Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 82

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 82

Namun Kim-mou-eng, yang menyentuh lengannya dan maklum akan tugas Cao Cun, menjawil.

"Benar, jangan lakukan itu, Lian-moi. Biar saja Ituchi tetap bersamaku dan kelak anak itu menentukannya sendiri."

Swat Lian tertegun. Dia mendapat kedipan, mengangguk, dan mengerti. Ketika Cao Cun terisak dan bertanya bagaimana dengan anaknya itu, Kim-mou-eng yang mulai mengerti dan bersikap seperti benar-benar tahu, mengangguk.

"Anakmu baik-baik saja. Muridku itu memang kutinggalkan di luar."

"Dapatkah aku menemuinya sebentar?"

"Hm," Kim-mou-eng bingung. "Kau tahu sendiri kedudukan anak itu, Cun-moi. Kalau ada orang melihat, tentu repot. Biarlah pendam dulu rindumu itu dan lain kali saja kau bertemu."

Cao Cun kecewa. Tapi Swat Lian yang mengerti dan mulai mengenal lika-liku cerita itu menyambung untuk menghibur.

"Apa yang dikata Kim-twako benar, Enci. Tahanlah dulu keinginanmu itu. Kami akan menjaga anakmu."

Dengan kata-kata ini, secara tidak langsung Swat Lian telah mengambil keputusan untuk mengetahui nasib anak itu, di mana dan bagaimana mereka mencarinya. Tentu saja ia akan membicarakannya dengan Kim-mou-eng, temannya. Ketika pembicaraan dirasa cukup dan Pendekar Rambut Emas minta diri mendadak, Cao Cun bangkit pula menahan lengannya.

"Twako, kau tentu menjaga baik-baik anakku, bukan? Ituchi satu-satunya keturunanku lelaki, Twako. Hidup tanpa seorang putra tentu sulit bagiku yang sudah menjanda."

"Tentu," Kim-mou-eng terharu. "Aku akan menjaga anakmu baik-baik, Cun-moi. Sekarang perkenankan kami pergi dan hati-hatilah di sini."

Cao Cun terisak. Dia menindas keinginannya yang lebih besar untuk bercakap lebih lama dengan pendekar ini karena di situ ada Swat Lian; ia sungkan. Ketika mereka berdua mohon diri dan Cao Cun melepas tangan pendekar itu, tiba-tiba wanita ini berbisik perlahan, tapi Swat Lian yang tajam pendengarannya tentu saja mendengar.

"Dia calon pengganti Salima?"

Kim-mou-eng tersipu. "Hm, mungkin begitu, Cun-moi. Sudahlah, dia melihat kita!"

Swat Lian melengos. Mukanya juga merah ketika Cao Cun meliriknya; jantung berdebar dan Cao Cun pun tersenyum. Aneh, wanita ini tak cemburu hatinya. Ketika dia mengangguk dan ganti menyambar lengan Swat Lian, wanita itu berbisik, "Adik Lian, perhatikan dia baik-baik. Kim-twako sudah cukup menderita!"

Begitu Swat Lian memerah dan semakin tersipu, tiba-tiba Kim-mou-eng telah menyendal lengannya dan berkelebat pergi.

"Cao Cun, hati-hati!"

Dua orang itu berkelebat lenyap. Pendekar Rambut Emas dan temannya telah pergi meninggalkan wanita itu. Cao Cun sendirian, tapi segera dia menarik napas panjang. Ketika tamunya pergi dan tidak kelihatan lagi, wanita ini pun masuk ke kamarnya dan memanggil dua anak perempuannya.

***

"Apa yang dia katakan? Pesan apa?" Kim-mou-eng pura-pura bertanya ketika mereka sudah jauh meninggalkan tempat itu.

"Hm," Swat Lian jengah. "Tak apa-apa, Twako. Tentang anaknya itu."

"Sungguh?"

"Eh!" Gadis ini tiba-tiba berhenti. "Kau kira aku bohong?"

Begitu dua mata beradu, Kim-mou-eng pun berhenti tiba-tiba. Swat Lian membuang muka dan melihat pendekar itu tersenyum. Tentu saja Kim-mou-eng tahu apa yang dibisikkan tadi, tapi sengaja ia pura-pura tidak tahu untuk menggoda. Swat Lian tiba-tiba mencubit lengannya keras sekali dan pendekar ini mengaduh. Ketika Swat Lian sadar bahwa temannya pura-pura tak tahu, dia malu dan akhirnya membanting kaki.

