Halo!

Sepasang Cermin Naga - Chapter 90

Memuat...
Sepasang Cermin Naga

Chapter 90

"Des-des-plak!" Enam orang itu terpekik.

Cam-kong dan kawan-kawannya terpental, lalu maju lagi sambil membentak dan segera menyerang bergantian. Pukulan Lui-ciang-hoat tadi membuat mereka terbelalak dan marah; lengan masing-masing tergetar, sementara Toa-ci dan Ji-moi tampak penasaran. Dikeroyok enam orang, Pendekar Rambut Emas itu tetap saja hebat!

Ketika mereka melengking marah dan mencabut sendok garpu, Mo-seng-ciang (Pukulan Bintang Iblis) menyambar dari lengan Sepasang Dewi Naga, menghantam Kim-mou-eng. Serangan itu dielak, dan Kim-mou-eng segera dikejar oleh pukulan-pukulan lain, kebutan, atau desingan sabit yang bercuitan hingga membuat bulu roma berdiri. Segera susul-menyusul hujan serangan berhamburan ke tubuh Pendekar Rambut Emas itu. Tak ada jalan lain kecuali menangkis atau mengelak.

Ketika Enam Iblis Dunia mengerahkan ginkang dan lenyap berkelebatan menyerang pendekar itu, Kim-mou-eng mengerahkan Cui-sian Ginkang dan lenyap pula mengikuti gerakan lawannya.

"Keparat, bocah ini lihai. Awas, jaga kepungan!" Cam-kong dan kawan-kawannya terbelalak. Mereka mendengar suara pertempuran antara Hu Beng Kui dengan Pendekar Rambut Emas, dan kebetulan berkumpul karena Toa-ci dan Ji-moi melaporkan betapa lihainya Kim-mou-eng. Mereka terkejut melihat pendekar muda itu dapat mengalahkan dua Dewi Naga. Cam-kong tinggal di Himalaya dan Kim-mou-eng menemukan jejak dua nenek itu, mengejarnya, dan akhirnya bertemu Hu Beng Kui. Karena Hu-taihiap menyerangnya dan jago pedang itu telah bertanding menguras tenaga, Kim-mou-eng mengerutkan kening melihat kedatangan Enam Iblis Dunia ini; ia tidak menyangka bahwa di samping Toa-ci dan Ji-moi, ternyata muncul pula yang lain, sehingga Enam Iblis Dunia lengkap mengeroyoknya.

Saat mereka berkelebatan dan Kim-mou-eng menggunakan kaki tangannya untuk menangkis atau melompat, ia bergerak laksana burung srikatan atau rajawali yang menyambar-nyambar untuk menghindari serangan lawan. "Plak-dukk!" Suara itu kian sering terdengar. Tak ada waktu bagi Kim-mou-eng untuk sekadar mengelak; lawan semakin beringas. Sabit di tangan Hek-bong Siauw-jin sudah dua kali membacok tubuhnya, namun hanya terpental, membuat iblis cebol itu berteriak tertahan. Sabitnya bertemu tubuh yang seperti karet karena lawan melindungi dirinya dengan sinkang. Hek-bong Siauw-jin penasaran, marah, dan memaki-maki.

Ketika Tok-ong menggeram melepas pukulannya, sementara di samping kiri Cam-kong melepaskan tamparan panasnya, Kim-mou-eng menangkis dan menggerakkan lengan ke kiri dan kanan. "Plak-dukk!" Suara ini menggetarkan. Hu Beng Kui terbelalak melihat betapa Kim-mou-eng mementalkan tiga orang lawannya sekaligus; Cam-kong dan Tok-ong terpelanting, bahkan sabit di tangan Hek-bong Siauw-jin berbalik mengenai kepalanya sendiri. Untunglah, kakek cebol itu tidak terluka.

Ketika pertandingan kembali berlanjut dan nenek Naga Bumi mulai menyerang dari belakang, nenek itu berseru agar Toa-ci atau Ji-moi membantunya. "Yang laki-laki biar di depan, kita perempuan di sini!"

"Hm!" Kim-mou-eng mendengus. "Kalian curang, nenek iblis. Tapi aku akan melayani dan merobohkan kalian!"

"Tar-tar!" Sang nenek meledakkan rambut. "Kau besar mulut, Kim-mou-eng. Tapi coba buktikan kata-katamu!"

Mereka kembali berkelebatan, menusuk, atau menghantam sambil meniupkan mantera-mantera hitam. Saat mereka membentak dan melengking, Kim-mou-eng terkejut. Cam-kong perlahan-lahan terbungkus uap hitam, begitu pula Tok-ong dan yang lainnya. Ketika mereka akhirnya menjadi bayang-bayang gelap yang terkekeh dan menyerang dari balik asap hitam, Kim-mou-eng terdesak dan kebingungan.

"Heh-heh, ayo, Kim-mou-eng. Coba serang dan robohkan kami!"

"Benar, coba temukan kami, Kim-mou-eng. Atau kau mampus mendapat pukulan kami!"

Pendekar Rambut Emas berubah mukanya. Tadi bertempur melawan Hu-taihiap tidak ada mantera hitam atau guna-guna seperti ini, karena Hu-taihiap sebagai seorang pendekar tidak mempunyai ilmu sihir. Maka, begitu enam iblis itu menggunakan ilmu hitamnya untuk menyerang, Pendekar Rambut Emas bingung dan gelisah hingga mulai terkena pukulan. Cam-kong serta lima kawannya tertawa-tawa melihat keadaan Pendekar Rambut Emas yang terhuyung atau terpelanting. Namun, ketika pendekar itu bangun lagi dan serangan mereka seolah tidak dirasakan olehnya, Cam-kong terheran-heran dan nenek Naga Bumi mengumpat.

"Keparat, bocah ini luar biasa. Dia kebal!"

"Hm, mungkin pukulan kita kurang keras, nenek siluman. Coba saja dan tambah pukulannya!"

Kim-mou-eng kewalahan. Suara bak-bik-buk mulai mendarat di tubuhnya; ia tidak dapat menyerang karena lawan bersembunyi di balik ilmu hitam. Hu Beng Kui tiba-tiba tersenyum dan mengangguk-angguk. *Biarlah begitu, biar Kim-mou-eng mampus!*

Ketika Pendekar Rambut Emas kewalahan dan berkali-kali dipukul, ia tiba-tiba membentak dan melepas bajunya. Secepat kilat ia menangkis pukulan Naga Bumi di sebelah kirinya; suara ledakan terdengar dan asap itu pun buyar. Ketika nenek itu kaget karena sambaran angin pukulan Kim-mou-eng membuyarkan asap hitamnya, pendekar itu segera berkelebat dan Lui-ciang-hoat menyambar dari lengan kirinya.

"Blang!" Nenek Naga Bumi menjerit. Ia hendak menangkis namun silau; Lui-ciang-hoat mengenai pundaknya dan seketika nenek itu terpelanting. Kim-mou-eng yang kini mengetahui caranya menjadi girang; berturut-turut ia mengebutkan bajunya untuk membuyarkan asap hitam dari lima lawannya yang lain, lalu tangan kirinya bergerak menghantam mereka dengan Lui-ciang-hoat. Baik Cam-kong maupun yang lain kaget karena mereka tidak dapat lagi bersembunyi. Kim-mou-eng membuyarkannya dengan kibasan bajunya yang mirip bendera. Ketika enam iblis itu jungkir balik dan menjerit dihantam Lui-ciang-hoat, Kim-mou-eng berada di atas angin dan ganti mendesak mereka.

"Ha-ha, kalian tidak dapat bersembunyi lagi, nenek siluman. Hayo coba lakukan itu lagi dan biar aku membuyarkannya dengan kebutan bajuku!"

Hu Beng Kui tertegun. Jago pedang ini terbelalak, diam-diam mengumpat dan mencaci Kim-mou-eng karena cara itu memang tepat. Dulu ia sendiri harus melepas bajunya untuk mengusir asap hitam yang melindungi Enam Iblis Dunia itu sebelum mereka kalah. Khi-bal-sin-kang membuat mereka jatuh bangun, dan kini Lui-ciang-hoat memperlihatkan kehebatannya yang tidak kalah. Hu Beng Kui menggeram; jika begini naga-naganya Kim-mou-eng tidak dapat dikalahkan oleh Enam Iblis Dunia.

Ketika Kim-mou-eng mulai berkelebatan dan membagi-bagi pukulan Lui-ciang-hoatnya, akhirnya enam orang itu berteriak-teriak karena tidak tahan oleh silaunya pukulan yang luar biasa itu.

"Aduh, keparat kau, Kim-mou-eng. Jahanam!"

"Benar, bocah ini jahanam terkutuk. Satukan kekuatan ilmu hitam kita dan semua menghilang!" Tok-ong tiba-tiba berseru, meledakkan kedua tangannya, dan asap atau awan hitam tiba-tiba bergulung di puncak Himalaya, menyambar dan turun melindungi enam orang itu. Ketika Tok-ong dan lima temannya lenyap di balik awan raksasa ini, Tok-ong tertawa terbahak-bahak dan memerintahkan Cam-kong serta lainnya melakukan pukulan sihir.

"Lepaskan api, juga hujan!"

Kim-mou-eng terkejut. Tadi ia sudah bergirang hati karena dapat mendesak lawan, namun ketika Tok-ong berseru agar teman-temannya menyatukan ilmu hitam, puncak Himalaya tiba-tiba bergemuruh. Api serta hujan meledak di angkasa, membuat Kim-mou-eng tersentak dan pucat melihat datangnya api dan air secara bersamaan—sesuatu yang tidak masuk akal karena biasanya dua elemen itu tidak pernah bersatu. Namun, karena semuanya adalah ciptaan sihir, api dan air disatukan untuk menyerang Kim-mou-eng. Pendekar Rambut Emas itu kelabakan ketika dari langit muncul pula sinar petir menghantam tubuhnya.

"Dar-darr!" Pendekar Rambut Emas terpelanting. Musuh terbahak-bahak; untuk kedua kalinya Kim-mou-eng kebingungan. Penyatuan ilmu hitam Enam Iblis Dunia kali ini sungguh dahsyat, tidak seperti tadi ketika mereka mengerahkan ilmu hitam masing-masing sendiri-sendiri. Ketika api, air, serta angin ribut bergulung-gulung menghantam dan menerjang, Kim-mou-eng kewalahan dan jatuh bangun.

"Ha-ha, mampus kau, Kim-mou-eng. Mampus!"

Kim-mou-eng kelabakan. Dalam waktu singkat, ia tidak dapat menemukan akal untuk menghadapi awan yang terlalu lebar dan membentuk gulungan raksasa yang tebal dan gelap itu. Pendekar Rambut Emas jatuh bangun tidak keruan. Namun, ketika ia melengking marah dan berjungkir balik mengelak semua serangan, tiba-tiba dari bawah bukit berkelebat bayangan Swat Lian, berteriak dan membalas lengkingannya.

"Kim-twako, siapa menyerangmu? Aih, nenek siluman itu dan teman-temannya kiranya? Jangan takut, aku datang, Twako. Kita basmi dan hadapi mereka... blar-blar!"

Swat Lian yang melepas khikang untuk menolak semua guntur dan api yang menyambar-nyambar tiba-tiba sudah berada di atas dan membantu Kim-mou-eng. Hal itu membuat Cam-kong dan kawan-kawannya terkejut karena khikang adalah pelumpuh ilmu hitam mereka. Sebagaimana diketahui, Pukulan Bola Sakti ini adalah penolak setiap pukulan atau tenaga; semakin kuat lawan menyerang, semakin kuat pula mereka tertolak. Itulah yang tidak dapat mereka hadapi. Ketika Swat Lian melengking-lengking dan menggunakan pula Jing-sian-engnya untuk berkelebatan mencari lawan, akhirnya Cam-kong dan teman-temannya ditemukan dan dihajar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment