Chapter 92
"Dan kau membuat ayahmu malu!"
"Ooh....!" Swat Lian mengeluh. "Kau salah, Ayah. Kau tidak benar. Berita di luaran itu bohong! Aku dan Kim-twako tak melakukan apa-apa!"
"Keparat, dan bocah itu?" Jago pedang ini menyambar kembali anaknya, mencekik. "Kau mau menyangkal setelah kau sendiri berpesan pada Kim Mou-eng? Kau mau menipu ayahmu?"
"Lepaskan!" Gadis ini meronta, marah sekali. "Kau ngawur, Yah. Kau membabi buta! Kau... kau, ooh!"
Swat Lian yang menangis mendorong ayahnya, lalu berdiri tegak dengan mata berapi-api. "Ayah...." Suaranya menggigil. "Kalau bukan kau yang menghina dan memperlakukan aku seperti ini, tentu aku tak mau sudah. Kau menerima membabi-buta omongan orang, menelan begitu saja laporan orang. Kau bodoh, kau terburu-buru!"
Ketika ayahnya terkejut dan mendelik, gadis ini menyambung sambil mengangkat tangan, berseru, "Nanti dulu, dengarkan aku! Jangan Ayah bertindak sepihak! Kalau Ayah adil, biarkan aku bicara!"
Setengah mengepalkan tinju, gadis ini berkata lagi dengan bercucuran air mata, "Ayah tidak bertanya kepadaku bagaimana duduk persoalan sebenarnya. Kau menghina dan merendahkan martabat puterimu sendiri. Tidak tahukah Ayah bahwa anak itu adalah anak Kim Mou-eng dengan istrinya? Tidak ingatkah Ayah bahwa Pendekar Rambut Emas mempunyai keturunan laki-laki dengan mendiang istrinya itu? Nah, Dailiong adalah anak Kim-twako dengan mendiang istrinya itu, Ayah. Dan kami berdua, meskipun runtang-runtung, tak pernah bertindak melampaui batas. Kami tak pernah mengadakan hubungan gelap, meskipun Kim-twako mencintaiku!"
Jago pedang ini tertegun. "Kau ingat Salima, bukan? Kau tentu tahu bahwa mendiang istri Kim Mou-eng ini telah melahirkan dan mendapatkan keturunan laki-laki?"
Hu Beng Kui kembali tertegun, terbelalak.
"Dan kau menuduh membabi-buta, Yah. Kau menghina dan merendahkan diriku. Kau sama sekali tak mau bertanya dan terburu marah-marah seperti orang gila!"
"Lian-ji....!"
"Biar, aku sakit hati kepadamu, Yah. Kau menyinggung dan menyakiti perasaanku sebagai seorang wanita. Kau.... kau...."
Swat Lian yang tersedu-sedu dan tak dapat meneruskan kata-katanya tiba-tiba berkelebat dan meloncat keluar. Hu Beng Kui terhenyak. Sekarang jago pedang ini teringat akan hal itu, bahwa Kim Mou-eng memang mempunyai seorang anak laki-laki dengan mendiang istrinya. Bahwa Pendekar Rambut Emas itu telah mempunyai keturunan dan betapa dia telah menghina serta merendahkan puterinya sendiri.
Jago pedang ini tiba-tiba sadar dan terkejut. Maka, begitu puterinya meloncat keluar dan tersedu-sedu, pendekar ini berkelebat dan menyambar anak perempuannya itu.
"Swat Lian, maafkan ayahmu!"
Swat Lian malah mengguguk. "Aku lupa dan khilaf, anakku. Aku telah menghina dan merendahkan dirimu. Ah, aku sadar, maaf...!"
Hu Beng Kui yang cepat memeluk dan mengusap puterinya lalu menggumam dan menyatakan penyesalannya, namun belum dapat diterima begitu saja oleh Swat Lian. Jago pedang itu jadi bingung. Harga diri anak perempuannya sebagai seorang wanita memang telah ditusuk tajam oleh kata-katanya yang membabi-buta.
Hu Beng Kui mengingat-ingat dan menyesal akan semua perbuatannya itu. Entahlah, semula memang dia tersinggung dan marah mendengar laporan orang. Puterinya dikabarkan galang-gulung dengan Kim Mou-eng dan punya anak sebelum nikah. Orang tua mana tak sakit hatinya kalau mendengar itu?
Ketika Swat Lian meloncat lagi dan melepaskan diri darinya, akhirnya jago pedang ini membiarkan puterinya menangis di taman, melepas semua kekecewaan dan sakit hatinya atas sikap sang ayah. Hu Beng Kui memang bersikap terlalu keras, juga kasar. Namun, ketika sejam kemudian tangis puterinya tinggal sedu-sedan perlahan, jago pedang ini menghampiri, lalu berlutut di depan anaknya itu sambil memegang kedua lengan anak gadisnya.
"Lian-ji," suaranya bergetar. "Maafkan ayahmu. Aku khilaf. Betapapun, ayah mana tak akan marah mendengar laporan anak gadisnya dipermainkan orang? Aku menyesal dan sadar, Nak. Aku terlalu terburu nafsu dan tergesa-gesa. Aku salah!"
Ketika dua titik air mata menitik di pipi orang tua itu, akhirnya Swat Lian terharu dan menyuruh ayahnya bangun, meski masih cemberut.
"Sudahlah, aku juga menyesal, Yah. Aku tadi telah memaki-makimu!"
"Hm, makian apa? Seharusnya lebih berat lagi yang kuterima, Nak. Kau boleh pukul atau hukum ayahmu, tapi maafkan aku!"
"Sudahlah, aku sekarang tak marah. Ayah tak akan memusuhi aku dan Kim-twako, bukan?"
"Hm," alis itu tiba-tiba terangkat. "Untukmu, jelas aku tak memusuhimu, Lian-ji. Tapi Kim Mou-eng...." Bibir itu terkatup. "Dia telah menghina dan berani melawanku!"
Swat Lian terkejut. "Berani bagaimana? Menghina bagaimana?"
"Dia merendahkan ilmu silatku, Lian-ji. Menandingi Khikangku dan Jing-sian-eng....!"
"Ah," sang puteri berseru. "Kau yang mulai menyerangnya dulu, Ayah. Dan Kim-twako sekarang memang hebat. Dia memiliki Lu-cianghoat dan Cui-sian Giokang sebagai tandingan dari Khikang dan Jing-sian-eng!"
"Ya, dan itu kuanggap penghinaan. Bocah kemarin sore itu berani melawanku dan tidak tunduk, padahal aku adalah bengcu!"
"Tapi Kim Mou-eng hanya membela diri terhadap seranganmu, Yah. Dia...."
"Tidak!" sang jago pedang bangkit berdiri. "Dia juga berani membalasku, Lian-ji. Dia hampir membuat aku malu di depan Enam Iblis Dunia itu. Kalau aku sampai roboh dan kalah di tangannya, tentu nama dan harga diriku jatuh!"
Ketika puterinya terbelalak dan tidak mengerti jalan pikiran sang ayah, akhirnya Hu Beng Kui mencengkeram puterinya itu. "Kau masih menyayangi dan menghargai ayahmu ini? Kau mau melakukan apa yang kuinginkan?"
Swat Lian bangkit, menggigil. "Kalau kau menyuruhku untuk membenci Kim-twako, tak mungkin, Yah. Aku mencintainya dan terlanjur mencintainya. Kau tahu itu!"
"Tidak, bukan membencinya, anakku. Melainkan ingin mengangkat harga dirimu tinggi-tinggi di depannya. Pendekar Rambut Emas itu tak boleh membawamu sesuka hati. Kau tak boleh bersamanya dulu sebelum menikah!"
"Eh, Ayah menyetujui hubungan kami?"
"Hm," mata Hu Beng Kui bersinar-sinar. "Dia juga mencintaimu, bukan? Kim Mou-eng benar-benar tak kurang ajar kepadamu sepanjang jalan?"
"Ah, kami tak melakukan apa-apa, Ayah. Dan Kim Mou-eng hormat serta menghargai diriku sebagai wanita!"
"Bagus, kalau begitu dia harus membayar emas kawin yang mahal. Kalau dia mau menikahimu dan mencintaimu seperti katamu, maka suruh cepat pendekar itu meminangmu kepadaku! Aku merestui hubungan kalian asal secara baik-baik Pendekar Rambut Emas itu memintanya kepadaku. Suruh dia menghadap!"
Swat Lian melonjak girang. Perubahan yang tidak disangka dan amat luar biasa ini membuat dia lengah, tak tahu sinar mata ayahnya yang bergerak aneh, bola mata yang berputar lalu meredup dingin. Ketika gadis itu menubruk dan memanggil ayahnya, Swat Lian sudah menciumi muka ayahnya yang berjenggot serta bercambang kaku.
"Ah, Ayah memang baik," Swat Lian tertawa-tawa. "Tadinya kupikir kau menentang, Yah. Tapi setelah tahu ini, ternyata dugaanku keliru. Baik, Kim-twako akan kusuruh menghadapmu dan meminangku!"
Gadis ini gembira bukan main, air mata berubah menjadi tawa, dan Hu Beng Kui tersenyum-senyum. Dia girang bahwa putrinya tak marah lagi. Swat Lian adalah miliknya satu-satunya. Ketika gadis itu menciuminya dan didorong mundur, tiba-tiba jago tua ini berkelebat dan berkata, "Sudahlah, bersiap-siap saja, suruh kekasihmu itu datang!"
Setelah memberikan perintahnya, jago pedang ini lenyap dan lega di kamarnya. Sekarang ia mengerti bahwa anak yang dilaporkan itu bukanlah hasil hubungan gelap puterinya dengan Pendekar Rambut Emas. Anak gadisnya masih suci dan Kim Mou-eng tak mengganggunya. Tapi karena Kim Mou-eng telah kurang ajar kepadanya, ia tetap harus ganti menghajar pendekar itu. Maka, tiga hari jago pedang ini menanti sebelum Kim Mou-eng benar-benar datang menghadap.
Sebagaimana diketahui, Kim Mou-eng akhirnya berlari cepat pula ke Ce-bu. Pendekar Rambut Emas itu mengkhawatirkan Swat Lian dan menitipkan Dailiong di suatu tempat untuk akhirnya terbang ke Ce-bu. Tak leluasa rasanya membawa-bawa anak. Inilah yang membuat dia terlambat, dan tiga hari kemudian dia baru tiba di kota yang ditinggali si jago pedang.
Sore itu, dia berkelebat dan langsung ke taman karena di situlah biasanya Swat Lian berada. Benar saja, kekasihnya itu berada di situ.
"Lian-moi....!"
Swat Lian terkejut girang. Pendekar Rambut Emas telah melayang dan turun di depannya, khawatir dan cemas, tapi lega melihat keadaannya. Gadis itu tak apa-apa. Swat Lian langsung berdiri dan mereka pun berpelukan. Ah, betapa bahagia dan gembira gadis itu. Ketika mereka berseri-seri dan tak ada suara kecuali cium dan pelukan ketat, akhirnya Pendekar Rambut Emas melepaskan kekasihnya lalu bertanya girang.
"Kau tak apa-apa? Di mana ayahmu?"
"Ayah di dalam," gadis ini berseri. "Aku tak apa-apa, Twako. Dan ada berita menggembirakan untuk kita berdua!"
"Berita apa? Menggembirakan bagaimana?"
"Ayah merestui kita, kau disuruh meminangku!"
Kim Mou-eng tertegun. "Benar, kau diminta meminangku, Twako. Dan persoalan dulu itu ternyata kesalahpahaman Ayah sendiri. Ayah... Ayah mengira Dailiong anak kita berdua!"
"Aku tak mengerti." Kim Mou-eng masih bingung. "Dulu Ayah buru-buru marah dan tak memberi penjelasan kepadaku, Lian-moi. Tahu-tahu diserangnya aku dan datanglah Enam Iblis Dunia itu...!"
"Duduklah, biar kujelaskan," Swat Lian gembira bukan main. "Ayah terburu-buru dan terhasut omongan orang, Twako. Tapi semuanya kini sudah gamblang dan Ayah minta maaf."
Gadis itu menarik kekasihnya, menyuruh Kim Mou-eng duduk, dan segera dia bercerita. Kim Mou-eng mendengarkan dan berkali-kali dia mengeluarkan seruan pendek, terutama ketika Swat Lian ditampar dan mau dihajar ayahnya. Cerita berakhir dengan kesadaran Hu Beng Kui dan jago pedang itu minta maaf.