"Twako, jangan main-main. Sekarang kita menghadapi persoalan baru!"

"Hm, benar," Kim-mou-eng sadar dan tak mau menggoda lagi. "Mari sekarang kita duduk, Lian-moi. Kita bicarakan dan cari kesimpulan apa sebenarnya yang telah terjadi."

Dua orang itu duduk berdekatan dan Kim-mou-eng agak berdebar juga. Bukan sekali ini ia duduk dengan putri Hu Beng Kui itu; dulu sering mereka berdampingan dan bahkan bersentuhan lengan ketika Swat Lian mengajarinya silat dan dia pura-pura bodoh. Ketika Swat Lian juga rupanya merasakan hal yang sama, aneh, keduanya mendadak merasa canggung.

"Eh, kau mau bicara atau tidak?" Swat Lian tiba-tiba menegur, mendahului, dan Kim-mou-eng pun tiba-tiba tertawa.

Suara si gadis yang membuyarkan kecanggungan tiba-tiba membuat pendekar ini berhasil memulihkan diri, mengangguk, dan memusatkan perhatian pada persoalan Ituchi, bukan kepada bibir yang bergerak-gerak indah itu. Ketika dia berdeham dan menekan perasaannya yang mengacau, Pendekar Rambut Emas berkata, "Benar, aku harus mulai bicara, Lian-moi. Persoalan tentu saja kita pusatkan pada anak laki-laki itu. Bagaimana kesimpulanmu setelah mendengar semuanya ini?"

"Eh, kok malah bertanya? Aku justru ingin mendengar kesimpulanmu, Twako. Kau yang lebih banyak tahu tentang Wan Hoa atau Cao Cun!"

"Tapi pendapatmu perlu kudengar juga, Lian-moi. Betapapun kau telah mendengar jalan ceritanya."

"Aku merasa ada sesuatu yang tak beres. Ituchi pasti dibawa si pembunuh itu!"

"Cocok, aku pun juga berpikir begitu. Hanya apakah anak itu masih selamat dan siapa pembunuh Hek-eng Taihiap ini?"

"Kita harus melacak, Twako. Kalau perlu ke suku bangsamu!"

"Hal itu akan kulakukan. Sekarang, apa yang kira-kira terjadi hingga Wan Hoa bertemu Hek-eng Taihiap?"

"Coba kau simpulkan dulu, barangkali cocok dengan pikiranku."

"Aku menduga wanita ini bertemu Hek-eng Taihiap di tengah jalan..."

"Bagus, lalu...?"

"Hu, kenapa aku lagi? Coba kau, Lian-moi. Sambung dan rangkai cerita ini hingga menjadi suatu peristiwa yang utuh."

"Gampang saja. Wan Hoa adalah wanita lemah, tak bisa silat. Tentu dalam perjalanannya muncul banyak gangguan dan Hek-eng Taihiap menolongnya, berkenalan, dan setelah itu menikah. Bukankah begini jalan pikiranmu, Twako?"

"Benar."

"Dan bagaimana dengan anak itu sendiri? Bagaimana dengan Ituchi?"

"Tentu anak itu mengikuti keduanya, Lian-moi. Tak mungkin Wan Hoa meninggalkannya."

"Bukan itu. Maksudku, bagaimana Cao Cun menganggap anaknya kau bawa? Bukankah jelas Wan Hoa membohonginya?"

"Hm," Pendekar ini terkejut. "Itulah yang membuat aku merasa ganjil, Lian-moi. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan di sini. Aku pikir Wan Hoa sengaja berbohong!"

"Eh...!"

"Benar, aku mengenal baik Wan Hoa dan Cao Cun itu, Lian-moi. Masing-masing rela berkorban demi yang lain. Aku mengenal betul watak Wan Hoa itu, tak biasanya berbohong kalau tidak terpaksa!"

"Coba ceritakan ini, aku jadi ingin tahu..."

