Chapter 86
Jantung berdegup kencang, tetapi untunglah Dailiong tiba-tiba meronta; anak itu minta turun karena ingin buang air kecil. Air kencing tiba-tiba mengucur dan baju Kim-mou-eng basah sebelum anak itu turun.
Ketika Kim-mou-eng terkejut dan kelabakan, Swat Lian tidak dapat menahan geli dan menyambar anak itu. "Ke sini!" katanya. "Kau membawa popok?" "Popok?" "Ya."
"Wah, dari mana, Lian-moi? Aku baru sekarang teringat akan baju atau celana anakku!"
"Kalau begitu untunglah, lihat ini!" Swat Lian yang tertawa menyambar bungkusan kecil, lalu memperlihatkan beberapa stel pakaian bocah. Hal itu membuat Kim-mou-eng bengong dan Pendekar Rambut Emas itu kembali tertegun. Untuk kesekian kalinya, dia melihat keterampilan seorang wanita. Ketika dia bertanya dari mana gadis itu mendapatkan pakaian-pakaian tersebut, Swat Lian tertawa menjawab, "Dari penduduk dusun. Tadi sekalian aku memintanya!"
Setelah Dailiong diberi pakaian kering, gadis itu tiba-tiba berkelebat. "Ayo, sekarang kita pergi, Twako. Cari Hauw Kam-suheng atau Gwan Beng Suheng!"
Begitu gadis itu terbang meninggalkan Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas tersebut pun berkelebat mengerahkan ginkang-nya, mengejar sambil tertawa. Dia segera teringat akan tugasnya yang lain, yakni membantu gadis itu mencari dua suheng-nya. Karena Swat Lian telah menolong dan membantu menemukan anaknya, Pendekar Rambut Emas itu pun melanjutkan perjalanan mencari dua murid Hu Beng Kui ini.
Namun, usaha itu terasa sukar dan sulit. Nenek Naga Bumi dan Hek-bong Siauw-jin yang menghilang entah ke mana tidak dapat mereka temukan. Di sini, Kim-mou-eng menyesal mengapa dulu Toa-ci dan Ji-moi itu tidak mereka tangkap. Barangkali dari Sepasang Dewi Naga itu mereka bisa mendapatkan petunjuk.
Akan tetapi, Swat Lian menghela napas dan menggeleng sambil tersenyum. "Sudahlah, untuk apa menyesalkan itu? Dailiong lebih kita utamakan waktu itu, Twako. Dan sesungguhnya dua nenek itu juga masih berhutang nyawa kepada istrimu. Mereka dapat kita cari dan lain kali pasti ketemu. Kalau Naga Bumi dan Hek-bong Siauw-jin bersembunyi di tempat persembunyiannya, biarlah kita cari terus dan tidak perlu menyesali yang lain."
"Hm, kau baik, Lian-moi. Dan... ah, aku berhutang budi padamu!"
"Eh, itu lagi!" Gadis ini terbelalak. "Tidak ada budi di antara kita, Twako. Apa yang kita lakukan adalah suka sama suka berdasarkan kerja sama!"
"Ya, dan..." Kim-mou-eng tiba-tiba terharu. "Aku berhutang budi yang lain, Lian-moi. Masalah Dailiong. Anak ini seakan mendapat ibunya kembali dalam dirimu. Aku... aku..." Pendekar itu tiba-tiba mencekal lengan temannya. "Aku tidak tahu harus berkata apa, Lian-moi. Kecuali terima kasih!"
Swat Lian terkejut. Suara Kim-mou-eng tiba-tiba serak, Pendekar Rambut Emas itu menggigil dan tiba-tiba menangis sambil memejamkan mata. Ketika Swat Lian terkejut dan masih membiarkan tangannya dipegang, tiba-tiba Kim-mou-eng membuka mata.
"Lian-moi..." Pendekar itu gemetar. "Maukah semuanya ini bukan bayangan saja? Maukah kau menjadi ibu Dailiong yang sesungguhnya? Maaf, aku... aku ingin kau mendampinginya selamanya, Lian-moi. Maksudku, mendampingiku pula dan menjadi istriku!"
Entah bagaimana perasaan Swat Lian saat itu. Sesungguhnya, tidak dapat disangkal bahwa dia mengharap kata-kata itu. Keinginannya untuk melakukan perjalanan bersama saja sudah menunjukkan keinginan terpendamnya. Namun, mendengar Kim-mou-eng menyatakannya secara langsung sambil memegang lengannya, gadis ini gemetar dan tidak dapat segera menjawab.
"Bagaimana, Lian-moi? Maukah kau?"
"Ooh..." Gadis ini akhirnya memejamkan mata. "Apa yang harus kukatakan, Twako? Bukankah... bukankah kau tahu jawabannya?"
"Kalau begitu..."
"Benar, terserah kau!"
Kim-mou-eng yang girang dan bahagia tiba-tiba memeluk dan menyambar pinggang yang langsing itu, lalu mendaratkan ciuman. Swat Lian pun mengeluh. Dua kali ciuman di pipi rupanya tidak memuaskan Pendekar Rambut Emas. Begitu Swat Lian membuka mata dan memandangnya redup, tiba-tiba pendekar ini mencium bibir si gadis dan melumatnya.
"Moi-moi, terima kasih!"
Swat Lian menggelinjang. Gadis ini mabuk dalam bahagia, menyambut, dan akhirnya mereka pun berciuman. Seumur hidup, baru kali itulah Swat Lian dicium laki-laki. Mula-mula canggung dan Kim-mou-eng tertawa, tetapi ketika Kim-mou-eng mengajari dan gadis itu pun mengerti, keduanya merasa begitu gembira.
"Moi-moi, kau cantik!"
"Ih, kapan menyebutku moi-moi (dinda)?"
"Sekarang!"
Mereka kembali tertawa, berpelukan, dan berciuman. Pendekar Rambut Emas itu merasa mendapat calon pendamping yang sangat cocok setelah istrinya, putri Hu Beng Kui yang tidak kalah cantik dan lihai, tewas. Bahkan, menurut Kim-mou-eng, gadis ini lebih tepat untuknya. Mendiang istrinya, Salima, amat galak dan ganas, jauh berbeda dengan Swat Lian yang lembut dan keibuan. Karena gadis itu sudah menerima, Kim-mou-eng merasa dapat melakukan perjalanan dengan lebih bebas bersama putri Hu Beng Kui ini, tanpa mengetahui bagaimana pendapat Hu Beng Kui sendiri. Swat Lian juga tidak mengira bahwa penolakan keras bakal dihadapinya dari sang ayah.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan gembira dan bahagia, seolah pengantin baru yang siap berbulan madu.
***
"Apa? Kalian melihat sendiri?"
"Benar, kami melihat sendiri, Taihiap. Dan Hu-siocia tampak menggendong seorang anak!"
Hu Beng Kui marah-marah. Hari itu datang laporan bahwa Swat Lian, putrinya, berjalan bersama dengan Kim-mou-eng. Mereka tampak mesra dan akrab, Swat Lian menggendong seorang anak. Setahun lebih putrinya tidak pulang dan tiba-tiba dikabarkan menggendong anak bersama Kim-mou-eng.
Karena putrinya tidak mengabarkan dua suheng-nya yang diculik, Hu Beng Kui merah padam. Dia melihat pandangan si pelapor yang berkedip-kedip, berputar ke kiri dan kanan.
"Apa yang kau pikirkan?" si pelapor terkejut. "Tidak... eh, maaf!"
Hu Beng Kui yang mendengar bisik-bisik segera membanting dua orang laki-laki itu. Mereka tadi berbisik bahwa anak yang digendong Swat Lian barangkali adalah hasil hubungan gelapnya dengan Kim-mou-eng. Tentu saja jago tua itu mendelik dan gusar. Dia menginjak keduanya dan membentak, "Hayo, katakan omongan kalian tadi, tikus-tikus busuk. Atau aku menginjak patah punggung kalian!"
"Aduh, ampun, Taihiap... ampun. Kami tidak bicara apa-apa...!"
"Ngek!" Hu Beng Kui menekan injakannya lebih kuat. "Katakan yang jujur, atau aku akan membunuh kalian berdua!"
"Aduh, tobat...!" Dua lelaki itu menjerit. "Kami sudah memberi laporan, Hu-Taihiap. Seharusnya kami tidak diperlakukan seperti ini. Kami... augh...!"
Setelah dipaksa, mereka akhirnya menceritakan apa yang mereka bisikkan tadi. Hu Beng Kui menendang dan melepas keduanya. Begitu dua laki-laki itu lari terbirit-birit, Hu Beng Kui duduk terengah-engah dengan mata seganas harimau buas.
"Keparat!" desisnya mengepal tinju. "Anakku galang-gulung dengan Pendekar Rambut Emas? Belum menikah sudah punya anak? Hm, bedebah kau, Kim-mou-eng. Aku akan mencari dan membunuhmu!"
Hu Beng Kui bangkit, berkelebat keluar, dan menyuruh beberapa pembantunya mencari jejak Kim-mou-eng. Dua pelapor tadi mengatakan bahwa mereka melihat Swat Lian seminggu yang lalu di kota Ci-kiang. Jago tua ini melotot dan kemarahannya menumpuk. Seminggu kemudian, dia mendapat laporan bahwa Kim-mou-eng terlihat di suku bangsanya.
"Mana Kim-mou-eng, hayo suruh dia keluar!" bentak jago pedang ini saat memasuki perkampungan bangsa Tar-tar.
Selama dua hari melakukan perjalanan, kemarahan jago tua ini tidak dapat dibendung lagi. Dia hendak menghajar serta memberi hukuman pada Pendekar Rambut Emas itu. Hu Beng Kui geram dan teringat perjumpaannya yang terakhir, ketika Kim-mou-eng dipermainkan dan dihajar sewaktu orang-orang dunia persilatan ribut tentang Enam Iblis Dunia.
Ketika dia memasuki perkampungan tersebut dan langsung membentak, bangsa Tar-tar tertegun dan bengong.
"Hei, kenapa kau melotot?" Hu Beng Kui membanting seseorang di dekatnya, lalu dilempar.
Bangsa Tar-tar geger, panik, dan marah. "Kepung si buntung ini, jaga!"
Hu Beng Kui mendengus. Memang dia buntung, tinggal sebelah lengannya saja. Namun, apa yang dapat dilakukan orang-orang itu kepadanya? Ketika dia membentak dan berkelebat ke depan, tiba-tiba dua puluh orang disambarnya roboh.
"Suruh bocah itu keluar, atau kalian semua kuhajar... bres-bress!"
Lagi dua puluh orang dibanting dan dilempar jago tua ini. Bangsa Tar-tar gempar. Mereka marah sekaligus kaget melihat sepak terjang jago tua ini. Belum ada yang mengenal karena Hu Beng Kui adalah tokoh selatan, jauh di selatan sana. Ketika seratus orang kemudian mencabut senjata, tombak, atau panah berhamburan menyambut pendekar tua itu, Hu Beng Kui menjadi gusar dan meniup runtuh semua senjata itu dengan mulutnya!
"Wussh...!"
Orang-orang bengong.