Chapter 83
Ketika dua orang itu berkelebat kembali ke perkemahan bangsa liar, Kim-mou-eng harus menelan kekecewaan. Sang raja ternyata sedang pergi menghadap kaisar, dan pendekar itu terpaksa menangkap tangan kanan raja untuk mencari keterangan, namun usahanya gagal. Meskipun orang itu telah dikompres dan dipaksa mengaku, tetap saja tidak ada keterangan tentang Ituchi. Anak itu seolah lenyap dan hilang begitu saja, seperti ditelan bumi.
Setelah usahanya di sana sia-sia, Kim-mou-eng berkelebat ke suku bangsanya. Namun, di sana dia kembali dibuat kecewa, meskipun ada sepotong keterangan yang memperkuat keyakinannya bahwa Ituchi memang bersama Hek-eng Taihiap.
"Ada beberapa penggembala yang kebetulan melihat anak itu berdua dengan seorang laki-laki berpakaian hitam. Dan laki-laki itulah yang dulu membuat Daikim tewas!"
"Ya, dan wanita itu membunuh Daikim, Taihiap. Perbuatannya demikian kejam dan ganas, Kwa-ko melihatnya!"
Kim-mou-eng memanggil Kwa-ko, teman Daikim. Ketika dimintai keterangan, Kwa-ko hanya menjawab singkat tentang kejadian dulu, yakni melihat Wan Hoa menusukkan golok dan Hek-eng Taihiap muncul, lalu pergi menghilang membawa wanita itu beserta anak lelakinya.
Saat Kim-mou-eng bingung bagaimana Wan Hoa bisa membunuh Daikim, seorang wanita muncul dengan muka dingin.
"Kematian Daikim untuk apa dipersoalkan, Taihiap? Biar saja dia mampus, Daikim mata keranjang dan aku pun pernah diganggunya!"
"Oh, kau Rimbi? Apa yang kau ketahui tentang Daikim?"
"Dia pemuda hidung belang, suka mengganggu dan merusak wanita. Biar saja, Taihiap tak usah membela kematiannya karena itu sudah setimpal!"
Cukuplah ini bagi Pendekar Rambut Emas. Keheranannya terjawab; kiranya Daikim memang pemuda mata keranjang yang mengganggu Wan Hoa, hingga Hek-eng Taihiap menolongnya. Melihat seorang wanita sampai membunuh Daikim, Kim-mou-eng bisa membayangkan bahwa Daikim memang telah melewati batas. Segera dia mengajak temannya pergi.
Anak buahnya melongo ketika pendekar itu melesat seperti siluman. Ketika mereka berteriak dan mencoba bertanya, dari jauh pendekar itu menjawab bahwa urusannya masih banyak dan akan datang lagi di lain hari. Bangsa Tartar kecewa atas kepergian Pendekar Rambut Emas, namun karena kehadiran wakil pendekar itu, mereka hanya tertegun sementara sang pendekar telah terbang ke selatan.
"Sekarang kita tidak tahu ke mana mencari jejak. Bagaimana pendapatmu, Lian-moi?"
"Hm, semakin sulit dan membingungkan, Twako. Tapi bagiku siapa saja boleh. Siapa yang lebih dulu ditemukan, dia itulah yang kita tolong!"
"Bagus, kalau begitu mari kita ke selatan. Kita temukan siapa yang lebih dulu bisa kita temukan!"
Dua orang itu bergerak beriringan. Kini masing-masing menemui jalan buntu, sama-sama mengerahkan kepandaian mereka. Swat Lian mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengimbangi sang pendekar. Jing-sian-eng dikerahkan, tapi gadis itu tetap tak dapat mendahului. Kim-mou-eng hampir lupa karena pikirannya melayang, untung dia segera sadar dan tidak mengeluarkan kepandaian sepenuhnya.
Setelah berhari-hari melakukan perjalanan hingga ke Laut Timor, kaki mereka akhirnya lelah. Siang itu, Swat Lian mengajak berhenti dan duduk terengah-engah sambil memandangi debur ombak yang ganas.
"Aku ingin mengendurkan kakiku. Aduh, capek sekali..."
"Maaf," Kim-mou-eng sadar. "Aku lupa, Lian-moi. Mari cari tempat yang enak dan kita berteduh. Di sana ada pohon nyiur, kita ke sana."
Kim-mou-eng berkelebat, membantu Swat Lian menuju sebatang pohon nyiur di dekat sebuah batu karang besar yang teduh dan sepi. Ketika gadis itu duduk bersandar, Kim-mou-eng bersila di bawah pohon. Melihat putri Hu Beng Kui ini mengusap keringatnya, tiba-tiba Kim-mou-eng menjadi terharu. Tanpa terasa dia melempar pandangan lembut yang membuat Swat Lian melengos dengan pipi memerah.
Tiba-tiba, Pendekar Rambut Emas memegang lengan gadis itu. "Lian-moi, kau benar-benar capai?"
Gadis itu terkejut. "Maaf, berhari-hari ini pikiranku tegang, Lian-moi. Aku melupakanmu dan tidak memperhatikan kelelahanmu. Aku terlalu diburu perasaanku sendiri."
"Tak apa," gadis itu melepaskan tangannya dengan gemetar. "Aku tahu, Twako. Dan aku menyadari."
Swat Lian menunduk, tak sanggup menatap pandangan lembut Pendekar Rambut Emas, lalu terisak. Saat Kim-mou-eng mengerutkan kening, gadis itu membalikkan badan. "Twako, aku ingin istirahat. Jangan ganggu dulu."
Kim-mou-eng menarik napas. Dia mundur dan kembali duduk, tepekur mendengar debur ombak. Debur ombak itu seakan debur hatinya sendiri. Agaknya Swat Lian belum terbiasa dengan perasaan romantis, dan karena gadis itu lelah, Pendekar Rambut Emas membiarkannya memejamkan mata.
Satu jam kemudian, Swat Lian tampak segar dan menguap. "Idih, angin merayu tubuhku, Twako. Aku ingin tidur!"
"Tidurlah, di sini sepi, Lian-moi. Aku akan menjagamu."
Swat Lian tersenyum dan menerima mantel yang dilemparkan Kim-mou-eng, lalu membaringkan tubuhnya. Pendekar Rambut Emas mengamati dan pikirannya menerawang. Pertama, diingatnya mendiang sumoinya, Salima, yang angkuh dan menawan. Sedangkan putri Hu Beng Kui ini memiliki kelembutan yang mengingatkannya pada ibunya sendiri.
Tanpa sadar, Kim-mou-eng menggeser duduknya mendekati gadis itu. Saat ia mengusap dahi dan pipi Swat Lian yang tidur pulas, pendekar itu menunduk dan mencium dahi yang sedikit berkeringat itu.
"Cup!"
"Ih!" Swat Lian meloncat kaget, gerak refleksnya membuat tangannya menampar pipi Kim-mou-eng dengan bunyi nyaring!
Pendekar Rambut Emas tertegun dan berdiri, gugup oleh perbuatannya sendiri. "Maaf, aku tadi teringat bayangan ibuku, Lian-moi. Melihat senyummu yang begitu lembut dan penuh keibuan, aku tak sadar mengamatimu dan mencium dahimu!"
"Ahh!" Swat Lian menenangkan hatinya. "Kau mengejutkan aku, Twako. Kau mengganggu orang tidur!"
"Maaf, aku tak sengaja, Lian-moi."