Swat Lian tertarik, tak terasa mendekatkan duduknya. Pendekar Rambut Emas menarik napas dalam-dalam. Dia harus membuang pikiran yang tidak-tidak setelah gadis itu kian mendekat, mencium bau harum rambut yang hitam serta tubuh yang halus dan bersih. Begitu dekat dan merangsang. Namun, ketika dia berhasil menindas perasaannya itu dan mata yang indah bening itu terbelalak kepadanya, maka Pendekar Rambut Emas yang mengenal betul dua sahabat ini lalu merangkai ceritanya sendiri.

"Kukira kematian Wan Hoa karena dua hal. Satu karena kematian Hek-eng Taihiap itu dan yang lain karena Ituchi..."

"Hm, teruskan."

"Kupikir Wan Hoa sengaja berbohong. Dia tak berterus terang pada Cao Cun bahwa dia gagal mencari aku..."

"Nanti dulu! Yakinkah kau akan hal itu, Twako?" Swat Lian memotong.

"Aku yakin," Kim-mou-eng mengangguk. "Kau dengar sendiri bahwa Wan Hoa membawa Ituchi ke tempatku, Lian-moi. Dan kau sendiri bilang bahwa gadis itu ada di sana bersama seorang anak lelaki. Karena dia tak berhasil menemui aku dan bertemu dengan Hek-eng Taihiap ini, maka mungkin saja Wan Hoa lalu meneruskan pencariannya bersama Pendekar Garuda Hitam itu."

"Dan ternyata gagal juga!"

"Ya, karena selama itu aku digembleng guruku."

"Lalu bagaimana?"

"Tentunya mereka ke sana kemari, Lian-moi. Dan akhirnya mereka jatuh cinta!"

"Hm, ini aku tahu. Kalau tak saling jatuh cinta tak mungkin menjadi suami-istri!"

Swat Lian merengut, merah mukanya, dan Kim-mou-eng tersenyum. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin menggoda putri Hu Beng Kui itu, melihat merahnya pipi dan cemberutnya mulut. Dalam saat-saat begini, tiba-tiba kekosongannya ditinggal mendiang istri seolah didapatkan dari gadis itu. Namun, menyadari bahwa bukan saatnya bergurau, Pendekar Rambut Emas berdeham dan pura-pura mengangguk.

"Maaf, memang benar, Lian-moi. Tapi setelah itu Ituchi tentunya ikut Hek-eng Taihiap ini. Setelah tak berhasil mencari aku dan menemukan Pendekar Garuda Hitam itu, tentunya Wan Hoa merasa aman meninggalkan anak itu kepada suaminya. Bukankah Ituchi tak boleh kembali ke ibunya karena ancaman raja baru? Nah, kupikir Wan Hoa menyerahkan anak ini kepada Hek-eng Taihiap, Lian-moi. Tapi karena raja baru selalu mengincar anak itu dan mencari jejak, maka kukira raja inilah yang membunuh Hek-eng Taihiap lewat orang lain!"

"Hm, aku juga berpikir begitu. Tentu raja itulah biang keladinya dan kita harus menyelidiki. Bagaimana pendapatmu sekarang, Twako?"

"Ternyata kita sama, aku juga berpikir begitu!" Kim-mou-eng bersinar-sinar. "Kita ke sana, Lian-moi. Dan kita tangkap raja itu. Tapi hati-hati, kita tak boleh memperkenalkan diri!"

"Memakai kedok?"

"Begitulah."

"Dan kita tak jadi ke tempat suku bangsamu dulu?"

"Hm, bagaimana, ya?" Pendekar ini bingung. "Ke sana juga penting, Lian-moi. Tapi di sini kita lebih dekat!"

"Kalau begitu kita kembali lagi, bekuk dan tangkap raja itu!"

Kim-mou-eng mengangguk. Setelah berpikir sejenak dan menimbang serta menetapkan hati, tiba-tiba pendekar ini berdiri; memang lebih dekat ke tempat raja itu daripada harus kembali dulu ke suku bangsanya. Barangkali di situ dia dapat mengorek keterangan lebih banyak. Maka begitu mengangguk dan bangkit dari duduknya, pendekar ini sudah menyambar temannya dan berkelebat, tak menunggu waktu lagi. Pendekar Rambut Emas tak tahu bahwa dugaannya yang terakhir keliru. Tentu saja dia tak menduga bahwa Cam-kong Ho Hong Siu campur tangan. Pembunuh Petir itulah yang menangkap Ituchi dan membunuh Hek-eng Taihiap, hal yang memang tak diketahui orang lain.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment