Chapter 84
"Aku orang kurang ajar. Kau tamparlah sekali lagi kalau kurang!"
"Ihh, siapa mau melakukan itu? Kalau aku tak percaya padamu, tentu tak mau aku tidur di sini, Twako. Sudahlah, aku mau tidur dan melanjutkan mimpiku tadi!"
Swat Lian percaya pada kata-kata temannya. Ia mencoba tidur lagi, namun tentu saja gagal. Mana bisa ia tidur setelah Kim Mou Eng menciumnya tadi? Meskipun hanya di dahi, kelembutan dan kemesraan ciuman itu cukup menggetarkan hatinya. Swat Lian berdebar dan mukanya pun merah. Sebenarnya ia malu dan jengah dengan kejadian tadi; kalau bukan Kim Mou Eng, tentu orang itu sudah dihajar dan diserangnya habis-habisan. Ia bukan gadis murahan. Namun, karena Kim Mou Eng yang melakukannya, tak dapat disangkal bahwa sebenarnya ia senang. Mendadak gadis ini malah menyesal, kenapa bukan bibirnya yang dicium? Kenapa harus dahinya? Dan kenapa... eh, kenapa ia melantur?
Cih, tidak tahu malu. Swat Lian memaki diri sendiri dan mukanya tiba-tiba seperti kepiting rebus. Angan-angan dan bayangan yang semakin melantur ini membuatnya malu sendiri. Ketika ia mengeluh dan tanpa sadar menampar pipi sendiri, tiba-tiba Kim Mou Eng terkejut mendengar suara nyaring tamparan itu.
"Eh, ada apa, Lian-moi? Kau marah?"
"Tidak," Swat Lian terkejut. "Aku... aku memukul nyamuk, Twako. Jengkel!"
"Nyamuk?" Kim Mou Eng tertegun. "Siang bolong begini?"
Swat Lian tak menjawab. Tiba-tiba ia sadar bahwa kebohongannya terbongkar; tak mungkin ada nyamuk di siang bolong dan di tempat terbuka pula. Angin laut mengembus tajam, mustahil ada nyamuk. Ia ketahuan. Kim Mou Eng berdehem kecil, mungkin geli. Ketika gadis itu merasa gugup dan gelisah tak keruan, tiba-tiba ia melompat bangun dan berkelebat menghilang.
"Twako, aku mau mandi. Gerah!"
Kim Mou Eng tersenyum. Sekarang ia tahu bahwa temannya ini merasa kikuk dan serba salah. Tentu pertanyaannya tadi menyadarkan gadis itu bahwa ia menjawab asal jadi. Ketika Kim Mou Eng tertawa dan tersenyum lebar, ia bangkit pula untuk melipat mantel. Ia maklum bahwa Swat Lian tak dapat tidur lagi dan ia pun menyesali perbuatannya tadi. Ah, ia terlalu lancang membiarkan diri terhanyut dalam pikiran sendiri, dan kini gadis itu benar-benar terganggu.
Ia menunggu Swat Lian selesai mandi. Namun, ketika setengah jam kemudian gadis itu belum muncul juga dan Kim Mou Eng mulai khawatir, tiba-tiba ia mendengar bentakan dan suara beradunya senjata. Ia terkejut dan segera berlari ke sana.
Kim Mou Eng berkelebat dan mendengar bentakan-bentakan Swat Lian, juga tawa nyaring seorang nenek. Ketika ia tiba di tempat itu, ia tertegun memperhatikan bahwa ternyata gadis itu sudah bertanding melawan Ji-moi, nenek kedua dari Sepasang Dewi Naga.
"Ah!" Kim Mou Eng mengeluarkan seruan tertahan. "Kau bertemu nenek siluman ini, Lian-moi? Mana satunya?"
"Awas!" Swat Lian melengking. "Di belakangmu nenek itu menyerang, Twako. Lihat ke belakang dan lempar tubuhmu!"
Kim Mou Eng membanting diri dan berguling. Pada saat itu, ia mendengar kesiur angin dingin yang dahsyat menyambarnya. Seorang nenek lain muncul; itulah Toa-ci, sang kakak, orang tertua dari Sepasang Dewi Naga. Ketika nenek itu menggeram dan gagal menyambar Kim Mou Eng, pukulannya meledak di tanah sementara Kim Mou Eng sudah berjungkir balik meloncat bangun.
"Bress!" Debu mengepul tebal.
Toa-ci berkelebat dan berdiri di situ. Mulutnya mengeluarkan lengkingan lirih. Dua anak laki-laki berada di bahu kirinya; yang satu lebih besar dari yang lain, menghimpit atau menekan yang lebih kecil yang menangis tak keruan. Ketika Kim Mou Eng tertegun dan terkejut, anak laki-laki yang lebih besar itu—yang segera dikenalnya sebagai Togura, anak mendiang Suheng-nya—berseru dengan suara tajam.
"Subo, bunuh pamanku itu! Serang dia sekali lagi!"
"Hm!" Toa-ci, sang nenek, mengangguk. "Memang aku akan membunuhnya, Togura. Tapi seranganku tadi luput karena kalian. Duduklah di sana, jaga bocah ini... wut!"
Sang nenek melempar dua anak itu. Togura tertawa dan berjungkir balik dengan mengagumkan; rupanya ia sudah dilatih silat sejak kecil. Kepandaiannya cukup tinggi untuk anak seusia itu. Ketika bocah itu sudah berjungkir balik dan berdiri menonton, Toa-ci memandang Kim Mou Eng dengan mata sedingin kutub.
"Kau siap mampus?"
Kim Mou Eng tersenyum. "Dia anakku?"
"Benar, itulah bocah yang kuambil dari isterimu, Kim Mou Eng. Dan sekarang siaplah mampus menyusul isterimu!"
"Hm, kau kejam. Menculik dan membunuh adalah perbuatan tak terpuji, Dewi Naga. Kau melakukan itu tanpa alasan yang jelas. Sekarang aku menuntut tanggung jawabmu, kembalikan anakku dan bocah laki-laki itu!"
"Togura?"
"Ya."
"Terimalah!"
Si nenek tiba-tiba berkelebat dan menyerang tanpa banyak cakap. Tubuhnya lenyap dan dua jarinya sudah berada di dekat hidung Kim Mou Eng. Nenek ini hendak menotok jalan darah di antara kedua kening; jarinya bercuit dan sudah sekaku baja. Itulah jari sakti yang bisa menembus tembok!
Namun, Pendekar Rambut Emas mengelak dengan mudah. Ia mendoyongkan tubuh ke kiri dan tusukan itu luput.
"Cress!" Tanah terbakar. Toa-ci kiranya mempergunakan tenaga api. Melihat serangannya luput, nenek itu terkejut dan melengking. Ia heran melihat gerakan Kim Mou Eng yang tampak sederhana dan lambat. Nenek itu membentak, memutar tubuh, menendang, dan rambutnya menjeletar nyaring. Bagian yang tampak lemas ini tiba-tiba berubah menjadi kaku seperti kawat baja. Namun, Kim Mou Eng lagi-lagi mengelak, membuat serangan si nenek mengenai angin kosong dan meledak di udara.
"Tar-tar!" Toa-ci terpekik. Untuk kedua kalinya ia terkejut. Gerakan Pendekar Rambut Emas bukanlah hal biasa. Ia terbelalak melihat gerakan sederhana itu.
Nenek itu menerjang lagi dengan pukulan bertubi-tubi. Terpaksa Kim Mou Eng melayani, berkelit, dan mengelak. Namun, karena lawan terus memburu, akhirnya Pendekar Rambut Emas menangkis dan menerima ledakan rambut.
"Tarr!" Toa-ci terbeliak. Rambutnya terpental, terasa pedas dan sakit.
Ketika ia menyerang lagi, Kim Mou Eng menggerakkan lengan dan menangkis serangan-serangannya.
"Des-plakk!" Nenek ini tergetar. Ia kaget bukan main karena dibuat terhuyung. Kim Mou Eng yang dulu dihajar dan didesaknya, ternyata kini tiba-tiba dapat menangkis pukulannya.
Nenek Dewi Naga itu melengking marah, mengerahkan Ginkang-nya, dan berkelebat cepat mengelilingi lawannya sambil melancarkan pukulan maut. Angin bercuitan dan jari nenek itu kembali bekerja, menusuk dan menotok, belum lagi rambutnya yang meledak-ledak seperti kawat baja.
Namun, ketika Kim Mou Eng mengeluarkan seruan panjang dan tubuhnya berkelebat mengimbangi gerakan lawan, ia terus berhasil menangkis setiap serangan.
"Plak-plak!" Toa-ci hampir tak percaya. Ia melihat Pendekar Rambut Emas mengeluarkan ilmu meringankan tubuh yang mampu mengimbangi ilmunya sendiri. Ketika sang nenek mempercepat serangan, Kim Mou Eng ikut membentak. Kedua lengannya mendorong ke sana kemari, menolak, dan mengibas. Tiba-tiba cahaya menyilaukan keluar dari lengan Pendekar Rambut Emas itu; mula-mula samar, tapi kian lama kian terang.
Ketika sinar itu demikian terangnya hingga nenek ini terpekik kaget, sebuah dorongan tak kasat mata menghantam pundaknya.
"Dess!" Nenek Toa-ci terpelanting. Untuk pertama kali Kim Mou Eng membuat kejutan dan membuat nenek itu terbanting.
Ketika Toa-ci meloncat bangun, ia bertanya dengan ngeri, "Ilmu pukulan apa itu? Dari mana kau mendapatkannya?"
"Ha-ha, aku mendapatkannya dari guruku, Toa-ci. Kenapakah? Kau takut?"
"Keparat! Siapa takut? Gurumu pun tak kutakuti. Kim Mou Eng, jangan besar mulut dan sombong... wut!"
Sang nenek menyerang lagi dengan ganas. Namun, setiap kali ia menerima ilmu pukulan yang menyilaukan itu, ia kembali terbanting.
"Dess!"
Toa-ci mengumpat dan mencaci-maki. Ia tak menyangka itulah ilmu baru yang didapat Kim Mou Eng dari gurunya, Lu Ciang Hoat. Setelah tujuh kali terpental, akhirnya sang nenek merasa gentar. Ia melirik adiknya, Ji-moi, yang ternyata juga sedang terdesak. Toa-ci hampir tak percaya; Swat Lian, bocah perempuan yang dulu mereka lempar dan permainkan, kini menjadi luar biasa dan mampu menghindari semua serangan adiknya.