwjin!"
Kim-mou-eng tertegun. "Belum didapat ayahmu juga? Bukankah kabarnya ayahmu mengalahkan Enam Iblis Dunia dan menjadi Bengcu?"
"Nenek iblis itu dan Hek-bong Siauwjin licik, Twako. Mereka melarikan diri entah ke mana. Ayah sudah mencari tetapi gagal, kini aku mencobanya, mudah-mudahan berhasil."
"Oh, aku mengerti," Kim-mou-eng mengangguk-angguk. "Kiranya ayahmu telah menurunkan Jing-sian-eng dan Khi-bal-sin-kang agar kau mencari dua iblis itu. Dengan kepandaianmu sekarang, aku percaya kau pasti dapat menghadapi nenek itu atau Hek-bong Siauwjin!"
"Dan kukira aku tak perlu membantumu sekarang. Kepandaianmu sudah sedemikian hebat hingga Jing-sian-eng dan Khi-bal-sin-kangku tak berdaya!"
"Ah, siapa bilang? Justru aku berterima kasih melihat maksud baikmu, Lian-moi. Kalau kau mau membantuku mencari Dailiong, maka aku pun akan membantumu mencari dua suhengmu. Kita dapat bersama-sama!"
Swat Lian menyembunyikan kegembiraannya. "Kau tak keberatan?" tanyanya pura-pura sungkan. "Aku tak mengganggumu kalau bersama-sama?"
"Hm," Kim-mou-eng mencengkeram lengannya. "Aku justru gembira jika kau bersamaku, Lian-moi. Dengan begini, pekerjaan tentu lebih cepat selesai. Aku tak keberatan, justru senang!"
Swat Lian melengos, wajahnya memerah.