Chapter 85
Nenek Toa-ci terkejut bukan main saat melihat gadis itu mengeluarkan jurus tamparan Khi-bal-sin-kang. Ia tertegun menyaksikan adiknya terlempar dan terbanting hingga mengerang kesakitan.
"Keparat! Hu Beng Kui mengajari gadis ini Khi-bal-sin-kang. Dan dia juga mewarisi Jing-sian-eng!" Nenek Toa-ci terbelalak.
Ia segera mengenali ilmu meringankan tubuh yang digunakan gadis itu, yaitu Jing-sian-eng, kepandaian yang dimiliki Hu Beng Kui dan kini telah diwariskan kepada putrinya. Secepat apa pun nenek Ji-moi menyerang, secepat itu pula gadis itu mengelak atau menangkis. Ketika si gadis membalas dengan pukulan bertenaga Khikang yang meledak tepat di tubuh adiknya, nenek Ji-moi hanya bisa mengaduh dan mencaci maki tanpa henti.
"Ha-ha, bagaimana, Toa-ci? Kau masih ingin membunuhku?"
Toa-ci melotot. Kim-mou-eng, yang terus mendesak dan merangsek, tiba-tiba melancarkan pukulan lurus. Nenek itu membentak dan mencoba menangkis sekali lagi. Ia belum mengenal Lu-ciang-hoat, ilmu yang masih baru baginya. Begitu benturan terjadi, nenek itu terbanting, mengeluh, dan muntah darah. Untuk pertama kalinya, ia terluka.
"Augh!" Nenek itu terhuyung.
"Ilmu pukulan apa yang kau miliki itu, Kim-mou-eng? Ilmu apalagi yang kau dapat dari gurumu, si jahanam Bu-beng Sian-su itu?"
"Hm, ini Lu-ciang-hoat, Toa-ci. Dan ilmu meringankan tubuhku tadi adalah Cui-sian Ginkang."
"Keparat, kau sekarang begitu lihai. Aih, aku jadi malas bertanding denganmu, Kim-mou-eng. Biar lain kali saja kita bertemu dan bermain-main lagi!"
Nenek itu bersuit melengking tinggi sebagai tanda. Tiba-tiba, ia menyambitkan garpu-garpu kecil—senjata rahasianya—yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah tenggorokan Kim-mou-eng, sementara empat lainnya meluncur ke arah perut dan kemaluan. Kurang ajar! Nenek tua ini rupanya masih gemar menggunakan senjata rahasia. Namun, Kim-mou-eng dengan tangkas menangkis dan menjatuhkan semua garpu kecil tersebut. Ia tidak mengejar, melainkan tetap waspada melihat nenek Toa-ci berjungkir balik ke arah Dailiong, anaknya, bermaksud menyambar bocah itu dan Togura, sang murid.
"Plak!" Kim-mou-eng tidak membiarkan tindakan itu; ia menampar dari jauh sehingga nenek itu tunggang-langgang, menjerit, dan segera melarikan diri.
Ketika Kim-mou-eng berhasil mendapatkan anaknya kembali sementara Dailiong menangis tak keruan, di sisi lain nenek Ji-moi juga memutar tubuhnya dan lari terbirit-birit.
"Jahanam, kalian dua anak muda keparat! Terkutuk!" Nenek itu melepas senjata rahasianya berupa tiga sendok aneh, namun Swat Lian dengan mudah menangkisnya.
Gadis itu sempat membentak, hendak mengejar, tetapi ketika Kim-mou-eng memanggilnya dengan gugup karena tidak dapat mendiamkan Dailiong, gadis itu segera berjungkir balik dan mendarat di dekat Pendekar Rambut Emas.
"Ada apa? Kenapa?"
"Entahlah, Dailiong menangis tak keruan, Lian-moi. Aku bingung. Tolong kau diamkan dia dan nina-bobokan!"
Swat Lian merasa kasihan. Tanpa cemburu, ia menerima anak kecil itu, menimang, membujuk, dan memijat-mijat punggungnya. Sebagai wanita yang memiliki naluri keibuan yang kuat, ia segera tahu ada sesuatu yang mengganggu anak itu. Saat ia mencium dan memeriksa, tangannya menemukan seekor semut api yang menggigit punggung Dailiong. Tentu saja Dailiong kesakitan. Begitu semut itu dimatikan dan punggung Dailiong diusap-usap, anak itu pun diam dan menyusupkan kepalanya ke dada Swat Lian.
"Wah, dia minta emik!"
Wajah Swat Lian memerah. "Di mana kita mendapatkan susu?"
Kim-mou-eng kebingungan, mengira anaknya minta susu, tetapi gadis itu menggeleng. Firasat keibuannya menangkap hal lain: Dailiong merasa letih dan ingin tidur. Ketika ia menepuk-nepuk pantat anak itu dengan lembut sambil meniup dan mengusap kepalanya, Dailiong pun tertidur dengan wajah tersenyum dalam gendongannya.
"Waduh, kau benar-benar seperti ibu!" Kim-mou-eng kagum. "Bagaimana kau tahu anak ini ingin tidur dan tidak menangis lagi, Lian-moi? Dan, ah... Dailiong rupanya cocok denganmu!"
"Hm," Swat Lian tersipu malu. "Kodrat wanita memang memiliki rasa keibuan yang berbeda dengan pria, Twako. Anakmu bukan haus atau apa, melainkan letih."
"Tadi dia menangis tak habis-habisnya!"
"Tentu saja, bagaimana tidak? Punggungnya digigit semut api, Twako. Kau sebagai ayahnya tidak tahu sama sekali!"
"Apa?"
"Benar," Swat Lian tertawa. "Dailiong digigit semut, Twako. Dan kau seperti kambing kebakaran jenggot. Lihat, ini semutnya!"
Swat Lian memperlihatkan semut api itu lalu membuangnya, kemudian menciumi dan mengusap pipi anak laki-laki itu. Entah mengapa, di balik keinginannya yang paling dalam, ia tiba-tiba ingin menjadi seorang ibu dan mengasuh anak dari pria yang dicintainya. Ia mengerling ke kiri, tanpa sengaja beradu pandang dengan Kim-mou-eng, membuat wajahnya kembali memerah.
Kim-mou-eng tampak bengong dan kagum memandangnya. Gadis itu cocok sekali mengasuh anak! Namun, ketika Kim-mou-eng tersentak oleh kerlingan si gadis, pendekar itu sadar dan meminta anaknya.
"Maaf, berikan padaku, Lian-moi. Biar Dailiong kugendong!"
Swat Lian tersipu dan memberikan anak itu, namun Dailiong tiba-tiba bangun. Begitu melihat wajah lain, anak itu menangis dan menjerit lagi.
"Ah," Swat Lian tertawa. "Kau tak punya bakat menjadi bapak, Twako. Kau canggung dan kaku sekali! Ke sini, biar kuhentikan tangisnya...!"
Dailiong yang seketika diam di gendongan Swat Lian membuat Kim-mou-eng jengah dan wajahnya memerah. Memang benar, ia merasa canggung dan kaku. Begitulah lelaki, kurang luwes menimang anak. Ketika Swat Lian tersenyum dan Kim-mou-eng menyeringai, anak itu sudah kembali tertidur pulas dalam gendongan Swat Lian.
"Hm," Kim-mou-eng menarik napas lega. "Untung ada kau, Lian-moi. Kalau tidak, repot aku!"
"Sudahlah," gadis itu tertawa. "Sekarang anakmu sudah kau dapatkan, Twako. Kita harus bersyukur Dailiong selamat."
"Ya, dan aku gembira, Lian-moi. Hanya...."
"Kenapa?"
"Dailiong kurus!"
"Ya, nenek iblis itu tidak merawatnya, Twako. Tapi kita akan merawatnya kini. Kau dapat memberinya makan atau minum."
"Hm, menyuapinya?"
"Bukankah kau bisa?"
"Akan kucoba..."
"Hi-hik!" Swat Lian tertawa lalu berkelebat pergi. Ia sempat memberi isyarat agar temannya menunggu. Tidak lama kemudian, gadis itu kembali dengan membawa pisang dan susu. Kim-mou-eng tertegun.
"Dari mana kau dapatkan semuanya ini?"
"Dari penduduk."
"Kau membelinya?"
"Tidak, mereka tidak ada yang menjualnya, Twako. Tapi aku meninggalkan sekeping emas untuk mereka."
"Hm, dan susu itu?"
"Diperas langsung dari kambing penduduk itu. Kebetulan dia baru beranak dan susunya penuh. Lihat, anakmu sebentar lagi menangis karena lapar!"
Saat Dailiong bangun dan benar saja menangis, Swat Lian segera menyuapinya pisang dan susu. Kim-mou-eng kembali tertegun. Untuk kedua kalinya, ia melihat betapa luwesnya seorang wanita merawat anak. Swat Lian seakan sudah mengerti apa yang harus dilakukan. Gadis itu tahu dari perasaannya yang tajam apa yang diinginkan si bocah. Ketika Kim-mou-eng memandang temannya dengan kagum, Dailiong tertawa dan tersenyum gembira.
"Nah, ini tanda kenyang, Twako. Dailiong sudah tidak lapar lagi dan boleh kau terima..."
Swat Lian memberikan anak itu. Kim-mou-eng segera memasang wajah manis. Si bocah yang awalnya tampak takut dan hendak menangis, segera disambut oleh senyum lebar sang ayah. Pendekar itu tampak berusaha keras untuk bisa menimang anaknya. Saat anak itu tertawa menirukan bapaknya, Kim-mou-eng tertawa lepas karena geli.
"Eh, kenapa keras-keras? Jangan membuat anakmu takut, Twako. Perlahan sedikit dan jangan bikin kaget!"
"Ha-ha, sekali tempo dia harus dibikin kaget, Lian-moi. Betapapun, dia harus mengenal bapaknya!"
Swat Lian terkekeh melihat Dailiong tertawa. Ia merasa gembira karena anak itu tidak takut lagi kepadanya—mungkin sebelumnya anak itu heran melihat rambut ayahnya yang kuning keemasan dan berantakan, sehingga mengira didekati makhluk aneh.
Setelah semuanya tenang, Kim-mou-eng berterima kasih karena berkat gadis itulah Dailiong berhasil dirampas dari tangan nenek iblis.
"Ah, apa-apaan ini?" Swat Lian tersipu. "Kau dan aku sudah berjanji untuk mendapatkan apa yang bisa didapatkan terlebih dahulu, Twako. Dan kebetulan anakmu yang bisa diselamatkan lebih dulu."
"Benar, tapi tanpa kau aku bisa kerepotan, Lian-moi. Dua nenek iblis itu lihai dan bisa membuat pusing."
"Tapi kepandaianmu tinggi!" gadis itu tetap mengelak. "Kau dapat mengalahkan mereka, Twako. Tanpa aku pun kau pasti bisa mengatasinya!"
"Hm, bagaimana kalau yang satu lari ke timur dan yang lain ke barat? Dan Togura bisa mencekik Dailiong jika dua nenek itu menyuruhnya. Sudahlah, aku berterima kasih dan jangan ditolak!"
Kim-mou-eng memegang lengan gadis itu, memandang dengan lembut dan mesra. Swat Lian tiba-tiba melengos.