Chapter 91
"Des-des-deas!" Sekarang Cam-kong dan teman-temannya menjerit. Mereka terlempar dan terbanting oleh pukulan Swat Lian. Awan yang tergulung-gulung atau sihir yang mereka ciptakan musnah oleh Khi-bal sinkang. Memang itulah satu-satunya jurus pamungkas untuk menundukkan Enam Iblis Dunia; dengan inilah dulu Hu Beng Kui mengalahkan lawan.
Karena Swat Lian telah mewarisi ilmu itu dan Khikang merupakan penolak ampuh bagi semua pukulan Enam Iblis Dunia, maka Cam-kong dan Nenek Naga Bumi menjerit kepada Hu Beng Kui.
"Hu-taihiap, kau tak mencegah anakmu? Kau tak berterima kasih bahwa sedikit banyak kami telah membantumu menghadapi Kim-mou-eng?"
Hu Beng Kui terkejut. Saat itu ia tertegun melihat bayangan putrinya, bentakannya, dan akhirnya bantuannya kepada Kim-mou-eng. Enam Iblis Dunia dibuat jungkir balik oleh sepak terjang putrinya itu; tentu saja dia girang dan bangga. Tapi ketika Cam-kong dan Nenek Naga Bumi berteriak kepadanya dan meminta dia menghentikan putrinya, tiba-tiba jago tua ini tertegun.
Sebenarnya, dia tadi siap menyerang Kim-mou-eng. Kini dilihatnya betapa Kim-mou-eng merupakan calon lawan yang berat sekali. Hajaran dari Enam Iblis Dunia tak membuat Kim-mou-eng roboh. Pendekar Rambut Emas itu selalu bangkit lagi dan mengelak atau menangkis. Kekurangan Kim-mou-eng adalah dia tak dapat membalas lawan yang bersembunyi di dalam awan raksasa. Ketika Hu Beng Kui berpikir untuk menyerang Kim-mou-eng dan membantu enam iblis itu, tiba-tiba putrinya muncul dan tentu saja dia mengurungkan niatnya. Untung hal itu belum dilakukan.
Ketika dia tertegun dan putrinya mengamuk menghajar Enam Iblis Dunia, Kim-mou-eng yang kini dapat bernapas lega dan melihat kembali lawannya, tiba-tiba membentak dan melepas Lu-ciang hoat menghajar lawan-lawannya itu bersama kekasihnya.
"Bagus, kita basmi mereka, Lian-moi. Bunuh!"
Kim-mou-eng marah sekali. Dia juga marah kepada ayah kekasihnya karena Hu Beng Kui diam saja, padahal jelas Enam Iblis Dunia itu adalah orang-orang sesat. Ketika Swat Lian melengking dan mengangguk mengiyakan seruannya, Cam-kong dan lima temannya jatuh bangun dihajar dua orang muda itu. Mereka berteriak-teriak dan memaki Hu Beng Kui karena jago pedang itu dinilai tak tahu budi. Tadi mereka menolong dan menyelamatkan pendekar itu, hal yang membuat Hu Beng Kui merah padam.
Ketika enam orang itu terus berkaok-kaok dan Swat Lian serta Pendekar Rambut Emas menghajar mereka, Nenek Naga Bumi tiba-tiba melepas Tee-sinkang (Pukulan Bumi) dan puluhan jarum beracun.
"Wut-wir-dess!" Swat Lian dan Kim-mou-eng menangkis. Pendekar Rambut Emas bahkan mengebut nenek itu, Lu-ciang-hoat meledak dan mengenai muka nenek ini. Ketika beberapa jarum juga ditolak dan menyambar lima iblis yang lain, Nenek Naga Bumi menjerit dan bergulingan melarikan diri.
"Augh!" Nenek itu mendekap mukanya yang hangus dan terbakar. Cam-kong serta yang lain juga memekik. Mereka disambar jarum-jarum yang membalik, mengelak, atau menangkis, tapi Swat Lian berkelebat membagi-bagi Khikangnya. Ketika mereka bergulingan dan jatuh bangun dihajar gadis itu, Cam-kong melesat dan menyusul Nenek Naga Bumi untuk melarikan diri.
"Lari!" Empat iblis yang lain tiba-tiba berhamburan. Mereka sudah meloncat bangun dan melarikan diri mengikuti Cam-kong dan Nenek Naga Bumi. Ketika enam iblis itu berloncatan dan menghilang di balik Puncak Mutiara, Swat Lian yang hendak mengejar dan membunuh iblis-iblis itu mendapat bentakan ayahnya.
"Swat Lian, berhenti!" Hu-taihiap berkelebat dan sudah berdiri di depan putrinya dengan tampak marah. "Dari mana kau? Kau bergulung-gulung dengan Kim-mou-eng?"
Swat Lian terkejut. "Ayah bicara apa?"
"Hm, kau memalukan aku, Lian-ji. Pulang dan ikuti aku!" Hu Beng Kui membentak dan menyambar putrinya, lalu menariknya dengan kasar. Swat Lian terbelalak. Dia tak tahu kedatangan ayahnya, girang melihat ayahnya di situ dan mau menegur. Tapi melihat sang ayah marah-marah dan menghalangi pengejarannya terhadap Enam Iblis Dunia, tiba-tiba gadis ini meronta dan melepaskan diri.
"Ayah, nanti dulu!" Gadis ini bertanya, kaget dan marah. "Ada apa kau demikian kasar? Apa salahku?"
Sang jago pedang mendelik. "Kau mau melawan ayahmu? Kau sekarang berani?"
"Tidak, tapi!"
"Sudah, kau ikut ayahmu, bocah. Atau kita bertempur dan kau atau aku mampus!"
"Ayah!" Swat Lian terkejut. "Apa maksud kata-katamu ini? Kau mau membunuh aku?"
"Hm, kalau kau melawan tentu kubunuh, Lian-ji. Atau kau boleh membunuh ayahmu. Aku tak mau bicara lagi, hayo ikuti ayahmu dan pulang ke Ce-bu!"
Tidak memedulikan sang anak yang kaget serta heran, tiba-tiba Hu Beng Kui telah menyambar anaknya kembali, lalu terbang meninggalkan Himalaya. Mukanya merah padam dan kemarahan besar tak dapat disembunyikan pada sorot matanya. Swat Lian tertegun dan tak berani melepaskan diri lagi.
Namun, baru jago pedang itu melangkahkan kaki beberapa tindak, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat di depannya. "Hu-taihiap, tunggu!"
Pendekar Rambut Emas bertanya sembari mengusap keringat yang membasahi mukanya, "Kau mau membawa ke mana putrimu ini? Ada apa?"
"Keparat, minggir, Kim-mou-eng. Atau kau kubunuh!" Sang jago pedang tidak menjawab, melainkan mengayun tangan menghantam. Pendekar Rambut Emas mengelak dan pukulan pun meledak di sampingnya.
"Darr!" Kim-mou-eng terkejut. "Eh, nanti dulu, Hu-taihiap. Tunggu!"
Namun, dua pukulan yang kembali meledak dan menghantam akhirnya membuat Pendekar Rambut Emas berjungkir balik, marah, dan tertegun. Namun, pendekar ini tetap penasaran, mengejar, dan melayang turun lagi di depan jago pedang itu karena mengkhawatirkan Swat Lian. Tentu saja Kim-mou-eng tak mau ada apa-apa terjadi pada kekasihnya.
Ketika Hu Beng Kui menggeram dan melotot menghentikan larinya, jago pedang ini menggigil. "Kim-mou-eng, kau mau mengajak aku bertanding lagi? Kau kira dapat mengalahkan aku?"
"Tidak, tidak!" Pendekar Rambut Emas gugup. "Aku hanya mau bertanya ke mana putrimu hendak kau bawa, Hu-taihiap. Dan kenapa sebabnya kau marah-marah!"
"Keparat, kaulah penyebabnya! Kau kira sebagai orang tua aku tidak tersinggung melihat kau membawa-bawa puteriku, Kim-mou-eng? Kau kira aku tidak terhina dengan mendengar berita di luaran tentang kebersamaan kalian? Bedebah, minggir! Atau kau mampus!"
Hu Beng Kui membentak dan menerjang, menghantam Pendekar Rambut Emas itu. Kim-mou-eng tertegun dan hampir terkena pukulan. Makian dan bentakan jago pedang itu membuat Kim-mou-eng merah padam, terlempar, dan terbanting keserempet pukulan. Ketika Swat Lian berteriak namun Kim-mou-eng dapat bangun terhuyung, gadis itu menangis dibawa lari ayahnya yang sudah terbang turun gunung.
"Twako, Dailiong di dekat gapura... Maaf aku tak dapat menemanimu lagi!"
Swat Lian lenyap bersama ayahnya. Kim-mou-eng termangu-mangu, tertegun oleh kalimat terakhir bahwa Hu Beng Kui merasa terhina dengan berita di luaran. Kim-mou-eng tersentak dan tidak tahu apa yang dimaksud dengan berita itu. Tapi mendengar Dailiong di bawah gunung dan tahu di mana tempat yang dimaksud, tiba-tiba Kim-mou-eng berkelebat dan turun gunung pula untuk menyusul. Ia merasa tak tenang dengan semua kemarahan Hu Beng Kui itu. Maka, begitu jago pedang itu membawa putrinya dan terbang ke Ce-bu, Pendekar Rambut Emas pun mengerahkan ginkangnya dan terbang pula ke sana.
"Nah, katakan," Hu Beng Kui terengah duduk di kursi, membanting pantatnya. "Apa yang kau lakukan bersama Pendekar Rambut Emas itu, Lian-ji? Dan kapan kau mulai bergulung-gulung dengannya!"
Swat Lian pucat. "Maaf," gadis ini menggigil, menghapus air matanya yang bercucuran sejak tadi. "Ada apa kau demikian marah-marah, Yah? Kenapa kau membenci Kim-twako dan berkali-kali menyatakan ingin membunuhnya?"
"Diam! Kau jawab pertanyaanku, Lian-ji. Sejak kapan kau bergulung-gulung dan mana anak itu!"
"Dailiong?"
"Aku tidak tahu, pokoknya hasil hubungan gelapmu dengan Kim-mou-eng!"
"Ayah!" Swat Lian terpekik. "Apa kau bilang? Hubungan gelap? Jadi... jadi kau menganggap kami berdua..."
"Plak-plak!" Hu Beng Kui menyambar, mencelat dari kursinya. "Banyak orang bicara begitu, Swat Lian. Dan aku malu mendengar tingkahmu. Kalau bukan kau satu-satunya keturunanku, tentu aku membunuhmu!"
Swat Lian yang mengeluh terbanting oleh tamparan ayahnya akhirnya bangkit terhuyung dengan muka merah padam, mata berapi-api, dan marah sekali.
"Ayah," bentakannya mengejutkan Hu Beng Kui. "Kalau bukan kau yang menamparku, tentu sudah kubunuh orang yang melakukan ini. Kau membabi-buta, kau ngawur! Kau kira apa diriku ini? Kau kira apa Kim-mou-eng itu? Tak dapat kusangkal bahwa aku bersamanya selama ini, Ayah. Tapi bukan untuk bersenang-senang, melainkan mencari Hauw Kam-suheng dan Gwan Beng-suheng!"
"Omong kosong! Nyatanya kau bergulung-gulung dengan Kim-mou-eng. Setahun lebih tak pernah pulang dan memberi tahu! Ingat, apa katamu dulu kepadaku, Lian-ji? Bukankah kau bilang setengah tahun lagi kau kembali? Nah, orang melihat kalian berdua, bocah. Dan aku malu mendengar kau punya anak sebelum nikah! Keparat Pendekar Rambut Emas itu, terkutuk dia. Ingin kubunuh pemuda siluman itu!"
"Ah," Swat Lian terbelalak. "Ayah termakan laporan ini? Siapa yang memberitahumu?"
"Tak perlu tahu. Pokoknya ada, bocah."