Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 87

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 87

Mereka seakan melihat pertunjukan sihir. Belum mereka sadar atau sempat menyerang lagi, tiba-tiba Hu Beng Kui menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari tengah-tengah kepungan. Entah ke mana, namun tiba-tiba kemah besar menjadi ribut.

Tenda tempat pemimpin tiba-tiba jebol, teriakan dan jerit perempuan terdengar di sana-sini. Ketika semua orang memandang dan memburu ke tempat itu, ternyata jago tua ini sudah mengobrak-abrik dan menjebol tenda tersebut. "Kim-mou-eng, keluarlah kau! Jangan bersembunyi seperti pengecut!"

Bangsa Tartar geger. Mereka membentak dan menyerang lagi, betapapun mereka adalah orang-orang pemberani. Para pemuda segera menusukkan tombak atau lembing panjang. Namun, ketika senjata itu dikibas dan patah saat bertemu lengan si jago tua, mereka mencelat dan terbanting tak keruan akibat angin sambaran Hu-taihiap. Mereka berteriak dan roboh tumpang tindih sementara jago tua itu terus mengamuk.

Akhirnya, Hu Beng Kui mendatangi kemah-kemah yang dicurigai, membabat, dan melempar-lempar kemah tersebut. Ketika jago pedang ini berkelebatan, bangsa Tartar diobrak-abrik; jerit tangis wanita serta anak-anak bercampur baur, disusul teriakan kaget orang-orang yang kesakitan karena dilempar atau didorong.

Ketika bangsa Tartar terdiam karena tak dapat mengikuti sepak terjang pendekar itu, akhirnya Hu Beng Kui kehabisan tenda dan Kim-mou-eng tak ditemukan. "Keparat, mana Pendekar Rambut Emas itu? Bersembunyi di mana dia?" Jago tua ini menangkap seorang laki-laki dan mencekiknya hingga orang itu pucat pasi. Apa yang dilakukan pendekar ini memang tak seorang pun sanggup mencegah. Hu Beng Kui laksana petir di siang bolong, meledak dan menggelegar tanpa ampun.

Namun, ketika orang itu tercekik hebat dan Hu Beng Kui sadar, jago tua ini mengendurkan cekikannya dan orang itu menjatuhkan diri berlutut. "Ampun, Kim-taihiap sudah pergi lagi... dia tak ada di sini!"

"Hm, kalian melindungi si keparat itu?"

"Tidak... tidak! Kami bicara jujur, Lo-eng-hiong (orang tua gagah). Kim-mou-eng telah pergi dan meninggalkan kami dua hari yang lalu!"

"Dengan siapa?"

"Dengan... dengan istrinya!"

"Hm, siapa istrinya itu?"

"Katanya... katanya putri Hu-taihiap..."

*Plak!* Laki-laki itu terjungkal.

"Aku Hu-taihiap, tikus bodoh. Kalau begitu, pemimpinmu harus dihajar. Biar kucari dia, ke mana dia melarikan diri!" Laki-laki ini pucat bukan main. "He, kau tuli?" Tiba-tiba laki-laki itu terguling pingsan karena ketakutan.

Yang lain kaget karena baru kali itu mereka tahu bahwa jago tua ini adalah Hu Beng Kui, jago pedang yang tersohor. Tanpa basa-basi, jago tua itu menyambar dua orang pemuda. "Kau juga tak tahu ke mana Kim-mou-eng pergi?"

"Ampun... ampun!" Dua pemuda itu menggigil. "Kim-taihiap ke barat, Locianpwe. Katanya hendak ke Himalaya!"

"Bersama putriku?"

"Ya, dan... dan anaknya!"

*Bress!* Dua pemuda itu dilempar hingga roboh. Mereka menjerit dan pingsan dibanting Hu Beng Kui. Sebenarnya, pemuda itu bermaksud mengatakan bahwa anak tersebut adalah Dailiong, putra Pendekar Rambut Emas dengan mendiang Salima. Namun, karena Hu Beng Kui menangkap maksud lain—bahwa anak itu adalah buah hubungan gelap putrinya dengan Pendekar Rambut Emas—jago tua ini berkelebat dan memutar tubuhnya terbang ke barat.

Orang-orang bengong melihatnya, seakan melihat seekor naga sakti yang tua namun perkasa. Tak dapat disangkal bahwa dua hari yang lalu Kim-mou-eng meninggalkan mereka untuk memperkenalkan bakal istrinya sekaligus menengok mereka yang sudah lama ditinggal. Beberapa di antaranya mengenali Swat Lian karena gadis itu dulu pernah ke situ. Karena kabar itu menggembirakan, mereka mengadakan syukuran. Sayang, Kim-mou-eng tak tinggal lama karena masih hendak mencari Hauw Kam dan Gwan Beng, dua kakak seperguruan Swat Lian.

"Keparat... jahanam!" Jago pedang itu mengumpat. "Kau berani mempermalukan aku, Kim-mou-eng? Kau menggaet dan merusak anakku? Hm, kubunuh kau. Tak akan kuberi ampun!"

Hu Beng Kui terbang ke Himalaya dan berputar-putar di tempat itu, naik-turun puncak-puncak bersalju sambil menggeram. Seakan ingin menelan Kim-mou-eng saat itu juga, ia merasa malu dan berang. Tiga hari tiga malam mencari, akhirnya orang yang dicari bertemu.

"He!" Kim-mou-eng terkejut. "Apa yang kau lakukan di sini, Kim-mou-eng? Mana putriku?"

Pendekar Rambut Emas tertegun. Hari itu, ia tiba di Puncak Mutiara untuk mencari jejak Hauw Kam dan Gwan Beng. Swat Lian kebetulan berada di bawah gunung mencari mantel tebal untuk Dailiong. Maka, begitu melihat Hu Beng Kui, Pendekar Rambut Emas tersenyum karena tak menduga Hu Beng Kui akan marah-marah. Ia membungkuk dan berkata, "Eh, kau di sini, Hu-taihiap? Kebetulan sekali, jejak dua muridmu katanya di sekitar sini."

"Wut!" Hu-taihiap tiba-tiba menghantam. "Katakan di mana putriku, Kim-mou-eng. Atau kau mampus!" *Dess!*

Kim-mou-eng mengelak dan berjungkir balik. Pukulan Hu Beng Kui mengenai salju hingga amblong, membuat mereka berdua tergelincir ke bawah karena tempat itu licin. Ketika Kim-mou-eng berjungkir balik dan Hu Beng Kui melotot gusar, tiba-tiba dengan hentakan kakinya, pendekar ini berdiri kembali dengan dua kaki menancap di bumi.

"Kim-mou-eng, sebutkan di mana putriku!"

Kim-mou-eng kini terkejut. Baru ia sadar bahwa jago itu marah besar. Sorot matanya yang ganas membuat Pendekar Rambut Emas tercekat. "Hu-taihiap, ada apa dengan semuanya ini? Kenapa kau marah-marah?"

"Keparat, kau tak mau mengatakan di mana putriku? Kau masih banyak omong? Mampuslah!" Hu Beng Kui berkelebat dengan kecepatan luar biasa dan menyerang dengan lima jarinya. Suara mencicit terdengar, membuat Kim-mou-eng terbelalak. Jago pedang itu menyerangnya dengan totokan lima jari yang bergetar. Ke mana pun ia mengelak, serangan itu pasti menyambar. Terpaksa Kim-mou-eng meloncat tinggi, berjungkir balik, dan bertengger di atas pohon yang penuh salju.

Ketika jari Hu-taihiap menghantam batu karang di bawah, batu itu hancur. Hu Beng Kui terbelalak melihat lawannya dua kali berhasil lolos dari serangan. Ia tak menduga kemajuan Kim-mou-eng sekarang, terutama ilmu barunya dan ginkangnya yang luar biasa, *Cui-sian Ginkang* (Ginkang Pengejar Dewa).

Kim-mou-eng meloncat turun dan buru-buru menggoyang lengan. "Tahan, nanti dulu, Hu-taihiap. Sebentar! Bolehkah aku bicara sedikit denganmu?"

"Hm, apa yang mau kau bicarakan? Omong apa lagi?"

Kim-mou-eng menahan perasaannya. "Aku minta penjelasan kenapa kau marah-marah begini. Apa salahku dan kenapa kau menyerang?"

"Kau berani bertanya seperti itu? Kau tak mengakui dosa?"

"Aku tak merasa berdosa, Hu-taihiap. Aku bertanya karena ingin tahu. Aku penasaran melihat sikapmu!"

"Ha-ha!" Jago pedang itu tertawa bergelak. "Justru aku yang penasaran melihat sikapmu, Kim-mou-eng. Kenapa kau berani membawa-bawa anak orang! Mana putriku dan di mana kau sembunyikan? Berapa lama kau menggaet dan merayunya? Jawab, cepat! Sebelum aku membunuhmu!"

Pendekar Rambut Emas menyadari persoalannya; jago tua itu marah karena Swat Lian bersamanya. Meskipun hatinya tersinggung oleh kekasaran Hu-taihiap, ia tetap tenang. "Hu-taihiap, memang benar putrimu bersamaku. Tapi aku tak merasa menggaet atau merayunya. Tuduhanmu terlampau kasar."

"Tapi berbulan-bulan kau melakukan perjalanan bersama, bukan? Kau dan anakku, ah!" Hu Beng Kui hendak menerjang lagi, namun Kim-mou-eng cepat mengulapkan lengan untuk berseru.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment