Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 81

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 81

"Kau mau, bukan?" Kini pertanyaan itu disambut anggukan halus.

Dan ketika Kim-mou-eng tersenyum serta melepas tangannya, pendekar itu berkata menyambung, "Kalau begitu kita dapat berangkat, Lian-moi. Sekarang juga kita memulai pencarian kita!"

"Nanti dulu," gadis itu tiba-tiba berseru. "Kau di sini sebenarnya sedang berbuat apa, Twako? Dan kenapa kau menguntit di belakangku?"

"Aku sebenarnya bermaksud ke suku bangsaku, melihatmu dan kaget serta heran. Kuikuti karena aku tak percaya kepandaianmu itu. Ginkangmu hebat sekali, kiranya Jing-sian-eng!"

"Hu, dan sekarang kau tidak jadi ke suku bangsamu itu?"

"Nanti saja. Aku ingin ke tempat Wan Hoa, Lian-moi. Kalau jauh-jauh dia datang mencari aku, tentu ada keperluan penting. Juga ingin kulihat siapa anak laki-laki yang dia bawa itu!"

Swat Lian tertegun. "Kau keberatan?"

"Tidak," gadis ini menggeleng. "Kalau jejak mungkin bisa didapatkan di sana, mari kita ke sana, Twako. Toh aku juga tidak memiliki petunjuk pasti di mana dua shengku itu berada."

"Baiklah, kalau begitu mari, Lian-moi. Kita ke tempat Raja Hu dan tanya Wan Hoa!"

Kim-mou-eng berkelebat lari mendahului, dan Swat Lian mengangguk. Begitu gadis ini menggerakkan kaki dan melesat ke depan, dua orang muda itu sudah sama-sama mengerahkan kepandaian dan berlari cepat seolah berlomba. Kim-mou-eng mengerahkan ilmu lari cepatnya, dan temannya itu dapat mengikuti. Swat Lian selalu berada di sampingnya, tak pernah gadis itu tertinggal jauh.

Ketika dia kagum dan berseru memuji, Swat Lian cemberut menjawab gemas, "Tak perlu memuji. Aku masih belum dapat mendahuluimu, Twako. Sudah kukerahkan segenap kekuatanku, namun tak pernah juga aku di depan."

"Ha-ha, tapi Jing-sian-eng-mu sudah hebat, Lian-moi. Hanya dalam beberapa bulan saja kau sudah berubah. Betapapun ini adalah kemajuan luar biasa bagimu!"

Dua orang itu berlari beriringan lagi. Memang benar, Swat Lian tak dapat mendahului. Kim-mou-eng agak mengerem kepandaiannya agar gadis itu tak tertinggal sekaligus tak tersinggung. Ketika Swat Lian teringat betapa dia ingin pamer kepada Pendekar Rambut Emas itu namun secara tak terduga lawannya justru memiliki kemajuan pesat setelah mendapat dua ilmu baru, Cui-sian Gin-kang dan pukulan Lu-ciang-hoat, tiba-tiba gadis ini malu hati dan agak jengah.

Maksudnya ingin berbangga, tak tahunya Kim-mou-eng juga mendapat kemajuan luar biasa. Bu-beng Sian-su telah menambah kepandaian Pendekar Rambut Emas ini hingga kalau mau, pendekar itu dapat meninggalkannya. Ketika sambil berlari gadis ini melamun, ia diam-diam merasa kagum dan membandingkan temannya itu dengan ayahnya. Ayahnya tentu terkejut kalau melihat kepandaian Pendekar Rambut Emas sekarang.

Entah apa maksud kakek dewa itu memberi peningkatan ilmu kepada dua orang ini. Satu ayahnya, sedang yang lain adalah pria yang diam-diam dicintainya, kagum Swat Lian. Ia berdebar membayangkan bahwa ayahnya sekarang mungkin tak dapat mengalahkan pendekar ini karena terbukti Jing-sian-eng-nya selalu "dikejar" Cui-sian Gin-kang yang dimiliki Kim-mou-eng.

Mendadak sebuah tepukan membuatnya terkejut. "Hei, kau melamunkan apa? Kutanya tiga kali, Lian-moi. Kau masih mendelong dan tidak menjawab!"

"Eh, kau bertanya apa?" Gadis ini agak gugup. "Apa yang kau tanyakan?"

"Aku bertanya apakah kau pernah ke tempat Raja Hu itu, sudah atau belum!"

"Belum, kenapakah?"

"Kalau begitu kita harus memotong jalan, kau melenceng ke kanan!"

"Oh!" Swat Lian membelok mengikuti temannya. Kim-mou-eng mengajak bercakap-cakap; bertanya apa yang selama ini dilakukan, bagaimana dengan ayahnya, juga Ce-bu yang tentunya semakin ramai. Swat Lian mengangguk. Memang Ce-bu semakin ramai setelah pusat pimpinan dunia persilatan dipegang ayahnya; banyak pendekar dan ketua partai berkunjung ke sana. Perjalanan dilakukan dengan cepat sambil bercakap-cakap, hingga akhirnya mereka sampai di tempat suku bangsa liar yang dipimpin mendiang Raja Hu.

"Nah, itu kemahnya. Kita langsung ke tengah!"

Dua orang itu berkelebat. Kim-mou-eng yang pernah ke tempat ini tentu saja hafal di mana tempat tinggal Cao Cun dan Wan Hoa. Ketika mereka melayang masuk ke kemah berwarna hijau, tiba-tiba Cao Cun memergoki mereka berdua yang kebetulan sedang memetik bunga.

"Kim-twako...!"

Swat Lian tertegun. Seruan lirih namun mengandung rasa rindu yang hebat itu membuat gadis ini berdesir. Untuk kedua kali dia merasa cemburu. Cao Cun, yang masih cantik dan jelita, tiba-tiba menubruk Kim-mou-eng, begitu gembira namun tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dua anak perempuan berlari kecil menubruk Cao Cun.

"Ibu... ibu...!"

Cao Cun jadi kalah suara. Panggilannya terhadap Kim-mou-eng tersendat, wanita ini terisak namun cepat melepaskan diri. Hadirnya Swat Lian tiba-tiba membuat ia sadar, keadaan mereka tak seperti dulu. Setelah dua anak perempuan itu dipeluk kiri kanan, Cao Cun menahan tangisnya dan menggigit bibir kuat-kuat.

"Siapa nona ini?"

"Oh, dia Swat Lian, putri Hu-taihiap!" Kim-mou-eng cepat-cepat memperkenalkan temannya. Gadis itu maju mendekat. Cao Cun memberi hormat dan Swat Lian membalas. Keraguan masih membayang di wajah gadis ini, hal yang lagi-lagi membuat Pendekar Rambut Emas tersenyum kecut. Setelah Cao Cun menenangkan dua anak perempuannya, wanita cantik ini memanggil dayang untuk membawa anak-anaknya dan mempersilakan tamunya duduk.

Begitu mereka bertiga duduk dan Kim-mou-eng bertanya di mana Wan Hoa, tiba-tiba Cao Cun meledak tangisnya. "Wan Hoa telah meninggal. Ia kejam membiarkan aku sendiri..."

"Apa?"

"Benar, Wan Hoa tiada, Twako. Aku sekarang sendiri bersama anak-anakku!"

Hm! Swat Lian tiba-tiba mencibir. Ini janda ketemu duda, pikirnya, namun Kim-mou-eng tak tahu. Pendekar Rambut Emas pucat mendengar berita itu. Wan Hoa telah meninggal!

"Dia sakit... jatuh sakit. Suaminya dibunuh orang dan Wan Hoa merana, tak tahan dan akhirnya meninggal dunia. Aku... aku sendiri..."

Kim-mou-eng kian terbelalak, terkejut. "Wan Hoa sudah menikah? Dia sudah punya suami?"

"Dia menikah secara diam-diam, Twako, di kelenteng kecil dan sunyi. Mereka berjanji sehidup-semati sebagai suami-istri dan benar saja janji mereka itu ditepati."

"Siapa suaminya? Kenapa dibunuh orang?"

"Aku tak tahu, tapi suaminya adalah Hek-eng Taihiap!"

"Hek-eng Taihiap?" Pendekar ini tersentak. "Dia suami Wan Hoa itu?"

"Benar. Kenapakah, Twako? Bukankah ia sahabatmu?" Cao Cun tertegun, kaget melihat kekagetan pendekar itu. Kim-mou-eng sadar; pendekar ini sudah terduduk kembali di kursinya dengan menggigil. Setelah memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam, ia bertanya bagaimana kematian Hek-eng Taihiap.

"Aku tak tahu. Wan Hoa juga tak tahu. Tahu-tahu mayat Hek-eng Taihiap telah dilempar ke mari dan kami tertegun..."

Kim-mou-eng terdiam. "Dan bagaimana Ituchi? Mana anakku? Bukankah kau telah menerimanya?"

"Wan Hoa membawanya ke tempatmu, Twako. Katanya anak itu telah kau ambil murid. Kalau dia selamat jangan bawa ke sini, raja yang baru mengincar nyawanya. Hanya aku ingin melepas rindu dan melihat anakku itu!"

Cao Cun menangis lagi. Kim-mou-eng segera dapat menghubungkan peristiwa itu. Wan Hoa kiranya membawa Ituchi, anak laki-laki Cao Cun ini. Karena tahu hubungan antara Wan Hoa dan Cao Cun, Kim-mou-eng tertegun dan saling pandang dengan Swat Lian. Gadis itu mengangguk; kini ia mengerti siapa kiranya anak laki-laki yang dibawa Wan Hoa. Bukan hubungan gelap pendekar ini dengan wanita itu, melainkan benar anak Cao Cun. Swat Lian merasa malu dan jengah karena pikirannya telah menduga yang bukan-bukan. Kim-mou-eng bersih; ia lelaki sejati yang dapat dipercaya.

"Enci Cao Cun, apa sebenarnya yang terjadi di sini? Ada apa dengan raja baru?"

"Apakah Kim-twako belum menceritakannya?"

"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri, Enci. Siapa tahu aku dapat membantumu dan menghadapi raja ini!"

"Dia mengincar anak laki-lakiku. Ituchi dikhawatirkan merebut kedudukannya dan kelak menuntut haknya sebagai keturunan Raja Hu. Karena putraku laki-laki dan raja yang sekarang khawatir, maka dia ingin melenyapkan putraku itu dan Wan Hoa cepat-cepat membawanya ke Kim-twako!"

"Ah, kalau begitu benar," Swat Lian berpura-pura mengangguk sambil melirik Kim-mou-eng. "Kalau begitu raja perlu dibunuh, Enci. Aku dapat membunuhnya agar hidupmu tenang!"

"Tidak, jangan...!" Cao Cun menggeleng, pucat. "Aku di sini mengendalikan bangsa ini, Nona. Jangan lakukan hal itu atau semuanya bakal berantakan!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment